Degil Zine

Ketika kita masih TK atau SD, guru memulai pelajaran dengan bertanya:

“Kalau sudah besar, mau jadi apa?”

“Dokter!”

“Polisi!”

"Tentara!”

“Guru!”

Iya, wajar saja sih, itu profesi yang dilihat di keseharian. Apalagi guru. Begitu mengenal buku, seragam, dan teman-teman main, yang selalu lalu lalang di sekitar kita adalah guru. Tapi dengan bertambahnya usia, ingatan anak-anak yang bercita-cita jadi guru tadi itu mulai hilang. Apalagi ketika melihat guru-guru SMA-nya yang masih pakai motor Supra butut, tinggal di kontrakan, pakai baju safari ala zaman para nabi, atau rok yang warnanya sudah enggak jelas. Mau nuntut hak? Turun ke jalan untuk demo? Dibilang mengabaikan anak bangsa. Para siswa jadi ngga bisa belajar. Mau mogok? Upah engga dibayar. Jadilah guru menjadi “pilihan terakhir” dalam cita-cita. Tidak jarang mendengar omongan “Kalau gak tau mau ngapain lagi, jadi guru ajalah." Nah, wajar kan aku bilang kalau jangan jadi guru. Coba kupaparkan sedikit ala-ala Sherlock Holmes gitu.

  • Kerja full-time, gaji part-time.

Sampai sekarang Eda nggak habis pikir. Ada guru yang mengajar 20 jam mata pelajaran per-minggu, dan per-jamnya adalah Rp.35.000. Maka, logikanya dia dapat Rp.700.000/minggu, kan? Tapi ternyata itu untuk sebulan, coy! Kalau begitu, ngapain capek-capek bilang Rp.35.000/jam? Harusnya, Rp.700.000 tadi dibagi 80 jam (20 jam x 4 minggu). Nah, coba kalian hitung! Sudah tahulah kalian berapa, kan? Yup! Rp.700.000/80 jam = Rp.8.750 perak! Mak! Berarti, guru yang sudah teriak-teriak sampai sobek hernia-nya dan kumat jantungnya karena ngurusi setan-setan kecil semacam kalian ini cuma dihargai 8ribuan perak per-sekali berdiri. Masih mending anak band amatiran macam Pshycotic Villager, yang datang manggung, teriak nyanyi empat atau lima lagu, habis itu pulang. Masih bisa sebat dua batang rokok, habis itu tidur nyenyak. Kalau guru? Datang terlalu pagi, jam makan siang terlalu cepat, pulang terlalu larut. Di rumah, masih banyak PR: bikin planning mengajar, periksa ujian anak-anak, dan isi raport satu kelas. Kalaupun cepat pulang, masih harus ngurus warung, sawah, atau jadi sales produk setan MLM. Kan nggak mungkin ngarep 8 ribu tadi ya, kan?

  • Repotnya sertifikasi, uji kompetensi, dan lain-lain.

Mulailah istilah sertifikasi guru, PLPG, uji kompetensi, dan ujian-ujian lainnya. Seru, kan? Ujian ini itu. Pelatihan ini itu. Susun makalah ini itu. Print ini itu. Fotokopi ini itu. Pakai uang siapa? Uang guru itulah! Mana pula si fulan mau kasih sumbangan. Ibu-bapak guru yang awalnya duduk manis tenang baca koran sambil minum kopi, mulailah sibuk ke rental komputer tiap hari. Atau gangguin anak setan yang lagi main facebook, atau keponakan yang melek komputer dan internet. Sampai malam pun, sering terlihat ibu-bapak paruh baya mengetik pakai dua jari dan kacamata yang buram karena harus mengumpul RPP besok pagi. Bagus, kan? Baguslah! Saking bagusnya, sampai ada beberapa yang kumat diabetes atau jantungnya karena kelelahan. Bahkan ada satu guru yang meninggal karena kecapekan.

  • Dituntut jadi guru kreatif, tapi waktu jadi mahasiswa dilarang kreatif!

