Salah satu gigs yang diselenggarakan oleh Pitu Room. Pitu Room tidak membatasi penonton dalam berlaku seekspresif mungkin. Foto: istimewa

PITU ROOM: BERKARYA SAMPAI MATI

Pitu Room lahir ke bumi ini tanggal 7 bulan 7, untungnya tahun 2010 bukan 2007, hampir saja mereka memenangkan grand prize ding dong dengan jackpot 777. Awalnya Pitu Room dibentuk oleh pasutri Elisantus Sitorus dan Ratna Silalahi, yang kemudian semakin berkembang dengan kehadiran Restu Purba, Ando Banurea dan Ali Amri. Pada tahun-tahun awal nama Pitu Room justru dikenal sebagai Pitu Café, namun akhirnya mantap berubah nama pada tahun 2013 (meskipun bagi beberapa kalangan, nama Pitu Café masih sangat melekat). Alasan perubahan nama ini juga bukan sembarangan, Pitu ingin fokus ke konsep ruang berkreasi untuk mengapresiasi sesama seniman, jadi tidak lagi sambilan menjajakan makanan dan minuman.

Baju hitam, celana jins koyak-koyak, Converse-Dogmart-Vans, sepertinya itu adalah standart-kit untuk menghadiri gigs di tempat ini. Ketika memijakkan kaki ke Pitu Room kalian tidak akan menjumpai mahkluk berpakaian parlente dengan tampang menjijikkan seperti para tuyul yang hobi ke café mahal dengan modal mandi (manis dingin) dan duduk sampai mati. Cukup bermodalkan tiketing Rp 10.000 (biasanya) saja kalian sudah bisa menikmati berbagai band sambil salto-salto, bahkan sleding kepala sendiri.

Tempat ini menjadi sangat menarik karena merupakan salah satu dari sangat sedikit tempat yang masih mengedepankan konsep DIY (Do It Yourself) di seluruh Indonesia Raya ini. Band-band yang ingin berpartisipasi ke dalam gigs secara kolektif mengumpulkan uang yang sebenarnya adalah untuk biaya maintenance alat yang mereka gunakan dan yang paling standar yaitu untuk membayar pungli yang dibalut dalam bentuk izin keramaian. Dengan biaya bulanan yang sangat besar ini, mustahil bisa tertutup dengan tiket masuk yang hanya Rp 10.000 tadi. Meskipun tidak menutup diri dengan EO maupun peluang bisnis penggunaan tempat, tapi jika dihitung-hitung pakai sempoa, kadang kala tetap saja tidak akan tertutup; biasanya Filsafatian pun turut memberikan asupan gizi kepada Pitu Room.

Salah satu gigs yang diselenggarakan oleh Pitu Room. Pitu Room tidak membatasi penonton dalam berlaku seekspresif mungkin. Foto: istimewa

Pitu Room, selain sebagai ruang kreatif, juga membuka studio rental dan lapak merchandise bernama Pitu Rockshop yang menjual mulai dari CD, kaos, sampai stiker band. Semua dilakukan untuk subsidi silang dan menjamin keberlangsungan Pitu Room. Entahlah, mungkin besok mereka akan menjual rem babet, jangkar kapal, baling-baling bambu dan lain-lain hanya untuk mewadahi anak-anak yang sering dikatain kaum klas menengah ngehek sebagai “anak pecahan botol”, supaya mereka tidak terlibat di lingkaran narkoba maupun kegiatan kriminal lainnya. Cukup banyak anak muda yang nyaris tersesat ini akhirnya meluangkan waktu untuk berkarya, karena karya mereka didengar, dilihat dan dirasakan oleh orang lain.

Kapankah Pitu Room akan berhenti? Mereka hanya akan berhenti ketika ruang kesenian independen sudah tidak dibutuhkan lagi di kota ini. Mungkin bisa diartikan ketika penonton sudah memiliki kesadaran membayar tiket masuk, atau penonton paham kalau seni itu mahal, apalagi berkesenian. Kondisi di mana para pelaku seni juga tidak mau terlibat di kegiatan murni independen juga akan membuat Pitu memberhentikan diri, mungkin bisa diartikan ketika semua seniman sudah dibuncitkan oleh recehan. Mereka juga akan berhenti jika pungli izin keramaian semakin tak tertutupi, untung saja tak ada perompak Somalia berkedok pemuda setempat yang ikut menggerogoti, kalau saja ada, yasudah mampus sajalah nasib gigs bawah tanah ini diterkam para kutu liar. Ya, Pitu Room juga akan berhenti ketika seluruh tim yang menjalankannya mati.

 

PS: Tim Degilzine mencatat, selain skena musik, Pitu Room membuka tangannya lebar-lebar bagi seluruh skena maupun workshop yang membutuhkan wadah untuk berkreasi (ed).

Share this post

Recent post