Degil Zine

Awamnya, komunitas adalah suatu lembaga pemersatu, penampung segala ide yang selaras. Pun sesuai dengan definisi yang ada di KBBI, bahwa komunitas adalah suatu kelompok organisme yang hidup dan saling berinteraksi di dalam suatu daerah tertentu. Dengan begitu, tentunya kita akur bahwa pendirian suatu komunitas adalah upaya dalam menyatukan banyak manusia di dalam satu wadah. Tapi bagaimana jadinya kalau terdapat beberapa komunitas (yang sesungguhnya memiliki ide yang selaras) di dalam suatu daerah? (dalam hal ini, kita berbicara soal komunitas musik). Mari kita telaah lebih mendalam.

Segerombol anak muda bertampang culun, sepertinya anak band indie, sedang berkerumun di depan telepon umum yang terletak di depan fakultas kedokteran, Universitas Sumatra Utara.

“Bang, mau booking studio.”
“Berapa jam, bos?”
“Dua jam aja, Bang.”
“Oke. Atas nama siapa?”
“Fakir!”
“Fakir?”
“Iya, Bang, Fuck Kirana!!!”[i]

Pada sekitar awal tahun 2000an, secara tidak direncanakan terbentuklah suatu komunitas musik yang bermarkas di studio Kirana, Jalan Darussalam. Sebab kebanyakan dari mereka adalah alumnus maupun pelajar dari Smansa dan Harapan (sekolah menengah atas paling top di kota Medan), komunitas ini berkembang cepat seperti virus sampar. Sebut saja beberapa nama: The Cangis (akhirnya menjadi Cangis saja), Beautiful Monday, Korine Conception, Cherrycola, dan Hairdresser on Fire. Siapa pun penikmat musik kota ini akan mengangguk ketika kita mengatakan bahwa komunitas ini berkiblat pada band-band dari tanah Britania Raya. Cangis, yang mengaku bergenre garage revival, pada awalnya sangat terinspirasi oleh riff-riff ala Arctic Monkey, ditambah lagi dengan kecintaan sang vokalis pada Stephen Patrick Morrissey. Beautiful Monday, (pada mulanya) secara telanjang terlihat seperti gabungan antara The Rolling Stones dan The Beatles. Sedang Korine, bagaimanapun ramainya barisan band-band aneh Eropa maupun Amerika yang mengilhami mereka, paling tidak, Slowdive tentu masuk di dalamnya.

Tak lama setelah "anak-anak Kirana" mulai menginvasi segala gigs dan birthday party, lahirlah satu komunitas musik lain di lokasi yang sesungguhnya tak jauh dari Kirana. Tepat di studio Tomato, Jalan Tomat, beberapa band yang merasa "dianaktirikan" di Lost in A Melody (Kirana), memutuskan untuk bergabung dengan musisi-musisi bau kencur yang mencoba-coba membikin gig dengan format tribute to. Pada awalnya, dua komunitas ini tampak mesra, dengan tampilnya Cangis di Tribute to Oasis yang diselenggarakan oleh anak-anak Tomato. Namun saling ejek mulai berkembang bersamaan dengan semakin aktifnya penggunaan media sosial (baca: friendster). Eksistensi dan aktualisasi diri berkembang menjadi sikap angkuh dalam mendewa-dewakan komunitasnya masing-masing. Meski tampak baik-baik saja di depan umum, tatapan mata dan gerak bibir bila bertemu tak bisa membohongi kebencian dari kedua anggota komunitas.

Tomato, dengan munculnya Dirty Jacket, Gizmo, Just in Case, Park Sound dan juga gigs "tribute to" yang kebanyakan mengangkat band-band asal British, secara teori memiliki "ide yang selaras" dengan Kirana. Bukan hanya soal genre mayoritas, namun juga gaya; rambut gondrong acak-acakan, skinny jeans, kaos dengan lengan tergulung, serta bermacam nama band aneh yang selalu menghiasi dada (di era itu, semakin kau mengenal suatu band dari negeri entah berantah maka semakin naiklah pamormu) seakan membingungkan orang awam dalam memilah mana yang “anak Kirana” mana yang “anak Tomato”. Toh begitu, tak juga mampu mengakrabkan kedua komunitas secara sadar.

Status friendster yang ditulis oleh Pandi (saat itu vokalis Rumput Tetangga), "Morrissey = Emo", dan juga stiker "Why Must British" yang menyalak di bodi gitarnya, membuat yang bersangkutan dilabrak oleh beberapa “anak Kirana”. Ketersinggungan semakin menajam setelah Hairdresser on Fire mengkritik secara terbuka Tribute to Rolling Stones yang diselenggarakan oleh anak-anak Tomato. Selain musik dan idealisme akut dalam interpretasi genre, soal perempuan turut pula mewarnai pertikaian kala itu. Tak perlu disebut namanya, tatkala si perempuan yang dulunya adalah kekasih dari salah satu pentolan Tomato pada akhirnya tersangkut asmara (beberapa asmara) di Kirana.