Mungkin kalian sering lihat mahasiswa calon guru yang pakai kemeja rapi, celana goyang, rambut pendek kayak Prabowo, dan tas yang penuh kertas. Bukan mahasiswanya yang gak mau kreatif, tapi dianjurkan untuk punya pakem seperti itu. Kalaupun gondrong, dia harus ikat rambut kalau ketemu dekan. Kalau pakai kaos atau jins, siap-siaplah tidak diladeni dosen. Pas bikin makalah atau skripsi yang agak revolusioner, agak diluar kebiasaan senior, dibilang nyeleneh, nggak “guru” banget. Pas ikut demo turun ke jalan, dibilang nggak mencerminkan sikap guru. Anarkis katanya, kayak Budiman Sudjatmiko. Hmmm… coba orang itu ingat ya kan, kayak mana bentuk perjuangan guru-guru masa dulu. Jadi, agak mengherankan kalau pas lulus dan jadi guru diminta untuk kreatif. Seolah-olah kemampuan kreatifitas itu jatuh dari langit. Itu dilatih, coy! Dan nggak sebentar!

  • Pas lulus, jangan puas dulu! Masih ada SM3T, pendidikan profesi, dan sebagainya.

Yah, bagi anak-anak mami yang enggak mau jauh-jauh dari orangtua, selepas wisuda jangan langsung loncat dulu. Masih ada program- program yang mengharuskan si calon guru praktik setahun mengajar di daerah terpencil di seluruh kepulauan Indonesia. Pas sampai di sana, kita harus mengurus diri sendiri dan kadang-kadang gaji datang terlambat dan direkap per tiga bulan. Kena malaria, tifus, diusir warga, dicela karena engak bisa ngajar; itu cuma cerita-cerita lucu mereka. Yang pasti, masih banyak tahap yang harus dilalui calon guru masa kini. Longggg journey!

  • Di sinetron maupun kehidupan nyata mana pun, guru adalah objek.

Di layar kaca, layar lebar, maupun layar tancap, guru sering jadi objek hinaan. Tempat duduk dikasi permen karet, disiram air, dicitrakan sebagai manusia galak dan berpikir picik, bahkan ada yang bikin karakter guru bloon. Di kehidupan nyata? Tangannya guru seolah-olah terikat kencang. Sedikit saja menegur si siswa, langsung orangtua siswa marah-marah dan lapor ke Kak Seto. Bahkan ada guru di kota Medan yang jelas-jelas ditubruk lari oleh seorang siswa, sampai berobat terus menerus dan cacat, sampai sekarang nggak tahu gimana kabarnya. Siapa yang salah? Tetap si gurulah. Jadi, enggak heran kalau makin banyak orangtua (menganggap sekolah, mereka yang bayar) yang memperlakukan guru sebagai “pengasuh” bagi anak-anak mereka.

  • Guru adalah ladang amal, bukan ladang uang.

“Pahlawan tanpa tanda jasa” adalah doktrin masa kegelapan yang masih diamini sampai sekarang. Padahal itu dimanfaatkan untuk kepentingan pihak-pihak yang mau memeras keringat para guru. Supaya, sewaktu guru dapat upah rendah, dia langsung hapus dada dan berbisik “tanpa tanda jasa! Ini ladang amal!”. Engga hanya pemilik yayasan, pemerintah pun ikut-ikutan tutup mata (entah memang buta). Upah buruh yang diperjuangkan dari kapan hari sampai sekarang saja masih dikebiri, apalagi bidang pendidikan. Untuk mengeluarkan SK Guru Honor Provinsi saja, gubernur makan waktu sampai janggut Karl Marx rontok. Jadi, kalau mau bikin sekolah/kampus dan punya untung besar, cukup rekrut guru-guru yang mencari ladang amal. Amanlah kau itu!

Begitulah, gaes! Setelah cakap Eda ini kalian baca, mudah-mudahan kalian sadar kalau lagu Umar Bakri bukan cuma lirik hasil maboknya Iwan Fals. Umar Bakri masih ada. Malah makin banyak. Cuma beda sampul luarnya saja.

