Degil Zine

Sejujurnya saya jatuh cinta pada indie rock setelah mendengarkan album Silent Alarm milik Block Party. Setelah itu saya merasa bahwa indie rock adalah kristalisasi genre dari apa yang sebelumnya telah ada di dalam britpop (maaf, saya berbicara soal genre, bukan ideologi atau apa pun yang berkaitan dengan indie movement bla-bla). Bagi saya pribadi, indie rock saya anggap sebagai alternative-rock ala Inggris, mulai dari sound, gear, sampai ke style para personel yang terasa ke-english-english-an. Mungkin kalau ruangnya dikecilkan akan seperti melihat The Rolling Stones yang jamming bareng The Beatles. Yah, itu sih menurut saya. Atas dasar itulah saya berpendapat kalau The Clays adalah indie-rock. The Clays? Apa pula itu?

The Clays terbentuk pada 2010, namun saya baru tertarik untuk melihat mereka beberapa tahun kemudian, itu pun karena saya mengenal basisnya secara pribadi. Fauzi, sang basis, sebelumnya saya kenal hanya sebagai anak SMA kebanyakan, tidak ngeband, tidak narkoba, bahkan tidak pernah menyebut-nyebut k*... eh, alat kelaminnya sendiri. Ketika saya mendengar ia telah bergabung dalam sebuah band, indie pula, tentu saja saya ingin melihatnya. Ekspektasi saya tidak tinggi; paling-paling saya hanya akan melihat band garage lainnya, atau The Strokes wannabe lainnya. Pada akhirnya....

Rumit untuk dikatakan. Saat itu seorang teman, sebut saja Boaz Salossa, berpendapat bahwa The Clays terlihat sangat kekanakan, khas band kuliahan yang heboh mengumpulkan efek gitar maupun efek bass untuk sekadar gaya-gayaan, karena terserah nantinya mau berguna atau tidak. Benar saja, perpaduan ambient delay yang mengawang-awang dari gitar dan overdrive yang terlalu menonjol pada bass malah membuat sound mereka terdengar kacau, seperti anak kecil yang girang naik sepeda terus nabrak pohon (lebih-lebih karena sound-system yang sangat tidak mendukung untuk musik yang mereka bawakan). Terutama vokalisnya yang sangat kacau dalam English spelling. Tapi paling tidak, saya tidak lagi menemukan The Strokes wannabe atau lebih parah, Barasuara wannabe.

Waktu berlalu cepat seperti roda mobil yang menggilas apa pun semaunya. Dari seorang kawan, sebut saja Roki Putirai, saya mendengar bahwa The Clays telah bersiap untuk menelurkan EP pertamanya: Voyager. Vokalisnya juga sudah berganti rupa. Roki Putirai ngotot mengajak saya untuk menyaksikan perform mereka di salah satu event.

Proses dalam bermusik melahirkan kedewasaan, kedewasaan dalam berpikir hingga melahirkan kedewasaan dalam berkarya. Dan percayalah, itu tidak dihasilkan dalam satu malam atau turun dari langit kayak wahyu untuk Zarathustra. The Clays membuktikannya. Sang gitaris, Albar, tidak lagi membuat saya migrain dengan delay-nya yang menabrak-nabrak udara. Malah setelah itu saya berani mengatakan bahwa Albar adalah satu dari sedikit gitaris Medan yang mengerti bagaimana menggunakan efek secara efektif. Sang drummer, Gavin, punya style yang unik (bukan hanya karena doi mengangkat salut ala Nazi di cover EP mereka), bersama pukulan-pukulan cepat ala Stephen Morris (Joy Divison). Dan vokalis yang baru, Hafaz. Doi punya tampang yang menjual (Roki Putirai bersabda, bahwa itu adalah modal penting dalam indie rock!), cukup parlente, dengan gaya khas vokalis-vokalis britpop di awal 2000an, meskipun suaranya malah mengingatkan saya pada Gerard Way, dan di lain waktu bisa menyerupai Alexander Kapranos dalam nada tinggi. Dan Fauzi, saya agak ragu kalau anak ini adalah Fauzi yang saya kenal dulu.

