Degil Zine

Kembali lagi, aksi pijak memijak para musisi dilakukan oleh sesama (katanya) penggiat seni di kota Medan. Sedikit aneh memang, entah kenapa rasanya ada pihak yang memiliki dendam kesumat yang membara jika musisi Medan menjadi kritis.

Setelah pelecehan di JakCloth (8-10 September 2017) yang digelar kemarin, di mana penyelenggara secara sepihak membatalkan keikutsertaan seluruh band Medan tanpa konfirmasi; nama-nama band yang terpajang akhirnya ditutup menggunakan lakban, sang penyelenggara hanya bersikap tuli dan bisu terhadap komplain yang dilayangkan oleh band-band ini. Pelecehan kemudian kembali dialami beberapa band Medan di acara tahunan milik salah satu provider seluler yang (katanya) paling top itu. Penyelenggara mengorbankan beberapa band lokal untuk tidak melakukan checksound, padahal urusan checksound ini adalah salah satu bagian paling krusial dari seluruh rangkaian performance sebuah band. Untuk memecahkan masalah ini, maka diundanglah seluruh band secara mendadak sehari sebelum acara berlangsung. Pada akhir meeting ditekankan untuk saling menjaga komitmen yang telah diikat bersama.

Lalu persoalan tentang kontrak: setelah kontrak ditandatangani, lembar kontrak tidak disediakan copy maupun lembar kontrak pegangan untuk band, lalu kontrak dibawa kembali oleh pihak provider. Setelah berulangkali meminta scan kontrak, baru akhirnya dipenuhi pada hari kedua saat acara sedang berlangsung. Masalah kontrak menjadi meruncing ketika provider merasa beberapa band tidak mau mengikuti komitmen pelunasan pembayaran seperti yang tertera di kontrak, karena menanyakan kapan pelunasan dilakukan, padahal masalah ini muncul karena provider tidak memberikan copy isi kontrak, dan pasti sulit untuk mengingat poin-poin penting yang ada di kontrak jika scan ataupun copy kontrak saja tidak diberikan kembali kepada band!

Pada hari kedua muncul masalah penelantaran. Band yang terjadwal sudah datang untuk checksound pada pukul 11.30 WIB. Tapi akhirnya baru dibolehkan checksound setelah pukul 14.00 WIB; sementara mereka akan tampil pada pukul 16.00 WIB. Karena mustahil ada waktu untuk pulang (mengganti baju dan mempersiapkan keperluan lain) maka band bersangkutan memutuskan untuk menunggu di sekitar panggung. Di sela waktu menunggu sudah sewajarnya jika band diberikan makan siang (sesuai dengan jam yang berlaku), tapi ketika ditanyakan persoalan komplimen ini, pihak provider maupun penyelenggara mendadak diam dan menghilang seperti babi ngepet ketika matahari mendadak datang. Di panggung yang berbeda, ternyata band yang lain lagi diminta oleh penyelenggara untuk menunggu di luar tenda, di tengah panas terik tanpa menyediakan ruangan atau minimal tempat khusus, dan akhirnya harus menjemur instrumen anak-anak band tersebut. Hal ini disebabkan adanya penambahan  konten secara mendadak, yang sebelumnya tidak ada di dalam rundown acara, yang akhirnya menyita panggung dan tempat menunggu bagi anak-anak band.

Pada akhir acara ada band lain yang ditanyai persoalan kontrak oleh penyelenggara, karena di dalam kontrak ternyata diatur pasal mengenai: pihak provider akan memenuhi riders teknis dan non teknis (komplimen).

Dan segala kerusuhan ini bersumber dari OKNUM-OKNUM provider lokal, yang mengambil-alih pekerjaan dari penyelenggara tanpa koordinasi dengan penyelenggara dari ibukota; bahkan kontrak untuk para band-band juga seakan disembunyikan, padahal tugas penyelenggaralah untuk memenuhi segala kebutuhan bagi seluruh band, sehingga terjadilah kekacauan di sana sini.

