Degil Zine

The Punk, konon katanya merupakan novel punk pertama di dunia, yang ternyata ditulis oleh seorang bocah SMP bernama Gideon Sams yang berumur 14 tahun untuk tugas sekolahnya. Mengejutkan bukan? Seorang anak smp berhasil menulis novel yang bercerita tentang punk pada umur segitu. Sebenarnya tidak mengejutkan juga sih, karena novel ini sendiri ditulis ketika gelombang punk sedang digemari anak-anak remaja pada zaman itu. Kata-kata orang sih ini Romeo and Juliet-nya punk, atau mungkin karena cover-nya yang bertuliskan “Romeo and juliet with safety pins.”

Hal yang menarik dari buku ini sebenarnya bukan tentang bagian cerita cinta tokohnya yang sangat punk banget. Saya pribadi lebih menyukai bagaimana si Gideon Sams ini menceritakan tentang latar belakang tokohnya yang merupakan seorang punk. Penggambaran tokohnya sederhana saja, pemberontak, bandel, memiliki masalah keluarga dan tidak punya masa depan. Sederhana, bukan? Dan gambaran kita tentang anak punk pada zaman sekarang masih menggunakan apa yang digambarkan oleh Gideon pada tokoh utamanya. Entah ini hanyan kebetulan atau memang sudah menjadi streotip kita terhadap seorang punk. Coba tanya diri anda sendiri, seperti itukah gambaran anda terhadap anak punk?

Gideon telah memberikan gambaran cukup jelas tentang bagaimana masyarakat umum memandang punk. Lantas, bagaimana dengan agama? Pada tahun 2003 muncul sebuah novel yang berjudul “Taqwacor”, yang bercerita tentang punk dan Islam, seorang muslim yang sekaligus seorang punk. Muslim dan punk digabungkan? Kenapa tidak? Maka jadilah Taqwacore. Buku ini lalu difilmkan pada tahun 2009.  Secara mengejutkan buku “The Punk” Gideon itu sendiri ada dalam adegan film ini, yang seolah telah menjadi kitab bagi anak punk. Film ini cukup mengundang kontroversial, coba bayangkan bagaimana jika azan subuh disenandungkan dengan gitar? Belum cukup kontroversial? Baiklah, coba bayangkan bagaimana jika imam sholat Jumat anda adalah seorang wanita? Oke, sepertinya sampai di sini sudah cukup. Lebih baik jika kalian langsung menonton filmnya. Suka apa tidak, terusik apa tidak, itu urusan anda sekaligus demi kebaikan anda untuk menghindari spoiler tentunya. Bagi saya sih film ini tampak ingin mengkritisi agama, dan tentunya paham-paham kuno yang sudah tidak relevan pada zamannya (punk dalam “Taqwacore”, bukan saya loh).

Bagaimana dengan novel indonesia yang berbau PUNK? Tentu saja ada, novel itu berjudul “Perang” yang ditulis oleh Rama Irawan dan diterbitkan pada tahun 2006. Penggambaran Punk dalam novel ini cukup berbeda. Pada buku ini tokoh utamanya bertemu dengan seorang yang punk yang tidak sesuai dengan gambaran umumunya (ya tau sendirilah seperti sebelum- sebelumnya). Di sini ia menjumpai seorang punk dari keluarga baik-baik, tidak merokok, dan bukan tukang mabuk. Wah, ini dia nih punk yang paling baik yang pernah ada. Si “Punk” kali ini kenapa disebut punk sebenarnya sederhana saja; pertama ia suka musik punk (wajib), kedua bacaannya zine (masih wajib), ketiga rajin mendatangi gigs underground (kayaknya ini masih wajib), dan yang keempat (paling penting menurut saya) slogan DIY dijadikan sebagai jalan untuk memerangi kapitalisme, ya betul sekali kapitalisme, anda tidak salah dengar. Digunakan untuk membuat alternatif kehidupan yang lain. Bahasa resminya sih menolak terbawa arus kapitalisme. Progresif dan menolak tunduk pada sistem (yang menindas). Si tokoh yang katanya punk ini percaya kalau punk terlahir dari anarkisme, yang oleh karena itu setiap individu berhak atas penguasaan atau otonomi sepenuhnya atas dirinya. Dalam artian kata “bebas”, bebas memutuskan apa pun untuk dirinya tanpa ada intervensi ataupun kehendak dari luar dirinya. Terdengar punk sekali tidak? Saya sih melihatnya kalau punk di sini lebih dianggap sebagai sebuah ideologi.

Wokeeee, jadi apalah itu punk ya?. Coba kalian jawab (dalam hati aja). Buatlah “punk” versi kalian. Apakah “PUNK” itu merupakan sebuah genre, lifestyle ataukah sebuah social movement? Bagaimana? Tentu di sini kita punya pemahaman berbeda. Saya pribadi sih menganggap PUNK sebagai suatu bentuk social movement. Kenapa begitu? Tentu ada alasannya dong , ya gak? Oke jadi begini. Contoh sederhananya sih coba kalian dengarkan lagunya Sex Pistol yang judulnya God Save The Queen, atau bisa juga lagunya yang Anarcy In UK. Lagu-lagu ini dilahirkan pada tahun 1977 pada album Never Mind Bollocks. Dengarkan dan cermati liriknya.

