Degil Zine

Hola! Kepada pembaca, saya ingatkan ini bukan wikipedishit yang memaparkan segala tetek bengek bla-bla soal musik blues. Ingat! Ini hanya pemaparan dari otak penulis yang notabene bukan pemusik pro, apalagi cendikiawan bertameng doktor. Ya, hanya penikmat musik. Semoga kalian-kalian para bangsat bisa menerimanya.

Yah, blues, blues, dan blues; sebuah kata yang sekilas dipandang simpel, tidak semenarik pop, tapi punya makna sedalam palung laut. Tergantung sudut pandang masing-masing orang. Dari mata penulis, blues itu sekadar aliran musik. Lantunan yang dilahirkan oleh budak-budak kulit hitam di zaman enggak enak Amerika. Menjadi salah satu wadah hiburan yang diadopsi dari lagu-lagu pujian kepada Sang Pencipta. Seiring waktu, blues menjelma jahanam gila. Kita bisa memulainya dari pengakuan Robert Johnson yang menjual jiwanya kepada iblis  agar bisa bercumbu dengan blues, menjadikan genre ini semakin menarik gairah anak-anak muda. Semakin masifnya bar-bar di Amerika menyajikan musik blues menjadi letusan kelahiran bagi para punggawa blues, khususnya di era 50an. B.B King, Buddy Guy, dan John Lee Hooker adalah beberapa pentolan di era itu. Blues di era ini menurut penulis sangat-sangat gelap dan bernuansa magis. Notasi yang sederhana, vokal yang sambut menyambut menjadi ciri khasnya; penindasan, ketidakadilan, black versus white, menjadi pilar utama dalam mengekspresikan blues. Not-not gelap di era ini memiliki nilai magis tersendiri, tergantung bagaimana Anda menyerapnya. Kalau yang penulis alami: merinding dan ketinggian! Coba saja dengar semua album B.B King ketika hatimu sedang hancur. Jamin! Kau akan semakin tertekan! Dibumbui dengan lick-lick bending khas raja blues membuatmu larut-hanyut di dalam lagu. Heart felt, kecewa, amarah, horny, semua ada di era ini.

Era 60an dan 70an adalah fase emas bagi perkembangan blues. Terjadi perubahan yang signifikan di era ini. Tempo lebih cepat, sound gitar yang heavy menjadi gaya baru di sini. Jimmi hendrix, Yarbirds, dan Janis Joplin adalah beberapa nama dari era ini, bung! Namun jangan pula lupakan keterlibatan musisi blues dan narkoba. Ya, era ini sangat kental dengan drugs dan segala hal yang memabukkan. LSD (lysergyc Acid Diethylamide), hippie, dan musik sangat berkaitan erat bagaikan Galih dan Ratna. Entah supaya apa, tapi sepertinya berhasil. Ya, lihat saja Jimmi hendrix, di zaman itu dia kepikiran buat solo gitar yang panjang dan memabukkan, menjadi kiblat untuk para pemuja gitar. Jangan pula lupakan teknik menyanyi serak-serak basah ala Janis joplin. Apakah pengaruh LSD, atau karena soul yang meledak-ledak? Biarlah otakmu yang menilai.

Setelah era ini, perlahan-lahan blues mulai mengembangkan benihnya secara masif. Musisi yang baru “crot” keluar dari rahim mengawinkan blues dengan gaya baru, seiring berubahnya selera musik pasar. Sedikit lari dari topik, kita lihat produk-produk motown sound. Marvin Gaye, Stevie Wonder, dan bla-bla; mereka menggabungkan unsur blues jadi lebih berwarna. Ya, memang menurut versi wikipedishit mereka bukanlah musisi blues, namun dari lagu-lagu mereka yang penulis dengar sangat-sangat kawin dengan blues. Diwarnai dengan vokal yang lembut, menggantikan peran gitar dengan kibor dan organ, serta drum yang lebih groovy. Dan jangan lupa dengan 12 bar yang menjadi identitas baru musik di era 70an awal. Soul, Groovy, apa pun namanya, mereka berkaitan erat dengan blues.

