Degil Zine

Medio 90-an merupakan salah satu era penting dalam perkembangan musik rock di dunia, khususnya grunge. Bisa dibilang grunge ini adalah salah satu wabah yang keren peninggalan dari era 90-an. Di tahun 2017 ini saja banyak orang, terutama golongan remaja yang kembali mengagung-agungkan segala yang berhubungan dengan era 90-an. Salah satunya grunge tadi. Bagi sebagian orang di generasi saat ini mungkin masih asing mendengar kata grunge, tapi dari segi musik, attitude, dan atribute-nya, Ina yakin banyak dari mereka yang bakal jatuh hati setelah coba mengenalnya. Tidak sedikit kok yang mengikuti gaya ala grunge: flannel , jins robek, celana kargo, sepatu Converse, boots, hingga potongan rambut gondrong tanggung meskipun mereka tidak sadar akan asal muasalnya. Bisa dibilang sebatas fashion saja. Di Indonesia sendiri komunitas grunge bertebaran di mana-mana. Kelompok yang paling eksis ada di Bekasi (Bekasi Street Grunge), Bali (Bali Total Grunge), serta Tangerang (Tangerang is Dead). Lalu bagaimana dengan Medan sendiri? Tentu saja ada dong! Medan punya Grunge Sumut. Jadi, selain di Medan, komunitas ini juga mengakomodir band maupun penikmat di tanah Sumatera bagian utara. Grunge Sumut sendiri merupakan pembaharuan dari berbagai komunitas grunge yang berpencar di seluruh pelosok kota Medan. Okelah, kita bahas sedikit mengenai asal usul makhluk ini!

Tahun 2008 merupakan titik balik dari pergerakan komunitas grunge yang ada di Medan. Pergerakan grunge di wilayah Sumut berawal dari tahun 2008, nongol untuk pertama kalinya dalam gigs Tribute to Grunge yang diadakan di Pendopo USU. Gigs ini digagas oleh Ilham Situmorang dan Agif dari Seatle Smile, dengan partisipan seperti Usup (D'Layer), belahan hati Ina, Aga (Depresi Demon), dan kawan-kawan grunge lainnya. Beranjak dari situ muncullah ide untuk membuat intens dengan konsep gigs Grunge Night. Maka meletuslah di tahun 2010, dan Pitu Room adalah ruang yang paling-paling-paling berjasa atas kelahiran mereka, boleh dibilang sebagai bidan beranaknya.

Unit-unit Grunge Night di era-era awal, Dispencer (atas), Depresi Demon (kiri-bawah) dan Au Revoir (kanan-bawah).

Belakangan muncul ide untuk menamakan perkumpulan dalam gigs Grunge Night tadi dengan nama Medan People Grunge (nama ini diusulkan oleh Ivan (Stupid Zero) dan belahan hati Ina tadi juga). Nama-nama seperti Au Revoir, Kecoak Salto, Defender, Warface, Moment, Stupid Zero, Gerhana (vokalisnya bukan Pierre Roland, lho!-ed), hingga Depresi Demon merupakan nama-nama awal yang selalu mendukung pergerakan grunge di Medan. Dengan turut masuknya berbagai band dari luar Medan seperti Tebing Tinggi, Binjai, Perbaungan, Batubara, juga Lubuk Pakam, mau tidak mau memaksa mereka harus melakukan perubahan dalam hal nama karena persoalan geografis tadi. Nah, karena domisili anggotanya gak hanya dari Medan, gak enak dong kalau namanya tetap memakai Medan People Grunge. Jadi, atas kesepakatan bersama manusia-manusia aneh tadi, Medan People Grunge fix diubah menjadi Gunge Sumut pada pertengahan 2016. Oya, sebelum mengubah nama menjadi Grunge Sumut, Medan People Grunge sempat menelurkan album kompilasi dengan judul Grunge Invasion.

Keintiman Grunge Night, mulai dari moshing, stage diving, headbang, sampai sliding kepala rekan sendiri, ketika masih diselenggarakan di Pitu Room. Foto: Koleksi Aga Depresi.

Memasuki akhir tahun 2016, muncul ide oleh Agif (Seattle Smile) untuk melakukan expansi ruang berkomunitas. Ke mana? Udah pada tahulah ya. Mereka (sebagian yang masih betah meng-grunge-ed) akhirnya setuju untuk bergandengan tangan dengan Rock Coffie. 100% Grunge adalah wujud dari pembaharuan ini. Merasa tahun 2017 adalah tahun yang baik, maka album kompilasi Grunge Invasion Vol.II pun ahirnya diluncurkan dengan segenap tenaga. Launching dan roadshow yang digarap secara mandiri itu dilakukan dengan intens di beberapa titik, seperti: pulang kandang ke Pitu Room, balik kandang ke Rock Coffie, lantas terbang ke Grunge Burger (Binjai), dan disudahi (untuk sementara) di Cafe Kita (Lubuk Pakam).

Sudah? Sudahlah ya. Pokoknya, buat kalian yang ingin kenal lebih dekat dengan band grunge Sumatera Utara, mendatangi gigs dengan tema grunge atau informasi seputar grunge lokal, bisa digali lebih lanjut di @grungesumut

Sampai ketemu di tulisan selanjutnya. Bye-bye...

