Bima

BIMA: DI SEKITAR SELEB MEDSOS

Bima Dwihastomo. Siapa orang Medan yang ngga kenal dengan dia? Di ranah indie ada, per-EO-an ada, sastra dan aktivis pun ada, sosmed apalagi, bahkan sampai tim sukses bakal calon gubernur Sumatra Utara pun ada namanya. Bukannya tamak, kemampuannya bersilat lidah dan keahliannya dalam menyembunyikan ekspresi wajah memang tingkat dewa. Tidak sulit menemui lelaki lajang bertampang menyerupai pegawai negeri asal Tegal ini. Selain di Omerta Koffie, Bima Dwihastomo juga dapat dijumpai di hampir setiap event yang berhubungan dengan kopi (selain MC kondang, doi juga sering didaulat sebagai moderator). Sudah. Sudah. Mari kita ajak dia bercakap-cakap mengenai fenomena seleb medsos yang sedang ramai belakangan ini (berhubung doi sangat mengenal dunia tersebut).

Halo. Apa kesibukan sekarang?
Halo juga. Saya sedang berkolaborasi dengan beberapa korporasi untuk memperkaya diri, serta beberapa kegiatan sosial lainnya untuk menaikkan pamor pribadi dan juga menentramkan jiwa.

Selain berperilaku menjijikkan seperti itu, Anda juga dikenal sebagai influencer. Sebenarnya apa itu?
Orang-orang yang dianggap mampu memengaruhi banyak orang, atau apa yang dilakukan dirasa akan diikuti oleh orang dalam satu wilayah tertentu. Sebenarnya sih cuma istilah akal-akalan yang diciptakan agar seseorang merasa berpengaruh. Yang melabeli influencer itu biasanya agensi digital untuk kepentingan campaign-nya.

Berarti Anda sudah memengaruhi banyak orang?
Tidak juga, malah saya tidak merasa sebagai influencer, yang menyebut seseorang sebagai influencer itu orang lain, seperti yang saya sebut sebelumnya.

Apa influencer sama dengan seleb medsos?
Selebtwit, selebgram dan seleb-seleb medsos lain biasanya diklasifikasikan berdasar jumlah followers mereka. Bisa disebut influencer karena apa yang mereka unggah di media sosial biasanya jadi perbincangan. Contoh, selebgram idola para awak pria Degilzine, Winny Putri Lubis, dari Instagram saat ini dia sudah jadi seleb di kehidupan nyata toh, dan tak sedikit yang mengikuti gaya busana dia.

Dalam hal ini, berapa minimal jumlah followers?
Tergantung platform-nya, tapi saat ini sih publik yang memutuskan siapa itu seleb medsos, tidak harus karena followers. Kecuali kepentingannya untuk campaign sebuah produk yang bermandikan kapital, baru followers penting untuk jangkauan dan eksposur.

Anda tadi mengatakan, mereka disebut influencer karena apa yang mereka unggah di medsos biasanya jadi perbincangan. Termasuk hal-hal bodoh dan tak berguna?
Pastinya, walaupun definisi bodoh dan tak berguna itu mesti dibahas lebih lanjut, karena media sosial diciptakan bukan untuk berbagi jurnal akademik, tapi untuk mengakomodir kenarsisan manusia.

Menurut anda, siapa selebgram paling berpengaruh di kota Medan?
Berpengaruh dalam artian semua orang tahu dan pernah membicarakannya walau tidak mengikuti akunnya, pastilah Winny Putri Lubis. Kalau yang lain mungkin akun-akun dengan nama Medan di belakangnya.

Apa saja yang telah dibuat nama tersebut, hingga ia menjadi pembicaraan banyak orang?
Tidak ada yang spesifik sebenarnya, tidak ada hal-hal kontroversial seperti yang dilakukan seleb medsos di Jakarta. Tapi, tiap daerah butuh jagoan di ranah digitalnya, orang-orang tadi pintar melihat peluang dan memanfaatkan dengan baik.

