skena kinyiis kinyis medan

SKENA KINYIS-KINYIS: INGAR-BINGAR INDIE MEDAN

Awalnya terdengar seperti sekenan a.k.a barang second yang terasa baru. Ya, begitulah kondisi skena di kota tercinta ini, barang lama yang terus didaur-ulang agar tetap terasa baru walau terkadang rasa baru itu menyisakan rasa basi. Kenapa basi? Karena menampilkan bunyi yang itu-itu saja, bahkan bangga dengan justifikasi poser. Pemandangan paling sederhana dapat dilihat dari penyelenggaraan skena di kota ini yang diisi oleh itu-itu saja; itu yang yang dimainkan, itu bandnya, itu penyelenggaranya, itu penontonnya. Seperti konsep rantai makanan, dari penonton jadi anak band, setelah usai maka umumnya akan menjadi penyelenggara acara atau kerennya anak event organizer, kebablasan.

Dalam kurun waktu lima belas tahun belakangan ini, kondisi skena Medan masih terasa kinyis-kinyis dengan tampilan wangi dan modis, ditambah alat baru yang mengilap sekalian dengan konsep musik eksperimental agar dibilang ke-kini-an. Beberapa kilometer dari skena kota itu terdapat pemusik-pemusik muda memainkan musik tradisional yang tak lagi memainkan komposisi kinyis-kinyis bin meringis, jauh dari hiruk pikuk gemerlap skena. Dengan membusungkan dada dan mengusung ide indie dalam bermusik, skena kota ini menjadi lahan yang terus digarap pasar kapitalis secara sadar walau mengaku tidak (sadar). Cita-cita popularitas yang terus ditumpuk berharap suatu ketika akan menjadi band terkenal; banyak ditanggap acara, banyak duit dan banyak penggemar walau tak berbanding lurus dengan proses kreatifitas.

Pada suatu perbincangan dengan pemusik penghuni skena di kota ini, tersua pertanyaan “di mana para pemusik muda?” Jawaban sekenanya adalah: anak muda lebih suka dengan musik kinyis-kinyis yang keringatnya wangi, sembari mengingatkan bahwa skena di beragam belahan dunia akan tetap hidup dan maju dengan mengusung musik tradisi yang tak dimiliki oleh jaringan musik kapitalis, dan mengapa pula anak muda tak mengambil celah ini? Masih berkutat pada celah sempit dengan deretan panjang daftar tunggu.

Perhatianku juga tidak lepas dari geliat skena di kota ini, dari sekian banyak melihat penampil di beragam acara skena, belum tampak ada yang berani mengusung konsep musik tradisi, kalaupun ada hanyalah campuran dengan bersembunyi di balik kata kontemporer, atau tiarap dalam konsep-konsep musik antah berantah yang sulit dimengerti, seperti ketika melihat penampil skena yang berjumlah lebih dari lima personil dengan ingar-bingar alat musik listrik dan sesekali berorasi yang sulit dimengerti.
Mungkin terlalu berlebihan ketika berharap pada penghuni skena untuk bercengkrama dengan akar musik tradisi mereka yang dihiasi natang gerning, atau marulakhosa, bahkan bombat jogo-jogo, setidaknya sampai saat ini jumlah mereka yang berproses dengan campuran musik tradisi hanya habis dihitung sejumlah jari di tangan kiri. Kalau itu menjadi gerakan yang masif, maka skena akan menarik dengan penampilan musik tradisi yang egaliter, tak lagi dijejali ingar-bingar musik plastik dan listrik.

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post