CRAC

MOSES HUTAPEA: ROMANTISME AEK MUAL

Sekitaran tahun 2006 hingga ke awal tahun 2011, komunitas underground seluruh Medan memiliki “rumah” yang terletak di Jalan Setia Budi, bernama Aek Mual. Seperti fungsi sebuah rumah pada definisi yang paling shahih, Aek Mual menampung segala macam manusia dengan tingkah lakunya masing-masing. Di masa itu, kau tidak akan dianggap sebagai anak metal jika tidak pernah jongkok-jongkok di tangganya, di lahan parkirnya, atau sekadar duduk manis di pojokan ruangan untuk menatap para musisi yang berjingkrak-jingkrak di atas panggung. Namun kini rumah itu telah musnah, kalah oleh kepentingan para pemodal yang tampaknya tak sudi jika masih ada lahan kosong di kota ini yang tidak dapat menghasilkan uang. Tim Degilzine coba mengorek kembali kenangan itu di dalam diri salah seorang penemu awalnya: Moses Hutapea. Moses Hutapea sendiri adalah eks gitaris Trying To Find, Take the Second Step, Bedebah X Bangsat, dan pernah menjadi additional gitaris band Empat Belas dalam South Asia Tour. Sekarang doi sedang sibuk mengurus Meeb Koffie. Langsung saja, guys!

Apa yang kau ingat ketika mendengar kata Aek Mual?

Hard Attack, Kolektif Youth, Fateful Familia!

Apa sih sebenarnya Aek Mual itu?

Awalnya Aek Mual itu tempat penyelenggaraan pesta Batak, ehh.. apa… Sejak Kapendam ngga ada, kita kekurangan tempat buat acara. Waktu itu kami seakan-akan di-blacklist di semua tempat. Jadi anak-anak udah cari ke sana ke mari, ya, dapatnya Aek Mual. Iseng sebenarnya, tapi kami coba aja.

Kenapa bisa memilih di sana?

Awalnya si Dedi aka JengGOD (drumer Empat Belas) aka si penjaga surga. Dia yang keliling nyari tempat. Gak sengaja dia lewat daerah Setia Budi, mungkin ini cocok. Ya, udah kita cobalah! JengGOD, lop yu!

Awalnya skena apa saja yang ada di sana?

Pertama kali Hard Attack 2006, anak-anak Fateful yang buat. Awalnya pingin buat acara dan divideoin, tapi ya gitu… kekurangan biaya, jadi engga maksimal. Secara di zaman itu minim alat-alat yang mendukung. Setelah itu mulai berkembang banyak acara, kayak kami undang band dari Inggris, 7 Crowns, terus ada Medan Underground 2008. Ya, setelah itu makin jadi rame. Punk, hardcore, oi oi-lah pokoknya!

Selain dari skena underground, apa Aek Mual juga menerima jika ada skena lain ingin membuat gigs di sana? Indie contohnya?

Setahu aku engga ada. Karena mungkin udah terdoktrin dengan underground, ya, kayak CBGB ala Medan! Hahaha.. becanda. Eh, ada juga kayaknya, tapi lupa aku.. Maklumlah, udah lama kali!

Bagaimana syarat untuk bisa membuat acara di sana?

Ya, sewa gedunglah. Kalau ada kerusakan, ganti!

Dari mana dana kalian untuk membuat acara di Aek Mual?

Kolektif dong, kan Kolektif Youth. Dikit-dikit dibantu juga sama distro di zaman itu. Kami juga buat tiketing.

Pernah ngga kalian mengundang band dari skena selain skena underground?

Kalau kami kayaknya engga ada. Tapi lupa-lupa ingatlah. Hahahaha!

Kapan terakhir kali kalian membuat gigs di sana?

2008 masih ada. Terakhir antara 2009 sampai 2010. Soalnya udah mulai rusuh. Rusuh-rusuh anak mudalah!

Menurutmu perlu ngga ada tempat semacam Aek Mual lagi?

Ngga perlu kurasa. Sekarang udah ada Pitu Room kok. Yang penting udah ada wadah. Dulu kan krisis, susah kali nyari tempat.

Jadi persoalannya cuma masalah wadah. Aek Mual patut dibicarakan karena kondisi yang terjadi saat itu, bukan karena dia memang spesial. Menurutmu?

Pas. Ya, karena memang engga ada tempat. Cuma waktu itu, ya spesial. Kalau ada gudang boleh dipakai ya kami pakai. Kita cuma butuh wadah. Terserah mau di mana.

Bagaimana menurutmu soal wadah-wadah musik sekarang, terutama di cafe-cafe?

Aku ngga mengikuti kali sih. Ya, kalau ada yang menyediakan, yah, dimaksimalkan. Dulu masalah kami di wadah, acara kolektifan ya mesti bayar. Tapi antusiasnya ngeri. Sekarang banyak wadah, tapi peminatnya malah sepi. Ya, mungkin karena zamannya udah beda.

Apa ngga aneh, terutama buat band metal, ditonton sama orang yang lagi makan?

Ya, rasional-lah. Aku pun engga selera lagi makan dengar musik kayak gitu.

Oke, Ses. Terakhir. Apa yang ingin kau sampaikan buat orang-orang yang masih ingat dengan Aek Mual?

Stay unity to all old friends!!

*Interview oleh Tengku Ariy Dipantara

Share this post

Recent post