God save the queen
She ain't no human being
There is no future
In England's dreaming         

Coba lihat lirik tersebut, itu adalah sebuah kritik sosial terhadap pemerintah Inggris, tepatnya pada Sang Ratu. Sex Pistol menggambarkan dengan sempurna bagaimana keaadaan Inggris lewat lagu itu. Yang karena begitu sempurnanya lagu ini sampai di-banned di Inggris pada saat itu. Jika kalian yang suka baca sejarah tentu pastinya tahu kalo Inggris sendiri pada waktu itu (akhir tahun 70an) memang hampir tidak mempunyai masa depan, pabrik di tutup di mana-mana, dan banyaknya pengangguran. Tidak ada masa depan bagi yang muda dan miskin. Anarchy In the UK mungkin.. ya hanya sebuah kemungkinan sih, jawaban oleh Sex Pistol untuk keluar dari masalah ini. Anarchy in the UK sendiri juga sering diplesetkan menjadi Im an Islamis im an anty-Christ. Hahahhaha.

Ya, seperti itulah punk bagi saya. Punk adalah ebuah bentuk perlawanan. Lagu merupakan suatu cara untuk menyampaikan kritik. Begitu juga dengan cara berpakaian mereka. Bagaimana jika tidak seperti itu? Ya tentu saja bagi saya adalah punk jadi-jadian. Saya rasa lagu Bad Religion yang berjudul  “Punk Rock Song” secara sederhana berhasil memberi jawaban atas pertanyaan apakah punk itu.

“This is just a punk rock song, written for the people who can see something's wrong.”

Punk menjadi jawaban bagi mereka yang menentang aturan-aturan yang bersifat konservatif. Punk dijadikan sebagai sebuah bentuk simbol perlawanan. Perlawanan terhadap masyarakat, negara, peraturan, norma sosial, maupun pemahaman agama. Menentangnya dengan lantam. Punk menjadi jawaban akan kebebasan. Baik itu dalam buku The Punk, Taqwacore, ataupun Perang. Semuanya seragam dan sepakat untuk bercerita tentang mereka yang ingin kebebasan, kebebasan berekspresi. Menolak tunduk dan senantiasa melawan. Melawan pada apa pun yang menurut mereka salah. Melawan dengan cara mereka. Melawan dengan menjadi seorang PUNK!

Leave a Comment

Baca Juga

The Punk, konon katanya merupakan novel punk pertama di dunia, yang ternyata ditulis oleh seorang bocah SMP bernama Gideon Sams yang berumur 14 tahun untuk tugas sekolahnya. Mengejutkan bukan? Seorang anak smp berhasil menulis novel yang bercerita tentang punk pada umur segitu. Sebenarnya tidak mengejutkan juga sih, karena novel ini sendiri ditulis ketika gelombang punk sedang digemari anak-anak remaja pada zaman itu. Kata-kata orang sih ini Romeo and Juliet-nya punk, atau mungkin karena cover-nya yang bertuliskan “Romeo and juliet with safety pins.”

Hal yang menarik dari buku ini sebenarnya bukan tentang bagian cerita cinta tokohnya yang sangat punk banget. Saya pribadi lebih menyukai bagaimana si Gideon Sams ini menceritakan tentang latar belakang tokohnya yang merupakan seorang punk. Penggambaran tokohnya sederhana saja, pemberontak, bandel, memiliki masalah keluarga dan tidak punya masa depan. Sederhana, bukan? Dan gambaran kita tentang anak punk pada zaman sekarang masih menggunakan apa yang digambarkan oleh Gideon pada tokoh utamanya. Entah ini hanyan kebetulan atau memang sudah menjadi streotip kita terhadap seorang punk. Coba tanya diri anda sendiri, seperti itukah gambaran anda terhadap anak punk?

Gideon telah memberikan gambaran cukup jelas tentang bagaimana masyarakat umum memandang punk. Lantas, bagaimana dengan agama? Pada tahun 2003 muncul sebuah novel yang berjudul “Taqwacor”, yang bercerita tentang punk dan Islam, seorang muslim yang sekaligus seorang punk. Muslim dan punk digabungkan? Kenapa tidak? Maka jadilah Taqwacore. Buku ini lalu difilmkan pada tahun 2009.  Secara mengejutkan buku “The Punk” Gideon itu sendiri ada dalam adegan film ini, yang seolah telah menjadi kitab bagi anak punk. Film ini cukup mengundang kontroversial, coba bayangkan bagaimana jika azan subuh disenandungkan dengan gitar? Belum cukup kontroversial? Baiklah, coba bayangkan bagaimana jika imam sholat Jumat anda adalah seorang wanita? Oke, sepertinya sampai di sini sudah cukup. Lebih baik jika kalian langsung menonton filmnya. Suka apa tidak, terusik apa tidak, itu urusan anda sekaligus demi kebaikan anda untuk menghindari spoiler tentunya. Bagi saya sih film ini tampak ingin mengkritisi agama, dan tentunya paham-paham kuno yang sudah tidak relevan pada zamannya (punk dalam “Taqwacore”, bukan saya loh).