Kami mesti mempertanyakan, kenapa panitia yang berasal dari ibukota lebih memiliki etika ketimbang kalian, yang sejatinya merupakan sesama orang Medan. Apa kalian risi dengan majunya band-band Medan, hingga kalian tidak bisa lagi membayar kami dengan sebungkus nasi Padang atau sekotak KFC seperti zaman kegelapan dulu? Intinya, kami tidak akan menghardik kalian jika kalian menghargai kami, saudara-saudara kami, adik-adik kami, dan seluruh penggiat seni di kota ini, dengan jujur dan penuh keterbukaan.

Pada akhirnya kalian malah mengedarkan isu dengan mengatakan bahwa band Medan “SOK ARTIS.” Padahal dari sini sudah jelas, siapa sebenarnya yang tidak profesional dan terkesan amatir!

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

17 thoughts on “SURAT TERBUKA UNTUK PARA PENYIHIR KOTA MEDAN (1)

  1. nah, yang seperti ini harus kita sosialisasikan untuk teman2 pelaku seni lainya… untuk yang akan datang, jika perlakuan terhadap talent tidak memuaskan, ya kita sepakat untuk tidak performa (dalam arti semua bisa dibicarakan)

  2. Loh? Masih terjadi juga kyk gini di era elon musk gini? Fotokan aja kaleee kontraknya sewaktu tandatangan, kok harus nunggu scan?? Perjanjian gak sesuai kontrak? Ultimatum! Koar2 juga gak guna boss. Masalah kyk gini di jaman 2000an sih.. jadi move on dikitlah coy..

    • Move on kalo masalahnya dah selesai coy. Bagus ini dibuka, biar tahu. Cobalah ko selesaikan dulu masalahnya, biar pada move on orang ni.

      • Loak kali kau nak indi. Ini sama dgn komen Umar Bakrie. Nyimaklah klen dikit. Otak klen di dungkul kurasa. Solusi udah kukasih tau, masa harus nunggu scan kontrak utk kejelasan. Perjelas kontraknya sama penyelenggara, foto kan kontraknya kalo udah sepakat keduabelah pihak, jelas? Ngertinya klen maksudku? Ya kalo udah jelaslah kontraknya kedua belah pihak makanya klen fotokan buat bukti. Ada loak2 kelen kurasa. Masa di foto tanpa ada kesepakatan. Move on lah memang biar gak dilema terjadi kyk gini lagi. Ini masalah udah lama, gak dibuka atau dibuka semua udah tau. Kyk krisis manggung aja ampe kontrak kerjasama pun keteter. Jangan longor boss!

  3. Kita mulai ini dengan satu persepsi yang sangat biasa kita dengar di kancah permusikan – event organizer ini yaitu “kawan-kawan”.
    atas dasar latar belakang “kawan-kawan” yang entah darimana asal muasal nya ini,pihak organizer lokal selalu ber-asumsi bahwasannya talent lokal menjadi “patut” tidak diperhatikan lantaran sesama penggiat lokal yang saling mengenal satu sama lain.intinya sih menyepelekan.

    Lalu organizer lokal ini pun beranggapan talent-talent (disini khususnya band) tidak akan mempermasalahkan fee,komplimen,venue,soundcheck,perangkat supporting,dan lain lain yang padahal merupakan kebutuhan pokok dari si talent itu sendiri karena merasa saling mengenal satu sama lain itu tadi.
    “udalah kawan-kawan aja pun”
    “alah.. masih satu nya album nya”
    “orang itu pun senangnya itu bisa maen”

    Sangat familiar bukan,kita mendengar bahkan tidak sengaja kita ikut nimbrung di percakapan laknat diatas dengan tanpa sadar terucap “Medan ini lek jangan banyak kali la gaya kelen”.

    Maka dengan sangat gegap gempita organizer lokal kita menjadi semakin beringas untuk mengambil keuntungan pribadi dari budaya azas manfaat di local scene ini.

