Degil Zine

  • Tanggal rilis: 2 Agustus 2017 (Korea Selatan)
  • Sutradara: Jang Hoon
  • Pemeran:  Kang-ho Song, Thomas Kretschmann, Hae-jin Yoo.
  • Penghargaan: Penghargaan Film Blue Dragon untuk Aktor Terbaik.
  • Nominasi: Penghargaan Film Blue Dragon untuk Aktor Pendatang Baru Terbaik.

 

Apa yang ada di kepala kalian saat saya bertanya soal Korea Selatan? Boyband? Girls Generation? K-pop? Oppa-oppa gantengs ngits? Kalau Korea Utara? Oke next.

Apa yang ada di kepala kalian saat saya bertanya soal FILM Korea Selatan? Cewek-cewek kinyis-kinyis? Drama cinta super duper klise ala Raffi Ahmad dan Nagita Slavina? Oppa-oppa gantengs ngits (lagi)?Ya, apa yang ada di kepala kalian tidaklah salah, namun tidak sepenuhnya tepat. Oke, mari saya jungkirbalikkan mindset kalian selama ini.

Sesungguhnya sangat banyak film dari Korea Selatan yang tidak hanya menampangkan oppa-oppa ganteng atau drama percintaan ala negeri di surga, atau neraka. Pun sangat banyak sineas Korea Selatan yang masih sangat peduli akan kualitas plot dan tema, baik dalam genre thriller, horor, drama, war, dark comedy, sampai pula ke action. Film yang akan saya ulas adalah salah satunya (dan saya jamin tidak akan ada oppa-oppa ganteng ngits di sini).

A Taxi Driver atau Taeksi Unjeonsa adalah film drama Korea Selatan yang disutradarai oleh Jang Hoon, yang sebelumnya sukses menyutradarai The Front Line. Sama seperti film sebelumnya, A Taxi Driver juga diangkat dari kisah nyata yang terjadi di kota Gwangju, 37 tahun yang lalu. Peristiwa ini sering juga disebut "Gwangju Uprising" atau "Gerakan Demokrasi Gwangju".  Script di dalam film ini diangkat dari catatan harian yang ditulis oleh Jurgen Hinzpeter, reporter televisi ADZ Jerman, satu-satunya wartawan yang berhasil meliput langsung tragedi berdarah tersebut. Selama belasan tahun tragedi itu ditutupi oleh pemerintah Korea Selatan, ketika pun akhirnya terbuka, mereka malah keukeuh dengan argumen di zaman itu, bahwa warga Gwangju dipengaruhi oleh komunis dari Korea Utara, sedang militer yang melakukan kekerasan bertindak atas dasar sikap patriotik dalam membela tanah air. Yah, ngga jauh beda dengan apa yang sering terjadi di negeri tercinta kita ini.

Kembali ke film. Saya melihat bahwa Jang Hoon sepertinya senang berkreasi dengan penulisan sejarah; ia keranjingan menampilkan tokoh-tokoh yang selama ini dianggap "tidak penting", lalu mengobrak-abrik mindset masyarakat melalui filmnya, bahwasanya masih banyak tokoh-tokoh "kecil" yang sebenarnya sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah. Jika di The Front Line, Jang Hoon mengangkat kisah para prajurit Korea Utara dan Korea Selatan yang saling bertukar "cinderamata" dalam sebuah bunker, kali ini ia hendak mengangkat kisah para supir taksi. What? Gerombolan supir taksi akan berperan dalam jalannya sejarah? Kenapa tidak? C'mon, lupakan dulu rombongan jenderal-jenderal itu. Oke next.

Rombongan supir taksi Gwangju, yang akan berperan banyak di dalam film ini. Foto: Istimewa

Salah seorang supir taksi itu bernama Man Seob, karakteristik orang menyebalkan yang banyak bertebaran di negeri ini, sok tahu, juga usil yang membuat kita berpikir dua kali untuk bertetangga dengannya. Dalam adegan awal ditunjukkan bagaimana Man Seob mengganggu anak-anak para tetangga yang sedang bermain bola; ia merebut bola dari kaki anak-anak itu lantas menendangnya jauh-jauh. Sebelumnya ia bekerja di Arab Saudi, lantas pulang ke Seoul setelah istrinya masuk rumah sakit. Ketika sedang ngopi (biar keren) bersama rekan-rekan seprofesinya, ia mendengar kabar bahwa seorang turis asal Jerman hendak bepergian ke Gwangju dan akan membayar 100.000 won bagi siapa saja yang bersedia untuk mengantarnya. Tunggakan uang kontrakan rumah membuat Man Seob tidak berpikir banyak dan langsung tancap gas menemui si bule Jerman. Dan dari sinilah kisahnya akan dimulai.