Nah, bagi yang mau jadi guru, pikir-pikir dululah! Cakap Eda ini cuma cerita preambule saja. Masalah guru itu ber-BAB-BAB ngalah-ngalahin jumlah episode Tukang Bubur Naik Haji. So, mau jadi guru? Situ oke?

Oia, bagi yang sudah telanjur, Eda ingin mengucapkan: selamat Hari Guru Nasional wahai para pahlawan (harusnya diberi) tanda jasa!

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

6 thoughts on “JADI GURU, SITU OKE?

  1. Mi corazon Eda Citra, iris tipis sundul sayang kaliklah ini bahasamu.. Tapi asli lah ini keren. Light & enlighten.

  2. Saya ngerti kalo ini tulisan yg mengkritik rendahnya gaji guru. Tapi kalo ada kalimat

    “Nah, bagi yang mau jadi guru, pikir-pikir dululah! Cakap Eda ini cuma cerita preambule saja. Masalah guru itu ber-BAB-BAB ngalah-ngalahin jumlah episode Tukang Bubur Naik Haji. So, mau jadi guru? Situ oke?”

    Trus netizen yg budiman baca statement itu dan gak mau jadi guru (padahal dia kompeten) gmana?

    Situ oke?

  3. Ga usah jadi guru selama guru masih diperbudak oleh negara!
    Negara itu cuma alat untuk menindas masyarakat!

  4. Oalah eda, samalah kita ya, bedanya aku gak lah ditempatkan di daerah, tapi kalau aku boleh curhat, udahlah kami dosen harus dapat nomor induk, tiap naik pangkat harus lah ujian supaya dapat sertifikasi dosen, belum lagi syarat2 jurnal yang menumpuk harus terindeks scopus internasional, buat dosen ini tua sebelum umurnya, muka sudah bagai jurnal, muka terindeks scopus. Tapi gaji kami agak lebih besar sikit, sikit aja, 75 ribu sekali masuk, bisalah kutraktir eda bakso lebong di jalan asia yang sebiji harga baksonya udah 30 ribu eda, cepatlah pulang tukar pikiran kita. 😂

Leave a Comment

Baca Juga

Ketika kita masih TK atau SD, guru memulai pelajaran dengan bertanya:

“Kalau sudah besar, mau jadi apa?”

“Dokter!”

“Polisi!”

"Tentara!”

“Guru!”

Iya, wajar saja sih, itu profesi yang dilihat di keseharian. Apalagi guru. Begitu mengenal buku, seragam, dan teman-teman main, yang selalu lalu lalang di sekitar kita adalah guru. Tapi dengan bertambahnya usia, ingatan anak-anak yang bercita-cita jadi guru tadi itu mulai hilang. Apalagi ketika melihat guru-guru SMA-nya yang masih pakai motor Supra butut, tinggal di kontrakan, pakai baju safari ala zaman para nabi, atau rok yang warnanya sudah enggak jelas. Mau nuntut hak? Turun ke jalan untuk demo? Dibilang mengabaikan anak bangsa. Para siswa jadi ngga bisa belajar. Mau mogok? Upah engga dibayar. Jadilah guru menjadi “pilihan terakhir” dalam cita-cita. Tidak jarang mendengar omongan “Kalau gak tau mau ngapain lagi, jadi guru ajalah." Nah, wajar kan aku bilang kalau jangan jadi guru. Coba kupaparkan sedikit ala-ala Sherlock Holmes gitu.

  • Kerja full-time, gaji part-time.

