Foto: https://hughshelleyhnd01.files.wordpress.com

MUSIK PUNK ADALAH MEDIA PERLAWANAN, BUKAN BERLAWANAN!

Musik sebagai media alternatif ataupun media perlawanan (di saat aksi massa tidak dapat mengubah apa pun) seharusnya mampu menjadi pengaruh dan memengaruhi perubahan sosial dan politik hidup kita, bukan malah menjadikannya berlawanan di saat akan dihadapkan pada eksistensi hidup secara primer (individual/keluarga); menghidupi hidup dengan jalan etos kemandirian yang selalu kita dengungkan. Tapi pernahkah kita mencernanya dengan sangat sadar bahwa tujuan punk adalah aksioma personal dan kolektif; di sana ada sejarah praksis dalam bentuk perlawanan karena nggak hanya menciptakan musik, fashion, gaya hidup, tapi juga pemikiran bahkan kebudayaan sendiri; mendistribusikan pengetahuan tentang ide, konteks kemandirian serta kreativitas tanpa adanya industri (pasar) dengan alasan agar pesan-pesan propaganda yang ada di dalam musik punk dapat menjangkau massa luas. Bullshit situ mau jadi punk yang aktif berpikir kritis lewat perlawanan atau mau jadi pedagang. Apa pun alasannya sah-sah saja, selama cari pasar massa dan main musiknya engga bawa-bawa DIY, anti kapitalis (Dewa-19 katanya juga anti kapitalis), cukup dimainkan saja, ngga usah sok punk!

DIY (Do It Yourself)) bisa milik siapa pun yang percaya, begitupun anti kapitalis (Ah, sudahlah, kalau orang lain engga ngerti, saya cukup senyum asem). Lagian, ketika aku mendengar musik punk yang cita rasa grind crusty beat atau noise, aku malah nggak tahu apa yg diucapkan si vokalis. Jadi ada semacam bias ketika aku menyimak lagu dari band yang bukan mengaku punk, semacam Navicula atau Besok Bubar, yang nyata-nyata bernyanyinya bagus, teknik musiknya pun bagus, serta yang nggak kalah penting adalah pesan-pesan propaganda yang ditawarkan lewat lirik jelas dan nyampe. Oke sampai di situ, sudah pahamlah ya apa konteks dari tulisan ini.

Penampilan band punk Jakarta, Marjinal, sebagai solidaritas untuk perjuangan ibu-ibu Kendeng di depan kantor Gubernur Jawa Tengah (13-1-2017). Foto: istimewa

Anggaplah secara keseluruhan bahwa punk hari ini teraktualisasi lewat musik kalau kau merasa musik adalah media protes yang sangat gampang diterima, setelah itu mengubah pandangan kita tentang kondisi tertentu. Melalui bunyi, suara dan lirik lagu, sebagai metode gerak ,simbol-simbol perlawanan, pesan-pesan pemberontakan, atau mengkritik cara bersenang-senang kaum hedonis milenial (konsumerisme) dengan budaya tanding dalam bentuk pergerakan dan pilihan seperti berkolektif, bikin gigs mandiri, food not bombs, bikin zine atau distribusi kaset, berkebun, menjahit, nyablon bahkan bikin sabun dan shampoo yang ramah lingkungan, membuat kelas membaca dan perpustakaan (taman baca). Itu semua adalah bentuk perlawanan atas ketidakadilan akan akses mandiri yang kalau kita les atau kursus tentu harus membayar dengan sangat mahal.

Punk itu anarkis, bukan durhaka! Foto: Jefrie Aries

Aku nggak pernah setuju dengan pendistribusian musik (punk) dalam industri kapitalisme. Sejauh ini teman-teman punk itu sendiri juga belajar banyak tentang paham-paham anti kapitalisme. Secara teknik bermain, simbol serta atribut jelas mengusung pemberontakan (kebebasan), tapi liriknya hanya berakhir di rekaman dan di panggung saja. Seharusnya semua berawal dari musik (aksi) dan berakhir pada reaksi. Oke, apresiasi engga harus dibayar dengan fee saat manggung, apresiasi adalah dengan datang ke gigs mandiri, bayar tiket, dansa sama-sama waktu band punk itu manggung, beli rilisan fisik atau kaos sablonannya. Bagiku, itu semua adalah PENGHARGAAN yang mengalahkan UANG!

Musik sebagai pengiring aktivitas sehari-hari mudah-mudahan mampu ber-evolusi menjad revolusi  ide gagasan maupun perspektif untuk aktif dan kritis terhadap lingkungan dan memperjuangkan hidup kita masing-masing. Bahwa pesan lewat musis sama revolusinya seperti aksi demontrasi di jalanan yg menentang ketidakadilan, mulai dari pendidikan, sosial politik ekonomi, lingkungan hingga agama (jika dibutuhkan). Atau kalo kau merasa usai mendengarkan musik jadi ingin bikin band, engga mengapa. Toh kita semua adalah followers sebelum terjadi aksioma.

Share this post

Recent post