    Toh,tidak bisa kita pungkiri semakin banyak juga band yang bubar dikarenakan personelnya lebih memilih banting stir ke per-event-an.mungkin dia sudah mulai faham lebih banyak benefit yang bisa diambil dari menjadi “buaya event” di lokal scene ini.

    Beberapa bulan yang lalu “wreck it wednesday” salah satu tema acara dari penggiat lokal yang dinaungi oleh salah satu merk rokok yang notabene isinya adalah para revolusioner dari organizer sebelumnya,sangat jelas membudi-dayakan program azas manfaat “kawan-kawan” ini.banyak band yang tidak mendapatkan hak nya,jadwal kacau,sampai ke alat supporting seperti kabel jack saja tidak lagi diperdulikan,”sudahlah mainkan saja”.begitu kata kata yang terdengar di kuping saya saat diatas panggung.dan akhirnya kita bermain seperti panggung dahsyat rcti – instrumen bisu dengan seakan akan kita memainkannya.bahkan saat dikejar soal hak talent yg sangat krusial tadi,salah seorang panitianya hanya bisa tersenyum tersipu malu dibalik kacamata mahalnya itu.
    Sangat disayangkan tentang adanya individu-individu dalam satu organizer tersebut yang membuat seakan akan semua individu dari organizer tersebut seakan ter-generalisasi menjadi satu organizer lokal yang tidak mengusung dan menjunjung tingggi kesepakatan yang telah dibuat.

    itu adalah gambaran yang baru baru saja terjadi selain kasus kasus diatas yang degil bicarakan.

    Sampai kapanpun budaya azas manfaat di scene kota ini,tidak akan pernah pudar.akan semakin banyak dan merebak seperti virus virus yang vaksinnya sendiri belum bisa kita temukan selain dari kekebalan diri kita untuk mengatakan “kami tidak bisa diberdaya”,terhadap “kawan-kawan” nya sendiri.

  4. Lucu ugakk ea, apalah kekuatan poto dibandingkan ama kontrak, dimana2 kontrak dua pihak kaleeee, yang di ttd di atas materai oleh penyelenggara disimpen ama anak band, yg di ttd di atas materai ama anak band disimpen penyelenggara om.

  5. buat musisi, anak band. dan segala macamnya kalo mau “tdk disepelekan” ya tegas. masak gitu aja susah.
    ya ngeluh setelah acara selesai tu namanya ‘merengek’.
    berSIKAP lah. Kau yg butuh itu apa Itu yg butuh kau?! .kalo menjawab soal kebutuhan pelacur juga punya alasan oke buat kerjaan nya.
    this is a standart problem of music industry. face it like a man..eh..a Band

    atau (mungkin) kau memang msh terlalu dini untuk bisa menikmati asiknya sebuah panggung hiburan, nikmatilah atau mungkin kw merasa udah cukup dgn segala Kesepelean satu pihak terhadap band mu??sehingga kw muak?? pindah tempat aja..
    selama masih Indonesia, medan ya tetap 2nd 3rd grade of this industry
    u wanna change it?
    change ur mind first.

    • Wah penyihirnya muncul juga!
      Klo ngeluhnya pas acara, ya sudah, kyk dibilang degil, kontraknya disembunyiin sama penyihir-penyihir itu. Jadi mau ga mau anak-anak band itu mesti menyelesaikan kewajibannya dulu.
      Yang butuh itu sebetulnya bukan mereka aja. Klo ga ada anak band, gaa bakal rame acara elo itu. Anak-anak band itu bisa bikin acara mereka sendiri. Jadi salah mindset purba elo itu. Yang butuh itu ya kalian!
      Ngomong industri kayak udah paham aja lu. Main-main ke Jakarta, biar tahu lu gimana industri memperlakukan talentnya.

