filsafatian degilzine

POLITIK DALAM FILSAFATIAN: BUKAN REVOLUSIONER MENTEL

Membicarakan Filsafatian berarti adalah berbicara soal lirik. Karena akan sia-sia jika kalian hendak mengulik genre musik yang mereka sajikan tanpa membedah lirik yang mereka tulis, sekalipun Om Denny Sakrie bangkit dari kuburnya. Jujur saja, saya sendiri adalah seorang pendengar lirik, yang berarti lebih mengutamakan kualitas lirik ketimbang aransemen yang ditawarkan oleh suatu band; saya seringkali tak peduli meskipun suara vokalis band itu semerdu David Naif, gitarisnya sejago Lafa Pratomo, drumernya secepat Jerinx, tidak akan begitu saya pedulikan kalau liriknya se-tidakpenting Akad-nya Payung Teduh.

Baiklah, akan coba saya paparkan alasannya. Agak rumit sedikit bahasanya kayak si Jonru ngga apa-apa, ya? Sedikit saja kok. Saya janji.

Jadi begini. Masbro Njoto, musisi jazz legendaris asal Jember itu pernah mengatakan, bahwa musik adalah bibit yang harusnya dipergunakan untuk memupuk kesadaran masyarakat dalam menghadapi pikiran mapan para penguasa yang korup. Sebab dalam industri yang lazim belakangan ini, musik bukan hanya berfungsi sebagai mesin pencari keuntungan (akumulasi profit), namun juga telah menjadi instrumen integrasi sosial di bawah dominasi ideologi klas yang berkuasa.

Gerombolan seniman yang mengaku berpaham humanisme universal itu (yang berjaya setelah Masbro Njoto dan bandnya bubar) selalu mengulang-ulang, bahwasanya musik adalah musik, murni seni, yang berarti tidak ada politik, ideologi, dan kepentingan apa pun di dalamnya selain kepentingan estetik yang lahir dari dalam hati seorang pemusik. Mereka mendistorsikan filosofi penciptaan dalam ranah seni, bahwasanya setiap karya adalah hasil dari refleksi pikiran manusia terhadap keadaan sekitarnya, yang berarti kesadaran para musisi dalam mencipta ikut terbentuk oleh pergerakan sosial yang sedang terjadi di sekeliling mereka. Tak usah jauh-jauh ke Jakarta sono, kota tercinta kita ini menyajikan daftar para musisi yang apatis, apolitis, siapa elu siapa gue, yang sedikit banyaknya terpengaruh oleh hegemoni musik berlirik sampah yang disebarluaskan oleh industri musik nasional. Sejujurnya saya juga tidak ingin melihat seniman-seniman sampah itu hilang kayak kentut, entah itu dihancurkan, diremukkan, atau dipenjara seperti yang dialami Koes Plus di zaman Si Babe. Tidak adil juga rasanya. Itu namanya memperkosa kesenian. Tapi apa jadinya jika mereka dibiarkan hidup tanpa ada satupun musisi yang berani menjadi antitesis yang siap untuk mengganggu kemapanan cara berpikir mereka? Cara berpikir yang bagi saya pribadi agak menyesatkan itu? Nah, sebab itulah saya katakan bahwa penulisan lirik sangat memengaruhi kesadaran para pendengar dalam memahami sesuatu perkara. Dan saya rasa, untuk itulah Filsafatian dilahirkan ke dunia.

Bagi saya pribadi, Filsafatian adalah implementasi paling baik mengenai reggae. Saya berbicara soal spirit REGGAE ya, bukan genre reggae kelapa atau style reggae ganja. Apalagi reggae yang sama sekali tidak pernah menciptakan karya seperti band kebanggaan si redaktur Degil itu, Riovaldo Todoan. Saya pribadi menolak mindset kids zaman now (bahkan sejak kids zaman saya), yang meng-korelasikan reggae dengan sekadar ritem gitar cik.. encik… cik.. Reggae yang hedonis, yang hobinya nongkrong di pantai, nyantai di bawah pohon kelapai, dan teler sampai pagai. Reggae jauh dari itu semua. Jauh sekali! Ada sekam yang membidani kelahirannya. Ada kemarahan yang tumbuh dan membesar di dalam liriknya. Lirik? Ya, reggae, bagi saya pribadi adalah soal lirik, bukan fashion apalagi sekadar ritme musik. Reggae adalah sikap politik yang dituangkan di dalam musik. Seperti Ras Muhammad. Seperti Tony Q Rastafara. Seperti Filsafatian.

