SKENA DAN KEPEMUDAAN (1)

SKENA DALAM KEPEMUDAAN

Oleh: Makedu

.. Berseragam berlagak jagoan mau jadi apa?

Opening line yang menurut saya sangat memukul itu adalah penggalan lirik lagu dari Kelompok Penerbang Roket, salah satu band rock asal ibu kota. Lantas apa hubungan seragam dengan jagoan? Baiklah, untuk mengawali tulisan ini terlebih dahulu saya akan mengenang masa-masa keriuhan skena musik  di kota yang penuh jagoan ini ( baca: Medan).

Medio 2006 adalah tahun di mana skena musik sidestream kota Medan mulai bergelora. Dengan banyaknya gig yang diinisiasi oleh beberapa kumpulan anak muda yang mencintai roots-nya masing-masing; seperti Kirana, Tomato, MeMo, Fatefull, M2M, Rhybuck, hingga pentas seni yang selalu diadakan oleh sekolah-sekolah. Hampir setiap sudut kota selalu ditemukan flyer yang menandakan akan ada “pesta” di akhir minggu; di mana akan selalu ada band-band minoritas yang akan menampilkan kebolehannya dan ditonton oleh anak-anak muda yang menggemari musik sidestream tersebut, yang mana sebagian besarnya juga memiliki band dan terlibat didalam skena musik.pening line yang menurut saya sangat memukul itu adalah penggalan lirik lagu dari Kelompok Penerbang Roket, salah satu band rock asal ibu kota. Lantas apa hubungan seragam dengan jagoan? Baiklah, untuk mengawali tulisan ini terlebih dahulu saya akan mengenang masa-masa keriuhan skena musik  di kota yang penuh jagoan ini ( baca: Medan).

Pesta kecil penggemar musik sidestream ini tak jarang melahirkan band baru yang tak kalah keren di tahun-tahun berikutnya, lalu secara sengaja terlibat di dalam skena itu sendiri, dan begitulah siklus itu berputar (lingkaran setan yang sangat menyenangkan bukan ?). Menjadi anak band yang memainkan musik unik dengan penampilan yang khas pada masa itu sungguh menyenangkan. Tergabung ke dalam kumpulan anak muda yang memiliki minat musik yang sama, berkenalan dengan orang-orang baru, dan jika bandmu banyak di kenal maka akan semakin sering diajak memeriahkan “pesta” akhir pekan.

Layaknya roda yang berputar; adakalanya roda itu terkikis dengan sendirinya karena seringnya bergesekan dengan aspal jalanan. Begitu juga dengan skena kota ini yang sedang redup dari ingar-bingar kehidupan kota. Belakangan tak lagi ditemukan suasana “pesta” seperti skena di era 2006-2010an. Tak banyak band yg cukup menarik untuk disaksikan, berkurangnya intensitas gig yang diadakan, antusiasme yang kalau boleh dibilang hangat dipermukaan saja.

Belakangan, antusiasme tersebut berbanding terbalik dengan semangat anak muda yang tergabung ke dalam organisasi kepemudaan. Berbagai jenis organisasi berdiri menjaring anak muda sebagai anggotanya. Mereka berkumpul dengan semangat membara mengagugkan slogan organisasinya; memakai seragam dan menjadikan sebuah identitas yang membanggakan.

Tak ada yang salah dengan bergabung ke dalam organisasi yang kau ingini. Tak ada yang salah dengan kebanggaan memakai seragam organisasi Tak ada yang salah dengan itu semua. Tapi menjadi hal yang menarik saat berseragam, berkumpul beramai-ramai lalu merasa dan bertindak berlagak jagoan. Bukan rahasia bagi masyarakat kota ini bahwa organisasi kepemudaan identik dengan preman dan premanisme. Dan tak jarang pula terdengar kabar bentrokan antar organisasi itu. Belum lagi setiap adanya acara pelantikan atau acara apa pun yang diinisiasi oleh organisasi kepemudaan tersebut, jalanan lalu dipenuhi kumpulan orang-orang yang merasa mereka tidak dapat dihentikan oleh siapa pun, termasuk bapak polisi. Dan hal yang disayangkan: mereka adalah anak anak muda yang memiliki potensi.

Lantas, di mana korelasi antara skena yang meredup dengan organisasi kepemudaan?

Tak dapat dimungkiri, organisasi kepemudaan telah masuk ke dalam ruang berkegiatan anak muda, mulai dari kampus, klub pecinta motor/mobil, klub pecinta alam, bahkan tempat disko mulai didominasi oleh mereka. Menggeser paradigma anak muda, bahwa untuk memulai eksistensi bukanlah membuat karya, melainkan berseragam dan berkumpul beramai-ramai lalu berlagak jagoan; menyisakan ruang-ruang berkesenian yang kosong tanpa ada regenerasi untuk mengisi. Ya, sebagian dari mereka lebih memilih untuk dimobilisasi oleh petinggi organisasinya daripada memulai sebuah band, menulis karya sastra, proyek film independent atau kegiatan positif lainnya, yang sesungguhnya lebih memiliki andil dalam memajukan pola pikir generasi.

Bukankah organisasi itu juga melakukan kegiatan sosial, kegiatan amal dan segala bentuk kreativitas anak muda lainnya? Tentu saja benar, tidak ada yang dapat disanggah dalam hal ini. Namun jika berita bentrokan antarorganisasi, para anggota yang tertib di jalan saat menghadiri kegiatan organisasi; pendeknya, mental premanisme para anggotanya tak terlihat lagi dalam kehidupan bersosial masyarakat, mungkin saya akan percaya bahwa mendaftar di organisasi kepemudaan akan lebih membanggakan daripada tergabung dalam sebuah band ataupun kegiatan seni lainnya.

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

NB: Saat ini kami mencatat dua nama dari petinggi organisasi kepemudaan yang ikut meramaikan skena musik indie. Mereka adalah: Obo Asmara, drumer dari Allison, dan Al Amin, vokalis dari band nu metal, Big Truck. (ed)

Share this post

Recent post