  6. Gampang saja sebenarnya , penuhi semua riders dan klausula2 kontrak di realisasikan lalu lunasi pembayaran baru lah kita manggung , kalo gak yaa NO MONEY NO DANCE dong akhhh hahhaha

  7. hahahahah..si benyamin nih..nm blkng ny button apa suebb..haha

    first i DONT CARE at ALL about music industry..maybe u know?? owh shiett..

    masalahnya adalah keluhan karena disepelekan..dan yg disepelekan mencibir dikemudian hari berharap tdk terulang. oke fine. belajar la dari kesalahan ..bersikap dan bermanajemen yang bagus.

    trus kalo emg sebenarny eo yg butuh ya iya..mereka butuh “penghibur” a.k.a sang penampil dan ente ente lah itu..
    dan ente butuh kan secara nominal,portofolio dll dll..
    ente bisa buat acara..ya buatlah..kan bagus gitu..pertahankan..kalo bisa buat skala lbh besar..udah jelas aman..apalagi?

    yang terpenting tuh..tau dulu kita ni siapa..kayak apa..deal dgn siapa kayakmana bla bla bla..baru bisa komplain kalo tiba” kenak perlakuan kurang menyenangkan.

    bukan malah merasa pengen disamakan kayak yang lain tanpa ko tau yang lain itu seperti apa rupanya udah gmn perjalanannya.

    gak semua rusa bisa dimangsa buaya walaupun dia suka mainmain minum didekat air..rusa yang handal tu bisa lari dr buaya..yang kenak tu rusa rusa yg baru mainmain kesitu..
    ngerti?

    and above all ..I Aint no witch man…i am that they Worshiped
    ho ho ho..

  8. Masalahnya bukan mau seperti apa dan diperlakukan seperti apa, nyong. Lu baca lagi tu di atas. Kalau mau bela perusahaan ya pake logika dikit. Jangan asal tubruk. Degil bilang, kalo band-band itu mendapat perlakuan yang bagus kalo ditangani sama eo dari Jakarta, yang ga beeres itu eo lokalnya. Ngerti ga lo? Paham? Mau diulang? Jadi bukan selevel apa bandnya baru dapat perlakuan yang layak, karena setau gue, eo jakarta ga pernah membeda-bedakan perlakuan pada talent. Ngerti nyong?
    Dan tu liat, analoginya ellu aja parah banget. Buaya mangsa rusa? Iya kaleee buat eo macam elu. Kita di sini ga kenal mangsa-mangsaan, kita dengan band itu saling bekerjasama. Sorry to say. Gue ngomong begini supaya pembaca ga salah arti sama pikiran gawat lu, ganas, cenderung kurang ajar.

  9. Wah apa ni bawa2 KFC? Udah tau belom kalo kita ada ChocChick? Oh iya jangan lupa buat dessert kita punya Sundae yang lebih enak daripada punya McD, dan jangan lupa minumnya Krusher yaaaa.

    14022

    • Wah seru nihh. Nasi Padang juga disebut. Jangan lupa ya untuk konsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna. Dan itulah keunggulan dari Nasi Padang. Dengan lauk pauk yg sehat menjaga nutrisi tetap seimbang. Untuk minuman tidak diragukan lagi teh “mandi” kita masih tak tergantikan. Salam

      (061) 4577900

  10. hahahahah..
    talent dgn eo jkrta = oke
    talent (lokal) dgn eo lokal (yg nge Sub) = Tdk ok

    hmm..
    lantas sang talent (yg sangat bertalenta) marah..dan kezeell..hahhah..
    pertikaian lokal pun terjadi..

    ..meanwhile..
    the BigBoss still good dgn acara acara selanjutnya..tetap berlangsung..tetap ramai..tetap OK 😅😅😅😅

  11. tetap ramai..
    tetap Ok…

    tapi entah sampai kapan kalian bisa berdiri dengan budaya azas manfaat kalian.

    disaat nanti semua sadar… mungkin kalian faham betapa membutuhkannya pihak kalian talent-talent yang sangat bisa di ajak bekerjasama dengan baik tanpa tetek bengek apapun selama kesepakatan.

    sampai jumpa nanti.

