crcrv

TIRTO ADHI SURJO, PUNK, DAN ZINE

*Istilah pribumi di dalam tulisan ini hanya dipakai untuk membedakan antara warga Belanda dan bukan Belanda.

Kapan kita bisa disebut sebagai punk? Apakah cukup dengan menghafal seluruh lirik lagu dalam album Never Mind The Bollocks, Here’s The Sex Pistols? Atau dengan menyanyikan I Fought The Law-nya The Clash di belakang pendopo kampus? Atau mungkin dengan bergaya mohawk, jaket dengan ratusan pin, skinny jins, but butut, lantas bergentayangan tanpa tujuan di pinggiran jalanan kota?

Adalah Craig O’Hara, dalam Philosophy of Punk: More Than Noise (Aka Press, 1995) menjabarkan tiga pengertian atas punk.

  1. Punk merupakan fashion dan musik.
  2. Punk adalah awal untuk melahirkan keberanian dalam memberontak, memperjuangkan kebebasan, dan melakukan perubahan.
  3. Punk adalah sebuah bentuk perlawanan, hingga menciptakan musik, gaya hidup, komunitas dan kebudayaan mereka sendiri.

Oke, untuk tulisan kali ini, mari kita lupakan definisi punk yang pertama menurut O’Hara. Dengan begitu, kita juga mesti melupakan (untuk sementara waktu) Sex Pistols, The Ramones, The Clash, Black Flag, NOFX dan kawan-kawannya yang lain pula.

The Clash, unit punk-rock asal Inggris yang seringkali menulis lirik dengan metode Marxisme. Foto: istimewa

Nama lengkapnya Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Menurut Pram dalam Sang Pemula (Hasta Mitra, 1985), ia lahir di Blora pada 1880, cucu dari Raden Mas Tirtonoto, Bupati Bojonegoro. Dengan status agung tersebut, wajar bila Tirto kecil mampu mengenyam pendidikan ELS (Europeesche Lagere School), tidak seperti anak-anak pribumi kebanyakan. Dengan bekalnya itu, Tirto jadi aktif dalam membaca koran dan buku-buku berbahasa Belanda. Seiring bertambahnya usia, serta keakrabannya pada Revolusi Prancis 1789, ia mulai mempertanyakan banyak hal tentang kebebasan individual, terutama soal perbedaan hak antara warga pribumi dan warga Belanda yang ada di Hindia Belanda. Kultur Eropa yang mulai merasuki alam pikirnya itu membuat Tirto migrain pada tata-krama Jawa; sembah sujud, perbudakan, dan segala kebudayaan hantu blau lainnya. Terutama setelah ia masuk ke sekolah dokter Stovia di Batavia (di masa itu adalah hal yang luar biasa bagi seorang bangsawan untuk tidak memilih sekolah bagi calon pegawai negeri). Di sana ia menceburkan diri dalam pergaulan masyarakat kebanyakan; ini dapat dilihat dari cepatnya ia menyerap dialek Melayu lingua-franca (kelak akan diserukannya sebagai bahasa persatuan bagi penduduk terjajah di Hindia Belanda).

Seperti kata O’Hara dalam definisi punk yang kedua, pendidikan Barat dan pergaulan langsung Tirto dengan rakyat kebanyakan menjadi “awal untuk melahirkan keberanian dalam memberontak.” Sebab, bukannya sibuk belajar secara akademik, Tirto malah “belajar” di koran Chabar Hindia Olanda selama dua tahun, lantas dipecat dari Stovia dan segera bekerja di Pembrita Betawi. Menurut Pram pula, Tirto dipecat karena ketahuan memberikan resep obat kepada sahabatnya, seorang Tionghoa miskin (tindakan yang dianggap sebagai kesalahan fatal di zaman itu). Seakan tidak peduli pada karirnya dalam dunia kedokteran, Tirto melangkah serius di Pembrita Betawi; di koran inilah Tirto pertama kali menunjukkan keinginannya untuk melakukan perubahan. Dengan gagah berani ia menulis kritik terbuka terhadap Residen Madiun, seorang Belanda bernama J.J. Donner, ketika dengan sengaja memecat bupati Madiun, Brotodiningrat.

