England Is Mine

ENGLAND IS MINE: APA DUNIA BUTUH BIOPIC MORRISSEY MUDA?

  • Judul: England is Mine
  • Sutradara: Mark Gill
  • Cast: Jack Lowden, Jessica Brown Findlay, Jodie Comer, Adam Lawrence, Laurie Kynaston, Simone Kirby, Peter McDonald, Finney Cassidy.
  • Tanggal Rilis: Aug 25, 2017

Selama lebih dari tiga dekade, Morrissey telah menjadi salah satu ikon Indie Inggris paling kontroversial, misterius dan eksentrik; seorang penyanyi dan penulis lagu yang sangat dekat dengan sarkasme dan idealisme yang kuat hampir dalam segala hal. “Moz”, begitu panggilan singkat yang tak disukai pria flamboyan dengan nama lengkap Steven Patrick Morissey, kelahiran Davyhulme, Lanchasire, dan besar di Manchester 58 tahun yang lalu tersebut, merupakan cerminan akan ketidakpuasan personal yang mendalam terhadap kemanusiaan. Lahir dari lahan industri musik yang sama dengan Joy Division-nya Ian Curtis, band pertama Morrissey, The Smiths, merupakan salah satu aksi paling diingat di Inggris pada tahun 80-an. Dengan resep lirik yang muram dan “misantropis”, dikombinasikan dengan melodi gitar “jangling-pop” ala Johnny Marr yang tak kalah ikonik, The Smiths merupakan sebuah band yang kalau boleh dikategorikan, cukup sulit untuk diikuti oleh semua orang bahkan sampai hari ini.

Film England is Mine sendiri diawali oleh narator dengan logat Inggris yang bercerita layaknya kartun dongeng anak-anak; ia berfokus pada Morrissey yang dipanggil sebagai Steven dan kedekatannnya dengan Anji Hardie (Katherine Pearce) yang sedikit mengingatkan saya dengan Barb-nya Stranger Things. Kemudian ia berbicara sambil menulis untuk koran musik dengan sebuah mesin ketik dan me-review skena lokal “Dear enemy, Manchester is a lovely place, if you happen to be a bed-ridden deaf mute.” Steven kelihatannya seperti orang yang membenci semuanya, kecuali band The New York Dolls kesukaannya, Charles Dickens atau Oscar Wilde, yang menurut saya merupakan kombinasi yang cukup menarik. Disusul oleh suara piano amatiran Swan Lake Suite-nya Tchaikovsky dengan iringan gitar musik reggae yang membuatnya menjadi semakin picisan di latar belakang, penemuannya di papan pengumuman sebuah tulisan di secarik kertas oleh seorang yang bernama Billy untuk bergabung dengan sebuah band yang memiliki selera personal pada The New York Dolls, Pattie Smith dan Lou Reed, yang sesuai dengan selera Steven.

Foto: downtonabbeyonline

Steven kemudian menghabiskan beberapa tahun dalam hidupnya untuk mencoba usaha kreatif, dengan bantuan dan dorongan yang cukup antusias dari beberapa teman wanitanya, Anji, Linder Sterling, dan Christine, yang usaha mereka dalam mendekati Steven berujung pada tindakan yang kurang baik; Steven kelihatannya tidak tertarik terhadap mereka, atau memang Steven tidak tertarik dengan pribadinya sendiri, seperti yang sudah kita ketahui bahwa selain seorang vegetarian dan aktivis animal rights, Morrissey pernah mengaku sebagai huma-seksual (ketertarikan pada pribadi entitas manusia yang melewati batas-batas gender-ed). Pada akhirnya para teman wanitanya hanya menjadi saksi usahanya di awal-awal yang gagal. Steven mulai menemukan jati diri di band pertamanya dengan Billy Duffy yang nantinya menjadi gitaris The Cult, The Nosebleeds, dan mulai mendapat perhatian publik dalam gigs perdana mereka, yang juga akhirnya gagal, karena Billy akhirnya meninggalkannya untuk pergi ke London. Sampai di sini, saya membuat kesimpulan bahwa di masa mudanya, Morrissey merupakan seorang yang pemurung, yang bakatnya terhalang oleh ketololannya sendiri, jauh dari apa yang saya ketahui dan gambarkan selama ini mengenai karakter Morrissey, yang tidak saya ketahui kebenarannya, baik sekarang maupun di masa-masa mudanya.

