penyihir ktoa mdn

SURAT TERBUKA UNTUK PARA PENYIHIR KOTA MEDAN (1)

Kembali lagi, aksi pijak memijak para musisi dilakukan oleh sesama (katanya) penggiat seni di kota Medan. Sedikit aneh memang, entah kenapa rasanya ada pihak yang memiliki dendam kesumat yang membara jika musisi Medan menjadi kritis.

Setelah pelecehan di JakCloth (8-10 September 2017) yang digelar kemarin, di mana penyelenggara secara sepihak membatalkan keikutsertaan seluruh band Medan tanpa konfirmasi; nama-nama band yang terpajang akhirnya ditutup menggunakan lakban, sang penyelenggara hanya bersikap tuli dan bisu terhadap komplain yang dilayangkan oleh band-band ini. Pelecehan kemudian kembali dialami beberapa band Medan di acara tahunan milik salah satu provider seluler yang (katanya) paling top itu. Penyelenggara mengorbankan beberapa band lokal untuk tidak melakukan checksound, padahal urusan checksound ini adalah salah satu bagian paling krusial dari seluruh rangkaian performance sebuah band. Untuk memecahkan masalah ini, maka diundanglah seluruh band secara mendadak sehari sebelum acara berlangsung. Pada akhir meeting ditekankan untuk saling menjaga komitmen yang telah diikat bersama.

Lalu persoalan tentang kontrak: setelah kontrak ditandatangani, lembar kontrak tidak disediakan copy maupun lembar kontrak pegangan untuk band, lalu kontrak dibawa kembali oleh pihak provider. Setelah berulangkali meminta scan kontrak, baru akhirnya dipenuhi pada hari kedua saat acara sedang berlangsung. Masalah kontrak menjadi meruncing ketika provider merasa beberapa band tidak mau mengikuti komitmen pelunasan pembayaran seperti yang tertera di kontrak, karena menanyakan kapan pelunasan dilakukan, padahal masalah ini muncul karena provider tidak memberikan copy isi kontrak, dan pasti sulit untuk mengingat poin-poin penting yang ada di kontrak jika scan ataupun copy kontrak saja tidak diberikan kembali kepada band!

Pada hari kedua muncul masalah penelantaran. Band yang terjadwal sudah datang untuk checksound pada pukul 11.30 WIB. Tapi akhirnya baru dibolehkan checksound setelah pukul 14.00 WIB; sementara mereka akan tampil pada pukul 16.00 WIB. Karena mustahil ada waktu untuk pulang (mengganti baju dan mempersiapkan keperluan lain) maka band bersangkutan memutuskan untuk menunggu di sekitar panggung. Di sela waktu menunggu sudah sewajarnya jika band diberikan makan siang (sesuai dengan jam yang berlaku), tapi ketika ditanyakan persoalan komplimen ini, pihak provider maupun penyelenggara mendadak diam dan menghilang seperti babi ngepet ketika matahari mendadak datang. Di panggung yang berbeda, ternyata band yang lain lagi diminta oleh penyelenggara untuk menunggu di luar tenda, di tengah panas terik tanpa menyediakan ruangan atau minimal tempat khusus, dan akhirnya harus menjemur instrumen anak-anak band tersebut. Hal ini disebabkan adanya penambahan  konten secara mendadak, yang sebelumnya tidak ada di dalam rundown acara, yang akhirnya menyita panggung dan tempat menunggu bagi anak-anak band.

Pada akhir acara ada band lain yang ditanyai persoalan kontrak oleh penyelenggara, karena di dalam kontrak ternyata diatur pasal mengenai: pihak provider akan memenuhi riders teknis dan non teknis (komplimen).

Dan segala kerusuhan ini bersumber dari OKNUM-OKNUM provider lokal, yang mengambil-alih pekerjaan dari penyelenggara tanpa koordinasi dengan penyelenggara dari ibukota; bahkan kontrak untuk para band-band juga seakan disembunyikan, padahal tugas penyelenggaralah untuk memenuhi segala kebutuhan bagi seluruh band, sehingga terjadilah kekacauan di sana sini.

Kami mesti mempertanyakan, kenapa panitia yang berasal dari ibukota lebih memiliki etika ketimbang kalian, yang sejatinya merupakan sesama orang Medan. Apa kalian risi dengan majunya band-band Medan, hingga kalian tidak bisa lagi membayar kami dengan sebungkus nasi Padang atau sekotak KFC seperti zaman kegelapan dulu? Intinya, kami tidak akan menghardik kalian jika kalian menghargai kami, saudara-saudara kami, adik-adik kami, dan seluruh penggiat seni di kota ini, dengan jujur dan penuh keterbukaan.

Pada akhirnya kalian malah mengedarkan isu dengan mengatakan bahwa band Medan “SOK ARTIS.” Padahal dari sini sudah jelas, siapa sebenarnya yang tidak profesional dan terkesan amatir!

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

Share this post

Recent post