Degil Zine

 “Sayup redup lalu malam terbit menyelimuti, banyakpun bintang, tapi kerap tersembunyi…

Sajak di atas adalah gambaran yang tepat dalam melihat skena musik di kota Medan, sekitar tahun 2004 atau 2005. Hampir tidak ada wadah yang bisa menaungi proses kreatif dalam bidang seni musik masa itu. Bisa dikatakan saat itu adalah masa kegelapan, karena terlalu jarang ada ajakan untuk pergi menonton sebuah pertunjukan musik. Medan kala itu hanya bisa membicarakan band-band asuhan label raksasa yang liriknya aduhai, “aduh” di telinga dan “aih, makjang” bila dicerna. Nama-nama band "tersebut" di atas selalu menghiasi acara-acara besar di kota Medan: lapangan-lapangan utama akan dibanjiri manusia yang haus akan musik tapi hanya bisa melihat pagelaran musik besar dengan berpasrah diri kepada musik dari band-band tersebut; padahal sebenarnya tetap ada band dengan musik yang bagus.

“Melihat dalam enggan, enggan dalam mencari, mencari di tengah sepi…”

Untungnya, perlahan-lahan ada pertobatan yang muncul di dunia musik Medan, yang akhirnya mulai merasa penting untuk melahirkan acara-acara dengan musik-musik yang kaya secara seni dan nilai dalam sebuah lagu. Lalu bermunculanlah acara-acara yang mulai menampilkan musisi-musisi berkualitas dari skena anti-mainstream. Perlahan-lahan keinginan berproses kreatif semakin besar dan mulai terlihat kesadaran di antara para musisi untuk menelurkan karya sendiri sebagai antitoksin band-band dengan lagu aduhai sebelumnya.

Pada zaman kegelapan tersebut, bukan tidak ada pergerakan musisi-musisi yang membawakan musik alternatif, tetap ada, walaupun gaungnya tipis di acara-acara raksasa kota Medan; entah memang tidak terdeteksi oleh penyelenggara-penyelenggara acara atau memang musiknya jelek. Tapi lebih tepat pilihan yang pertama, karena saat itu masih ada nama-nama hebat yang "terpinggirkan" seperti: Hairdresser on Fire, Korine Conception, SPR, Fingerprint, Dirty Jacket, The Cangis, Ucok Munthe; malahan sebenarnya banyak lagi jika dikulik secara benar. Soal musik jangan diragukan, “begu” pun pengen lihat mereka. Kurang yakin? Ko tes ajalah sendiri!

Melihat dalam batas itu buta…”

Karya menjadi sebuah kebutuhan bagi band saat ini untuk bisa bertahan dalam industri musik kota Medan. Sekalipun tetap saja banyak band-band yang hanya dibentuk dengan tujuan membawa lagu "aduhai" atau sekadar bermain aman. Band ataupun grup musik tersebut tidak jelek, karena tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar. Bila dianalogikan band-band dengan jenis ini adalah “nasi Padang” yang semua orang bisa menikmati tanpa banyak “cengkunek”, karena sesungguhnya tak butuh filosofi untuk sepiring nasi Padang. Kemudian band-band yang sering disebut “band indie” yang berpendapat memiliki karya lagu sendiri itu adalah yang terpenting, bisa digambarkan dengan “steak”, yang tidak semua orang bisa menikmati karena memang mahal dan butuh filosofi untuk bisa menikmatinya. Pada akhirnya semua kembali pada kebutuhan penikmatnya masing-masing.

Musik Medan yang semakin hari semakin sehat akhirnya memiliki nama-nama besar, yang "akhirnya" selalu dapat mengisi acara-acara besar, sekalipun masih seputaran artis pembuka untuk artis nasional, misalnya: Vintage Glasses, Liberty Gong, WINA, Selat Malaka, Raung, Candles & The Moonlight, dan ada juga beberapa band yang gaungnya sudah ada di luar Medan dan terkhusus di Jawa, seperti Hello Benji & The Cobra, JERE Fundamental dan Kemedja Poetih. Banyak oknum-oknum penyelenggara yang tidak mau menyamakan posisi sesama artis ini, dan hanya membaginya menjadi artis lokal dan artis nasional. Padahal di pulau seberang, dalam banyak acara festival musik, nama artis yang tertera di poster sudah sama besar tulisannya, dan juga diperlakukan sama tanpa ada tetek-bengek: artis lokal/artis nasional. Seringkali artis yang didatangkan ke Medan ini justru menjadi tidak nyaman karena perbedaan perlakuaan kepada artis kota Medan sendiri.