Era 80an, blues mengalami kemunduran. Disko enggak jelas, power chord, glam band, sukses menghancurkan pamor para sesepuh musik. Mari kita katakan selamat tinggal untuk blues murni di era ini. Entah karena apa blues mulai tersingkir. Apakah karena orang bosan? Atau pengaruh masyarakat lebih konsumtif terhadap hal-hal baru? Hah! Yang jelas, biarkan otakmu menelaahnya sendiri. Namun pada tahun 1983, angin segar kembali menghampiri blues. Stevie Ray Vaughn meluncurkan album pertamanya, Texas Flood, dan menjadi penanda kebangkitan blues.

Era milenial, junior-junior blues muncul pula ke permukaan. John Mayer, Gary Clark Jr, Derek Trucks, dan Joe Boanamasa, adalah beberapa nama dari sederet musisi yang berhasil menjaga eksistensi blues. Namun, ya, lagi-lagi blues ditimpa oleh pamor dari genre yang lebih mengasyikkan dan lebih catchy. Tapi penulis sangat yakin, 100 %, bahwa blues tak akan berhenti dan hilang begitu saja. Doi akan tetap bertahan dengan lick-lick yang memabukkan, lantunan menggoncang batin dengan nuansa gelap dan magisnya. Singkirkan pikiran soal bagaimana musik ini di masa dua puluh tahun ke depan. Bagaikan agama yang selalu punya pengikut di setiap waktu, itulah blues. Easy to play hard to feel, I never had blues but blues always had me, akan selalu jadi pedoman bagi para pengikutnya, layaknya Quran dan Injil.

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

6 thoughts on “BLUES: BERANAK DAN HIDUP

  1. Gugun bukan blues, tapi pelawak yang cinta mati sama Persija. Jangan ngomongin doi, lagi kena bencana tuh

Leave a Comment

Baca Juga

Hola! Kepada pembaca, saya ingatkan ini bukan wikipedishit yang memaparkan segala tetek bengek bla-bla soal musik blues. Ingat! Ini hanya pemaparan dari otak penulis yang notabene bukan pemusik pro, apalagi cendikiawan bertameng doktor. Ya, hanya penikmat musik. Semoga kalian-kalian para bangsat bisa menerimanya.

Yah, blues, blues, dan blues; sebuah kata yang sekilas dipandang simpel, tidak semenarik pop, tapi punya makna sedalam palung laut. Tergantung sudut pandang masing-masing orang. Dari mata penulis, blues itu sekadar aliran musik. Lantunan yang dilahirkan oleh budak-budak kulit hitam di zaman enggak enak Amerika. Menjadi salah satu wadah hiburan yang diadopsi dari lagu-lagu pujian kepada Sang Pencipta. Seiring waktu, blues menjelma jahanam gila. Kita bisa memulainya dari pengakuan Robert Johnson yang menjual jiwanya kepada iblis  agar bisa bercumbu dengan blues, menjadikan genre ini semakin menarik gairah anak-anak muda. Semakin masifnya bar-bar di Amerika menyajikan musik blues menjadi letusan kelahiran bagi para punggawa blues, khususnya di era 50an. B.B King, Buddy Guy, dan John Lee Hooker adalah beberapa pentolan di era itu. Blues di era ini menurut penulis sangat-sangat gelap dan bernuansa magis. Notasi yang sederhana, vokal yang sambut menyambut menjadi ciri khasnya; penindasan, ketidakadilan, black versus white, menjadi pilar utama dalam mengekspresikan blues. Not-not gelap di era ini memiliki nilai magis tersendiri, tergantung bagaimana Anda menyerapnya. Kalau yang penulis alami: merinding dan ketinggian! Coba saja dengar semua album B.B King ketika hatimu sedang hancur. Jamin! Kau akan semakin tertekan! Dibumbui dengan lick-lick bending khas raja blues membuatmu larut-hanyut di dalam lagu. Heart felt, kecewa, amarah, horny, semua ada di era ini.

