Degil Zine

Sekitaran tahun 2006 adalah kali pertama saya melihat penampilan RKA di atas panggung, tepatnya di kampus ITM (Institut Teknik Medan). Kesan yang muncul pada penampilan RKA pada waktu itu terbilang biasa saja. Musik yang dimainkan dengan tempo cepat, brisik, berdurasi singkat dengan suara vokal yang cenderung tidak begitu jelas adalah deskripsi singkat dari musik yang dimainkan RKA. Begitupun, tetap saja ada sekelompok anak muda berambut mohawk yang sebelumnya telah mengkuas rambutnya dengan lem kayu, tertarik untuk ber-moshing ria mengikuti nada yang tidak jelas itu.

Namun begitu, banyak hal menarik yang patut diapresiasi dari band ini; mulai dari produktifitas dalam hal rilisan fisik, membangun jaringan pertemanan antar pulau, gigs dan tour yang digarap secara mandiri, hingga sumber penghidupan personel yang masih bernapaskan estetika punk, merupakan bentuk totalitas dan dedikasi tinggi yang jarang ditemui pada band-band lain di kota ini.

RKA, yang merupakan kependekan dari “Rel Kereta Api” sudah bermusik sejak tahun 2002, dan boleh dibilang termasuk salah satu band yang sangat peduli terhadap rilisan fisik. Membandingkan soal rilisan fisik yang dihasilkan oleh band-band seangkatan RKA di Medan, banyak band yang seolah terserang wabah mandul dalam hal rilisan fisik. Tidak sedikit band di kota Medan yang berhenti di album pertama atau kedua karena hal-hal gaib atau hal tak tentu lainnya. Hanya sedikit nama seperti Spinach Popeye (3 album) atau SPR (bermusik dari tahun 1999) barangkali yang cukup produktif dengan 4 albumnya (kabarnya SPR sedang menggarap album ke 5).

Banyak band Medan yang mungkin punya setumpuk lagu, namun enggan mendokumentasikannya ke dalam album fisik dengan alasan klasik, "Banyak kali tetek bengeknya, wak “, "Takut aku wak, gak balmod pula nanti”, “Gratis download aja orang gak mau dengar wak, apalagi suruh beli album!” Halah, dasar Sontoloyo!

Tentulah hal-hal seperti itu tak jadi urusan bagi RKA. Rajin merekam lagu kemudian dikemas dalam bentuk CD ataupun kaset, dirilis secara mandiri maupun label lain, sedikit banyaknya memaksa kita untuk berdecak kagum. Tercatat 8 album studio, 3 split album, dan 10 album kompilasi (Bah! coba kelen cari band Medan lain yang serupa dalam hal produktifitasnya!) telah dirilis dan disebar lewat jejaring pertemanan se-Indonesia. Walaupun harus jujur, untuk beberapa album yang dirilis secara mandiri, bentuk fisiknya terkadang punya kesan cekak dan apa adanya. Tetapi pada intinya, meninggalkan artefak pada tiap karya merupakan suatu bentuk dedikasi tinggi terhadap skena musik underground.

Apabila berbicara urusan penjualan album, sepertinya tidak menjadi soal bagi RKA, apakah harus menargetkan tembus ke dalam 100 album indie terbaik versi majalah Rolling Stone, atau 100 band indie dengan album terlaris versi majalah bele-bele.

Sedikit mengulas tentang personel, nama Tulank RKA, vokalis, gitaris, front-man, sekaligus satu-satunya personel asli yang tersisa dalam tubuh RKA, merupakan nama yang familiar di skena underground Medan; ini dibuktikan dengan sebagian besar album band-band Medan yang selalu mencantumkan nama “Tulank RKA” atau “RKA” pada bagian “thanks to” pada lembaran albumnya. Menolak tunduk pada pola pegawai seperti yang dilakukan pada manusia kebanyakan, Tulank lebih memilih bergelut dengan dunia persablonan secara D.I.Y (Do It Yourself) untuk menyambung kebutuhan hidup sehari-hari. Sungguh implementasi anarkisme yang baik!

Born to punk, mungkin representasi kata yang tepat, sekaligus sebagai kata penutup untuk berbicara mengenai RKA.

