Ruang Semiotika

RUANG UNTUK SEMIOTIKA

Soto betawi dengan perasan jeruk nipis layak untuk dicoba di saat hujan. Tampaknya di langit sana, dewa hujan sedang streaming You’re The Apple Of My Eyes, karena cintanya sedang diuji.

Bandung yang hujan terus mendatangkan rindu akan kampung halaman saya, Jambi. Rindu bukan karena suasana di sana. Jambi panas, gersang dan tidak menarik. Apa yang saya rindukan dari tempat seperti itu? Jawab: sekelompok orang yang memberikan ruang sejuk pada tanah gersang, SEMIOTIKA.

Dalam perjalanan mengarungi skena selama 10 Tahun, Jambi tak kenal kata musik menye-menye. Tidak ada ruang untukmu hadir jika tiba-tiba kau muncul seraya memainkan lagu-lagu mayor dengan ketukan bak band cafe atau playlist indie senjamu yang di-monitize. Jambi itu kota yang dikelilingi preman dan jawara lokal. Death metal hingga noise-core adalah hiburan kami walau memang ada segelintir teman-teman yang menikmati bossanova, tapi tetap band utamanya bergenre technical death. Ini semua karena letak geografis Jambi yang tidak mendukung untuk menulis lagu-lagu seperti band-band indie Indonesia yang enak itu. Kami dikelilingi ruko dan pabrik karet, juga sawit. Apa yang kau harapkan? Senja? Tertutup asap bro!

Musim paceklik skena dan rasa bosan juga keterbukaan pikiran memungkinkan tiga orang dari lintas genre untuk berkoalisi memberikan kami penawar rasa haus. Saya kenal mereka masing-masing secara pribadi. Semiotika, terdiri dari: Gembol pada drum, yang awalnya penabuh drum band deathcore dan salah satu band hardcore legendaris, Nista. Bibing pada gitar yang juga muncul dari band Melo-Death Tear Me Harder yang tiba-tiba banting stir ke arah alternative rock, Forbidden. Dan Riri pada Bass yang sangat jazz tapi pernah memainkan Lamb of God pada bandnya dulu, Euthanasia.

Saat project ini terjadi, saya sendiri berharap bahwa band ini akan memainkan post metal ala Russian Circle atau genre-genre nyeleneh bak Death Cab Cutie, atau mungkin sedikit miring ke arah Deftones; tapi ternyata dugaan saya meleset jauh, mereka memainkan post rock. Post rock? Are you kiddin me? Di mana ceritanya? Letak geografis kota Jambi tidak memungkinkan ada band adem, apalagi post rock.

semiotika

Secara musikalitas saya percaya pada mereka, toh masing-masing dari mereka adalah sound engineer yang mumpuni, tapi post rock dan jumlah personil yang hanya tiga orang? Saya harap mereka tak muncul dengan irama copy paste band post rock se-Indonesia yang tak jauh dari Explosion In The Sky atau bahkan Sigur Ros… Kodaline mungkin, walau saya enggak tahu dari mana orang bilang Kodaline itu post rock.

Setelah sekian lama, album mereka akhirnya saya dapatkan: Ruang. Ekspektasi saya hilangkan agar tak kecewa. Saya berikan kekuatan penuh dan kesiapan yang matang. Saya mainkan 8 track pada album ini. Fuck!!!! Inilah respon saya pertama setelah mendengarkan album ini secara keseluruhan. Demi apa pun, tidak ada band post rock dengan kaliber sebaik ini. Saya tidak menemukan penulisan climax yang hanya memainkan satu note digerinda 1/16 seperti jamaknya band post rock se-Indonesia Raya. Tidak ada chord standar G-A-Bm. Ini musikalitas kelas atas. Semua komposisi berubah, tanpa pengulangan yang membosankan. Semua memahami instrumen dan kekuatan nada, terlebih pada instrumen gitar. Seperti tahu kemampuan delay luar dalam dan chord apa yang baik. Tak perlu 3 sampai 4 gitaris dengan delay tabrak-menabrak namun dengan hasil noise yang membuat sound engineer menggelengkan kepala. Semua tertata rapi.

Senang sekali bisa mendengarkan Semiotika, band dari Jambi yang tidak saya duga itu. Tak heran bila Iga Masardi memuji band ini sebegitunya. Mereka gawat! Dan jangan lupakan perform live (silakan klik kalau ngga percaya) mereka yang bisa melangkahi kualitas album.

Apa pun yang kalian lakukan, coba berikan Semiotika ruang di playlist spotify kalian. Dan cobalah menulis dan catat: post rock tidak dihasilkan dari efek gitar yang mahal; ini semua tentang musikalitas dari tanah Sumatera. Saya sendiri tidak akan menggubris band post rock lain, jika tak sebagus Semiotika. Tak akan saya dengar.

Temui mereka di sini, atau sapa mereka di @semiotika_

Share this post

Recent post