Pada 1903, ketika para tokoh (yang katanya adalah bapak kebangkitan nasional itu) masih tertidur pulas, Tirto sudah bergerak dengan menerbitkan koran Soenda Berita. Boleh dikatakan, bahwa slogan punkDo It Yourself” sedang membara di kepalanya. Ia bekerja seorang diri, menulis berita serta mengerjakan administrasi, bahkan percetakan. Namun sayang, keteguhan dan kerja keras tampaknya akan selalu berhadap-hadapan dengan yang namanya modal. Belum genap setahun, Soenda Berita dinyatakan bangkrut, dan Tirto segera enyah menuju Maluku (sampai sekarang tak ada yang tahu, kenapa dan apa yang ia lakukan di sana).

Saya tidak akan pernah menyandingkan nama Tirto dengan punk, seandainya ia tidak pernah kembali dari Maluku. Benar saja, sekembalinya dari Maluku ia malah menyiapkan rencana besar: menerbitkan surat kabar yang belum pernah ada di Hindia Belanda, yang merupakan kristalisasi dari keinginannya dalam memberontak dan menciptakan perubahan, serta mendirikan organisasi modern pertama yang menyatukan penduduk-penduduk terjajah di Hindia Belanda, Sarikat Priayi. Jika The Clash memutuskan untuk melawan kapitalisme dan Sex Pistols yang mati-matian menolak aristokrasi di Inggris dengan musik, maka Tirto menciptakan bentuk perlawanan yang sama sekali baru di Hindia Belanda saat itu: jurnalisme.

Medan Priayi akhirnya brojol pada Januari 1907. Berkaca pada pengalaman sebelumnya, kali ini Tirto menganggap bahwa kapital (modal) harus dipergunakan untuk mendukung aksinya dalam menggerakkan kesadaran bangsanya selama ia mampu memperalatnya, bukan malah memusuhi; ia mendapatkan dana melimpah dari dua orang “raja” sebesar 1000 dan 500 gulden; dari dana itu pulalah Tirto juga mendirikan Poetri Hindia, sebuah koran pertama yang diperuntukkan dan ditulis sendiri oleh wanita pribumi. Melalui Medan Priayi itulah Tirto berlaku degil dengan mengumpulkan jurnalis-jurnalis pribumi, menyediakan rubrik bantuan hukum untuk pribumi, agitasi agar pribumi berkumpul dan berkomunitas, serta menyediakan lowongan kerja bagi orang-orang miskin. Tingkah laku gilanya ini awalnya didiamkan oleh pemerintahan Hindia Belanda (meskipun mereka mulai menggerakkan mata-matanya untuk mengelilingi Tirto), namun setelah Tirto kembali menyerang seorang Belanda lainnya, kontrolir Purworejo, A. Simon, Gubernur Jendral Idenburg akhirnya tidak bisa tinggal diam. Maka, Tirto pun berakhir dalam pembuangan ke Teluk Betung, Lampung. Sampai di sini saya berani menyatakan bahwa Medan Priayi adalah zine pertama yang lahir di Indonesia.

Foto: Istimewa

Sebelum melanjutkan perihal Tirto, ada baiknya kita menelaah Medan Priyayi dan definisi zine menurut para ahli demi menguatkan argumen saya.

Menurut Joe Sanders dalam The Origins of Science Fiction Fandom (1994), istilah fan-zine disebut pertama kali di Detour, sebuah zine bergenre fiksi ilmiah, Oktober 1940. Russ Chauvenet, sang editor, dianggap bertanggungjawab dalam penggunaan istilah tersebut, yang pada akhirnya terus diadopsi hingga sekarang. Mengenai semangat dan ideologi, tampaknya Russ Chauvenet dan kawan-kawannya hanya ingin merayakan fanatisme mereka pada fiksi ilmiah belaka. Sedang dalam hal budaya populer, Crowdaddy!, sebuah zine asal California bisa dikatakan adalah yang pertama menginisiasi dunia bahwa informasi tidak boleh hanya dimonopoli oleh media mainstream; mereka bahkan menjadi rujukan informasi mengenai musik rock n roll oleh hampir semua media kala itu. Di tahun yang bersamaan, Crowdaddy! resmi ber-evolusi dari fan-zine ke prozine. Tak ada perubahan dari segi informasi dan semangat kolektif di dalamnya. Perubahan konsep terjadi hanya dikarenakan masuknya iklan berbayar dan adanya distribusi berita nasional. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa tugas utama dari sebuah zine adalah mengubah paradigma pembaca tentang banyak hal yang sebelumnya ditutupi oleh banyak sebab, di mana kesadaran tersebut dapat dimunculkan dengan informasi yang masif.