Leave a Comment

Baca Juga

Kembali lagi, aksi pijak memijak para musisi dilakukan oleh sesama (katanya) penggiat seni di kota Medan. Sedikit aneh memang, entah kenapa rasanya ada pihak yang memiliki dendam kesumat yang membara jika musisi Medan menjadi kritis.

Setelah pelecehan di JakCloth (8-10 September 2017) yang digelar kemarin, di mana penyelenggara secara sepihak membatalkan keikutsertaan seluruh band Medan tanpa konfirmasi; nama-nama band yang terpajang akhirnya ditutup menggunakan lakban, sang penyelenggara hanya bersikap tuli dan bisu terhadap komplain yang dilayangkan oleh band-band ini. Pelecehan kemudian kembali dialami beberapa band Medan di acara tahunan milik salah satu provider seluler yang (katanya) paling top itu. Penyelenggara mengorbankan beberapa band lokal untuk tidak melakukan checksound, padahal urusan checksound ini adalah salah satu bagian paling krusial dari seluruh rangkaian performance sebuah band. Untuk memecahkan masalah ini, maka diundanglah seluruh band secara mendadak sehari sebelum acara berlangsung. Pada akhir meeting ditekankan untuk saling menjaga komitmen yang telah diikat bersama.

Lalu persoalan tentang kontrak: setelah kontrak ditandatangani, lembar kontrak tidak disediakan copy maupun lembar kontrak pegangan untuk band, lalu kontrak dibawa kembali oleh pihak provider. Setelah berulangkali meminta scan kontrak, baru akhirnya dipenuhi pada hari kedua saat acara sedang berlangsung. Masalah kontrak menjadi meruncing ketika provider merasa beberapa band tidak mau mengikuti komitmen pelunasan pembayaran seperti yang tertera di kontrak, karena menanyakan kapan pelunasan dilakukan, padahal masalah ini muncul karena provider tidak memberikan copy isi kontrak, dan pasti sulit untuk mengingat poin-poin penting yang ada di kontrak jika scan ataupun copy kontrak saja tidak diberikan kembali kepada band!

Pada hari kedua muncul masalah penelantaran. Band yang terjadwal sudah datang untuk checksound pada pukul 11.30 WIB. Tapi akhirnya baru dibolehkan checksound setelah pukul 14.00 WIB; sementara mereka akan tampil pada pukul 16.00 WIB. Karena mustahil ada waktu untuk pulang (mengganti baju dan mempersiapkan keperluan lain) maka band bersangkutan memutuskan untuk menunggu di sekitar panggung. Di sela waktu menunggu sudah sewajarnya jika band diberikan makan siang (sesuai dengan jam yang berlaku), tapi ketika ditanyakan persoalan komplimen ini, pihak provider maupun penyelenggara mendadak diam dan menghilang seperti babi ngepet ketika matahari mendadak datang. Di panggung yang berbeda, ternyata band yang lain lagi diminta oleh penyelenggara untuk menunggu di luar tenda, di tengah panas terik tanpa menyediakan ruangan atau minimal tempat khusus, dan akhirnya harus menjemur instrumen anak-anak band tersebut. Hal ini disebabkan adanya penambahan  konten secara mendadak, yang sebelumnya tidak ada di dalam rundown acara, yang akhirnya menyita panggung dan tempat menunggu bagi anak-anak band.

Pada akhir acara ada band lain yang ditanyai persoalan kontrak oleh penyelenggara, karena di dalam kontrak ternyata diatur pasal mengenai: pihak provider akan memenuhi riders teknis dan non teknis (komplimen).

Dan segala kerusuhan ini bersumber dari OKNUM-OKNUM provider lokal, yang mengambil-alih pekerjaan dari penyelenggara tanpa koordinasi dengan penyelenggara dari ibukota; bahkan kontrak untuk para band-band juga seakan disembunyikan, padahal tugas penyelenggaralah untuk memenuhi segala kebutuhan bagi seluruh band, sehingga terjadilah kekacauan di sana sini.

