dog__surrealism

HAHANJING

Sudahkah bung lama menunggu di sini? Maafkan saya bung, maafkan atas keterlambatanku. Mari bung, aku pesankan minum lagi, sebagai permintaan maafku. Sebenarnya bung, keterlambatanku ini disebabkan hanya masalah sepele. Bukan bung, bukan, bukan karena aku telat bangun atau bagaimana. Keterlambatanku disebabkan aku bingung menentukan pakaian yang akan aku kenakan pada hari ini, bung. Sudah bung sudah, jangan tertawakan aku lagi. Aku tahu itu aneh bung, tapi tidaklah benar itu apa yang bung katakan. Beberapa hari yang lalu aku dinasehati ibuku, bung. Bagaimana mau dapat pendamping hidup kalau pakaian yang kukenakan seperti pengamen jalanan. Ya, bung tahu sendirilah standar ibuku itu, ia punya standar yang tinggi terhadap pakaian seseorang, bung.

Sebenarnya sudah dari dua jam lalu aku bersiap untuk pergi menemui bung di sini. Tapi ketika aku melihat diriku di cermin, aku tiba-tiba merasa ragu, bung. Bukan karena masalah tampangku yang jelek ini bung, tapi soal pakaian yang aku kenakan. Sebenarnya tidaklah dari pakaian yang kukenakan ada cacat atau robek satu pun, hanya saja aku takut bung. Ya bung, aku takut, takut jika apa yang kukenakan tidak mencerminkan kebaikan di dalam diriku ini. Kedengaran terlalu seriuskah, bung? Beberapa orang menganggap serius persoalan tentang pakaian ini bung. Padahalkan bung tahu bagaimana bisa kadar kebaikan seseorang bisa diukur dari pakaian yang kita kenakan. Coba lihat saja pejabat-pejabat yang ditangkap karena korupsi itu, bung. Kurang bagus apalagi pakaian yang mereka kenakan, tapi toh tetap saja mereka korupsi, bung. Bung pasti tahu juga dengan mereka yang berpakaian suci itu? Bukannya mencontohkan kebaikan, eh malah menyebarkan kebencian. Bung, dalam waktu ini janganlah bung memakai baju-baju warna merah atau tokoh-tokoh berjenggot ya, bung. Bahaya bung saat ini, bisa-bisa diamuk massa kita, bung. Bung seperti menebak pikiranku, karena itulah aku memakai kemeja batik biar dibilang cinta sama budaya sendiri.

Nah, sudah datang minumnya, mari diminum dulu bung, selagi masih hangat. Kalo bung mau rokok aku juga ada. Janganlah sungkan bung, bung sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Buku yang mana bung? Oh buku-buku yang bung pinjamkan bulan lalu. Beberapa ada yang selesai kubaca dan beberapa ada yang berhenti aku baca, bung. Buku Pram, Arus Balik, Ken Arok, habis tuntas aku baca, bung. Aku pinjam agak lama ya bung, mau kubaca-baca ulang dulu. Buku yang berhenti kubaca? Bukunya Nietzche, bung, yang Zarathustra, sama buku-buku seri orang kiri itu bung, Njoto dan Mussou. Bukan bung bukan, bukan karena aku nggak ada waktu atau bagaimana, bung. Sebenarnya bung, tetapi bung janji jangan tertawakan aku. Aku berhenti baca buku-buku itu karena takut bung, takut aku bung, dicap dan dilabeli sebagai orang yang, yaa… bung tahu sendirilah apa maksudku itu. Jadi begini sebenarnya bung, waktu itu disela-sela istirahat jam kerja aku ke kantin. Aku bacalah buku-buku itu bung. Baru baca beberapa halaman tiba-tiba ada yang nyeletuk bung. Dibilangnyalah aku ini sok filosofis atau apalah baca-baca buku begitu. Tidaklah masalah bagiku itu bung, yang jadi masalah bagiku ketika dibilangnya aku ini ateis dan komunis. Loh kok bung malah tertawa, ini serius bung, ia bilang begitu kepadaku. Sontak langsung kututup bukuku dan langsung pergi dari situ. Tetapi tetap saja bung, cap yang ia berikan padaku itu masih berlaku hingga sekarang. Pandangan orang-orang padaku berubah semenjak hari itu, bung. Mereka seakan melihat aku ini seperti binatang berbahaya, harus dijauhi dan bahkan mungkin dibunuh. Semua hanya karena aku membaca buku, bung.

Aku bukan pengecut bung, cobalah bung jadi aku. Apa yang akan bung lakukan? Tetap membaca, bung? Bung yakin akan tetap membaca? Benar bung, bung sangatlah benar kali ini. Akulah yang salah. Perkataan mereka membuat aku berhenti membaca. Hanya sekadar membaca ternyata tidak membuat aku menjadi seorang yang lebih baik, bung. Salah? Mengapa salah, bung? Bukankah seorang terpelajar seperti aku ini sudah gagal berlaku adil sejak dalam pikiran? Jujur aku bingung bung, masalah pengecapan/pelabelan ini bisa terjadi di kalangan orang-orang terpelajar, bung. Mereka kurang membaca atau membatasi bacaan aku tidak tahu, bung. Kalangan seperti aku ini seharusnya berteman dekat dengan buku, bukankah begitu, bung? Janganlah begitu bung, walau sedikit mereka membaca tapi lihatlah ketika mereka diajak berdebat atau berkomentar. Tidak sedikit kata-kata yang keluar dari mulut mereka itu, bung. Terkadang bingung aku, dari mana asalnya kata-kata yang dilontarkan oleh mereka itu. Aku yang terlalu bodoh atau memang mereka yang dasarnya pintar.

Ayolah bung, memang seperti itu adanya, bung. Ini fakta bung, bukan hanya sekadar opini tidak jelas di Koran, bung. Aku tidak bebas? Mungkin bung benar. Aku bukanlah manusia yang bebas. Aku dipenjarakan oleh pikiranku sendiri. Aku pikir diriku berbeda, ternyata aku sama saja dengan orang-orang itu, bung. Sudahlah bung, mari kita berbicara tentang hal lain saja, seperti sepak bola atau acara-acara di TV itu, bung. Mengapa juga obrolan ini harus menjadi serius seperti ini, bukankah begitu, bung?  Hahahanjing, bung benar, besok ketika bangun tidur kita pasti sudah melupakan apa yang kita ceritakan tadi. Bung mau minum lagi? Mari kupesankan satu lagi ya, kebetulan aku baru mendapatkan bonus dari kerja lemburku kemarin.

(Ilustrasi Oleh Lunafreja)

Share this post

Recent post