Bagaimana dengan novel indonesia yang berbau PUNK? Tentu saja ada, novel itu berjudul “Perang” yang ditulis oleh Rama Irawan dan diterbitkan pada tahun 2006. Penggambaran Punk dalam novel ini cukup berbeda. Pada buku ini tokoh utamanya bertemu dengan seorang yang punk yang tidak sesuai dengan gambaran umumunya (ya tau sendirilah seperti sebelum- sebelumnya). Di sini ia menjumpai seorang punk dari keluarga baik-baik, tidak merokok, dan bukan tukang mabuk. Wah, ini dia nih punk yang paling baik yang pernah ada. Si “Punk” kali ini kenapa disebut punk sebenarnya sederhana saja; pertama ia suka musik punk (wajib), kedua bacaannya zine (masih wajib), ketiga rajin mendatangi gigs underground (kayaknya ini masih wajib), dan yang keempat (paling penting menurut saya) slogan DIY dijadikan sebagai jalan untuk memerangi kapitalisme, ya betul sekali kapitalisme, anda tidak salah dengar. Digunakan untuk membuat alternatif kehidupan yang lain. Bahasa resminya sih menolak terbawa arus kapitalisme. Progresif dan menolak tunduk pada sistem (yang menindas). Si tokoh yang katanya punk ini percaya kalau punk terlahir dari anarkisme, yang oleh karena itu setiap individu berhak atas penguasaan atau otonomi sepenuhnya atas dirinya. Dalam artian kata “bebas”, bebas memutuskan apa pun untuk dirinya tanpa ada intervensi ataupun kehendak dari luar dirinya. Terdengar punk sekali tidak? Saya sih melihatnya kalau punk di sini lebih dianggap sebagai sebuah ideologi.

Wokeeee, jadi apalah itu punk ya?. Coba kalian jawab (dalam hati aja). Buatlah “punk” versi kalian. Apakah “PUNK” itu merupakan sebuah genre, lifestyle ataukah sebuah social movement? Bagaimana? Tentu di sini kita punya pemahaman berbeda. Saya pribadi sih menganggap PUNK sebagai suatu bentuk social movement. Kenapa begitu? Tentu ada alasannya dong , ya gak? Oke jadi begini. Contoh sederhananya sih coba kalian dengarkan lagunya Sex Pistol yang judulnya God Save The Queen, atau bisa juga lagunya yang Anarcy In UK. Lagu-lagu ini dilahirkan pada tahun 1977 pada album Never Mind Bollocks. Dengarkan dan cermati liriknya.

God save the queen
She ain't no human being
There is no future
In England's dreaming         

Coba lihat lirik tersebut, itu adalah sebuah kritik sosial terhadap pemerintah Inggris, tepatnya pada Sang Ratu. Sex Pistol menggambarkan dengan sempurna bagaimana keaadaan Inggris lewat lagu itu. Yang karena begitu sempurnanya lagu ini sampai di-banned di Inggris pada saat itu. Jika kalian yang suka baca sejarah tentu pastinya tahu kalo Inggris sendiri pada waktu itu (akhir tahun 70an) memang hampir tidak mempunyai masa depan, pabrik di tutup di mana-mana, dan banyaknya pengangguran. Tidak ada masa depan bagi yang muda dan miskin. Anarchy In the UK mungkin.. ya hanya sebuah kemungkinan sih, jawaban oleh Sex Pistol untuk keluar dari masalah ini. Anarchy in the UK sendiri juga sering diplesetkan menjadi Im an Islamis im an anty-Christ. Hahahhaha.

Ya, seperti itulah punk bagi saya. Punk adalah ebuah bentuk perlawanan. Lagu merupakan suatu cara untuk menyampaikan kritik. Begitu juga dengan cara berpakaian mereka. Bagaimana jika tidak seperti itu? Ya tentu saja bagi saya adalah punk jadi-jadian. Saya rasa lagu Bad Religion yang berjudul  “Punk Rock Song” secara sederhana berhasil memberi jawaban atas pertanyaan apakah punk itu.

“This is just a punk rock song, written for the people who can see something's wrong.”

Punk menjadi jawaban bagi mereka yang menentang aturan-aturan yang bersifat konservatif. Punk dijadikan sebagai sebuah bentuk simbol perlawanan. Perlawanan terhadap masyarakat, negara, peraturan, norma sosial, maupun pemahaman agama. Menentangnya dengan lantam. Punk menjadi jawaban akan kebebasan. Baik itu dalam buku The Punk, Taqwacore, ataupun Perang. Semuanya seragam dan sepakat untuk bercerita tentang mereka yang ingin kebebasan, kebebasan berekspresi. Menolak tunduk dan senantiasa melawan. Melawan pada apa pun yang menurut mereka salah. Melawan dengan cara mereka. Melawan dengan menjadi seorang PUNK!

Leave a Comment

Baca Juga