Degil Zine

Mustika Treisna Yuliandri, perempuan yang lebih dikenal sebagai Perempuan Tika ini adalah salah seorang “influencer” media sosial kota Medan bahkan nasional, menurut beberapa digital agency. Keaktifan Tika di ranah twitter membuat dia memunyai cukup penggemar di sana, meski bagi banyak lainnya, namanya terdengar masih asing. Dengan persona kopi yang cukup melekat, didukung oleh pekerjaannya sebagai humas sebuah perusahaan jual beli alat dan biji kopi, Tika juga dikenal mahir membuat kalimat yang (bagi penggemarnya) bagus dan puitis. Mungkin karena alasan itu pulalah penerbit Umbara, sebuah penerbit baru kota Medan, meminangnya untuk menulis sebuah buku puisi berjudul Ketikata.

Ekspektasi saya terhadap buku ini awalnya cukup tinggi, menilik dari kegemaran Tika membaca dan ditunjang lagi oleh pekerjaannya sebagai humas yang mengharuskannya menulis artikel. Namun saat membaca bukunya, dahi saya mengernyit. Tulisan Tika di buku tersebut tidak buruk (pilihan kata dan bagaimana dia seakan menceritakan kisah banyak orang lewat sebait dua bait puisinya), tapi bagi saya, puisi-puisinya tidak semuanya jujur, dan terkesan hanya memulung kata lalu merangkainya agar jadi indah saja. Kalau mau dibahas dari awal, beberapa halaman juga tidak bisa disebut puisi; terlalu singkat, layaknya twit yang dicetak ke dalam bentuk fisik. Tidak salah memang, toh seorang Goenawan Muhamad saja mencetak semua kultwitnya menjadi sebuah buku, dan Moammar Emka mem-fisikkan twit-twit cintanya pula. Juga tidak salah menulis puisi singkat, karena seorang Sitor Situmorang menulis Malam Lebaran hanya berisi kalimat: Bulan Di Atas Kuburan.

Bisa jadi saya yang salah karena ekspektasi, tapi mari kita bedah sedikit secara umum buku Ketikata ini. Secara garis besar buku ini dibagi ke dalam tiga bagian: Kopi, Kekasih, dan Percakapan Kecil. Tiap lembar berisi puisi tanpa judul, tidak seperti buku-buku puisi umum yang tiap puisi memiliki judul. Jujur saya bingung untuk mengintepretasikan puisinya, karena biasanya judul merupakan makna utama dari sebuah puisi. Belum lagi seperti banyak kata yang sering diulang; kopi, pulang dan semesta. Mudah-mudahan cuma mata saya yang lalai membaca, makanya menurut pengamatan saya kata itu jadi terlihat banyak dipakai dalam buku. Tapi, ya (lagi) pengulangan itu tidak salah juga, toh seorang Joko Pinurbo mengulang banyak sekali kata kopi di buku Surat Kopi.

Secara umum, puisi-puisi Tika jadi lebih seperti kumpulan kata yang cocok untuk diunggah ke twitter atau jadi caption di Instagram. Seperti: Menyesap pada indera, nikmat tak terlupa. Yang barusan bukan bagian dari puisi, tapi satu lembar halaman yang hanya berisi kalimat tersebut. Kalimat tadi sangat pas bila anda mengunggah foto secangkir kopi di Instagram lalu menulisnya sebagai caption. Atau bisa dijadikan sebagai slogan sebuah produk minuman apabila ingin beriklan. Kembali lagi, bukan pembenaran, tapi kutipan-kutipan bagus bahkan dari seorang Bakunin pun pada akhirnya berseliweran di media sosial.

Sebagai kesimpulan dari saya, Tika adalah penulis yang punya banyak kosa kata, dan tentu saja ia mahir merangkainya jadi seperti milik dari pembacanya. Beberapa puisinya, jujur membuat saya menelan ludah karena pilihan katanya yang luar biasa, dan tentu saja sejalan dengan apa yang terjadi pada saya. Tika dan penerbit Umbara berani menelurkan sebuah buku dengan strategi pemasaran yang sangat baik, karena pada akhirnya pasti ada kepentingan bisnis di dalamnya. Yang pasti, Tika membuktikan kalau ia mampu menyelesaikan sebuah karya yang saya yakin tidak bisa dibilang asal-asalan, meski tidak sedikit puisinya yang biasa saja. Ayolah, tidak semua puisi Sapardi Djoko Damono kan yang kita tahu, meski kalimat Hujan di Bulan Juni bahkan sampai difilmkan.

Akhirul kalam, apresiasi sebesar-besarnya untuk Mustika T. Yulandri sebagai penulis dan Umbara sebagai penerbit. Semoga di buku Tika selanjutnya dapat lebih menggelegar, dan tentu saja lebih jujur. Untuk semua orang yang merasa punya kemampuan lebih baik dalam menulis, silakan dimulai dengan menyelesaikan tulisan anda terlebih dahulu.

