selat malaka musik indie medan

PERUSAHAAN BERNAMA SELAT MALAKA

Banyak syarat yang dibutuhkan untuk membangun sebuah perusahaan, baik dari persiapan manajemen yang terstruktur, promosi yang terencana, serta komposisi pekerja di dalamnya. Secara profesi, Selat Malaka bukanlah sebuah perusahaan; ia band indie lokal, namun secara struktur, Selat Malaka telah sukses menjalankan apa saja yang dibutuhkan untuk membangun sebuah perusahaan.

Dibentuk pada 23 Maret 2014, Selat Malaka saya anggap telah mendaki tangga kesuksesan dalam sudut pandang skena lokal. Jangan tanya soal gig, event-event yang disponsori oleh kapital-kapital bermodal gede pun telah mereka jalani; karya cipta yang menggaung dari mulut para penonton, respek dari sesama musisi, dan turut andil dalam pergerakan skena itu sendiri adalah bukti dari kesuksesan yang saya maksudkan.

Albert, sang vokalis, mendirikan Selat Malaka dengan optimisme yang menggunung, positif dalam memandang skena, dan dendam yang bertumpuk-tumpuk terhadap gerakan-gerakan palsu yang mengatasnamakan indie. Naif? Bisa jadi, seandainya ia tak memiliki formula dalam membangun sebuah band layaknya sebuah perusahaan. Para pelaku skena indie Medan di awal tahun 2000an tentu belum lupa bagaimana perlakuan event organizer dalam memandang mereka; disisipkan sebagai cadangan yang karyanya hanya dihargai sebungkus nasi Padang atau sekotak ayam goreng KFC; dianggap tak memiliki sense dalam menentukan selera pasar, hingga lebih baik jika mereka menyanyikan lagu-lagu top-40 belaka. Albert berdiri menentangnya. Dengan kemampuannya dalam mengorganisir Selat Malaka, ia menentukan sendiri fee yang pantas bagi bandnya, menolak campur tangan segala macam malaikat yang mengaku sebagai music director dalam menentukan laku musiknya, serta mengajak duel para pelaku musik yang tenggelam di dalam kemunafikan berselimut tuntutan hidup dalam bermusik. Tentu bukan hal mudah jika ia tak bisa memperkenalkan bandnya selayaknya perusahaan yang memiliki standarisasi hukum dan manajemen yang mapan. Tentu pula pantatnya yang kecil itu akan disepak jika ia berhadap-hadapan langsung dengan antek-antek kapital (baca: event organizer) tanpa memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni; ia menjungkirbalikkan persepsi purba bahwasanya band yang membutuhkan panggung, karena seharusnya panggunglah yang membutuhkan banyak band.

Pengalaman Selat Malaka tampil di event-event bermodal besar tidak lantas membuat moral mereka ikut terdegredasi. Seperti pula sebuah perusahaan yang baik, di mana jejaring kerja dan kompromi pergerakan juga sangat dibutuhkan dalam pengembangan karir, Selat Malaka tak ragu-ragu untuk turut tampil di gig-gig kecil, bahkan gig cuek tak terkendali yang kelupaan menyediakan microphone untuk mereka; di sini Selat Melaka membatasi diri agar tidak pernah membicarakan persoalan fee pada event-event yang menolak campur tangan sponsor. Tak lupa Albert berstrategi dengan mengerahkan Jose (drummer), dan Ari (basis) untuk turut berbaur dengan anak-anak indie dari bermacam komunitas, demi memuluskan langkah Selat Malaka agar tidak turut dicap sebagai band pelahab segala job dengan tampang personil yang memuakkan.

Seperti perusahaan mapan yang membagi lembaga kerja secara kreatif, tanpa mencampuradukkan tenaga profesi demi profit belaka, Selat Malaka turut mengamini pula. Jika Albert bertugas dalam mengorganisir anggota, basis massa, serta manajerial promosi, maka tugas dalam mencipta diserahkan sepenuhnya pada Leo. Tidak sembarangan, sebab Leo memang kompeten; kegilaannya dalam mengulik segala macam genre dari berbagai zaman, penguasaannya terhadap scale dan teknik musik, serta hobi sedikit ganjilnya dalam pembacaan karya-karya sastra, adalah jaminan paten dalam menjalankan tugasnya. Mengenai yang belakangan, saya rasa adalah sesuatu yang sangat menguatkan karakter dari Selat Malaka itu sendiri. Penulisan lirik yang terkadang absurd, surealisme, rima yang melagu, membuat Selat Malaka tampil nyentrik di antara band-band indie lain yang kebanyakan masih tenggelam di dalam lirik berbahasa Inggris yang kacau balau. Kadang gelap, kadang riang, kadang penuh drama, Leo tampaknya sangat terinspirasi oleh Franz Kafka; efek besar dari kegilaannya dalam membaca karya sastra.

Yah, begitulah Selat Malaka yang saya ketahui. Sampai saat ini saya menganggap mereka patut dijadikan salah satu contoh terdepan dalam pembangunan sebuah band indie yang menyerupai sebuah perusahaan mapan. Entahlah besok atau lusa, siapa yang bakal tahu apa yang ada di dalam kepala mereka. Mengenai genre dan karya, tak perlu saya kupas. Sebab hanya Tuhan dan mereka sendiri yang mengerti pada apa yang telah mereka ciptakan. Kita cukup menikmatinya sambil tak lupa memantati senja, seperti para selebtweet dan selebgram, sambil tak lupa pula mengunyah kunang-kunang hingga perut melendung kenyang.

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

Share this post

Recent post