Sampai sekarang Eda nggak habis pikir. Ada guru yang mengajar 20 jam mata pelajaran per-minggu, dan per-jamnya adalah Rp.35.000. Maka, logikanya dia dapat Rp.700.000/minggu, kan? Tapi ternyata itu untuk sebulan, coy! Kalau begitu, ngapain capek-capek bilang Rp.35.000/jam? Harusnya, Rp.700.000 tadi dibagi 80 jam (20 jam x 4 minggu). Nah, coba kalian hitung! Sudah tahulah kalian berapa, kan? Yup! Rp.700.000/80 jam = Rp.8.750 perak! Mak! Berarti, guru yang sudah teriak-teriak sampai sobek hernia-nya dan kumat jantungnya karena ngurusi setan-setan kecil semacam kalian ini cuma dihargai 8ribuan perak per-sekali berdiri. Masih mending anak band amatiran macam Pshycotic Villager, yang datang manggung, teriak nyanyi empat atau lima lagu, habis itu pulang. Masih bisa sebat dua batang rokok, habis itu tidur nyenyak. Kalau guru? Datang terlalu pagi, jam makan siang terlalu cepat, pulang terlalu larut. Di rumah, masih banyak PR: bikin planning mengajar, periksa ujian anak-anak, dan isi raport satu kelas. Kalaupun cepat pulang, masih harus ngurus warung, sawah, atau jadi sales produk setan MLM. Kan nggak mungkin ngarep 8 ribu tadi ya, kan?

  • Repotnya sertifikasi, uji kompetensi, dan lain-lain.

Mulailah istilah sertifikasi guru, PLPG, uji kompetensi, dan ujian-ujian lainnya. Seru, kan? Ujian ini itu. Pelatihan ini itu. Susun makalah ini itu. Print ini itu. Fotokopi ini itu. Pakai uang siapa? Uang guru itulah! Mana pula si fulan mau kasih sumbangan. Ibu-bapak guru yang awalnya duduk manis tenang baca koran sambil minum kopi, mulailah sibuk ke rental komputer tiap hari. Atau gangguin anak setan yang lagi main facebook, atau keponakan yang melek komputer dan internet. Sampai malam pun, sering terlihat ibu-bapak paruh baya mengetik pakai dua jari dan kacamata yang buram karena harus mengumpul RPP besok pagi. Bagus, kan? Baguslah! Saking bagusnya, sampai ada beberapa yang kumat diabetes atau jantungnya karena kelelahan. Bahkan ada satu guru yang meninggal karena kecapekan.

  • Dituntut jadi guru kreatif, tapi waktu jadi mahasiswa dilarang kreatif!

Mungkin kalian sering lihat mahasiswa calon guru yang pakai kemeja rapi, celana goyang, rambut pendek kayak Prabowo, dan tas yang penuh kertas. Bukan mahasiswanya yang gak mau kreatif, tapi dianjurkan untuk punya pakem seperti itu. Kalaupun gondrong, dia harus ikat rambut kalau ketemu dekan. Kalau pakai kaos atau jins, siap-siaplah tidak diladeni dosen. Pas bikin makalah atau skripsi yang agak revolusioner, agak diluar kebiasaan senior, dibilang nyeleneh, nggak “guru” banget. Pas ikut demo turun ke jalan, dibilang nggak mencerminkan sikap guru. Anarkis katanya, kayak Budiman Sudjatmiko. Hmmm… coba orang itu ingat ya kan, kayak mana bentuk perjuangan guru-guru masa dulu. Jadi, agak mengherankan kalau pas lulus dan jadi guru diminta untuk kreatif. Seolah-olah kemampuan kreatifitas itu jatuh dari langit. Itu dilatih, coy! Dan nggak sebentar!

  • Pas lulus, jangan puas dulu! Masih ada SM3T, pendidikan profesi, dan sebagainya.

Yah, bagi anak-anak mami yang enggak mau jauh-jauh dari orangtua, selepas wisuda jangan langsung loncat dulu. Masih ada program- program yang mengharuskan si calon guru praktik setahun mengajar di daerah terpencil di seluruh kepulauan Indonesia. Pas sampai di sana, kita harus mengurus diri sendiri dan kadang-kadang gaji datang terlambat dan direkap per tiga bulan. Kena malaria, tifus, diusir warga, dicela karena engak bisa ngajar; itu cuma cerita-cerita lucu mereka. Yang pasti, masih banyak tahap yang harus dilalui calon guru masa kini. Longggg journey!

  • Di sinetron maupun kehidupan nyata mana pun, guru adalah objek.