2 thoughts on “KENALIN, INI GRUNGE SUMUT

Leave a Comment

Baca Juga

Medio 90-an merupakan salah satu era penting dalam perkembangan musik rock di dunia, khususnya grunge. Bisa dibilang grunge ini adalah salah satu wabah yang keren peninggalan dari era 90-an. Di tahun 2017 ini saja banyak orang, terutama golongan remaja yang kembali mengagung-agungkan segala yang berhubungan dengan era 90-an. Salah satunya grunge tadi. Bagi sebagian orang di generasi saat ini mungkin masih asing mendengar kata grunge, tapi dari segi musik, attitude, dan atribute-nya, Ina yakin banyak dari mereka yang bakal jatuh hati setelah coba mengenalnya. Tidak sedikit kok yang mengikuti gaya ala grunge: flannel , jins robek, celana kargo, sepatu Converse, boots, hingga potongan rambut gondrong tanggung meskipun mereka tidak sadar akan asal muasalnya. Bisa dibilang sebatas fashion saja. Di Indonesia sendiri komunitas grunge bertebaran di mana-mana. Kelompok yang paling eksis ada di Bekasi (Bekasi Street Grunge), Bali (Bali Total Grunge), serta Tangerang (Tangerang is Dead). Lalu bagaimana dengan Medan sendiri? Tentu saja ada dong! Medan punya Grunge Sumut. Jadi, selain di Medan, komunitas ini juga mengakomodir band maupun penikmat di tanah Sumatera bagian utara. Grunge Sumut sendiri merupakan pembaharuan dari berbagai komunitas grunge yang berpencar di seluruh pelosok kota Medan. Okelah, kita bahas sedikit mengenai asal usul makhluk ini!

Tahun 2008 merupakan titik balik dari pergerakan komunitas grunge yang ada di Medan. Pergerakan grunge di wilayah Sumut berawal dari tahun 2008, nongol untuk pertama kalinya dalam gigs Tribute to Grunge yang diadakan di Pendopo USU. Gigs ini digagas oleh Ilham Situmorang dan Agif dari Seatle Smile, dengan partisipan seperti Usup (D'Layer), belahan hati Ina, Aga (Depresi Demon), dan kawan-kawan grunge lainnya. Beranjak dari situ muncullah ide untuk membuat intens dengan konsep gigs Grunge Night. Maka meletuslah di tahun 2010, dan Pitu Room adalah ruang yang paling-paling-paling berjasa atas kelahiran mereka, boleh dibilang sebagai bidan beranaknya.

Unit-unit Grunge Night di era-era awal, Dispencer (atas), Depresi Demon (kiri-bawah) dan Au Revoir (kanan-bawah).

Belakangan muncul ide untuk menamakan perkumpulan dalam gigs Grunge Night tadi dengan nama Medan People Grunge (nama ini diusulkan oleh Ivan (Stupid Zero) dan belahan hati Ina tadi juga). Nama-nama seperti Au Revoir, Kecoak Salto, Defender, Warface, Moment, Stupid Zero, Gerhana (vokalisnya bukan Pierre Roland, lho!-ed), hingga Depresi Demon merupakan nama-nama awal yang selalu mendukung pergerakan grunge di Medan. Dengan turut masuknya berbagai band dari luar Medan seperti Tebing Tinggi, Binjai, Perbaungan, Batubara, juga Lubuk Pakam, mau tidak mau memaksa mereka harus melakukan perubahan dalam hal nama karena persoalan geografis tadi. Nah, karena domisili anggotanya gak hanya dari Medan, gak enak dong kalau namanya tetap memakai Medan People Grunge. Jadi, atas kesepakatan bersama manusia-manusia aneh tadi, Medan People Grunge fix diubah menjadi Gunge Sumut pada pertengahan 2016. Oya, sebelum mengubah nama menjadi Grunge Sumut, Medan People Grunge sempat menelurkan album kompilasi dengan judul Grunge Invasion.

Keintiman Grunge Night, mulai dari moshing, stage diving, headbang, sampai sliding kepala rekan sendiri, ketika masih diselenggarakan di Pitu Room. Foto: Koleksi Aga Depresi.

Memasuki akhir tahun 2016, muncul ide oleh Agif (Seattle Smile) untuk melakukan expansi ruang berkomunitas. Ke mana? Udah pada tahulah ya. Mereka (sebagian yang masih betah meng-grunge-ed) akhirnya setuju untuk bergandengan tangan dengan Rock Coffie. 100% Grunge adalah wujud dari pembaharuan ini. Merasa tahun 2017 adalah tahun yang baik, maka album kompilasi Grunge Invasion Vol.II pun ahirnya diluncurkan dengan segenap tenaga. Launching dan roadshow yang digarap secara mandiri itu dilakukan dengan intens di beberapa titik, seperti: pulang kandang ke Pitu Room, balik kandang ke Rock Coffie, lantas terbang ke Grunge Burger (Binjai), dan disudahi (untuk sementara) di Cafe Kita (Lubuk Pakam).

Sudah? Sudahlah ya. Pokoknya, buat kalian yang ingin kenal lebih dekat dengan band grunge Sumatera Utara, mendatangi gigs dengan tema grunge atau informasi seputar grunge lokal, bisa digali lebih lanjut di @grungesumut

Sampai ketemu di tulisan selanjutnya. Bye-bye...

2 thoughts on “KENALIN, INI GRUNGE SUMUT

Leave a Comment

Baca Juga