Antrian panjang dalam cermin…”

Banyak band yang secara materi musik sangat bagus, layak didengar dan juga layak disorot, namun sayangnya sorotan itu tidak pernah singgah di band-band ini. Banyak hal yang menjadikan band-band ini jarang menjadi sorotan; biasanya adalah pergaulan yang tidak mau dikembangkan dan perasaan bahwasanya musik dan genrenya adalah yang paling  hebat. Sikap ini yang biasanya justru menjadi senjata makan tuan bagi banyak band. Membangun jaringan antarsesama band sangat efektif untuk mendongkrak popularitas dan memperbesar kemungkinan untuk bisa semakin disorot. Biasanya panitia penyelenggara tidak punya data cukup untuk daftar band-band yang layak untuk diundang ke acara mereka. Kesempatan ini harusnya digunakan untuk saling merekomendasikan antara satu dengan yang lain. Bergaul dengan musisi lintas genre juga menjadi salah satu cara membangun jaringan dan melihat hal menarik yang terjadi, juga sudut pandang genre tersebut. Minder juga menjadi salah satu alasan paling klise diantara band-band yang kurang sorotan ini: “Nanti ngga diterge awak. Awak apalah stel gini aja."

Sebenarnya banyak band yang sering tampil di acara besar dan dianggap sukses justru sangat ramah dan gampang untuk berbagi; walaupun akan tetap saja ada band-band yang punya pemikiran sempit yang merasa tersaingi dan tidak mau berbagi. Semuanya kembali kepada kematangan band secara individu. Ada juga band yang merasa sangat pantas untuk berada di panggung-panggung raksasa padahal belum selesai mempelajari seluruh sistem koordinasi dalam penyelenggaraan acara. Tidak sedikit band yang sepele dengan waktu kehadiran, dan akhirnya merusak rundown sebuah acara  namun tetap ngotot untuk naik ke atas panggung dengan segudang alasan, seperti: “kuping belalang tetangganya perlu dioperasi," atau “harus menemani pacar dari sepupu tukang tempel ban langganannya belanja ke kede,” dan banyak contoh alasan penting lainnya yang menghambat kehadirannya untuk tepat waktu.

Sikap sangat terpuji itu biasanya yang membuat sebuah band lambat karirnya, bahkan MATI! Padahal menunggu itu sebenarnya bagian dari ngeband itu sendiri. Dengan menunggu, band memiliki kesempatan untuk memeriksa banyak hal yang berkaitan dengan penampilannya. Yang paling sederhana namun utama adalah bercengkrama dan mengakrabkan diri dengan sound engineer ataupun stage crew; membiasakan diri dengan suasana lokasi agar menghilangkan nervous saat akan tampil;  mengecek segala kesiapan instrumen dan briefing akhir sebelum naik ke atas panggung.

Sekalipun tersembunyi, bintang itu harus tetap dicari

Ada beberapa nama band yang jarang disorot oleh penyelenggara-penyelenggara acara namun sangat layak untuk berada di panggung-panggung maupun acara-acara besar, misalnya: Depresi Demon, Dispencer, Aurevoir, Just in Case, Jansen Ras Guru Patimpus, Lini Masa, Retired, The Clays, TBRX, Soerjakanta, F.E.M, Rumput, dan masih banyak lagi yang semuanya memiliki NILAI  dalam karyanya. Inti dari berkarya adalah menemukan nilai dan mengungkapkannya kepada banyak orang. Genre, style, skena, adalah hal yang sangat tidak penting jika dibandingkan dengan karya dan proses dalam menelurkan karya itu sendiri. Tak ada hal yang lebih hebat selain berkarya, karena lewat karya maka kita punya jejak keberadaan yang menyatakan bahwa kita pernah hidup di dunia.  Mengutip kata-kata Rene Descartes, "Cugito Ergo Sum:  “Aku berpikir maka aku ada."

