Degil Zine

Bacaan ini disarankan untuk 20 tahun ke bawah.

Saya sarankan mulai sekarang adik-adik sekalian harus belajar menjadi degil. Karena menjadi degil adalah pintu pertama, alih-alih syarat mutlak sebelum adik-adik memutuskan untuk menjadi "anak band".  Tidak percaya? Baca dengan tenang, khayati, lalu praktikkan.

Agar terkesan patuh pada kaidah bernegara (biar tidak dituduh komunis, ISIS, atau sejenisnya), ada baiknya bila kita pahami dulu definisi kata "degil" dari dalam KBBI.

Arti kata degil menurut KBBI
degil [de·gil]
Kata Adjektiva (kata sifat)
Arti: tidak mau menuruti nasihat orang; keras kepala; kepala batu
contoh: 'anak ini memang degil, tidak bisa dinasihati'

Jadi menurut KBBI yang terhormat itu, kata degil memiliki makna yang mereka definisikan dalam tiga sifat, yang sebenarnya dapat dipecah dalam tiga kasus.

1. Tidak mau menuruti nasihat orang
Biasanya (tidak semua! ), rintangan pertama yang adik-adik hadapi saat berkeinginan untuk memiliki sebuah band adalah: orangtua. Bukan orang tua, tapi orangtua adik sendiri.

Contoh:
"Buat apa Jose ngeband? Narkoba!"
"Ngeband? Mau jadi apa, Jose?"

Nah, di saat inilah adik-adik harus menjadi degil! Nasehat-nasehat di atas sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Narkoba? Jangankan anak band, Doyok si pelawak yang sering amnesia pada usia itu saja juga pecandu kok. Tidak ada lagi korelasi antara musik dan narkoba. Tengok saja Aga vokalis Depresi Demon itu, jangankan narkoba, beli rokok yang harganya masih 1500 per batang saja dia ogah.

Mau jadi apa? Nah, kalau ditanya seperti itu, jawab saja kalau kalian mau jadi seperti Is-nya Payung Teduh. Siapa tahu suatu saat nanti kalian juga bisa menciptakan lagu yang membuat pemuda-pemudi di seluruh Nusantara ini kebelet kawin. Kan termasuk amal, tho?

Intinya, kalian harus degil dalam kasus pertama ini

2. Keras kepala
Setelah melewati rintangan pertama, tentu saja rintangan kedua akan segera menghadang. Bagaimana mungkin kalian mau jadi anak band kalau kalian tidak bisa memainkan alat musik. Tepat! Di saat inilah kalian harus (kembali) menjadi degil.

"Saya ngga bisa main gitar, saya ngga punya bakat!"

Percayalah, kata-kata di atas adalah racun yang disebarkan sejak Zaman Kegelapan Eropa, di mana bermusik hanya pantas disaksikan, disajikan, dan diciptakan oleh kaum-kaum borjuasi; tidak oleh kita yang keturunan rakyat jelata ini. Enyahkanlah frase bakat dalam kamus bahasa manusia (mengenai bakat, kromodongso murni, dan mahkluk-mahkluk sejenisnya akan kita bahas di tulisan selanjutnya). So, selama kalian terus berusaha, mengeraskan kepala kalian, kalian akan bisa menjadi seperti apa yang kalian inginkan!

3. Kepala Batu
Nah, setelah melewati rintangan pertama dan kedua, kalian harus menjalani tahap akhir: mencari band.

Ada dua cara, paling tidak menurut saya:
1. Mencari di sekolah/kampus.
2. Bergabung dengan komunitas.

Nah, di saat inilah kalian harus menjadi degil kembali, dalam definisi yang ketiga: kepala batu. Pada mulanya kalian akan diremehkan, dianggap terlalu pede seperti Iki vokalis Wina pada awal kemunculannya. Sebab itu, keraskanlah kepala kalian seperti batu. Terus saja mencari orang-orang yang sesuai dengan genre yang kalian minati (seperti Iki yang akhirnya mendapatkan Evan). Jangan goyah jika ada yang mencaci atau merendahkan kalian. Jika sudah berhasil, lanjutlah untuk bergabung dengan suatu komunitas. Bukan bermaksud hendak mengotak-kotakkan. Bergabung dengan komunitas itu perlu untuk saling berbagi referensi, menambah pergaulan, sampai ke pencarian akan job panggung. Jika ditolak di suatu komunitas tertentu oleh suatu sebab, yang mungkin hanya iblis yang tahu kenapa, jangan patah arang. Ingat, kepala kalian sekeras batu, dan hanya mesin stone crusher 3040 yang bisa memecahkan kepala kalian. Sebab itu, teruslah mencari dan mencari sampai kalian menemukan secercah cahaya kunang-kunang di Teras Benji. Teruslah menjadi degil!

Akhirul kalam. Tutuplah bacaan ini dengan meneriakkan degil sebanyak tiga kali di dalam hati kalian. Degil! Degil! Degil!