Pada tahun 1980, pemerintahan Korea Selatan sedang mengalami krisis. Setahun sebelumnya, Presiden Park Chung Hee terbunuh. Jenderal Chun Do Hwan mengambil alih kekuasaan dengan jalan kudeta. Ini membuat mahasiswa menjadi berang, ditambah lagi dengan penangkapan semena-mena yang dialami oleh para tokoh oposisi. Para mahasiswa yang marah memutuskan untuk berkumpul di kota Gwangju. Warga Gwang Ju, tua muda sampai anak-anak kecil, menyambut para mahasiswa  dan memutuskan untuk mendukung aksi mereka. Hal ini membuat pemerintah diktator Korea Selatan menjadi emosi, hingga memerintahkan militer untuk mengisolir kota Gwangju. Berita inilah yang membawa Peter, seorang reporter asal Jerman, ngotot untuk meliput apa saja yang sedang terjadi di Gwangju, dan tentu saja akan membawanya bertemu dengan Man Seob, si supir taksi menyebalkan idola saya itu. Nantinya mereka berdua akan dikejar-kejar intel militer Korea Selatan yang ditugaskan oleh seorang jenderal agar video rekaman tragedi Gwangju itu tidak tersebar di dunia internasional.

Sebenarnya tema dalam film ini sudah sering diangkat ke layar lebar, hingga menjadi populerlah istilah whitewashing, di mana orang-orang kulit putih (Kaukasia, terutama Amerika) akan berperan sebagai pahlawan yang tulus bagi bangsa-bangsa Asia, Afrika ataupun Latin yang sedang berada dalam konflik internalnya sendiri. Saya mencatat beberapa judul film dengan tema whitewashing, antara lain: Salvador (1986), Under Fire (1983), Killing Fields (1984), Welcome to Sarajevo (1991) atau Shooting Dogs (2005). Yang paling mirip dengan A Taxi Driver tentunya adalah The Years of Living Dangerously (1982), di mana seorang wartawan Australia yang diperankan oleh Mel Gibson, datang ke Jakarta untuk meliput segala berita sebelum dan sesudah tragedi G30S. Yang menemani Mel Gibson adalah (juga) seorang supir, meskipun bukan supir taksi.

Jika Richard Boyle dalam Salvador dapat digambarkan sebagai karakteristik whitewhasing yang sempurna, begitu pula dengan Peter. Peran Man Seob juga sedikit mirip dengan Dith Pran, pria Kamboja dalam film The Killing Fields, bedanya mungkin hanya soal kebengalan. Yang membuat saya lebih mengakui kelebihan A Taxi Driver dibandingkan film sejenis adalah kejujuran para karakter yang menujukkan bahwa uang adalah motif awal mereka; moralitas yang tumbuh kemudian hanya bersifat insidental. Pendeknya, A Taxi Driver lebih jujur dan manusiawi. Melalui film ini kita juga bisa belajar bahwasanya media massa tidak selalu netral, imparsial, bahkan cenderung menipu bila sudah berkaitan dengan kepentingan para penguasa, apalagi kalau sudah berbicara soal nasionalisme. Jang Hoon menyelipkan adegan percakapan di sebuah warung di Seoul, di mana tampak dua orang lelaki yang sedang menyimak berita di dalam koran nasional, dan percaya bahwa kaum komunis telah menguasai Gwangju, bahwa mahasiswa komunis juga membawa serta para gangster dari Seoul untuk memberontak terhadap pemerintah. Mereka juga percaya bahwa warga Gwangju-lah yang telah membunuh para tentara, bukan sebaliknya (teringat sesuatu?). Dan di sinilah peran vital yang akan dimainkan oleh Peter dan Man Seob: menjungkirbalikkan persepsi masyarakat Korea Selatan dengan bukti-bukti yang valid (video).