Era 60an dan 70an adalah fase emas bagi perkembangan blues. Terjadi perubahan yang signifikan di era ini. Tempo lebih cepat, sound gitar yang heavy menjadi gaya baru di sini. Jimmi hendrix, Yarbirds, dan Janis Joplin adalah beberapa nama dari era ini, bung! Namun jangan pula lupakan keterlibatan musisi blues dan narkoba. Ya, era ini sangat kental dengan drugs dan segala hal yang memabukkan. LSD (lysergyc Acid Diethylamide), hippie, dan musik sangat berkaitan erat bagaikan Galih dan Ratna. Entah supaya apa, tapi sepertinya berhasil. Ya, lihat saja Jimmi hendrix, di zaman itu dia kepikiran buat solo gitar yang panjang dan memabukkan, menjadi kiblat untuk para pemuja gitar. Jangan pula lupakan teknik menyanyi serak-serak basah ala Janis joplin. Apakah pengaruh LSD, atau karena soul yang meledak-ledak? Biarlah otakmu yang menilai.

Setelah era ini, perlahan-lahan blues mulai mengembangkan benihnya secara masif. Musisi yang baru “crot” keluar dari rahim mengawinkan blues dengan gaya baru, seiring berubahnya selera musik pasar. Sedikit lari dari topik, kita lihat produk-produk motown sound. Marvin Gaye, Stevie Wonder, dan bla-bla; mereka menggabungkan unsur blues jadi lebih berwarna. Ya, memang menurut versi wikipedishit mereka bukanlah musisi blues, namun dari lagu-lagu mereka yang penulis dengar sangat-sangat kawin dengan blues. Diwarnai dengan vokal yang lembut, menggantikan peran gitar dengan kibor dan organ, serta drum yang lebih groovy. Dan jangan lupa dengan 12 bar yang menjadi identitas baru musik di era 70an awal. Soul, Groovy, apa pun namanya, mereka berkaitan erat dengan blues.

Era 80an, blues mengalami kemunduran. Disko enggak jelas, power chord, glam band, sukses menghancurkan pamor para sesepuh musik. Mari kita katakan selamat tinggal untuk blues murni di era ini. Entah karena apa blues mulai tersingkir. Apakah karena orang bosan? Atau pengaruh masyarakat lebih konsumtif terhadap hal-hal baru? Hah! Yang jelas, biarkan otakmu menelaahnya sendiri. Namun pada tahun 1983, angin segar kembali menghampiri blues. Stevie Ray Vaughn meluncurkan album pertamanya, Texas Flood, dan menjadi penanda kebangkitan blues.

Era milenial, junior-junior blues muncul pula ke permukaan. John Mayer, Gary Clark Jr, Derek Trucks, dan Joe Boanamasa, adalah beberapa nama dari sederet musisi yang berhasil menjaga eksistensi blues. Namun, ya, lagi-lagi blues ditimpa oleh pamor dari genre yang lebih mengasyikkan dan lebih catchy. Tapi penulis sangat yakin, 100 %, bahwa blues tak akan berhenti dan hilang begitu saja. Doi akan tetap bertahan dengan lick-lick yang memabukkan, lantunan menggoncang batin dengan nuansa gelap dan magisnya. Singkirkan pikiran soal bagaimana musik ini di masa dua puluh tahun ke depan. Bagaikan agama yang selalu punya pengikut di setiap waktu, itulah blues. Easy to play hard to feel, I never had blues but blues always had me, akan selalu jadi pedoman bagi para pengikutnya, layaknya Quran dan Injil.

(Ilustrasi oleh Aga Depresi)

6 thoughts on “BLUES: BERANAK DAN HIDUP

  1. Gugun bukan blues, tapi pelawak yang cinta mati sama Persija. Jangan ngomongin doi, lagi kena bencana tuh

Leave a Comment

Baca Juga