musisi anti kritik

MUSISI ANTI KRITIK? KE LAUT AJA, YOK?

Kita mestinya setuju bahwa memahami suatu objek mestilah mengikuti interpretasi yang telah tertulis, yang berarti telah disepakati bersama oleh para ahli. Banyaknya perdebatan yang tidak perlu (terutama laga congor di dunia maya) saat ini adalah efek dari ketidakpahaman dalam mendefinisikan suatu objek (saya tidak sampai hati menyebut itu sebagai suatu ketololan). Contoh, Riovaldo Todoan ngotot menyatakan bahwa ban motor yang dilihatnya bocor (ia melihat ban belakang) sedang Adrian Sinaga mengatakan tidak (ia melihat ban depan). Maka mereka berkelahi hingga salah satu dari mereka mati. Yang salah siapa? Tidak ada. Seharusnya dijelaskan dulu, ban apa yang bocor: depan atau belakang?

Nah, sebab itu, alangkah baiknya bila kita membedah suatu objek secara radikal (dalam) sebelum terjadi perkelahian konyol akibat gagal paham seperti di atas. Di sini kita akan membedah suatu objek (pokok pembicaraan) bernama “kritik”.

Apa itu kritik?

Kritik. Jika kita buka KBBI, maka kita akan menemukan: Kritik adalah kecaman atau tanggapan, atau kupasan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu karya. Jadi kita setuju dong, kalau kritik berbeda makna dengan hina (penghinaan/menghina). Lanjut. So, berdasarkan pengertian tersebut, kritik musik dapat diartikan sebagai penilaian terhadap kemampuan seseorang atau kelompok dalam memproduksi KARYA. Pun begitu, kritik musik bukan saja bertindak sebagai penilaian bagus dan tidak bagus terhadap karya belaka, kritik musik dapat dikategorikan ke dalam berbagai fungsi, salah satunya adalah sebagai penilaian atas seni dan bertujuan untuk memotivasi si pencipta sekaligus menjadi jembatan agar karya tersebut dapat dipahami oleh masyarakat luas. Sekali lagi, sudah bisa dibedakan antara kritik dengan menghina? Lanjut.

Mari kita sedikit pahami metode kritik seni dari Edmund Burke Feldman agar tidak tersasar ke mana-mana. Feldman membagi kritik seni dalam empat bidang, yaitu:

  • Kritik jurnalistik
  • Pedagogis
  • Ilmiah
  • Populer

Di antara keempat jenis kritik tersebut, kritik pedadogis digunakan dalam pembelajaran bagi siswa. Objek kritiknya adalah karya musik para siswa. Tujuan dari kritik pedadogis adalah memotivasi bakat dan potensi siswa agar lebih matang saat meninggalkan bangku sekolahan. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, kritik pedadogis bertujuan membuat siswa yang dikritik mengetahui kekurangannya dan memahami penyebab kekurangan itu. So, kesimpulannya, tidak ada satu pun musisi di atas dunia ini yang haram untuk dikritik, karena seyogyanya, semua musisi masih dalam tahap belajar, dan ke-sempurna-an hanyalah milik produk rokok.

Theodor Adorno (seorang musikolog neo-Marxisme), seperti yang ia tulis dalam The Culture Industry (1991) melihat bahwa media (mainstream) bertugas untuk mendikte isi dan konten (karya) kepada para pembacanya. Hegemoni inilah yang membuat kebanyakan para musisi di zaman sekarang secara (tidak) sadar menyatakan bahwa musik hanyalah untuk dinikmati, bukan untuk dikritisi. Sebuah pembentukan cara pikir yang struktural menjadi ciri khas di mana media (mainstream) menjadi sebuah pembenaran akan hegemoni yang terjadi. Sebab itulah Max Horkheimer, musikolog neo-Marxisme lainnya, menganggap bahwa teori kritis adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan masyarakat dari teknokrasi modern. Kenyataan bahwa tidak sedikit musisi Indonesia (bahkan se-planet Bumi) yang takut terhadap pemikiran kritis adalah sebuah kesuksesan dari teori hegemoni tersebut. Para kritikus musik lantas dimusuhi hanya agar para pendengar menganggap bahwa moncong sang kritikus memang tidak layak untuk didengar. Mereka bergembira ketika media mainstream (hanya) menjelaskan siapa saja personel mereka, genre apa yang dibawa, judul lagu apa saja yang sudah tercipta, dan berakhir pada panggung mana saja yang sudah mereka pijak. Ya, hanya hal-hal itu saja yang tampaknya ingin mereka dengar sampai Negara Api datang menyerang, sampai band mereka dibubarkan oleh malaikat Izrail. Mereka merasa risi ketika ada yang coba mendefinisikan lirik mereka dengan metode perspektivisme, atau meralat permainan musik mereka yang kacau dengan dalih eksperimental. Ya, eksperimental sih boleh, tapi asal tahu saja, sebelum membentuk Sigur Ros, Jonsi sudah capek nge-grunge terlebih dulu!