Siapa sangka, pertikaian-pertikaian yang terjadi malah menjadi suatu dialektika dalam menghasilkan generasi-generasi baru yang kompeten dan sehat; sehat dalam bermusik dan juga sehat dalam berkompetisi. Dari Kirana muncul nama-nama semacam The Object of Addictif, Super Wonderland, The Brengsex (TBRX), Digital Sex, sampai akhirnya ke Pijar. Sedang Tomato melahirkan The Oh Good, Rumput Tetangga (Rumput), The Williams, Ahimsa, Early Morning dan sebagainya. Lahirnya generasi-generasi baru tadi mendaur-ulang hubungan antarkedua komunitas. Hampir selalu dapat dipastikan kehadiran “anak-anak Kirana” di gig yang diselenggarakan Tomato, begitu pun sebaliknya. Kembalinya Benji (eks vokalis Its Difference Class) dari Jakarta juga tambah merekatkan hubungan (betapa hanya Tuhan yang tahu besarnya rasa cinta Benji pada Eka, sang vokalis The Williams!)

Akhirul kalam, kita tak bisa menolak kelahiran bermacam-macam komunitas, positif dan negatifnya mereka di mata kita. Perpecahan? Tergantung dari sudut mana kau melihatnya. Toh proses selalu memakan korban, sedang akhir adalah sesuatu yang pada waktunya akan dilihat sebagai suatu jalan. Pengalaman-pengalaman di atas mengkristalisasi pola pikir generasi selanjutnya akan mahalnya sebuah persatuan, terlepas dari mana pun komunitas yang dinaunginya. Dan lihatlah sekarang, bagaimana persaudaraan antarkomunitas-komunitas baru telah menguburkan kenangan-kenangan manis masa lalu antara Kirana dan Tomato.

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

[i] Lelucon ini benar-benar pernah terjadi. Diceritakan kembali oleh orang yang tak ingin namanya disebut.

 

1 thought on “TOMATO X KIRANA: DIALEKTIKA DALAM PERTIKAIAN

Leave a Comment

Baca Juga

Awamnya, komunitas adalah suatu lembaga pemersatu, penampung segala ide yang selaras. Pun sesuai dengan definisi yang ada di KBBI, bahwa komunitas adalah suatu kelompok organisme yang hidup dan saling berinteraksi di dalam suatu daerah tertentu. Dengan begitu, tentunya kita akur bahwa pendirian suatu komunitas adalah upaya dalam menyatukan banyak manusia di dalam satu wadah. Tapi bagaimana jadinya kalau terdapat beberapa komunitas (yang sesungguhnya memiliki ide yang selaras) di dalam suatu daerah? (dalam hal ini, kita berbicara soal komunitas musik). Mari kita telaah lebih mendalam.

Segerombol anak muda bertampang culun, sepertinya anak band indie, sedang berkerumun di depan telepon umum yang terletak di depan fakultas kedokteran, Universitas Sumatra Utara.

“Bang, mau booking studio.”
“Berapa jam, bos?”
“Dua jam aja, Bang.”
“Oke. Atas nama siapa?”
“Fakir!”
“Fakir?”
“Iya, Bang, Fuck Kirana!!!”[i]

Pada sekitar awal tahun 2000an, secara tidak direncanakan terbentuklah suatu komunitas musik yang bermarkas di studio Kirana, Jalan Darussalam. Sebab kebanyakan dari mereka adalah alumnus maupun pelajar dari Smansa dan Harapan (sekolah menengah atas paling top di kota Medan), komunitas ini berkembang cepat seperti virus sampar. Sebut saja beberapa nama: The Cangis (akhirnya menjadi Cangis saja), Beautiful Monday, Korine Conception, Cherrycola, dan Hairdresser on Fire. Siapa pun penikmat musik kota ini akan mengangguk ketika kita mengatakan bahwa komunitas ini berkiblat pada band-band dari tanah Britania Raya. Cangis, yang mengaku bergenre garage revival, pada awalnya sangat terinspirasi oleh riff-riff ala Arctic Monkey, ditambah lagi dengan kecintaan sang vokalis pada Stephen Patrick Morrissey. Beautiful Monday, (pada mulanya) secara telanjang terlihat seperti gabungan antara The Rolling Stones dan The Beatles. Sedang Korine, bagaimanapun ramainya barisan band-band aneh Eropa maupun Amerika yang mengilhami mereka, paling tidak, Slowdive tentu masuk di dalamnya.