Peluang dalam hal?
Bisnis-lah, ranah digital, apalagi medsos kan bergelimang hal yang secara manusiawi menjadi tujuan hidup, yaitu ketenaran dan kekayaan.

Meskipun apa yang dilakukannya sebenarnya tidak spesifik, seperti yang Anda katakan tadi?
Pada akhirnya seleb medsos tersebut punya ciri khas mereka, entah benar passion atau hanya sekadar dipaksakan. Misal, beberapa orang mengambil ranah kuliner, puisi-puisian, traveling, politik, bahkan agama.

Yang berarti bahwa selebgram telah menjadi sebuah pekerjaan yang menghasilkan profit?
Pastinya, karena harus diakui, ranah digital adalah media promo terbaik dan terefektif, dalam beberapa kasus lebih murah daripada beriklan cetak.

Adakah korelasi antara para selebgram dengan musisi lokal?
Saya rasa Ada. Tak sedikit musisi lokal yang saat rilis single minta bantuan ke teman-teman yang dianggap punya banyak followers untuk promo. Bahkan juga, musisi lokal membuat semacam akun official-nya sendiri di berbagai platform media sosial.

Apakah para selebgram juga memperlakukan para musisi lokal selayaknya perusahaan yang memiliki kapital?
Tergantung individunya juga, dan perusahaan dengan kapital yang mana. Tapi untuk seleb medsos di Medan, malah kurang lebih nasibnya sama dengan musisi lokal. Tak banyak yang menghargai peran mereka yang sebenarnya cukup penting untuk promo.

Penghargaan yang seperti apa yang ingin mereka dapatkan?
Sama seperti yang diinginkan musisi lokal, kurang lebih.

Apakah menurut Anda musisi lokal harus bekerjasama dengan para seleb medsos untuk mendapatkan penghargaan yang sama itu?
Harusnya, tapi yang saya perhatikan di Medan sangat kurang sekali kerjasama antara penggiat media sosial dan musisi/talent lokal. Kebanyakan musisi yang membuat gigs hanya sekadar “minta tolong posting” saja ke para seleb medsos.

Baiknya apa yang harus mereka (musisi lokal) lakukan?
Kalau real-nya saya juga tidak tahu baiknya bagaimana, karena kembali lagi, musisi dan seleb medsos sama-sama butuh uang untuk bergerak. Seleb medsos bisa memberikan eksposur pada suatu acara yang mana musisi lokal terlibat di dalamnya. Tapi ya, kembali lagi, pemilik acara kan kebanyakan yang punya kapital. Dan kebanyakan lagi kurang menganggap menggunakan seleb medsos tidak penting.

Tadi Anda katakan soal gigs, bukankah (biasanya) dalam menyelenggarakan gigs, para musisi lokal tidak menggunakan peran sponsor? Yang kami dengar, bahkan para band yang bermain juga tidak dibayar. Bagaimana mungkin mereka malah membayar ke para seleb medsos?
Saya tidak bilang membayar seleb medsos, perlakuan, bukan cuma minta tolong posting setelah posting ya sudah. Padahal tidak Ada salahnya para seleb medsos diajak bergabung dalam skena atau bahkan ikut menjadi penyelenggara gigs. Bukan cuma masalah fee kok.

Berarti para selebgram juga harus berperan dalam penyelenggaraan sebuah gigs?
Kenapa tidak? Jadikan mereka bagian medianya, seleb medsos juga manusia yang ingin dilibatkan, saya rasa.

Oke. Terakhir. Pesan anda untuk Tengku Erry Nuradi.
Sehat-sehat selalu Pak dalam menjalankan amanah, walau badai menghadang tetap maju. Sumut Paten! Dan jangan lupa job kampanye untuk saya.

 

*Interview oleh Tengku Ariy Dipantara

Share this post

Recent post