Degil Zine

Sebelumnya ekpektasi saya sangat tinggi pada film ini, yang katanya bergenre baru: satay western. Mungkin artinya film ini bertema western seperti film-filmnya Sergio Leone atau mayoritas film yang dibintangi oleh John Wayne; tetapi malah hadir dari perfilman Indonesia yang di luar sana dikenal dengan "satay”-nya (kenapa tidak rendang atau nasi goreng?). Mungkin maksudnya seperti itu. Sebenarnya negeri kita pernah juga memproduksi film bertema demikian, seperti Bing Slamet Koboi Cengeng atau Benyamin dengan Tiga Janggo-nya.

Satu hal yang paling kukagumi dari film ini adalah sinematografi yang sangat luar biasa. Mereka "mengeksploitasi" alam Sumba, tempat lokasi cerita dan shooting berada. Namun salahnya saya, sehari sebelum menonton film ini, saya menonton Spirited Away, sehingga plot Marlina menjadi seperti sangat lambat, dengan dialog yang juga lambat. Tapi tidak semua film dengan plot lambat membosankan, di mana saya mungkin adalah satu dari 15% orang yang mengatakan Blade Runner 2049 atau Arrival adalah film yang lambat tapi sangat menarik.

Film ini dibagi dalam empat babak, sesuai judulnya, yang sebenarnya tidak dibagi pun memang bagian yang berurutan sesuai alur ceritanya. Jika pada awal tadi saya mengatakan film ini bergenre satay western, hingga bayangan di benak kita akan banyak melihat aksi tembak-tembakan, ternyata tidak terjadi, karena justru terdapat unsur slasher di dalamnya, syukurnya tidak sampai menuju ke horror. Bagaimana bisa disebut horror, jika kepala orang yang kita bantai lantas kita bawa-bawa sepanjang jalan dan ekspresi orang lain yang melihatnya tidak menunjukkan ekspresi seperti orang yang menjerit di scene ibu muncul tiba-tiba di depan pintu dalam Pengabdi Setan.

Inti cerita dari film ini menampilkan sosok Marlina (diperankan Marsha Timothy, yeah I adore her), seorang wanita yang berusaha membela diri dari sekelompok orang di kampungnya (disebut kampung juga bingung juga karena jarak dari satu rumah ke rumah lain sepertinya sangat berjauhan), yang berusaha menggagahinya. Hal yang mungkin akan membingungkan adalah alasan Marlina setelah membunuh mereka, karena ia justru pergi ke kantor polisi terdekat (ukuran dekat di film ini mungkin sangat jauh jika melihat jarak yang ditempuh dan transportasi yang dalam sejam sekali belum tentu lewat untuk ditumpangi), dengan membawa kepala korbannya. Setelah merasa usahanya sia-sia, Marlina kembali ke rumah dan sudah ditunggu oleh rekan korbannya yang masih tersisa (diperankan Yoga Pratama yang dulunya sering jadi anak kecil menyebalkan di film-filmnya Warkop). Kembali adegan slasher muncul di akhir scene. Pengaruh Quentin Tarantino sangat besar di film ini. Hal lain yang mungkin agak mengganggu saya ketika menonton film ini adalah scoring di tengah-tengah film yang tentu saja menghilangkan kesan thriller-nya.

Walaupun ekspektasi saya terlalu berlebihan dan seharusnya film ini bisa lebih baik lagi, sudah saatnya perfilman dalam negeri menampilkan film-film dengan genre beragam seperti ini. Menurut saya, untuk ukuran film Indonesia, Marlina sangat layak untuk ditonton, meskipun harus sedikit sabar dalam menontonnya.

Rating: 8,0

 

1 thought on “MARLINA DAN WESTERN SATAY

Leave a Comment

Baca Juga

Sebelumnya ekpektasi saya sangat tinggi pada film ini, yang katanya bergenre baru: satay western. Mungkin artinya film ini bertema western seperti film-filmnya Sergio Leone atau mayoritas film yang dibintangi oleh John Wayne; tetapi malah hadir dari perfilman Indonesia yang di luar sana dikenal dengan "satay”-nya (kenapa tidak rendang atau nasi goreng?). Mungkin maksudnya seperti itu. Sebenarnya negeri kita pernah juga memproduksi film bertema demikian, seperti Bing Slamet Koboi Cengeng atau Benyamin dengan Tiga Janggo-nya.

Satu hal yang paling kukagumi dari film ini adalah sinematografi yang sangat luar biasa. Mereka "mengeksploitasi" alam Sumba, tempat lokasi cerita dan shooting berada. Namun salahnya saya, sehari sebelum menonton film ini, saya menonton Spirited Away, sehingga plot Marlina menjadi seperti sangat lambat, dengan dialog yang juga lambat. Tapi tidak semua film dengan plot lambat membosankan, di mana saya mungkin adalah satu dari 15% orang yang mengatakan Blade Runner 2049 atau Arrival adalah film yang lambat tapi sangat menarik.

Film ini dibagi dalam empat babak, sesuai judulnya, yang sebenarnya tidak dibagi pun memang bagian yang berurutan sesuai alur ceritanya. Jika pada awal tadi saya mengatakan film ini bergenre satay western, hingga bayangan di benak kita akan banyak melihat aksi tembak-tembakan, ternyata tidak terjadi, karena justru terdapat unsur slasher di dalamnya, syukurnya tidak sampai menuju ke horror. Bagaimana bisa disebut horror, jika kepala orang yang kita bantai lantas kita bawa-bawa sepanjang jalan dan ekspresi orang lain yang melihatnya tidak menunjukkan ekspresi seperti orang yang menjerit di scene ibu muncul tiba-tiba di depan pintu dalam Pengabdi Setan.

Inti cerita dari film ini menampilkan sosok Marlina (diperankan Marsha Timothy, yeah I adore her), seorang wanita yang berusaha membela diri dari sekelompok orang di kampungnya (disebut kampung juga bingung juga karena jarak dari satu rumah ke rumah lain sepertinya sangat berjauhan), yang berusaha menggagahinya. Hal yang mungkin akan membingungkan adalah alasan Marlina setelah membunuh mereka, karena ia justru pergi ke kantor polisi terdekat (ukuran dekat di film ini mungkin sangat jauh jika melihat jarak yang ditempuh dan transportasi yang dalam sejam sekali belum tentu lewat untuk ditumpangi), dengan membawa kepala korbannya. Setelah merasa usahanya sia-sia, Marlina kembali ke rumah dan sudah ditunggu oleh rekan korbannya yang masih tersisa (diperankan Yoga Pratama yang dulunya sering jadi anak kecil menyebalkan di film-filmnya Warkop). Kembali adegan slasher muncul di akhir scene. Pengaruh Quentin Tarantino sangat besar di film ini. Hal lain yang mungkin agak mengganggu saya ketika menonton film ini adalah scoring di tengah-tengah film yang tentu saja menghilangkan kesan thriller-nya.

Walaupun ekspektasi saya terlalu berlebihan dan seharusnya film ini bisa lebih baik lagi, sudah saatnya perfilman dalam negeri menampilkan film-film dengan genre beragam seperti ini. Menurut saya, untuk ukuran film Indonesia, Marlina sangat layak untuk ditonton, meskipun harus sedikit sabar dalam menontonnya.

Rating: 8,0

 

1 thought on “MARLINA DAN WESTERN SATAY

Leave a Comment

Baca Juga