(ilustrasi oleh Aga Depresi)

Leave a Comment

Baca Juga

 “Sayup redup lalu malam terbit menyelimuti, banyakpun bintang, tapi kerap tersembunyi…

Sajak di atas adalah gambaran yang tepat dalam melihat skena musik di kota Medan, sekitar tahun 2004 atau 2005. Hampir tidak ada wadah yang bisa menaungi proses kreatif dalam bidang seni musik masa itu. Bisa dikatakan saat itu adalah masa kegelapan, karena terlalu jarang ada ajakan untuk pergi menonton sebuah pertunjukan musik. Medan kala itu hanya bisa membicarakan band-band asuhan label raksasa yang liriknya aduhai, “aduh” di telinga dan “aih, makjang” bila dicerna. Nama-nama band "tersebut" di atas selalu menghiasi acara-acara besar di kota Medan: lapangan-lapangan utama akan dibanjiri manusia yang haus akan musik tapi hanya bisa melihat pagelaran musik besar dengan berpasrah diri kepada musik dari band-band tersebut; padahal sebenarnya tetap ada band dengan musik yang bagus.

“Melihat dalam enggan, enggan dalam mencari, mencari di tengah sepi…”

Untungnya, perlahan-lahan ada pertobatan yang muncul di dunia musik Medan, yang akhirnya mulai merasa penting untuk melahirkan acara-acara dengan musik-musik yang kaya secara seni dan nilai dalam sebuah lagu. Lalu bermunculanlah acara-acara yang mulai menampilkan musisi-musisi berkualitas dari skena anti-mainstream. Perlahan-lahan keinginan berproses kreatif semakin besar dan mulai terlihat kesadaran di antara para musisi untuk menelurkan karya sendiri sebagai antitoksin band-band dengan lagu aduhai sebelumnya.

Pada zaman kegelapan tersebut, bukan tidak ada pergerakan musisi-musisi yang membawakan musik alternatif, tetap ada, walaupun gaungnya tipis di acara-acara raksasa kota Medan; entah memang tidak terdeteksi oleh penyelenggara-penyelenggara acara atau memang musiknya jelek. Tapi lebih tepat pilihan yang pertama, karena saat itu masih ada nama-nama hebat yang "terpinggirkan" seperti: Hairdresser on Fire, Korine Conception, SPR, Fingerprint, Dirty Jacket, The Cangis, Ucok Munthe; malahan sebenarnya banyak lagi jika dikulik secara benar. Soal musik jangan diragukan, “begu” pun pengen lihat mereka. Kurang yakin? Ko tes ajalah sendiri!

Melihat dalam batas itu buta…”

Karya menjadi sebuah kebutuhan bagi band saat ini untuk bisa bertahan dalam industri musik kota Medan. Sekalipun tetap saja banyak band-band yang hanya dibentuk dengan tujuan membawa lagu "aduhai" atau sekadar bermain aman. Band ataupun grup musik tersebut tidak jelek, karena tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar. Bila dianalogikan band-band dengan jenis ini adalah “nasi Padang” yang semua orang bisa menikmati tanpa banyak “cengkunek”, karena sesungguhnya tak butuh filosofi untuk sepiring nasi Padang. Kemudian band-band yang sering disebut “band indie” yang berpendapat memiliki karya lagu sendiri itu adalah yang terpenting, bisa digambarkan dengan “steak”, yang tidak semua orang bisa menikmati karena memang mahal dan butuh filosofi untuk bisa menikmatinya. Pada akhirnya semua kembali pada kebutuhan penikmatnya masing-masing.

Musik Medan yang semakin hari semakin sehat akhirnya memiliki nama-nama besar, yang "akhirnya" selalu dapat mengisi acara-acara besar, sekalipun masih seputaran artis pembuka untuk artis nasional, misalnya: Vintage Glasses, Liberty Gong, WINA, Selat Malaka, Raung, Candles & The Moonlight, dan ada juga beberapa band yang gaungnya sudah ada di luar Medan dan terkhusus di Jawa, seperti Hello Benji & The Cobra, JERE Fundamental dan Kemedja Poetih. Banyak oknum-oknum penyelenggara yang tidak mau menyamakan posisi sesama artis ini, dan hanya membaginya menjadi artis lokal dan artis nasional. Padahal di pulau seberang, dalam banyak acara festival musik, nama artis yang tertera di poster sudah sama besar tulisannya, dan juga diperlakukan sama tanpa ada tetek-bengek: artis lokal/artis nasional. Seringkali artis yang didatangkan ke Medan ini justru menjadi tidak nyaman karena perbedaan perlakuaan kepada artis kota Medan sendiri.