Seperti kalian yang mengingat Bob Marley karena “Get up, stand up, stand up for your right! Get up, stand up, don’t give up to fight!”, bukan karena gimbalnya atau mukanya yang dipampang di etalase distro.

Tugas para seniman cukuplah berkarya. Jangan terlalu mencampuri urusan para penguasa. Kira-kira begitulah kata-kata filsuf terkemuka negeri ini yang hobinya minum wine seraya ngoceh dengan bahasa Prancis: merci, merci, bonjour…. Benar. Saya setuju. Kalian pasti juga setuju, tho? Tapi karya yang bagaimana dulu? Urusan penguasa yang seperti apa dulu? Filsafatian paham pada jalur yang mereka tuju. Setelah melewati proses panjang dengan personel yang berganti-ganti, bongkar pasang posisi, perbaikan cita rasa akan lirik, hingga pada akhirnya anak-anak rohani Filsafatian itu terkumpul dalam album penuh bertajuk Tebar Vibrasi Positif.

Foto: Koleksi Ratna da Pitu

Tugas pertama beres. Kemudian, salah satu lagu di dalam album tersebut, Revolusi Mentel (silakan diklik dan lihat orasi mereka di sana), telah bergaung di kantor KPK, Jakarta, dalam menyuarakan korupnya kota di mana mereka bernapas dan hidup. Apa dengan begitu mereka dianggap telah mencampuri urusan para penguasa? Saya rasa mereka tidak akan lagi mencampuri urusan para penguasa selama para penguasa yang saya hormati itu tidak lagi mencampuri urusan rakyat. Simpel, tho? Politik dalam filsafatian adalah karya, adalah orasi dalam setiap penampilannya. Politik adalah Filsafatian.

Tapi seringnya nih ya, jika suatu band sudah membicarakan politik di dalam lagunya, estetikanya akan lenyap, seringkali klise dan melunturkan keindahan berbahasa. Karena musik bukan sekadar bermain alat musik, namun juga berkarya dalam kata-kata. Begitulah pendapat kawan saya, sebut saja namanya Roberto Baggio. Ya, saya setuju, jika yang membicarakannya adalah band semacam Cupumanik dengan garudanya yang berdarah-darah, atau band-band mewah lainnya yang berlagak kritis agar dianggap seksi kayak Cholil ERK. Namun bagaimana kalau yang membicarakannya adalah Filsafatian? Tengok lirik yang saya penggal dari single terbaru mereka: Punk Rock Show:

Virus of the hate has been filling my days 

Everyone is silent and has nothing to say 

Selling religion for political power 

Sense of humanity is getting much lower 

 How can you survive with it everyday 

Too much hypocrisy while you pray 

Let’s get together and play 

The music of resistance in our way 

Bingung? Itu lirik lagu atau puisinya Pablo Neruda? Perhatikan rima dalam lirik tersebut. Perhatikan pula diksinya. Ya, inilah sikap politik yang disuarakan dalam bermusik, namun tetap mempertahankan keindahan berbahasa. Saya tidak melebih-lebihkan, tho? Bagaimana dengan tema? Selain mengenai bobroknya pemerintahan yang diikuti dengan longornya generasi, seperti yang tertuang dalam “Pening dan Berang” dan “Revolusi Mentel“, Filsafatian juga mengkritik korpotokrasi multi-nasional yang sangat berperan atas rusaknya alam Indonesia: “Negeri Kompromi“. Dalam track Slow, kalian akan menemukan sekam reggae yang saya sebutkan di atas, betapa optimisme di dalam lirik akan mengawal sebuah perjuangan yang pastinya akan panjang. Perjuangan terhadap apa? Mungkin kalian boleh menyandingkan kaum buruh dan tani di Indonesia saat ini dengan masyarakat Jamaika di eranya Bob Marley. Tak ada bedanya! Sedangkan manifesto Filsafatian terhadap humanisme dan slogan anti-perang ala generasi hippie terdengar sangat baik sekali di dalam track Tebar Vibrasi Positif (mungkin karena itulah lagu ini dijadikan sebagai judul album). Dan yang paling menakjubkan di antara semua, paling tidak buat saya, adalah terselipnya dua track berbahasa Batak: Marsikkola dan Sada Saroha (ngga main-main lho, karena dalam dua lagu ini mereka menggunakan suling Batak (sulim) dan mandolin). Di zaman di mana anak-anak muda Medan sedang asyik dengan budaya Barat (sebagian lagi budaya Arab) dan menganggap kearifan lokal adalah sesuatu yang terbelakang, Filsafatian datang dan mendobrak mindset ganjil tersebut. Tak perlu kita artikan dua lagu tersebut (karena saya juga tak bisa bahasa Batak), sebab dengan munculnya dua lagu itu saja sudah bisa melambangkan pemberontakan yang tak berkesudahan dari dalam diri Filsafatian; kali ini pemberontakan terhadap kebudayaan.

Namun jangan anggap mereka tidak jujur karena tidak pernah membicarakan sesuatu yang sentimentil, yang mengintip malu-malu dari balik rambut gondrong mereka. Dengar. Selayaknya manusia punya cinta, mewarnai dunia yang berbeda. Kelap kelip bintang di langit angkasa, berbunga hati kita berbicara. Stop, itu bukan quote-nya Tere Liye, melainkan penggalan lirik dari lagu Wanitaku, track favorit saya di album Tebar Vibrasi Positif. Puitis bukan? Rasa-rasanya saya kembali teringat pada Pablo Neruda (sebab cintanya Neruda dan cintanya Filsafatian adalah cinta untuk kemanusiaan, bukan cinta dalam paparan individualistis). Kesimpulannya, Filsafatian bisa berkobar marah karena melihat ketidakadilan yang marak di sekeliling mereka, di setiap edaran pandang mata mereka, namun sebagai manusia, Santus Sitorus, vokalis dan gitaris sekaligus penulis lirik, tahu kapan waktu untuk marah dan kapan waktu untuk bercinta. Bukan setiap waktu dihabiskan untuk bercinta!

Oke, saya setuju ketika Roberto Baggio (kawan saya tadi) bersabda bahwa setiap musisi di atas bumi ini bebas dalam mencipta, terutama sesuatu yang hadir di dalam hati dan perasaannya. Jika setiap musisi mesti turut, mesti manut jika diperintah, mesti begini mesti begono, apa bedanya dengan para seniman di zaman Stalin ataupun Hitler? Atau mau kembali merasakan “penak zamanku, tho?” Tapi coba tanyakan, apa hati dan perasaan kalian tidak merasa marah dan jijik terhadap apa yang sedang terjadi di kota tempat kalian dilahirkan ini? Saya yakin kalian pasti merasakan kemarahan seperti apa yang Filsafatian rasakan, jujurlah, namun keinginan itu terbelenggu karena selera pasar yang secara sengaja dibentuk oleh industri (yang tidak sehat) agar masyarakat kita lebih peduli beristri banyak dan hal remeh temeh mengenai hati yang dipatahkan oleh Iblis atau hal-hal tak berguna lainnya..

Terakhir, kami ingin mengajukan tanya pada para musisi Medan: apa kalian ngga malu menyanyikan lagu kebelet kawin di cafe-cafe dengan kopi mahalnya sementara kota kita yang tercinta ini dicap sebagai kota dengan tingkat korupsi tertinggi se-Indonesia Raya? Kalau masih malu, marilah, lae, kita ber”politik” bersama Santus Sitorus, Ando Banurea, Kuncoro Helwani dan Restu Purba di dalam Filsafatian!

Share this post

Recent post