Hasbullah

HASBULLAH PARINDURI DAN PACAR MERAHNYA

Bagi generasi zaman now, nama Hasbullah Parinduri tentu saja tidak se-dangdut Tere Liye, seindah Sapardi si Hujan Bulan Juni, atau seradikal Wiji Thukul. Saya malah yakin tidak banyak yang mengingatnya, mengetahui siapa dia, alih-alih apa saja yang telah dikerjakannya. Terutama anak-anak muda Medan, kota di mana ia dilahirkan. Jangan harap! Sepanjang pengetahuan saya, tak pernah saya dengar ada sastrawan muda (mengaku) Medan yang pernah menyebut namanya, apa pula mau bikin bedah buku ala-ala biar nampak intelek. Saya yakin Hasbullah juga tak ingin diperlakukan senorak itu. Tapi paling tidak kita mesti mengenalnya agar bisa memetik pelajaran dari apa saja yang telah ia sumbangkan bagi kesusastraan Indonesia, Medan khususnya.

Menurut Soebagijo I.N dalam Jagat Wartawan Indonesia (1981), Hasbullah Parinduri lahir di Kesawan, Deli, 20 Juli 1910. Tapi menurut Wikipedia, ia lahir pada 1 Juni 1910. Entah mana yang benar, terserah. Ia berasal dari keluarga terpandang, tentu saja, kalau tidak mana mungkin ia bisa bersekolah di sekolah elit semacam St. Antony’s Boys School. Bapaknya seorang haji yang hobi menulis; bukunya berjudul Syair Putri Maryam Zanari (1928) terbit di Singapura. Haji terpuji inilah yang mendorong Hasbullah untuk dapat menulis sastra maupun prosa.

Hasbullah tidak pernah tamat sekolah, berakhir di tingkat lima, namun diangkat sebagai guru bantu bahasa Inggris di bekas sekolahnya tersebut. Keahliannya dalam seni bahasa membuat ia memilih untuk menjadi wartawan, dan terus melangkah sampai menjabat redaktur di koran Pewarta Deli; di sana ia aktif menulis cerpen dan novel. Sebelum Hindia Belanda berubah nama menjadi Indonesia, karya-karya Hasbullah bisa dibilang best-seller, mungkin seimbang kalau soal penjualan dengan abang-abang bertampang hentai yang nulis Laskar Pelangi itu. Lebih-lebih novelnya yang berjudul Pacar Merah Indonesia (dua jilid), yang mengisahkan tentang tokoh komunis legendaris Indonesia, Tan Malaka. Roman ini bergaya thriller, rada-rada detektif, dan penuh percintaan bergaya klasik di sana sini. Namun saat itu hampir tidak ada yang mengenal nama Hasbullah Parinduri, melainkan Matu Mona. Matu Mona tidak mempunyai arti tertentu, sekadar nama pena untuk memberi gambaran pada para pembacanya, bahwa si penulis masih belajar; dalam bahasa Mandailing, matu mona berarti baru mulai. Menurut Harry A. Poeze dan Jap Erkelens dalam kata pengantar cetakan terbaru, selain Pacar Merah Indonesia, Hasbullah juga telah menerbitkan Harta jang Terpendam (1933) Riwajat Penghidoepan Alfadil (1937), Detectief Rindu (1939), Sjorga di Bawah Tapak Kaki Iboe (1939), dan Toean Hoofdredcteur Bertindak (1940), yang kesemuanya dicetak dan diterbitkan di Medan. Ada banyak lagi sebenarnya, namun hilang tak tentu arah, termasuk sejumlah cerita bersambung di harian Pewarta Deli, Doenia Pengalaman, Goebahan Maja, Tjenderawasih, dan Loekisan Soeasana. Karya terakhirnya berjudul Menyinggung Perasaan, diterbitkan Balai Pustaka pada 1978.

Yah, saya sih berharap banyak pada para penggiat literasi dan aktivis-aktivis heritage kota Medan untuk dapat menemukannya.

Selama menjadi wartawan, Hasbullah pernah berurusan dengan polisi Belanda karena tulisannya. Menurut Soebagijo, Hasbullah pernah menulis tentang seorang ibu yang sudah tua renta memunguti ranting-ranting kayu jati yang berjatuhan di pinggir kota Deli. Bagi kita tentu agak aneh. Apa yang salah dengan cerita itu? Tapi tidak bagi bangsa berkulit kerontang itu. Perkara cerita itu membuat Hasbullah dipenjara dengan tuduhan menghina dan menghasut. Dan bukan sekali. Sekitar awal tahun 40-an ia kembali dikirim ke penjara akibat cerpen-nya yang lain. Kesimpulan: menantang penjajah dan kekuasaan itu bukan cuma bisa dengan cara mengangkat senjata, tapi juga dengan cara mengangkat pena.