Antrian panjang dalam cermin…”

Banyak band yang secara materi musik sangat bagus, layak didengar dan juga layak disorot, namun sayangnya sorotan itu tidak pernah singgah di band-band ini. Banyak hal yang menjadikan band-band ini jarang menjadi sorotan; biasanya adalah pergaulan yang tidak mau dikembangkan dan perasaan bahwasanya musik dan genrenya adalah yang paling  hebat. Sikap ini yang biasanya justru menjadi senjata makan tuan bagi banyak band. Membangun jaringan antarsesama band sangat efektif untuk mendongkrak popularitas dan memperbesar kemungkinan untuk bisa semakin disorot. Biasanya panitia penyelenggara tidak punya data cukup untuk daftar band-band yang layak untuk diundang ke acara mereka. Kesempatan ini harusnya digunakan untuk saling merekomendasikan antara satu dengan yang lain. Bergaul dengan musisi lintas genre juga menjadi salah satu cara membangun jaringan dan melihat hal menarik yang terjadi, juga sudut pandang genre tersebut. Minder juga menjadi salah satu alasan paling klise diantara band-band yang kurang sorotan ini: “Nanti ngga diterge awak. Awak apalah stel gini aja."

Sebenarnya banyak band yang sering tampil di acara besar dan dianggap sukses justru sangat ramah dan gampang untuk berbagi; walaupun akan tetap saja ada band-band yang punya pemikiran sempit yang merasa tersaingi dan tidak mau berbagi. Semuanya kembali kepada kematangan band secara individu. Ada juga band yang merasa sangat pantas untuk berada di panggung-panggung raksasa padahal belum selesai mempelajari seluruh sistem koordinasi dalam penyelenggaraan acara. Tidak sedikit band yang sepele dengan waktu kehadiran, dan akhirnya merusak rundown sebuah acara  namun tetap ngotot untuk naik ke atas panggung dengan segudang alasan, seperti: “kuping belalang tetangganya perlu dioperasi," atau “harus menemani pacar dari sepupu tukang tempel ban langganannya belanja ke kede,” dan banyak contoh alasan penting lainnya yang menghambat kehadirannya untuk tepat waktu.

Sikap sangat terpuji itu biasanya yang membuat sebuah band lambat karirnya, bahkan MATI! Padahal menunggu itu sebenarnya bagian dari ngeband itu sendiri. Dengan menunggu, band memiliki kesempatan untuk memeriksa banyak hal yang berkaitan dengan penampilannya. Yang paling sederhana namun utama adalah bercengkrama dan mengakrabkan diri dengan sound engineer ataupun stage crew; membiasakan diri dengan suasana lokasi agar menghilangkan nervous saat akan tampil;  mengecek segala kesiapan instrumen dan briefing akhir sebelum naik ke atas panggung.

Sekalipun tersembunyi, bintang itu harus tetap dicari

Ada beberapa nama band yang jarang disorot oleh penyelenggara-penyelenggara acara namun sangat layak untuk berada di panggung-panggung maupun acara-acara besar, misalnya: Depresi Demon, Dispencer, Aurevoir, Just in Case, Jansen Ras Guru Patimpus, Lini Masa, Retired, The Clays, TBRX, Soerjakanta, F.E.M, Rumput, dan masih banyak lagi yang semuanya memiliki NILAI  dalam karyanya. Inti dari berkarya adalah menemukan nilai dan mengungkapkannya kepada banyak orang. Genre, style, skena, adalah hal yang sangat tidak penting jika dibandingkan dengan karya dan proses dalam menelurkan karya itu sendiri. Tak ada hal yang lebih hebat selain berkarya, karena lewat karya maka kita punya jejak keberadaan yang menyatakan bahwa kita pernah hidup di dunia.  Mengutip kata-kata Rene Descartes, "Cugito Ergo Sum:  “Aku berpikir maka aku ada."

(ilustrasi oleh Aga Depresi)

Leave a Comment

Baca Juga