Tak lama setelah "anak-anak Kirana" mulai menginvasi segala gigs dan birthday party, lahirlah satu komunitas musik lain di lokasi yang sesungguhnya tak jauh dari Kirana. Tepat di studio Tomato, Jalan Tomat, beberapa band yang merasa "dianaktirikan" di Lost in A Melody (Kirana), memutuskan untuk bergabung dengan musisi-musisi bau kencur yang mencoba-coba membikin gig dengan format tribute to. Pada awalnya, dua komunitas ini tampak mesra, dengan tampilnya Cangis di Tribute to Oasis yang diselenggarakan oleh anak-anak Tomato. Namun saling ejek mulai berkembang bersamaan dengan semakin aktifnya penggunaan media sosial (baca: friendster). Eksistensi dan aktualisasi diri berkembang menjadi sikap angkuh dalam mendewa-dewakan komunitasnya masing-masing. Meski tampak baik-baik saja di depan umum, tatapan mata dan gerak bibir bila bertemu tak bisa membohongi kebencian dari kedua anggota komunitas.

Tomato, dengan munculnya Dirty Jacket, Gizmo, Just in Case, Park Sound dan juga gigs "tribute to" yang kebanyakan mengangkat band-band asal British, secara teori memiliki "ide yang selaras" dengan Kirana. Bukan hanya soal genre mayoritas, namun juga gaya; rambut gondrong acak-acakan, skinny jeans, kaos dengan lengan tergulung, serta bermacam nama band aneh yang selalu menghiasi dada (di era itu, semakin kau mengenal suatu band dari negeri entah berantah maka semakin naiklah pamormu) seakan membingungkan orang awam dalam memilah mana yang “anak Kirana” mana yang “anak Tomato”. Toh begitu, tak juga mampu mengakrabkan kedua komunitas secara sadar.

Status friendster yang ditulis oleh Pandi (saat itu vokalis Rumput Tetangga), "Morrissey = Emo", dan juga stiker "Why Must British" yang menyalak di bodi gitarnya, membuat yang bersangkutan dilabrak oleh beberapa “anak Kirana”. Ketersinggungan semakin menajam setelah Hairdresser on Fire mengkritik secara terbuka Tribute to Rolling Stones yang diselenggarakan oleh anak-anak Tomato. Selain musik dan idealisme akut dalam interpretasi genre, soal perempuan turut pula mewarnai pertikaian kala itu. Tak perlu disebut namanya, tatkala si perempuan yang dulunya adalah kekasih dari salah satu pentolan Tomato pada akhirnya tersangkut asmara (beberapa asmara) di Kirana.

Siapa sangka, pertikaian-pertikaian yang terjadi malah menjadi suatu dialektika dalam menghasilkan generasi-generasi baru yang kompeten dan sehat; sehat dalam bermusik dan juga sehat dalam berkompetisi. Dari Kirana muncul nama-nama semacam The Object of Addictif, Super Wonderland, The Brengsex (TBRX), Digital Sex, sampai akhirnya ke Pijar. Sedang Tomato melahirkan The Oh Good, Rumput Tetangga (Rumput), The Williams, Ahimsa, Early Morning dan sebagainya. Lahirnya generasi-generasi baru tadi mendaur-ulang hubungan antarkedua komunitas. Hampir selalu dapat dipastikan kehadiran “anak-anak Kirana” di gig yang diselenggarakan Tomato, begitu pun sebaliknya. Kembalinya Benji (eks vokalis Its Difference Class) dari Jakarta juga tambah merekatkan hubungan (betapa hanya Tuhan yang tahu besarnya rasa cinta Benji pada Eka, sang vokalis The Williams!)

Akhirul kalam, kita tak bisa menolak kelahiran bermacam-macam komunitas, positif dan negatifnya mereka di mata kita. Perpecahan? Tergantung dari sudut mana kau melihatnya. Toh proses selalu memakan korban, sedang akhir adalah sesuatu yang pada waktunya akan dilihat sebagai suatu jalan. Pengalaman-pengalaman di atas mengkristalisasi pola pikir generasi selanjutnya akan mahalnya sebuah persatuan, terlepas dari mana pun komunitas yang dinaunginya. Dan lihatlah sekarang, bagaimana persaudaraan antarkomunitas-komunitas baru telah menguburkan kenangan-kenangan manis masa lalu antara Kirana dan Tomato.

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

[i] Lelucon ini benar-benar pernah terjadi. Diceritakan kembali oleh orang yang tak ingin namanya disebut.

 

1 thought on “TOMATO X KIRANA: DIALEKTIKA DALAM PERTIKAIAN

Leave a Comment

Baca Juga