Mengenai novelnya yang paling dahsyat, Pacar Merah Indonesia, mungkin perlu kita bahas lebih lanjut. Agak mengenaskan sebenarnya. Novel ini tersedia dalam dua jilid, yang pertama terbit pada 1938, berjudul Spionage Dienst (Patjar Merah Indonesia). Beberapa bulan kemudian menyusul yang kedua, Rol Patjar Merah di Indonesia Cs. Dan kedua naskah itu mesti diminta terlebih dahulu pada seorang Jepang bernama Noriaki Oshikawa, sebelum akhirnya bisa diterbitkan kembali oleh penerbit Beranda pada tahun 2010. Beberapa tahun sebelum diterbitkan, tim Beranda sebenarnya telah mendapatkan naskah tersebut dari Jaap Erkelens, direktur perwakilan KILTV, sayangnya, naskah yang diberikan tersebut tidak lengkap; tim penerbit sampai mencetak iklan di koran-koran yang ada di Medan! Pelajaran kedua, apa ngga lucu kejadian di atas? Kita meminta arsip yang lahir di kota kita sendiri pada samurai yang ada di seberang lautan sana… Oh, my God

Pacar Merah Indonesia sendiri bercerita tentang aksi Tan Malaka (Pacar Merah) selama pengembaraan di banyak negara Asia. Awalnya novel ini dimuat sebagai cerita bersambung dalam harian Pewarta Deli (9 Juli-19 September) dengan judul Spionnage-dienst: pengalaman dari seorang ksatrya Indonesia. Bayangan dari pergerakan politiek di Timoer Djaoeh. Apa mimpi Pan-Melayu dapat diboektikan? Dan Kegiatannja kaki-tangan P.I.D. Tidak seperti generasi zaman now, generasi saat itu begitu mencintai tokoh-tokoh komunis yang saat itu hampir kesemuanya sedang berada di luar negeri (kalau tidak dibuang, ya melarikan diri). Wajar saja jika cerita ini begitu diminati sampai akhirnya diterbitkan sebagai sebuah novel oleh toko buku Centrale Courant en Boekhandel, Medan. Menurut Harry A. Poeze, Hasbullah menciptakan nama Pacar Merah karena terinspirasi dari buku Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernall, tentang seorang pahlawan selama masa Revolusi Prancis; pada tahun 1934 cerita ini dijadikan film yang amat sukses di Hindia Belanda dengan judul Patjar Merah Terdjerat dan Litjin bagai Beloet.

Dari yang saya baca, Tan Malaka seakan-akan selalu hadir di setiap tempat dan tampak selalu ingin menciptakan sejarah. Agak lebay sebenarnya. Namun di masa itu, saya yakin tema seperti ini sangat memukau dan berkenan di hati rakyat, terutama dalam membangkitkan kepercayaan diri bangsa terjajah, di mana mereka memiliki seorang pahlawan fiksi dalam menggantungkan harapan. Saya yakin, nama besar Tan Malaka, dan kisah-kisah heroiknya di mata masyarakat Indonesia kala itu, turut pula dibentuk oleh novel ini. Selain seorang pemikir besar, Tan Malaka juga digambarkan sebagai pendekar sakti mandraguna yang bisa berpindah-pindah tempat. Di buku kedua, cerita semakin memikat dengan munculnya tokoh-tokoh komunis legendaris Indonesia dengan nama yang disamarkan secara komikal: Ivan Alminsky (Alimin), Paul Musotte (Musso), Darsonov (Darsono) dan Semaounov (Semaun). Saya menangkap, betapa Hasbullah mati-matian meracik novelnya untuk menutupi pesan yang hendak ia sampaikan kepada para pembaca agar tidak dapat tertangkap oleh Belanda, bahwasanya meskipun sedang kelayapan di luar negeri, tokoh-tokoh itu masih bersetia dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia. Hasbullah Parinduri sepertinya juga ingin menggambarkan betapa mesra dan hangatnya hubungan para tokoh meskipun tidak lagi satu pemikiran; ia balut dalam fiksi dan nama-nama yang menggelikan. Kepercayaan kolektif, kesadaran, dan informasi aktual, adalah cara lain yang bisa diperjuangkan di dalam sastra, ketika jurnalisme habis dibungkam oleh kekuasaan. Dan itulah yang tampaknya hendak dituju oleh Hasbullah Parinduri.

Ketika saya menulis cerita ini, saya jadi teringat pada buku Pacar Merah Indonesia jilid 1, yang seingat saya dipinjam oleh teman saya beberapa tahun yang lalu, yang entah di mana sekarang bangkainya. Saya jadi marah. Saya obrak-abrik perpustakaan mini saya, berharap pikiran saya keliru, dan hanya menemukan Pacar Merah Indonesia jilid 2. Dengan rakus saya buka kembali buku tersebut, dan terlupa untuk melanjutkan tulisan ini….

Hasbullah Parinduri wafat pada 8 Juni 1987. Agak sulit dipercaya, karena informasi ini saya dapatkan dari Wikipedia. Tapi, yasudahlah…

 

*Ilustrasi Oleh Leo Sihombing

 

Share this post

Recent post