Bagaikan melihat sebuah band yang telah puluhan tahun bermusik bersama; perpaduan dari efek delay yang kadang tipis kadang tebal, reverb yang bergema-gema, lick-lick nyentrik ala Graham Coxon yang keluar dari sound gitarnya Albar sangat mix dengan overdrive yang digunakan Fauzi (analoginya seperti busur yang melengkung (gitar) dan anak panahnya (bass); dan mereka benar-benar menjadi satu paket yang brilian ketika diiringi oleh dance-drum dari Gavin (maka melayanglah si anak panah menuju ke sasaran). Mereka bertiga lantas membiarkan Hafaz untuk maju sendirian di depan, melengking dan menari seperti kerasukan arwah Brett Anderson (meskipun doi masih sehat wal-afiat). Hipotesa Asmara saya rasa adalah pintu pertama jika kalian ingin mengetahui seperti apa kualitas MUSIK yang ditawarkan oleh The Clays. Namun, izinkanlah saya untuk mengobrak-abrik LIRIK dalam lagu ini. Sebentar saja. Karena menurut saya, penulisan lirik adalah masalah paling urgent yang sedang dialami oleh band-band kota Medan (bagi kebanyakan anak band indie Medan, membaca itu tidak keren).

Hipotesa Asmara. Pemilihan diksi yang sangat bagus dan berani, saya kira. Tapi setelah mengamati liriknya secara keseluruhan, maaf, saya kecewa. Sama kecewanya seperti ketika Eda Citra menyaksikan film Wonder Woman: mahal namun dangkal, katanya. Mari kita lihat:

Hati merekah

Menatap parasnya

Akukan berjumpa

Dengannya jelita

Setangkai bunga pun

Ikut menyapanya

Saat kumelangkah

Rintikan pun tiba

Lalu apa daya

Melunturkan asa

Saat kumelangkah

Rintikan pun tiba

Lalu apa daya

Tubuh pun bergetar

Kala petir menyambar

Tubuh pun bergetar

Sebab dia buatmu berdebar

Tubuh pun bergetar

Seakan virus, menyebar

Tubuh pun bergetar

Dan rasa ini pun

Pastikan buyar

Menurut saya, judul Hipotesa Asmara terlalu megah untuk lirik yang terlalu biasa, tanpa makna, dengan tema yang terlalu umum seperti yang kita lihat di atas. Kelebihannya hanya ada pada permainan rima, itu pun bakal percuma jika tidak didukung dengan frase dan diksi yang tepat. Pejamkan mata kalian, dan bayangkan..., sesosok pemuda, sebut saja namanya Tere Liye, dengan setangkai bunga di tangan kiri yang hendak menemui perempuan (entah kekasih entah siapa), lalu hujan pun turun secara tiba-tiba (biar sendu), lalu kolaps (disambar petir?), lalu galau, lalu kenapa? Lalu apa? Sebenarnya apa yang ingin disampaikan? Dan yang paling penting, mana hipotesis The Clays terhadap "asmara"? Awalnya saya berharap mereka sedang membicarakan "asmara" secara filosofis seperti yang pernah dilakukan Ugoran Prasad (Melancholic Bitch) dalam lagu Tentang Cinta (silakan diklik) lantas menyimpulkan suatu interpretasi atasnya (dalam lagu itu, Ugo mendefinisikan makna "cinta" melalui absurditas pemikirannya). Hipotesis/hipotesa? Binatang apa itu? Mari kita cek di KBBI:

 hi·po·te·sis /hipotésis/ n sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori, proposisi, dan sebagainya) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan.