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

Leave a Comment

Baca Juga

Bacaan ini disarankan untuk 20 tahun ke bawah.

Saya sarankan mulai sekarang adik-adik sekalian harus belajar menjadi degil. Karena menjadi degil adalah pintu pertama, alih-alih syarat mutlak sebelum adik-adik memutuskan untuk menjadi "anak band".  Tidak percaya? Baca dengan tenang, khayati, lalu praktikkan.

Agar terkesan patuh pada kaidah bernegara (biar tidak dituduh komunis, ISIS, atau sejenisnya), ada baiknya bila kita pahami dulu definisi kata "degil" dari dalam KBBI.

Arti kata degil menurut KBBI
degil [de·gil]
Kata Adjektiva (kata sifat)
Arti: tidak mau menuruti nasihat orang; keras kepala; kepala batu
contoh: 'anak ini memang degil, tidak bisa dinasihati'

Jadi menurut KBBI yang terhormat itu, kata degil memiliki makna yang mereka definisikan dalam tiga sifat, yang sebenarnya dapat dipecah dalam tiga kasus.

1. Tidak mau menuruti nasihat orang
Biasanya (tidak semua! ), rintangan pertama yang adik-adik hadapi saat berkeinginan untuk memiliki sebuah band adalah: orangtua. Bukan orang tua, tapi orangtua adik sendiri.

Contoh:
"Buat apa Jose ngeband? Narkoba!"
"Ngeband? Mau jadi apa, Jose?"

Nah, di saat inilah adik-adik harus menjadi degil! Nasehat-nasehat di atas sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Narkoba? Jangankan anak band, Doyok si pelawak yang sering amnesia pada usia itu saja juga pecandu kok. Tidak ada lagi korelasi antara musik dan narkoba. Tengok saja Aga vokalis Depresi Demon itu, jangankan narkoba, beli rokok yang harganya masih 1500 per batang saja dia ogah.

Mau jadi apa? Nah, kalau ditanya seperti itu, jawab saja kalau kalian mau jadi seperti Is-nya Payung Teduh. Siapa tahu suatu saat nanti kalian juga bisa menciptakan lagu yang membuat pemuda-pemudi di seluruh Nusantara ini kebelet kawin. Kan termasuk amal, tho?

Intinya, kalian harus degil dalam kasus pertama ini

2. Keras kepala
Setelah melewati rintangan pertama, tentu saja rintangan kedua akan segera menghadang. Bagaimana mungkin kalian mau jadi anak band kalau kalian tidak bisa memainkan alat musik. Tepat! Di saat inilah kalian harus (kembali) menjadi degil.

"Saya ngga bisa main gitar, saya ngga punya bakat!"

Percayalah, kata-kata di atas adalah racun yang disebarkan sejak Zaman Kegelapan Eropa, di mana bermusik hanya pantas disaksikan, disajikan, dan diciptakan oleh kaum-kaum borjuasi; tidak oleh kita yang keturunan rakyat jelata ini. Enyahkanlah frase bakat dalam kamus bahasa manusia (mengenai bakat, kromodongso murni, dan mahkluk-mahkluk sejenisnya akan kita bahas di tulisan selanjutnya). So, selama kalian terus berusaha, mengeraskan kepala kalian, kalian akan bisa menjadi seperti apa yang kalian inginkan!

3. Kepala Batu
Nah, setelah melewati rintangan pertama dan kedua, kalian harus menjalani tahap akhir: mencari band.

Ada dua cara, paling tidak menurut saya:
1. Mencari di sekolah/kampus.
2. Bergabung dengan komunitas.

Nah, di saat inilah kalian harus menjadi degil kembali, dalam definisi yang ketiga: kepala batu. Pada mulanya kalian akan diremehkan, dianggap terlalu pede seperti Iki vokalis Wina pada awal kemunculannya. Sebab itu, keraskanlah kepala kalian seperti batu. Terus saja mencari orang-orang yang sesuai dengan genre yang kalian minati (seperti Iki yang akhirnya mendapatkan Evan). Jangan goyah jika ada yang mencaci atau merendahkan kalian. Jika sudah berhasil, lanjutlah untuk bergabung dengan suatu komunitas. Bukan bermaksud hendak mengotak-kotakkan. Bergabung dengan komunitas itu perlu untuk saling berbagi referensi, menambah pergaulan, sampai ke pencarian akan job panggung. Jika ditolak di suatu komunitas tertentu oleh suatu sebab, yang mungkin hanya iblis yang tahu kenapa, jangan patah arang. Ingat, kepala kalian sekeras batu, dan hanya mesin stone crusher 3040 yang bisa memecahkan kepala kalian. Sebab itu, teruslah mencari dan mencari sampai kalian menemukan secercah cahaya kunang-kunang di Teras Benji. Teruslah menjadi degil!

Akhirul kalam. Tutuplah bacaan ini dengan meneriakkan degil sebanyak tiga kali di dalam hati kalian. Degil! Degil! Degil!

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

Leave a Comment

Baca Juga