Kasus di Medan. Seringkali kita temui congor-congor berbau asam nitrat (biasanya bukan dari kalangan pemusik itu sendiri, melainkan fans yang menyerupai holigan atau para pensiunan yang lemah syahwat) yang berseru dengan nada provokasi: “Siapa kali dia, sampe kritik-kritik kalian?” Atau “Apa aja yang udah dibuatnya, sampe berani mengkritik kalian?” Buat para holigan, ayolah, agak digunakan sedikit fungsi otaknya (walaupun saya yakin otaknya bakal kepayahan), sebab itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Pertanyaan yang benar adalah:

Siapa yang berhak mengajukan kritik?

Jawab: tak ada aturan yang baku. Karena memang tidak perlu. Siapa saja boleh mengkritisi suatu karya meskipun dia sedang berada di rumah sakit jiwa Mahoni, karena masyarakat jugalah yang akhirnya akan menilai bobot dan ketepatan kritik tersebut. Seorang abang tukang bakso masa kini yang sama sekali tidak tahu apa itu Jason Ranti misalnya, boleh saja mengkritik lagu Tukang Bakso-nya Melissa, yang menyebutkan dalam liriknya bahwa “Satu mangkuk saja, dua ratus perak, yang banyak baksonya.” Mana ada di zaman ini bakso harganya dua ratus perak, bre! Minta baksonya banyak pula, yang benar saja, bre! Atau misalnya seorang Niko, vokalis band metal Rumput, yang mengkritik cara bernyanyinya (saya ngga tahu namanya) vokalis Vagetoz, meskipun Niko sebenarnya juga akan kerepotan kalau ada yang menyuruhnya untuk menyanyikan lagu sendu yang berdarah-darah seperti itu. Boleh saja, tho? Karena sekali lagi, kritik dibangun bukan atas dasar menghina, tapi membenarkan ataupun menyampaikan suatu maksud agar dapat diapresiasi oleh masyarakat umum. Jadi, kembali lagi mesti ditegaskan, siapa saja boleh menjadi kritikus musik, karena setiap pengalaman yang dialami oleh manusia itu berbeda-berbeda, maka berbeda-beda pulalah tafsir yang akan diajukan dalam kritik mereka (poin inilah yang menurut Harkheimer akan membuat suatu karya bisa terserap di dalam masyarakat). Bahkan jika beruntung, musisi yang dikritik bisa saja menikmati hasil dari kritikan tersebut. Lah, buat kritikus musiknya apa? Kentut. Contoh. Suatu ketika, di awal tahun 2005, yang berarti sebelum One Ok Rock mengeluarkan full-album pertama mereka, Zeitakubyo, One Ok Rock dikritik habis-habisan oleh zine lokal Shibuya sebagai band yang hanya ingin mencoleng kesuksesan dari Asian Kungfu Generation. Saya tidak pernah mendengar mereka sebelum album itu, dan ketika album itu keluar, saya bertanya: apanya dari One Ok Rock yang mirip dengan Asian Kungfu Generation? Apa karena kritikan tersebut mereka lantas mengubah musiknya? Entahlah, hanya Hokage Pertama mungkin yang tahu. Yang pasti, lihatlah kesuksesan yang sekarang diraih oleh One Ok Rock. Lantas, ada yang tahu nasib dari sang kritikus? Ah, paling-paling sekarang doi lagi mengkritik gaya pakaiannya Sora Aoi di film Bukkake no Hentai.

Contoh kedua dari negeri sendiri. The S.I.G.I.T, band garage-rock asal Bandung, yang EP-nya, The S.I.G.I.T: Self Titled, dikritik habis-habisan oleh Deathrockstar, bahkan para pembaca disarankan untuk membeli albumnya The Brandals saja ketimbang menghabiskan waktu untuk mendengar album The S.I.G.I.T. Dan lihatlah album-album The S.I.G.I.T setelah itu. Beralih ke Medan. Pada medio 2007-2010, hiduplah sebuah e-zine yang cukup lantang dalam bersuara. Salah satu yang terkena kritik adalah vokalis dari band lokal bergenre britpop, Rou. Dikatakan bahwa sang vokalis, Dimas, adalah “vokalis yang tak pantas untuk bermain di band apa pun.” Sadis? Saya rasa sih biasa saja (buat musisi Medan). Entahlah karena kritikan itu apa tidak, Dimas lantas mulai jarang tampak, dan pada akhirnya memutuskan untuk bekerja di salah satu perkebunan swasta. See? Saat ini hidupnya mapan, bre (paling tidak menurut anggapan awam). Seandainya ia memilih untuk terus bermusik, mungkin ia masih akan terlihat nongkrong di satu studio ke studio lain, gigs yang anu ke gigs yang ono, dan berakhir menjadi anak band yang menyebalkan bagi orangtuanya. Kasus di atas membuat saya yakin, mental para musisi Medan sekeras dan sedemokratis Taku (One Ok Rock). Silakan saja kritik musisi-musisi Medan kalau tidak percaya, mereka akan menerimanya dengan hati yang lapang. Saya sih yakin. Situ yakin, ngga?

Sebagai penutup, kalau para musisi ingin menerapkan hegemoni teknokrasi dalam kritik seni dan kebebasan berpendapat, lebih baik kalian menciptakan lagu untuk didengar keluarga kalian saja. Atau sekalian jadi Tuhan saja, jangan coba-coba jadi musisi!

Share this post

Recent post