Oke. Beralih ke aransemen. Dalam hal ini harus saya akui, The Clays adalah band yang sangat-sangat menjanjikan. Proses bermusik telah membawa The Clays menjadi The Clays, bukan Kasabian, bukan Franz Ferdinand, bukan pula yang lain dan yang lain lagi. Saya dapat berkata seperti ini setelah berurutan mendengarkan lagu-lagu di dalam Voyager: Unknown Song, Hey Girl!, dan We Don't Care, terutama single terbaru mereka, Foolish (di lagu ini teknik bernyanyi Hafaz mengingatkan saya pada Brian Molko). Dan di single ini pula saya lihat The Clays telah memperbaiki cita rasanya pada penulisan lirik (akan kita bahas di edisi selanjutnya). Perpaduan antara synth-pop drum, permainan gitar dengan style rhytmic delay plus reverb ala backsound film-film sci-fi, bass nada minor dengan sound kotor dan noise, beserta karakter vokal oktav tinggi yang ber-vibra dijamin akan menstimulus otak kalian dalam sebuah kontradiksi pikiran, kadang bahagia kadang kelam; inilah The Clays. Inilah modernisasi dalam bermusik. Modernisasi dalam menyuarakan emosi yang ingin disampaikan, walaupun tanpa lirik. Inilah band yang tahu apa kelebihan dari setiap personelnya. So, berbanggalah kota ini karena memiliki The Clays!

Yang belum kenal dengan The Clays, marilah sapa mereka di sini, atau di @thisisclays. Saya yakin kalian tidak akan pernah menyesal.

4 thoughts on “HIPOTESA THE CLAYS

  1. Setuju sama degil. Musik bagus tapi liriknya, ya gitu deh. Sukses terus abang-abang The Clays! Kritik membangun tuhh.

  2. Suka kali aku kayak gini. Band medan zmn skrg ini manja-manja kali. Kebnyakan disanjung sama koran jkrta sana, jadi bsar kepala. Dikritik dibilang menghina. Pdhl pmbodohan smua itu yg dbilang koran jkarta. Syukurlah klen ada media kayak gini. Syalom.

  3. Suka dengan kobelannya! Tapi apa iya bagi “kebanyakan anak band indie medan” baca itu gak keren? Gak hobi ama sesuatu bukan berarti menganggap sesuatu itu gak keren kan? Adek yakin kok bang gak ada yg beranggapan kalo baca itu gak keren.

Leave a Comment

Baca Juga

Sejujurnya saya jatuh cinta pada indie rock setelah mendengarkan album Silent Alarm milik Block Party. Setelah itu saya merasa bahwa indie rock adalah kristalisasi genre dari apa yang sebelumnya telah ada di dalam britpop (maaf, saya berbicara soal genre, bukan ideologi atau apa pun yang berkaitan dengan indie movement bla-bla). Bagi saya pribadi, indie rock saya anggap sebagai alternative-rock ala Inggris, mulai dari sound, gear, sampai ke style para personel yang terasa ke-english-english-an. Mungkin kalau ruangnya dikecilkan akan seperti melihat The Rolling Stones yang jamming bareng The Beatles. Yah, itu sih menurut saya. Atas dasar itulah saya berpendapat kalau The Clays adalah indie-rock. The Clays? Apa pula itu?

The Clays terbentuk pada 2010, namun saya baru tertarik untuk melihat mereka beberapa tahun kemudian, itu pun karena saya mengenal basisnya secara pribadi. Fauzi, sang basis, sebelumnya saya kenal hanya sebagai anak SMA kebanyakan, tidak ngeband, tidak narkoba, bahkan tidak pernah menyebut-nyebut k*... eh, alat kelaminnya sendiri. Ketika saya mendengar ia telah bergabung dalam sebuah band, indie pula, tentu saja saya ingin melihatnya. Ekspektasi saya tidak tinggi; paling-paling saya hanya akan melihat band garage lainnya, atau The Strokes wannabe lainnya. Pada akhirnya....

Rumit untuk dikatakan. Saat itu seorang teman, sebut saja Boaz Salossa, berpendapat bahwa The Clays terlihat sangat kekanakan, khas band kuliahan yang heboh mengumpulkan efek gitar maupun efek bass untuk sekadar gaya-gayaan, karena terserah nantinya mau berguna atau tidak. Benar saja, perpaduan ambient delay yang mengawang-awang dari gitar dan overdrive yang terlalu menonjol pada bass malah membuat sound mereka terdengar kacau, seperti anak kecil yang girang naik sepeda terus nabrak pohon (lebih-lebih karena sound-system yang sangat tidak mendukung untuk musik yang mereka bawakan). Terutama vokalisnya yang sangat kacau dalam English spelling. Tapi paling tidak, saya tidak lagi menemukan The Strokes wannabe atau lebih parah, Barasuara wannabe.