Man Seob si bengal, yang diperankan secara sempurna oleh Song Kang-Ho. Foto: Istimewa

Mengenai sinematografi, saya hampir tidak dapat menemui kecacatan di dalam film ini. Segalanya tampak natural. Lihatlah pada adegan ketika para warga yang sedang berdemonstrasi akhirnya diserang oleh militer secara membabi-buta. Begitu naturalnya akting para figuran hingga saya jamin akan ikut membuat kalian merasakan kengerian yang dialami oleh warga Gwangju pada saat itu. Yang lebih menakjubkan adalah bagaimana Jang Hoon menghadirkan pengambilan gambar yang persis sama dengan video aslinya (saya melihat video pembantaian yang asli di Youtube).

Saya mengakui bahwa Jang Hoon sangat memperhatikan hal-hal detail seperti itu. Akting dari Man Seob sendiri mampu memutar-mutar emosi saya, kadang kesal kadang simpatik, kadang kagum kadang jijik, (kalau tidak seperti itu, saya rasa film ini akan menjadi biasa saja). Mengenai dialog para aktor, bahkan figuran, dengan terpaksa harus saya katakan: jauh-jauh-jauh lebih natural ketimbang film-film Hollywood (mungkin karena kultur yang hampir mirip, sampai joke-joke di film ini sangat mirip dengan joke yang beredar di Indonesia). Mengenai aktor, demi Tuhan, bersyukurlah kita karena Jang Hoon memilih aktor berpengalaman seperti Soong Kang Ho. Jam terbang Soong memang tak boleh diragukan (saya sudah menyukainya sejak film The Attorney dan Memories of Murder). Satu lagi yang memikat saya adalah bertaburnya quote di sepanjang film ini, terutama ketika para mahasiwa meneriakkan: Lebih baik mati berdiri ketimbang hidup berlutut! Hati saya langsung bergetar sangat hebat ....

Pada akhirnya film ini berhasil memecahkan rekor film terlaris sepanjang masa di Korea Selatan, di mana seminggu semenjak pemutaran, A Taxi Driver berhasil menjaring 7 juta penonton! Yang paling menghebohkan adalah ketika Presiden Korea Selatan, Moon Jae In, memutuskan untuk nobar film ini bersama para pejabat pemerintahan, serta para aktor dan istri dari almarhum "Peter". Ia bahkan memberikan pidato bernada optimistis terhadap warga Gwangju setelah berakhirnya pemutaran film. Seperti yang dirilis melalui Daily Star, 17 Agustus 2017, Presiden Moon berkata; "The truth about the uprising has not been fully revealed. This is the task we have to resolve. I believe this movie will help resolve it." Dikabarkan juga bahwa ia menangis tersedu-sedu di tengah-tengah film (saya yakin kalian juga akan mengalami hal yang serupa).

Monumen peringatan May 18th Gwangju yang berdiri di dekat gerbang Universitas Chonnam. Foto: Istimewa

Bagaimanapun, tragedi yang telah berlalu (apa pun itu) mesti diungkap, betapapun memalukannya tragedi itu bagi pemerintah maupun negara yang bersangkutan. Menyembunyikan kebenaran sama saja seperti mencuri hak orang lain, karena semua manusia berhak untuk mengetahui kebenaran. Dan salah satu media yang bisa dan pasti berhasil untuk mengungkapnya adalah film. Saya bangga melihat sineas semacam Jang Hoon, dan sampai sekarang masih berharap akan muncul satu (saja) sepertinya di Indonesia. Saya juga iri pada Korea Selatan yang memiliki presiden sehebat Moon Jae In; hebat karena berani mengakui kesalahan para pendahulunya (saya juga berharap kalau kelak kita punya presiden seberani dia).

Sebagai penutup saya ingin mengajukan tanya kepada para hantu dan iblis yang saat ini ada di sekitar saya: Korea Selatan telah berhasil merekonsiliasi tragedi yang melibatkan militer dengan rakyatnya sendiri itu. Kita.... Kapan?