Mengenai esensi perlawanan, semangat DIY (Do it Yourself), jenis estetika baru, non-orisinalitas serta anarkisme artistik, yang saat ini seakan menjadi kiblat bagi hampir seluruh zine di dunia, malah sebenarnya muncul belakangan. Sniffin Glue, Blam!, Juniper Beri-Beri, Peroksida, dan banyak lagi, yang kesemuanya berbasis di Inggris inilah yang seakan-akan menerapkan “aturan-aturan baku” dalam bagaimana membuat sebuah zine. Tak ada masalah. Karena sebagian besar esensi yang mereka terapkan juga terlebih dahulu telah tercetak di Medan Priayi. Lagipula, dalam bentuk fisik, kalian boleh menyandingkan Medan Priayi dengan zine seperti Sniffin Glue.

Tampak deretan zine-zine yang pernah lahir ke dunia. Sinffin Glue diletakkan di tengah-tengah. Foto: istimewa

Cukuplah tamasya sejarah kita. Mari kembali ke Tirto Adhi Surjo.

Saya selalu percaya bahwa penjara ataupun pembuangan adalah universitas bagi para pejuang. Begitulah yang terjadi pada diri Tirto. Simpatik pada perjuangannya, semakin banyak para pembesar yang memberikan saham dan donasi. Mulai tahun itu pula Medan Priayi ber-evolusi dari mingguan menjadi edisi harian. Inilah tahun keemasan Medan Priayi, bukan hanya dari segi kuantitas, namun juga kualitas. Pada pidato pengangkatan Patih Bandung, Oktober 1990, Tirto menyatakan hal-hal di luar nalar masyarakat saat itu. Pram mengarsipkan pidatonya dengan baik sekali, ketika untuk pertama kalinya Tirto menyatakan kelahiran sebuah “kaum mardika”, di mana bersepatu, bergaul dengan orang Eropa di kamar bola, main tenis, memiliki bendi, menulis, bukan hanya monopoli orang Eropa saja. Dari sini saya sudah membuktikan definisi ketiga dari O’Hara mengenai punk, yaitu: Tirto telah membentuk sebuah perlawanan hingga menciptakan gaya hidup, komunitas dan kebudayaan mereka sendiri. Ya, sebuah komunitas sangat besar yang belakangan akan disebut sebagai bangsa Indonesia!

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) adalah sastrawan terbesar Indonesia yang telah menulis biografi mengenai Tirto (Sang Pemula). Selain itu, 4 novel terbesarnya (Tetralogi Buru) diangkat pula dari kisah hidup Tirto. Foto: Al-Jazeeranews

Pada akhirnya Tirto akan kalah. Ia teramat kecil dalam menghadapi Kerajaan Belanda yang saat itu masih teramat besar. Ia mati dalam sunyi, pada hari suram tanggal 7 Desember 1918. Ia dimakamkan secara sembunyi-sembunyi (atau memang tidak diketahui) di Manggadua, Jakarta. Izinkan saya mengutip kata-kata Jusuf Ishak dalam pengantar Sang Pemula untuk menutup tulisan ini:

“Dialah tokoh inisiator kebangkitan kesadaran nasional, penganjur wawasan-wawasan awal kenusantaraan dan penggunaan bahasa persatuan, demikian pun pemrakarsa emansipasi wanita, namun dia pulalah yang dilupakan dan terlupakan.”

Yeah, youre punk, Tirto!”

*Ilustrasi dengan cat air oleh Efi Sri Handayani, ilustrator dan film-maker berbahaya asal Jakarta.

 

 

Share this post

Recent post