Waktu berlalu cepat seperti roda mobil yang menggilas apa pun semaunya. Dari seorang kawan, sebut saja Roki Putirai, saya mendengar bahwa The Clays telah bersiap untuk menelurkan EP pertamanya: Voyager. Vokalisnya juga sudah berganti rupa. Roki Putirai ngotot mengajak saya untuk menyaksikan perform mereka di salah satu event.

Proses dalam bermusik melahirkan kedewasaan, kedewasaan dalam berpikir hingga melahirkan kedewasaan dalam berkarya. Dan percayalah, itu tidak dihasilkan dalam satu malam atau turun dari langit kayak wahyu untuk Zarathustra. The Clays membuktikannya. Sang gitaris, Albar, tidak lagi membuat saya migrain dengan delay-nya yang menabrak-nabrak udara. Malah setelah itu saya berani mengatakan bahwa Albar adalah satu dari sedikit gitaris Medan yang mengerti bagaimana menggunakan efek secara efektif. Sang drummer, Gavin, punya style yang unik (bukan hanya karena doi mengangkat salut ala Nazi di cover EP mereka), bersama pukulan-pukulan cepat ala Stephen Morris (Joy Divison). Dan vokalis yang baru, Hafaz. Doi punya tampang yang menjual (Roki Putirai bersabda, bahwa itu adalah modal penting dalam indie rock!), cukup parlente, dengan gaya khas vokalis-vokalis britpop di awal 2000an, meskipun suaranya malah mengingatkan saya pada Gerard Way, dan di lain waktu bisa menyerupai Alexander Kapranos dalam nada tinggi. Dan Fauzi, saya agak ragu kalau anak ini adalah Fauzi yang saya kenal dulu.

Bagaikan melihat sebuah band yang telah puluhan tahun bermusik bersama; perpaduan dari efek delay yang kadang tipis kadang tebal, reverb yang bergema-gema, lick-lick nyentrik ala Graham Coxon yang keluar dari sound gitarnya Albar sangat mix dengan overdrive yang digunakan Fauzi (analoginya seperti busur yang melengkung (gitar) dan anak panahnya (bass); dan mereka benar-benar menjadi satu paket yang brilian ketika diiringi oleh dance-drum dari Gavin (maka melayanglah si anak panah menuju ke sasaran). Mereka bertiga lantas membiarkan Hafaz untuk maju sendirian di depan, melengking dan menari seperti kerasukan arwah Brett Anderson (meskipun doi masih sehat wal-afiat). Hipotesa Asmara saya rasa adalah pintu pertama jika kalian ingin mengetahui seperti apa kualitas MUSIK yang ditawarkan oleh The Clays. Namun, izinkanlah saya untuk mengobrak-abrik LIRIK dalam lagu ini. Sebentar saja. Karena menurut saya, penulisan lirik adalah masalah paling urgent yang sedang dialami oleh band-band kota Medan (bagi kebanyakan anak band indie Medan, membaca itu tidak keren).

Hipotesa Asmara. Pemilihan diksi yang sangat bagus dan berani, saya kira. Tapi setelah mengamati liriknya secara keseluruhan, maaf, saya kecewa. Sama kecewanya seperti ketika Eda Citra menyaksikan film Wonder Woman: mahal namun dangkal, katanya. Mari kita lihat:

Hati merekah

Menatap parasnya

Akukan berjumpa

Dengannya jelita

Setangkai bunga pun

Ikut menyapanya

Saat kumelangkah

Rintikan pun tiba

Lalu apa daya

Melunturkan asa

Saat kumelangkah

Rintikan pun tiba

Lalu apa daya

Tubuh pun bergetar

Kala petir menyambar

Tubuh pun bergetar

Sebab dia buatmu berdebar

Tubuh pun bergetar

Seakan virus, menyebar

Tubuh pun bergetar

Dan rasa ini pun

Pastikan buyar

Menurut saya, judul Hipotesa Asmara terlalu megah untuk lirik yang terlalu biasa, tanpa makna, dengan tema yang terlalu umum seperti yang kita lihat di atas. Kelebihannya hanya ada pada permainan rima, itu pun bakal percuma jika tidak didukung dengan frase dan diksi yang tepat. Pejamkan mata kalian, dan bayangkan..., sesosok pemuda, sebut saja namanya Tere Liye, dengan setangkai bunga di tangan kiri yang hendak menemui perempuan (entah kekasih entah siapa), lalu hujan pun turun secara tiba-tiba (biar sendu), lalu kolaps (disambar petir?), lalu galau, lalu kenapa? Lalu apa? Sebenarnya apa yang ingin disampaikan? Dan yang paling penting, mana hipotesis The Clays terhadap "asmara"? Awalnya saya berharap mereka sedang membicarakan "asmara" secara filosofis seperti yang pernah dilakukan Ugoran Prasad (Melancholic Bitch) dalam lagu Tentang Cinta (silakan diklik) lantas menyimpulkan suatu interpretasi atasnya (dalam lagu itu, Ugo mendefinisikan makna "cinta" melalui absurditas pemikirannya). Hipotesis/hipotesa? Binatang apa itu? Mari kita cek di KBBI:

 hi·po·te·sis /hipotésis/ n sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori, proposisi, dan sebagainya) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan.

Oke. Beralih ke aransemen. Dalam hal ini harus saya akui, The Clays adalah band yang sangat-sangat menjanjikan. Proses bermusik telah membawa The Clays menjadi The Clays, bukan Kasabian, bukan Franz Ferdinand, bukan pula yang lain dan yang lain lagi. Saya dapat berkata seperti ini setelah berurutan mendengarkan lagu-lagu di dalam Voyager: Unknown Song, Hey Girl!, dan We Don't Care, terutama single terbaru mereka, Foolish (di lagu ini teknik bernyanyi Hafaz mengingatkan saya pada Brian Molko). Dan di single ini pula saya lihat The Clays telah memperbaiki cita rasanya pada penulisan lirik (akan kita bahas di edisi selanjutnya). Perpaduan antara synth-pop drum, permainan gitar dengan style rhytmic delay plus reverb ala backsound film-film sci-fi, bass nada minor dengan sound kotor dan noise, beserta karakter vokal oktav tinggi yang ber-vibra dijamin akan menstimulus otak kalian dalam sebuah kontradiksi pikiran, kadang bahagia kadang kelam; inilah The Clays. Inilah modernisasi dalam bermusik. Modernisasi dalam menyuarakan emosi yang ingin disampaikan, walaupun tanpa lirik. Inilah band yang tahu apa kelebihan dari setiap personelnya. So, berbanggalah kota ini karena memiliki The Clays!

Yang belum kenal dengan The Clays, marilah sapa mereka di sini, atau di @thisisclays. Saya yakin kalian tidak akan pernah menyesal.

4 thoughts on “HIPOTESA THE CLAYS

  1. Setuju sama degil. Musik bagus tapi liriknya, ya gitu deh. Sukses terus abang-abang The Clays! Kritik membangun tuhh.

  2. Suka kali aku kayak gini. Band medan zmn skrg ini manja-manja kali. Kebnyakan disanjung sama koran jkrta sana, jadi bsar kepala. Dikritik dibilang menghina. Pdhl pmbodohan smua itu yg dbilang koran jkarta. Syukurlah klen ada media kayak gini. Syalom.

  3. Suka dengan kobelannya! Tapi apa iya bagi “kebanyakan anak band indie medan” baca itu gak keren? Gak hobi ama sesuatu bukan berarti menganggap sesuatu itu gak keren kan? Adek yakin kok bang gak ada yg beranggapan kalo baca itu gak keren.

Leave a Comment

Baca Juga