Rating: 8,5

 

Leave a Comment

Baca Juga

  • Tanggal rilis: 2 Agustus 2017 (Korea Selatan)
  • Sutradara: Jang Hoon
  • Pemeran:  Kang-ho Song, Thomas Kretschmann, Hae-jin Yoo.
  • Penghargaan: Penghargaan Film Blue Dragon untuk Aktor Terbaik.
  • Nominasi: Penghargaan Film Blue Dragon untuk Aktor Pendatang Baru Terbaik.

 

Apa yang ada di kepala kalian saat saya bertanya soal Korea Selatan? Boyband? Girls Generation? K-pop? Oppa-oppa gantengs ngits? Kalau Korea Utara? Oke next.

Apa yang ada di kepala kalian saat saya bertanya soal FILM Korea Selatan? Cewek-cewek kinyis-kinyis? Drama cinta super duper klise ala Raffi Ahmad dan Nagita Slavina? Oppa-oppa gantengs ngits (lagi)?Ya, apa yang ada di kepala kalian tidaklah salah, namun tidak sepenuhnya tepat. Oke, mari saya jungkirbalikkan mindset kalian selama ini.

Sesungguhnya sangat banyak film dari Korea Selatan yang tidak hanya menampangkan oppa-oppa ganteng atau drama percintaan ala negeri di surga, atau neraka. Pun sangat banyak sineas Korea Selatan yang masih sangat peduli akan kualitas plot dan tema, baik dalam genre thriller, horor, drama, war, dark comedy, sampai pula ke action. Film yang akan saya ulas adalah salah satunya (dan saya jamin tidak akan ada oppa-oppa ganteng ngits di sini).

A Taxi Driver atau Taeksi Unjeonsa adalah film drama Korea Selatan yang disutradarai oleh Jang Hoon, yang sebelumnya sukses menyutradarai The Front Line. Sama seperti film sebelumnya, A Taxi Driver juga diangkat dari kisah nyata yang terjadi di kota Gwangju, 37 tahun yang lalu. Peristiwa ini sering juga disebut "Gwangju Uprising" atau "Gerakan Demokrasi Gwangju".  Script di dalam film ini diangkat dari catatan harian yang ditulis oleh Jurgen Hinzpeter, reporter televisi ADZ Jerman, satu-satunya wartawan yang berhasil meliput langsung tragedi berdarah tersebut. Selama belasan tahun tragedi itu ditutupi oleh pemerintah Korea Selatan, ketika pun akhirnya terbuka, mereka malah keukeuh dengan argumen di zaman itu, bahwa warga Gwangju dipengaruhi oleh komunis dari Korea Utara, sedang militer yang melakukan kekerasan bertindak atas dasar sikap patriotik dalam membela tanah air. Yah, ngga jauh beda dengan apa yang sering terjadi di negeri tercinta kita ini.

Kembali ke film. Saya melihat bahwa Jang Hoon sepertinya senang berkreasi dengan penulisan sejarah; ia keranjingan menampilkan tokoh-tokoh yang selama ini dianggap "tidak penting", lalu mengobrak-abrik mindset masyarakat melalui filmnya, bahwasanya masih banyak tokoh-tokoh "kecil" yang sebenarnya sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah. Jika di The Front Line, Jang Hoon mengangkat kisah para prajurit Korea Utara dan Korea Selatan yang saling bertukar "cinderamata" dalam sebuah bunker, kali ini ia hendak mengangkat kisah para supir taksi. What? Gerombolan supir taksi akan berperan dalam jalannya sejarah? Kenapa tidak? C'mon, lupakan dulu rombongan jenderal-jenderal itu. Oke next.

Rombongan supir taksi Gwangju, yang akan berperan banyak di dalam film ini. Foto: Istimewa

Salah seorang supir taksi itu bernama Man Seob, karakteristik orang menyebalkan yang banyak bertebaran di negeri ini, sok tahu, juga usil yang membuat kita berpikir dua kali untuk bertetangga dengannya. Dalam adegan awal ditunjukkan bagaimana Man Seob mengganggu anak-anak para tetangga yang sedang bermain bola; ia merebut bola dari kaki anak-anak itu lantas menendangnya jauh-jauh. Sebelumnya ia bekerja di Arab Saudi, lantas pulang ke Seoul setelah istrinya masuk rumah sakit. Ketika sedang ngopi (biar keren) bersama rekan-rekan seprofesinya, ia mendengar kabar bahwa seorang turis asal Jerman hendak bepergian ke Gwangju dan akan membayar 100.000 won bagi siapa saja yang bersedia untuk mengantarnya. Tunggakan uang kontrakan rumah membuat Man Seob tidak berpikir banyak dan langsung tancap gas menemui si bule Jerman. Dan dari sinilah kisahnya akan dimulai.