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

1 thought on “RKA: PUNK YANG MENDARAH DAGING

Leave a Comment

Baca Juga

Sekitaran tahun 2006 adalah kali pertama saya melihat penampilan RKA di atas panggung, tepatnya di kampus ITM (Institut Teknik Medan). Kesan yang muncul pada penampilan RKA pada waktu itu terbilang biasa saja. Musik yang dimainkan dengan tempo cepat, brisik, berdurasi singkat dengan suara vokal yang cenderung tidak begitu jelas adalah deskripsi singkat dari musik yang dimainkan RKA. Begitupun, tetap saja ada sekelompok anak muda berambut mohawk yang sebelumnya telah mengkuas rambutnya dengan lem kayu, tertarik untuk ber-moshing ria mengikuti nada yang tidak jelas itu.

Namun begitu, banyak hal menarik yang patut diapresiasi dari band ini; mulai dari produktifitas dalam hal rilisan fisik, membangun jaringan pertemanan antar pulau, gigs dan tour yang digarap secara mandiri, hingga sumber penghidupan personel yang masih bernapaskan estetika punk, merupakan bentuk totalitas dan dedikasi tinggi yang jarang ditemui pada band-band lain di kota ini.

RKA, yang merupakan kependekan dari “Rel Kereta Api” sudah bermusik sejak tahun 2002, dan boleh dibilang termasuk salah satu band yang sangat peduli terhadap rilisan fisik. Membandingkan soal rilisan fisik yang dihasilkan oleh band-band seangkatan RKA di Medan, banyak band yang seolah terserang wabah mandul dalam hal rilisan fisik. Tidak sedikit band di kota Medan yang berhenti di album pertama atau kedua karena hal-hal gaib atau hal tak tentu lainnya. Hanya sedikit nama seperti Spinach Popeye (3 album) atau SPR (bermusik dari tahun 1999) barangkali yang cukup produktif dengan 4 albumnya (kabarnya SPR sedang menggarap album ke 5).

Banyak band Medan yang mungkin punya setumpuk lagu, namun enggan mendokumentasikannya ke dalam album fisik dengan alasan klasik, "Banyak kali tetek bengeknya, wak “, "Takut aku wak, gak balmod pula nanti”, “Gratis download aja orang gak mau dengar wak, apalagi suruh beli album!” Halah, dasar Sontoloyo!

Tentulah hal-hal seperti itu tak jadi urusan bagi RKA. Rajin merekam lagu kemudian dikemas dalam bentuk CD ataupun kaset, dirilis secara mandiri maupun label lain, sedikit banyaknya memaksa kita untuk berdecak kagum. Tercatat 8 album studio, 3 split album, dan 10 album kompilasi (Bah! coba kelen cari band Medan lain yang serupa dalam hal produktifitasnya!) telah dirilis dan disebar lewat jejaring pertemanan se-Indonesia. Walaupun harus jujur, untuk beberapa album yang dirilis secara mandiri, bentuk fisiknya terkadang punya kesan cekak dan apa adanya. Tetapi pada intinya, meninggalkan artefak pada tiap karya merupakan suatu bentuk dedikasi tinggi terhadap skena musik underground.

Apabila berbicara urusan penjualan album, sepertinya tidak menjadi soal bagi RKA, apakah harus menargetkan tembus ke dalam 100 album indie terbaik versi majalah Rolling Stone, atau 100 band indie dengan album terlaris versi majalah bele-bele.

Sedikit mengulas tentang personel, nama Tulank RKA, vokalis, gitaris, front-man, sekaligus satu-satunya personel asli yang tersisa dalam tubuh RKA, merupakan nama yang familiar di skena underground Medan; ini dibuktikan dengan sebagian besar album band-band Medan yang selalu mencantumkan nama “Tulank RKA” atau “RKA” pada bagian “thanks to” pada lembaran albumnya. Menolak tunduk pada pola pegawai seperti yang dilakukan pada manusia kebanyakan, Tulank lebih memilih bergelut dengan dunia persablonan secara D.I.Y (Do It Yourself) untuk menyambung kebutuhan hidup sehari-hari. Sungguh implementasi anarkisme yang baik!

Born to punk, mungkin representasi kata yang tepat, sekaligus sebagai kata penutup untuk berbicara mengenai RKA.

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

1 thought on “RKA: PUNK YANG MENDARAH DAGING

Leave a Comment

Baca Juga