Foto koleksi pribadi

GIFFARIE OWNIE: HOME RECORDING, KENAPA TIDAK?

Hasil recording sebuah band tentunya akan sangat memengaruhi karya secara keseluruhan. Kadang kita temui sebuah lagu yang secara musik bagus, lirik yang juga bagus, namun tidak enak didengar karena hasil track yang kacau. Padahal, biaya untuk me-record sebuah lagu tidaklah murah. Kalau sudah begini, siapa yang salah?

Giffarie Ownie adalah seorang gitaris dan song-writer yang ikut menggagas berdirinya Medan Blues Society, yang kini sedang melanjutkan studi di Jakarta, percaya pada kemampuan home recording dalam merealisasikan karya-karyanya. Apa itu home recording? Mari kita tanya-tanya soal ini padanya. Kebetulan Giffarie Ownie baru saja menyelesaikan single-nya dan dalam proyek pengerjaan EP-nya yang pertama.

Hallo, Giffarie, apa kabar? Dengar-dengar baru launching single, ya?

Alhamdulillah! Puji syukur kepada Allah. Sebenarnya belum launching, tapi lagi proses launching, cuma teasing-teasing aja di Soundcloud. Rencananya mau keluarin versi full-band. Dan harusnya launching EP juga. Cuma karena keterbatasan waktu dan harus kejar deadline studi yang emang bener-bener buat dead, jadinya yah gitu deeeeh… Life must go on! Hahaha.

Kali ini mau bercerita soal apa?

Lagu ini judulnya Kota Cinta. Sebenarnya simple sih, ini bercerita tentang seseorang yang ingin move on.

Seseorang itu siapa? Bisa lebih spesifik barangkali?

Sebenarnya kalau untuk song writing itu aku lebih banyak  mengangkat experience pribadi sih… Jadi, yah bisa juga seseorang itu ya, saya. Tapi lagu ini ya, bukan untuk pribadi, tapi buat semua orang yang pernah mengalaminya. You know, the best song is come from the truth and heart

Untuk kali ini, apa masih bersetia dengan konsep home recording?

Masih dong. Yah, buat lagu itu kan intinya gimana bisa komunikasi dengan orang-orang aja. Cuma ya, home recording menurutku adalah suatu hal yang harus digelutin di zaman ini. Kenapa? Karena teknologi pada dasarnya diciptakan buat mempermudah manusia. Hahahaha.

Bisa jelaskan dengan spesifik, apa perbedaan home recording dengan studio recording?

Menurutku home recording dan studio recording itu yang paling signifikan adalah hardware dan akustik ruangannya. Kalau home recording berarti dengan alat dan ruangan yang sederhana. Sebaliknya kalau untuk studio, ya lebih complex.

Yang berarti bahwa studio recording lebih layak untuk digunakan?

Tergantung sih sebenarnya layak apa enggaknya.. Menurutku yang paling penting itu adalah proses berkaryanya. Kalau hasilnya itu kan balik lagi ke pendengar, gimana mereka menanggapinya.

Ada saran agar hasil track dari home recording menjadi lebih bagus?

Aku enggak begitu paham dan expert di bidang sound engineering.. Cuma basicly, recording yang baik itu adalah bagaimana musisi dan sound engineer-nya ngerti dan sama-sama punya knowledge yang baik di bidangnya. Team work dan kerja keras juga.. Hahaha.

Menurut Anda, apakah setiap musisi harus menguasai soal-soal seperti home recording?

Menurut saya, yes! Tapi itu jangan dijadikan sebuah alasan untuk tidak menyewa studio buat berkarya, ya! Hahahaha.

Mengenai kualitas, bisa dijelaskan perbedaan studio recording yang ada di Medan dengan yang ada di Jakarta, itu pun jika menurut Anda ada perbedaannya.

Wah, kalau kualitas saya tidak bisa menilai dengan signifikan, ya. Itu balik lagi ke pendengar.. Cuma kalau untuk studio recording, yang pasti di Jakarta lebih profesional, mulai dari segi alat, pengalaman dan knowledge-nya, serta industrinya. Bayangkan aja berapa banyak produksi yang dihasilkan di Medan dengan yang di Jakarta. Hehehe.

Apakah hasil rekaman yang buruk akan berpengaruh dalam segi kualitas karya dari sebuah band?

Kalau ditanya ngaruh apa enggaknya ya, pasti ngaruh dong.. Musisi yang baik adalah yang punya kualitas recording dan live yang bagus. Semua itu satu paket. Jadi harus aware juga.

Siapa yang patut disalahkan kalau sudah begitu, musisinya atau studio recordingnya?

Ngga ada yg perlu disalahkan… Semuanya adalah proses pembelajaran… Bahkan sampai saat ini juga saya, ataupun teman-teman yang lain juga terus belajar buat hasil yang lebih maksimal. Ya, intinya harus sama-sama aware. Hehehe.

Oke, kembali ke Medan. Apa yang Anda ingat dengan skena musik di Medan?

Medan is my hometown… Yang jelas saya tumbuh besar di skena Medan yang menurut saya masih belum mau bersatu dan berusaha untuk sama-sama aware dan saling support satu sama yang lainnya. Bagaimana menciptakan atmosfer dan ruang yang memang harus bisa terbuka lebar buat siapa saja tanpa memandang apa yang namanya senioritas dan apa yang namanya kreatifitas.

Nah, kalau itu siapa yang patut disalahkan?

Balik lagi ke poin di atas, bahwa tidak ada yang perlu disalahkan… Semuanya adalah proses pembelajaran… Harus ada effort untuk revolusi dan industri dari masing-masing pihak untuk saling membangun atmosfer-nya.

Apa yang paling Anda rindukan dari skena musik Medan?

To be honest…. Saya rindu dengan gigs ataupun event-event yang selalu ada di setiap bulannnya… Bahkan kalau bisa tiap minggu itu ada… Hahaha. Rindu dengan karya ataupun single-single yang selalu produktif..  Dulu waktu saya di Medan ada banyak sekali kompilasi ataupun gigs-gigs yang beredar… Oh, iya satu lagi, saya rindu dengan band rock n roll saya, The Oh Good! Ahahaha.

Jawab dengan cepat: siapa band Medan yang paling ingin Anda saksikan sekarang juga?

Banyaklah.. Hahahaha!

Pilih satu!

Physcotic Villager!

Terakhir! Pesan untuk musi… Eh, pesan Anda untuk Tisha Lim.

Omak! Engga ada pertanyaan lain?

Jawab saja!

Dari tadi pertanyaannya menjebak semua, bah! Okelah. Buat Tisha, tetap bergerilya dan tetap berusaha untuk selalu open minded buat membangun atmosfer yang baik di semua skena yang ada di Medan. Saling support dan tetap cantik! Ahahaha.

 

Interview Oleh Tengku Ariy Dipantara

Share this post

Recent post