Pada tahun 1980, pemerintahan Korea Selatan sedang mengalami krisis. Setahun sebelumnya, Presiden Park Chung Hee terbunuh. Jenderal Chun Do Hwan mengambil alih kekuasaan dengan jalan kudeta. Ini membuat mahasiswa menjadi berang, ditambah lagi dengan penangkapan semena-mena yang dialami oleh para tokoh oposisi. Para mahasiswa yang marah memutuskan untuk berkumpul di kota Gwangju. Warga Gwang Ju, tua muda sampai anak-anak kecil, menyambut para mahasiswa  dan memutuskan untuk mendukung aksi mereka. Hal ini membuat pemerintah diktator Korea Selatan menjadi emosi, hingga memerintahkan militer untuk mengisolir kota Gwangju. Berita inilah yang membawa Peter, seorang reporter asal Jerman, ngotot untuk meliput apa saja yang sedang terjadi di Gwangju, dan tentu saja akan membawanya bertemu dengan Man Seob, si supir taksi menyebalkan idola saya itu. Nantinya mereka berdua akan dikejar-kejar intel militer Korea Selatan yang ditugaskan oleh seorang jenderal agar video rekaman tragedi Gwangju itu tidak tersebar di dunia internasional.

Sebenarnya tema dalam film ini sudah sering diangkat ke layar lebar, hingga menjadi populerlah istilah whitewashing, di mana orang-orang kulit putih (Kaukasia, terutama Amerika) akan berperan sebagai pahlawan yang tulus bagi bangsa-bangsa Asia, Afrika ataupun Latin yang sedang berada dalam konflik internalnya sendiri. Saya mencatat beberapa judul film dengan tema whitewashing, antara lain: Salvador (1986), Under Fire (1983), Killing Fields (1984), Welcome to Sarajevo (1991) atau Shooting Dogs (2005). Yang paling mirip dengan A Taxi Driver tentunya adalah The Years of Living Dangerously (1982), di mana seorang wartawan Australia yang diperankan oleh Mel Gibson, datang ke Jakarta untuk meliput segala berita sebelum dan sesudah tragedi G30S. Yang menemani Mel Gibson adalah (juga) seorang supir, meskipun bukan supir taksi.

Jika Richard Boyle dalam Salvador dapat digambarkan sebagai karakteristik whitewhasing yang sempurna, begitu pula dengan Peter. Peran Man Seob juga sedikit mirip dengan Dith Pran, pria Kamboja dalam film The Killing Fields, bedanya mungkin hanya soal kebengalan. Yang membuat saya lebih mengakui kelebihan A Taxi Driver dibandingkan film sejenis adalah kejujuran para karakter yang menujukkan bahwa uang adalah motif awal mereka; moralitas yang tumbuh kemudian hanya bersifat insidental. Pendeknya, A Taxi Driver lebih jujur dan manusiawi. Melalui film ini kita juga bisa belajar bahwasanya media massa tidak selalu netral, imparsial, bahkan cenderung menipu bila sudah berkaitan dengan kepentingan para penguasa, apalagi kalau sudah berbicara soal nasionalisme. Jang Hoon menyelipkan adegan percakapan di sebuah warung di Seoul, di mana tampak dua orang lelaki yang sedang menyimak berita di dalam koran nasional, dan percaya bahwa kaum komunis telah menguasai Gwangju, bahwa mahasiswa komunis juga membawa serta para gangster dari Seoul untuk memberontak terhadap pemerintah. Mereka juga percaya bahwa warga Gwangju-lah yang telah membunuh para tentara, bukan sebaliknya (teringat sesuatu?). Dan di sinilah peran vital yang akan dimainkan oleh Peter dan Man Seob: menjungkirbalikkan persepsi masyarakat Korea Selatan dengan bukti-bukti yang valid (video).