Di layar kaca, layar lebar, maupun layar tancap, guru sering jadi objek hinaan. Tempat duduk dikasi permen karet, disiram air, dicitrakan sebagai manusia galak dan berpikir picik, bahkan ada yang bikin karakter guru bloon. Di kehidupan nyata? Tangannya guru seolah-olah terikat kencang. Sedikit saja menegur si siswa, langsung orangtua siswa marah-marah dan lapor ke Kak Seto. Bahkan ada guru di kota Medan yang jelas-jelas ditubruk lari oleh seorang siswa, sampai berobat terus menerus dan cacat, sampai sekarang nggak tahu gimana kabarnya. Siapa yang salah? Tetap si gurulah. Jadi, enggak heran kalau makin banyak orangtua (menganggap sekolah, mereka yang bayar) yang memperlakukan guru sebagai “pengasuh” bagi anak-anak mereka.

  • Guru adalah ladang amal, bukan ladang uang.

“Pahlawan tanpa tanda jasa” adalah doktrin masa kegelapan yang masih diamini sampai sekarang. Padahal itu dimanfaatkan untuk kepentingan pihak-pihak yang mau memeras keringat para guru. Supaya, sewaktu guru dapat upah rendah, dia langsung hapus dada dan berbisik “tanpa tanda jasa! Ini ladang amal!”. Engga hanya pemilik yayasan, pemerintah pun ikut-ikutan tutup mata (entah memang buta). Upah buruh yang diperjuangkan dari kapan hari sampai sekarang saja masih dikebiri, apalagi bidang pendidikan. Untuk mengeluarkan SK Guru Honor Provinsi saja, gubernur makan waktu sampai janggut Karl Marx rontok. Jadi, kalau mau bikin sekolah/kampus dan punya untung besar, cukup rekrut guru-guru yang mencari ladang amal. Amanlah kau itu!

Begitulah, gaes! Setelah cakap Eda ini kalian baca, mudah-mudahan kalian sadar kalau lagu Umar Bakri bukan cuma lirik hasil maboknya Iwan Fals. Umar Bakri masih ada. Malah makin banyak. Cuma beda sampul luarnya saja.

Nah, bagi yang mau jadi guru, pikir-pikir dululah! Cakap Eda ini cuma cerita preambule saja. Masalah guru itu ber-BAB-BAB ngalah-ngalahin jumlah episode Tukang Bubur Naik Haji. So, mau jadi guru? Situ oke?

Oia, bagi yang sudah telanjur, Eda ingin mengucapkan: selamat Hari Guru Nasional wahai para pahlawan (harusnya diberi) tanda jasa!

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

6 thoughts on “JADI GURU, SITU OKE?

  1. Mi corazon Eda Citra, iris tipis sundul sayang kaliklah ini bahasamu.. Tapi asli lah ini keren. Light & enlighten.

  2. Saya ngerti kalo ini tulisan yg mengkritik rendahnya gaji guru. Tapi kalo ada kalimat

    “Nah, bagi yang mau jadi guru, pikir-pikir dululah! Cakap Eda ini cuma cerita preambule saja. Masalah guru itu ber-BAB-BAB ngalah-ngalahin jumlah episode Tukang Bubur Naik Haji. So, mau jadi guru? Situ oke?”

    Trus netizen yg budiman baca statement itu dan gak mau jadi guru (padahal dia kompeten) gmana?

    Situ oke?

  3. Ga usah jadi guru selama guru masih diperbudak oleh negara!
    Negara itu cuma alat untuk menindas masyarakat!

  4. Oalah eda, samalah kita ya, bedanya aku gak lah ditempatkan di daerah, tapi kalau aku boleh curhat, udahlah kami dosen harus dapat nomor induk, tiap naik pangkat harus lah ujian supaya dapat sertifikasi dosen, belum lagi syarat2 jurnal yang menumpuk harus terindeks scopus internasional, buat dosen ini tua sebelum umurnya, muka sudah bagai jurnal, muka terindeks scopus. Tapi gaji kami agak lebih besar sikit, sikit aja, 75 ribu sekali masuk, bisalah kutraktir eda bakso lebong di jalan asia yang sebiji harga baksonya udah 30 ribu eda, cepatlah pulang tukar pikiran kita. 😂

Leave a Comment

Baca Juga