Kami mesti mempertanyakan, kenapa panitia yang berasal dari ibukota lebih memiliki etika ketimbang kalian, yang sejatinya merupakan sesama orang Medan. Apa kalian risi dengan majunya band-band Medan, hingga kalian tidak bisa lagi membayar kami dengan sebungkus nasi Padang atau sekotak KFC seperti zaman kegelapan dulu? Intinya, kami tidak akan menghardik kalian jika kalian menghargai kami, saudara-saudara kami, adik-adik kami, dan seluruh penggiat seni di kota ini, dengan jujur dan penuh keterbukaan.

Pada akhirnya kalian malah mengedarkan isu dengan mengatakan bahwa band Medan “SOK ARTIS.” Padahal dari sini sudah jelas, siapa sebenarnya yang tidak profesional dan terkesan amatir!

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

17 thoughts on “SURAT TERBUKA UNTUK PARA PENYIHIR KOTA MEDAN (1)

  1. nah, yang seperti ini harus kita sosialisasikan untuk teman2 pelaku seni lainya… untuk yang akan datang, jika perlakuan terhadap talent tidak memuaskan, ya kita sepakat untuk tidak performa (dalam arti semua bisa dibicarakan)

  2. Loh? Masih terjadi juga kyk gini di era elon musk gini? Fotokan aja kaleee kontraknya sewaktu tandatangan, kok harus nunggu scan?? Perjanjian gak sesuai kontrak? Ultimatum! Koar2 juga gak guna boss. Masalah kyk gini di jaman 2000an sih.. jadi move on dikitlah coy..

    • Move on kalo masalahnya dah selesai coy. Bagus ini dibuka, biar tahu. Cobalah ko selesaikan dulu masalahnya, biar pada move on orang ni.

      • Loak kali kau nak indi. Ini sama dgn komen Umar Bakrie. Nyimaklah klen dikit. Otak klen di dungkul kurasa. Solusi udah kukasih tau, masa harus nunggu scan kontrak utk kejelasan. Perjelas kontraknya sama penyelenggara, foto kan kontraknya kalo udah sepakat keduabelah pihak, jelas? Ngertinya klen maksudku? Ya kalo udah jelaslah kontraknya kedua belah pihak makanya klen fotokan buat bukti. Ada loak2 kelen kurasa. Masa di foto tanpa ada kesepakatan. Move on lah memang biar gak dilema terjadi kyk gini lagi. Ini masalah udah lama, gak dibuka atau dibuka semua udah tau. Kyk krisis manggung aja ampe kontrak kerjasama pun keteter. Jangan longor boss!

  3. Kita mulai ini dengan satu persepsi yang sangat biasa kita dengar di kancah permusikan – event organizer ini yaitu “kawan-kawan”.
    atas dasar latar belakang “kawan-kawan” yang entah darimana asal muasal nya ini,pihak organizer lokal selalu ber-asumsi bahwasannya talent lokal menjadi “patut” tidak diperhatikan lantaran sesama penggiat lokal yang saling mengenal satu sama lain.intinya sih menyepelekan.

    Lalu organizer lokal ini pun beranggapan talent-talent (disini khususnya band) tidak akan mempermasalahkan fee,komplimen,venue,soundcheck,perangkat supporting,dan lain lain yang padahal merupakan kebutuhan pokok dari si talent itu sendiri karena merasa saling mengenal satu sama lain itu tadi.
    “udalah kawan-kawan aja pun”
    “alah.. masih satu nya album nya”
    “orang itu pun senangnya itu bisa maen”

    Sangat familiar bukan,kita mendengar bahkan tidak sengaja kita ikut nimbrung di percakapan laknat diatas dengan tanpa sadar terucap “Medan ini lek jangan banyak kali la gaya kelen”.

    Maka dengan sangat gegap gempita organizer lokal kita menjadi semakin beringas untuk mengambil keuntungan pribadi dari budaya azas manfaat di local scene ini.