Man Seob si bengal, yang diperankan secara sempurna oleh Song Kang-Ho. Foto: Istimewa

Mengenai sinematografi, saya hampir tidak dapat menemui kecacatan di dalam film ini. Segalanya tampak natural. Lihatlah pada adegan ketika para warga yang sedang berdemonstrasi akhirnya diserang oleh militer secara membabi-buta. Begitu naturalnya akting para figuran hingga saya jamin akan ikut membuat kalian merasakan kengerian yang dialami oleh warga Gwangju pada saat itu. Yang lebih menakjubkan adalah bagaimana Jang Hoon menghadirkan pengambilan gambar yang persis sama dengan video aslinya (saya melihat video pembantaian yang asli di Youtube).

Saya mengakui bahwa Jang Hoon sangat memperhatikan hal-hal detail seperti itu. Akting dari Man Seob sendiri mampu memutar-mutar emosi saya, kadang kesal kadang simpatik, kadang kagum kadang jijik, (kalau tidak seperti itu, saya rasa film ini akan menjadi biasa saja). Mengenai dialog para aktor, bahkan figuran, dengan terpaksa harus saya katakan: jauh-jauh-jauh lebih natural ketimbang film-film Hollywood (mungkin karena kultur yang hampir mirip, sampai joke-joke di film ini sangat mirip dengan joke yang beredar di Indonesia). Mengenai aktor, demi Tuhan, bersyukurlah kita karena Jang Hoon memilih aktor berpengalaman seperti Soong Kang Ho. Jam terbang Soong memang tak boleh diragukan (saya sudah menyukainya sejak film The Attorney dan Memories of Murder). Satu lagi yang memikat saya adalah bertaburnya quote di sepanjang film ini, terutama ketika para mahasiwa meneriakkan: Lebih baik mati berdiri ketimbang hidup berlutut! Hati saya langsung bergetar sangat hebat ....

Pada akhirnya film ini berhasil memecahkan rekor film terlaris sepanjang masa di Korea Selatan, di mana seminggu semenjak pemutaran, A Taxi Driver berhasil menjaring 7 juta penonton! Yang paling menghebohkan adalah ketika Presiden Korea Selatan, Moon Jae In, memutuskan untuk nobar film ini bersama para pejabat pemerintahan, serta para aktor dan istri dari almarhum "Peter". Ia bahkan memberikan pidato bernada optimistis terhadap warga Gwangju setelah berakhirnya pemutaran film. Seperti yang dirilis melalui Daily Star, 17 Agustus 2017, Presiden Moon berkata; "The truth about the uprising has not been fully revealed. This is the task we have to resolve. I believe this movie will help resolve it." Dikabarkan juga bahwa ia menangis tersedu-sedu di tengah-tengah film (saya yakin kalian juga akan mengalami hal yang serupa).

Monumen peringatan May 18th Gwangju yang berdiri di dekat gerbang Universitas Chonnam. Foto: Istimewa

Bagaimanapun, tragedi yang telah berlalu (apa pun itu) mesti diungkap, betapapun memalukannya tragedi itu bagi pemerintah maupun negara yang bersangkutan. Menyembunyikan kebenaran sama saja seperti mencuri hak orang lain, karena semua manusia berhak untuk mengetahui kebenaran. Dan salah satu media yang bisa dan pasti berhasil untuk mengungkapnya adalah film. Saya bangga melihat sineas semacam Jang Hoon, dan sampai sekarang masih berharap akan muncul satu (saja) sepertinya di Indonesia. Saya juga iri pada Korea Selatan yang memiliki presiden sehebat Moon Jae In; hebat karena berani mengakui kesalahan para pendahulunya (saya juga berharap kalau kelak kita punya presiden seberani dia).

Sebagai penutup saya ingin mengajukan tanya kepada para hantu dan iblis yang saat ini ada di sekitar saya: Korea Selatan telah berhasil merekonsiliasi tragedi yang melibatkan militer dengan rakyatnya sendiri itu. Kita.... Kapan?

Rating: 8,5

 

Leave a Comment

Baca Juga