Jack Lowden yang kalau kamu ingat wajahnya muncul dalam karya epik Nolan yang terakhir, Dunkirk, sebagai teman pilot aktor pemeran Venom, yaitu Tom Hardy, deskripsi yang saya pilih karena kesukaan saya akan film fantasi daripada biopik dan menyebutnya sebagai aktor “idola wanita” membuat saya jadi mual. Menurut saya, secara fisik dia mungkin lebih tepat jika memerankan karakter Rivers Cuomo-nya Weezer (kalau pembaca, terutama yang wanita sependapat dengan saya). Menyebut England is Mine sebagai film tentang biopik Morrissey bagi saya terlalu berlebihan, karena memang isi keseluruhannya hanya merupakan cerita Morrissey di masa muda sebelum menjadi pentolan band The Smiths. “Steven”, bukan Morrissey apalagi “Moz”, sebagai protagonis di film ini digambarkan sebagai karakter yang membosankan dan tidak karismatik, berusaha menjadi seorang idealis yang harus berhadapan dengan realita dunia yang bertentangan, dan bahkan lebih kelihatan seperti seorang seniman, atau sastrawan idealis berbakat namun menyedihkan yang berusaha menemukan identitas diri sampai pada akhirnya bertemu dengan Johnny Marr di akhir film. Dan sudah begitu saja. Namun yang tidak begitu istimewa bagi saya di film ini mungkin bisa menjadi menarik bagi anda-anda yang merupakan seorang fans berat Steven Patrick Morrissey, sebagai salah satu ikon musik britpop yang cukup dikenal karena gaya bernyanyinya yang mendayu mirip nada Melayu; suaranya yang karismatik dan gayanya yang eksentrik sekaligus flamboyan sebagai seorang vokalis.

Mark Gill, sebagai sutradara di satu sisi berhasil memilih pemain yang cukup baik untuk memerankan karakter-karakter selain Steven, Jessica Brown Findlay yang sempat terkena skandal video tidak senonoh sebagai Linder Sterling, sampai Simone Kirby sebagai Elizabeth Morrissey, ibu Steven yang selalu mendukung anaknya untuk menjadi apa yang dia mau. Namun tetap, England is Mine memiliki banyak kelemahan. Cerita yang ditulis Gill dan William Thacker sebagai co-writer terasa kurang menarik meskipun kelihatan seperti berusaha didramatisasi agar menjadi lebih menarik. Skrip juga terkesan tidak detail untuk menggambarkan sebuah biopik yang epik. Beberapa scene seperti kurang memberikan momen yang memorable, tapi mungkin pilihan-pilihan lagu di latar belakang seperti Virginia Plain-nya Roxy Music, Send Me the Pillow that You Dream On-nya Johnny Tillotson sampai Give him a Great Big Kiss-nya The Shangri-Las cukup membantu menambah jiwa dari beberapa adegan yang penting di England is Mine. Secara artistik, sinematografi oleh Nicholas D. Knowland juga tidak begitu istimewa; pengambilan kamera terlihat biasa saja, meskipun pemilihan tone dan desain kostum terasa cukup sesuai dengan latar Manchester di akhir tahun 70an sampai awal 80an.

Akhirnya, kesimpulan yang paling pasti adalah kenyataan bahwa cerita Morrissey sepertinya hampir tidak bisa universal seperti yang dirasakan di film ini. Menjadi diri sendiri dalam hal memilih karir sebagai seorang penulis, penyair atau musisi memang baik, namun hal itu sepertinya bukan untuk semua orang, terutama bagi orang yang hidup di negeri seperti negara kita tercinta ini. Moral dari semi-biopik ini adalah bahwa kita seharusnya jangan pernah ragu untuk berbagi ketertarikan dan mengekspresikannya kepada dunia, seperti yang sudah saya praktikkan dalam skala kecil, walaupun harus mendapat cemoohan bahkan dari lingkungan terdekat. Namun satu-satunya hal yang bisa membuatnya menjadi nyata adalah jika saya adalah seorang Steven Patrick Morrissey, barulah saya akan bisa mengetahui hasilnya di kemudian hari.

Rating: 6,2

Share this post

Recent post