2 thoughts on “KETIKA TIKA BERKATA

Leave a Comment

Baca Juga

Mustika Treisna Yuliandri, perempuan yang lebih dikenal sebagai Perempuan Tika ini adalah salah seorang “influencer” media sosial kota Medan bahkan nasional, menurut beberapa digital agency. Keaktifan Tika di ranah twitter membuat dia memunyai cukup penggemar di sana, meski bagi banyak lainnya, namanya terdengar masih asing. Dengan persona kopi yang cukup melekat, didukung oleh pekerjaannya sebagai humas sebuah perusahaan jual beli alat dan biji kopi, Tika juga dikenal mahir membuat kalimat yang (bagi penggemarnya) bagus dan puitis. Mungkin karena alasan itu pulalah penerbit Umbara, sebuah penerbit baru kota Medan, meminangnya untuk menulis sebuah buku puisi berjudul Ketikata.

Ekspektasi saya terhadap buku ini awalnya cukup tinggi, menilik dari kegemaran Tika membaca dan ditunjang lagi oleh pekerjaannya sebagai humas yang mengharuskannya menulis artikel. Namun saat membaca bukunya, dahi saya mengernyit. Tulisan Tika di buku tersebut tidak buruk (pilihan kata dan bagaimana dia seakan menceritakan kisah banyak orang lewat sebait dua bait puisinya), tapi bagi saya, puisi-puisinya tidak semuanya jujur, dan terkesan hanya memulung kata lalu merangkainya agar jadi indah saja. Kalau mau dibahas dari awal, beberapa halaman juga tidak bisa disebut puisi; terlalu singkat, layaknya twit yang dicetak ke dalam bentuk fisik. Tidak salah memang, toh seorang Goenawan Muhamad saja mencetak semua kultwitnya menjadi sebuah buku, dan Moammar Emka mem-fisikkan twit-twit cintanya pula. Juga tidak salah menulis puisi singkat, karena seorang Sitor Situmorang menulis Malam Lebaran hanya berisi kalimat: Bulan Di Atas Kuburan.

Bisa jadi saya yang salah karena ekspektasi, tapi mari kita bedah sedikit secara umum buku Ketikata ini. Secara garis besar buku ini dibagi ke dalam tiga bagian: Kopi, Kekasih, dan Percakapan Kecil. Tiap lembar berisi puisi tanpa judul, tidak seperti buku-buku puisi umum yang tiap puisi memiliki judul. Jujur saya bingung untuk mengintepretasikan puisinya, karena biasanya judul merupakan makna utama dari sebuah puisi. Belum lagi seperti banyak kata yang sering diulang; kopi, pulang dan semesta. Mudah-mudahan cuma mata saya yang lalai membaca, makanya menurut pengamatan saya kata itu jadi terlihat banyak dipakai dalam buku. Tapi, ya (lagi) pengulangan itu tidak salah juga, toh seorang Joko Pinurbo mengulang banyak sekali kata kopi di buku Surat Kopi.

Secara umum, puisi-puisi Tika jadi lebih seperti kumpulan kata yang cocok untuk diunggah ke twitter atau jadi caption di Instagram. Seperti: Menyesap pada indera, nikmat tak terlupa. Yang barusan bukan bagian dari puisi, tapi satu lembar halaman yang hanya berisi kalimat tersebut. Kalimat tadi sangat pas bila anda mengunggah foto secangkir kopi di Instagram lalu menulisnya sebagai caption. Atau bisa dijadikan sebagai slogan sebuah produk minuman apabila ingin beriklan. Kembali lagi, bukan pembenaran, tapi kutipan-kutipan bagus bahkan dari seorang Bakunin pun pada akhirnya berseliweran di media sosial.

Sebagai kesimpulan dari saya, Tika adalah penulis yang punya banyak kosa kata, dan tentu saja ia mahir merangkainya jadi seperti milik dari pembacanya. Beberapa puisinya, jujur membuat saya menelan ludah karena pilihan katanya yang luar biasa, dan tentu saja sejalan dengan apa yang terjadi pada saya. Tika dan penerbit Umbara berani menelurkan sebuah buku dengan strategi pemasaran yang sangat baik, karena pada akhirnya pasti ada kepentingan bisnis di dalamnya. Yang pasti, Tika membuktikan kalau ia mampu menyelesaikan sebuah karya yang saya yakin tidak bisa dibilang asal-asalan, meski tidak sedikit puisinya yang biasa saja. Ayolah, tidak semua puisi Sapardi Djoko Damono kan yang kita tahu, meski kalimat Hujan di Bulan Juni bahkan sampai difilmkan.

Akhirul kalam, apresiasi sebesar-besarnya untuk Mustika T. Yulandri sebagai penulis dan Umbara sebagai penerbit. Semoga di buku Tika selanjutnya dapat lebih menggelegar, dan tentu saja lebih jujur. Untuk semua orang yang merasa punya kemampuan lebih baik dalam menulis, silakan dimulai dengan menyelesaikan tulisan anda terlebih dahulu.

2 thoughts on “KETIKA TIKA BERKATA

Leave a Comment

Baca Juga