    Toh,tidak bisa kita pungkiri semakin banyak juga band yang bubar dikarenakan personelnya lebih memilih banting stir ke per-event-an.mungkin dia sudah mulai faham lebih banyak benefit yang bisa diambil dari menjadi “buaya event” di lokal scene ini.

    Beberapa bulan yang lalu “wreck it wednesday” salah satu tema acara dari penggiat lokal yang dinaungi oleh salah satu merk rokok yang notabene isinya adalah para revolusioner dari organizer sebelumnya,sangat jelas membudi-dayakan program azas manfaat “kawan-kawan” ini.banyak band yang tidak mendapatkan hak nya,jadwal kacau,sampai ke alat supporting seperti kabel jack saja tidak lagi diperdulikan,”sudahlah mainkan saja”.begitu kata kata yang terdengar di kuping saya saat diatas panggung.dan akhirnya kita bermain seperti panggung dahsyat rcti – instrumen bisu dengan seakan akan kita memainkannya.bahkan saat dikejar soal hak talent yg sangat krusial tadi,salah seorang panitianya hanya bisa tersenyum tersipu malu dibalik kacamata mahalnya itu.
    Sangat disayangkan tentang adanya individu-individu dalam satu organizer tersebut yang membuat seakan akan semua individu dari organizer tersebut seakan ter-generalisasi menjadi satu organizer lokal yang tidak mengusung dan menjunjung tingggi kesepakatan yang telah dibuat.

    itu adalah gambaran yang baru baru saja terjadi selain kasus kasus diatas yang degil bicarakan.

    Sampai kapanpun budaya azas manfaat di scene kota ini,tidak akan pernah pudar.akan semakin banyak dan merebak seperti virus virus yang vaksinnya sendiri belum bisa kita temukan selain dari kekebalan diri kita untuk mengatakan “kami tidak bisa diberdaya”,terhadap “kawan-kawan” nya sendiri.

  4. Lucu ugakk ea, apalah kekuatan poto dibandingkan ama kontrak, dimana2 kontrak dua pihak kaleeee, yang di ttd di atas materai oleh penyelenggara disimpen ama anak band, yg di ttd di atas materai ama anak band disimpen penyelenggara om.

  5. buat musisi, anak band. dan segala macamnya kalo mau “tdk disepelekan” ya tegas. masak gitu aja susah.
    ya ngeluh setelah acara selesai tu namanya ‘merengek’.
    berSIKAP lah. Kau yg butuh itu apa Itu yg butuh kau?! .kalo menjawab soal kebutuhan pelacur juga punya alasan oke buat kerjaan nya.
    this is a standart problem of music industry. face it like a man..eh..a Band

    atau (mungkin) kau memang msh terlalu dini untuk bisa menikmati asiknya sebuah panggung hiburan, nikmatilah atau mungkin kw merasa udah cukup dgn segala Kesepelean satu pihak terhadap band mu??sehingga kw muak?? pindah tempat aja..
    selama masih Indonesia, medan ya tetap 2nd 3rd grade of this industry
    u wanna change it?
    change ur mind first.

    • Wah penyihirnya muncul juga!
      Klo ngeluhnya pas acara, ya sudah, kyk dibilang degil, kontraknya disembunyiin sama penyihir-penyihir itu. Jadi mau ga mau anak-anak band itu mesti menyelesaikan kewajibannya dulu.
      Yang butuh itu sebetulnya bukan mereka aja. Klo ga ada anak band, gaa bakal rame acara elo itu. Anak-anak band itu bisa bikin acara mereka sendiri. Jadi salah mindset purba elo itu. Yang butuh itu ya kalian!
      Ngomong industri kayak udah paham aja lu. Main-main ke Jakarta, biar tahu lu gimana industri memperlakukan talentnya.

