Folk dan Nasi Padang

FOLK DAN NASI PADANG

Rokok pertama saat jam makan siang adalah hal yang paling memuaskan. Setiap tarikan layaknya penebusan dosa setelah enam jam menghardik atasan, klien, pemerintah dan Tuhan. Sepiring nasi dengan lauk ayam, telur balado dan campuran kuah kental dari restoran sederhana layaknya rukiyah dan reality check bahwa kesederhanaan itu mahal harganya.

Saya tidak mencoba untuk me-review restoran ini, karena buat apa, tapi prolog di atas segaris dengan apa yang terjadi dengan perkembangan salah satu sub-genre musik yang sedang digandrungi anak muda penyembah senja. Apalagi kalau bukan musik (so called) folk.

Tahun 2017 merupakan pagelaran bagi folk. Di mana-mana anak muda menyuarakan lirik musik folk; di caption foto mereka: “Bila Nanti Saatnya Telah Tiba” dari Akad yang super jelek dan sangat Pop hingga caption dari Jason Ranti, “Kafir”, agar dianggap kritis dan melek keadaan sosial negara penuh intrik dan hirearki ini. Saya sih hanya menyanyikan “The Pribumi Took My Baby Away” milik salah satu band punk legendaries, The Ramanies.

Saya tidak terlalu memperhatikan musik folk sebegitu detail karena memang bukan selera saya. Saya tahu band folk seperti Little Lute hanya karena, Dea, sang vokalis yang cantik parah, dengan gaya yang seakan menjadi stereotype “gadis indie”, yang entah dari mana munculnya. Tapi tak apa, yang penting cantik. Cantik mah bebas. Kembali ke nasi Padang. Folk menurut Wikipedia (karena persetan buku-buku, ini bukan skripsi) merupakan sebuah genre musik yang berkembang dari musik-musik tradisional, yang meleburkan elemen-elemen tarian dan kesenian rakyat dari berbagai macam lapisan sosial masyarakat.  Oke? Saya berhenti sampai di situ saja.

Saya mencoba membuka beberapa artis folk lokal di playlist Spotify, untuk melihat apakah benar saling berkesinambungan dengan pengertian folk dari Wikipedia. Saya mulai dari beberapa artis seperti Little Lute, Mr. Sonjaya, hingga Silampukau. Litte Lute sepertinya memasukkan banyak unsur musik dari Eropa, seperti sang pengamen di film Ratatuli. Mr. Sonjaya juga. Hanya Silampukau yang mungkin terasa sangat Indonesia. Bagaimana dengan elemen-elemen tarian? Sepertinya berpengaruh terhadap nuansa penontonnya saja. Okelah, saya iyakan. Dari berbagai macam lapisan sosial masyarakat?  Ini yang harus saya garis bawahi.

Saya menempatkan diri sebagai orang awam yang baru kenal folk; mungkin kalian bisa memberikan saya teguran pribadi jika statement ini salah. Silakan.

Saya sering kali mendengar musik folk dengan lirik yang rumit, penuh metafora dan pemilihan diksi yang saya iyakan sebagai seni berbahasa. Tetapi, apakah yang mereka suarakan bisa buat saya bergidik dan memahami secara cepat? Sepertinya tidak. Saya butuh beberapa kali untuk mencerna lirik Banda Neira yang puitis nan indah itu.

Tetapi apakah esensinya bisa meleburkan berbagai lapisan masyarakat? Tunggu dulu, ibu saya mungkin tidak akan pernah paham dengan, “Yang sia-sia akan jadi makna“.

Saya tumbuh bersama musik folk lokal Jambi seperti Ketimun Bungkuk, Sekapur Sirih, serta musik-musik Melayu lokal. Mereka indah, diiringi instrumen Melayu, dan saya anggap memiliki nilai jual yang baik. Tetapi katanya mereka bukan musik folk; mereka musik tradisional? What? Seriously?

Di mana garis pembatas antara musik tradisional dan musik rakyat sehingga tidak bisa dibilang musik folk? Mereka memiliki semua elemen yang mendukung, hingga sampai pada level kearifan lokal. Oh, apa mungkin karena tidak adanya gitar akustik dan vokal dengan efek reverb dan delay yang berlebihan, so called ambience? Kebetulan saya sedang makan nasi Padang dengan salah satu rekan kerja yang juga musisi folk dan produser Hip Hop. Saya menanyakan padanya, apakah musik folk mulai bergeser secara nilai dan estetikanya? Dan dia jawab, iya. Saya tanya kenapa? Dia membeberkan nama-nama musisi seperti Bob Dylan hingga Iwan Fals. Wah, bahasanya lugas sekali dan saya paham apa yang ingin mereka suarakan. Dan si teman saya ini, sebut saja Senartogok, mengatakan bahwa, “Suara dan semangat sudah berubah, tidak seperti apa yang terjadi saat era Folk Revival di Amerika. Musik folk terlalu bersih, terlalu dipoles. Elemen ballad-nya hilang.”

Ballad? Apa urusannya? Oh, yah! Lapisan masyarakat. Iwan Fals yang menceritakan kisah si Budi Kecil jualan koran demi hidup, hingga Galang sang anak dan Bob Dylan yang bercerita tentang Davey Moore. Bagaimana dengan Gill Scott Heron?  Dia bukan musisi folk, tho? Senartogok hanya bilang kalau folk itu luas sekali, tidak sekadar musik bergitar akustik dengan chord mayor; segalanya adalah penyampaian ide yang bisa menembus seluruh lapisan masyarakat tanpa harus buka kamus. Menarik ini musik.

Kami akhirnya terjebak dalam pembicaraan teknis rekaman di mana dia menyebutkan beberapa teknik rekaman era Folk Revival yang sangat sederhana dan kesannya kotor banget; musisi folk yang terus berimprovisasi karena tidak hapal lirik dan semua terjadi apa adanya di atas panggung. Hilangnya unsur “kerakyatan” sampai pada level musik folk dapat disebut sebagai pop di atas lembaian senar akustik dan reverb nan mahal. Mana rakyatnya? Mana kesamarataannya? Begitu pula saya hentikan pembicaraan ini, biar dia enggak emosi.

Tegukan es teh manis terakhir dan job reminder datang. Segera saya berkemas. Senartogok menutup pembicaraan, “Gue bukan mencoba sok minimalis, folk itu tentang jiwa. Penyanyi Gipsy nyanyinya fales, tapi jiwanya tersampaikan.”

Folk seperti santapan nasi Padang. Kesederhanaan yang harus ditebus dengan harga 40.000 di saat kami bisa makan dengan lauk yang sama dengan harga 13.000, bahkan gratis. Kesederhanaan itu dipoles agar bisa dikonsumsi dan diperjualbelikan. Kesederhanaan nasi putih dengan tumpahan lauk tetapi berlambang nilai jual. Musik folk yang rakyat sekali, dipoles sedemikian rupa untuk menjadi hiburan bagi modernisasi yang aduhai. Di zaman ini, nasi Padang juga bergeser nilai, tak ada bedanya dengan folk.

Jadi, apakah folk hanyalah sebuah musik pop yang dibawakan secara akustik? Saya kembalikan kepada Anda sekalian.

Share this post

Recent post