  6. Gampang saja sebenarnya , penuhi semua riders dan klausula2 kontrak di realisasikan lalu lunasi pembayaran baru lah kita manggung , kalo gak yaa NO MONEY NO DANCE dong akhhh hahhaha

  7. hahahahah..si benyamin nih..nm blkng ny button apa suebb..haha

    first i DONT CARE at ALL about music industry..maybe u know?? owh shiett..

    masalahnya adalah keluhan karena disepelekan..dan yg disepelekan mencibir dikemudian hari berharap tdk terulang. oke fine. belajar la dari kesalahan ..bersikap dan bermanajemen yang bagus.

    trus kalo emg sebenarny eo yg butuh ya iya..mereka butuh “penghibur” a.k.a sang penampil dan ente ente lah itu..
    dan ente butuh kan secara nominal,portofolio dll dll..
    ente bisa buat acara..ya buatlah..kan bagus gitu..pertahankan..kalo bisa buat skala lbh besar..udah jelas aman..apalagi?

    yang terpenting tuh..tau dulu kita ni siapa..kayak apa..deal dgn siapa kayakmana bla bla bla..baru bisa komplain kalo tiba” kenak perlakuan kurang menyenangkan.

    bukan malah merasa pengen disamakan kayak yang lain tanpa ko tau yang lain itu seperti apa rupanya udah gmn perjalanannya.

    gak semua rusa bisa dimangsa buaya walaupun dia suka mainmain minum didekat air..rusa yang handal tu bisa lari dr buaya..yang kenak tu rusa rusa yg baru mainmain kesitu..
    ngerti?

    and above all ..I Aint no witch man…i am that they Worshiped
    ho ho ho..

  8. Masalahnya bukan mau seperti apa dan diperlakukan seperti apa, nyong. Lu baca lagi tu di atas. Kalau mau bela perusahaan ya pake logika dikit. Jangan asal tubruk. Degil bilang, kalo band-band itu mendapat perlakuan yang bagus kalo ditangani sama eo dari Jakarta, yang ga beeres itu eo lokalnya. Ngerti ga lo? Paham? Mau diulang? Jadi bukan selevel apa bandnya baru dapat perlakuan yang layak, karena setau gue, eo jakarta ga pernah membeda-bedakan perlakuan pada talent. Ngerti nyong?
    Dan tu liat, analoginya ellu aja parah banget. Buaya mangsa rusa? Iya kaleee buat eo macam elu. Kita di sini ga kenal mangsa-mangsaan, kita dengan band itu saling bekerjasama. Sorry to say. Gue ngomong begini supaya pembaca ga salah arti sama pikiran gawat lu, ganas, cenderung kurang ajar.

  9. Wah apa ni bawa2 KFC? Udah tau belom kalo kita ada ChocChick? Oh iya jangan lupa buat dessert kita punya Sundae yang lebih enak daripada punya McD, dan jangan lupa minumnya Krusher yaaaa.

    14022

    • Wah seru nihh. Nasi Padang juga disebut. Jangan lupa ya untuk konsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna. Dan itulah keunggulan dari Nasi Padang. Dengan lauk pauk yg sehat menjaga nutrisi tetap seimbang. Untuk minuman tidak diragukan lagi teh “mandi” kita masih tak tergantikan. Salam

      (061) 4577900

  10. hahahahah..
    talent dgn eo jkrta = oke
    talent (lokal) dgn eo lokal (yg nge Sub) = Tdk ok

    hmm..
    lantas sang talent (yg sangat bertalenta) marah..dan kezeell..hahhah..
    pertikaian lokal pun terjadi..

    ..meanwhile..
    the BigBoss still good dgn acara acara selanjutnya..tetap berlangsung..tetap ramai..tetap OK 😅😅😅😅

  11. tetap ramai..
    tetap Ok…

    tapi entah sampai kapan kalian bisa berdiri dengan budaya azas manfaat kalian.

    disaat nanti semua sadar… mungkin kalian faham betapa membutuhkannya pihak kalian talent-talent yang sangat bisa di ajak bekerjasama dengan baik tanpa tetek bengek apapun selama kesepakatan.

    sampai jumpa nanti.

Leave a Comment

Baca Juga