AUL (PIJAR): SKENA MEDAN ITU ROMANTIS!

AUL (PIJAR): SKENA MEDAN ITU ROMANTIS!

Seyogyanya, tugas musisi adalah menciptakan karya. Mengenai peran dari karya itu sendiri masih harus diperdebatkan ulang. Toh begitu, bagi sebagian musisi, karya itu mestilah diperdengarkan kepada masyarakat, namun bagi sebagian yang lain berlaku masa bodoh; terserah mau didengar ataupun tidak. Tak ada yang salah dengan keduanya, toh kedua kubu tersebut pastilah punya argumen yang sama-sama kuat. Pijar, salah satu band indie Medan yang terbentuk pada 2013, tampaknya menyetujui kelompok pertama, bahwa karya mestilah diperdengarkan secara luas. Dan itulah yang membuat Pijar memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Soal ini juga harus diperdebatkan ulang, apakah tiap-tiap musisi mesti ke Jakarta untuk menyebarkan karyanya? Bukankah industri musik juga mulai berkembang di daerah-daerah? Yah, kembali lagi ke masing-masing individu. Apa pun itu, tim Degilzine akan sedikit menanyai perihal tersebut pada Aul Daytona, drumer humoris dari Pijar. Sekaligus akan kita ajak ia bernostalgia dengan skena indie Medan. Yuk, langsung saja!

 

Hallo, Aul. Apa kabarnya Pijar? Lagi sibuk ngapain nih?

Hallo juga, Bang Riy. Kabar pijar sangat baik. Kita lagi sibuk promo EP kemaren, terus manggung-manggung kecil sama lagi produksi single baru buat tahun depan.

Kapan nih bakal selesai full-albumnya?

Untuk full album kemungkinan tahun depan. Tapi untuk awal tahun kita bakal coba keluarin single dulu.

Ceritakan sedikit dong, apa sebenarnya yang membawa Pijar ke Jakarta?

Pijar mau menginvasi Jakarta, hahaha. Medan invasion. Karena tujuan Pijar ini terlalu besar. Kita butuh media yang besar. Makanya kita berangkat ke Jakarta. Tapi kita kan masih membawa nama Medan.

Keberangkatan Pijar menimbulkan sedikit pro-kontra di Medan, ada yang ingin disampaikan pada orang-orang yang tidak setuju atas keberangkatan Pijar ke Jakarta?

Buat kawan-kawan, pro dan kontra pasti ada. Tapi sebenarnya kita semua itu sayang sama kota kita, saking sayangnya hingga banyak yang berpikir sendiri dan punya pendapat sendiri atas apa yang kita lakukan untuk kota kita. Jadinya saling posesif di antara band-bandnya sendiri. Semoga keposesifan itu bisa membuat kita lebih maju.

Apa yang paling diingat soal skena di Medan?

Skena Medan itu romantis. Tapi sekarang kayaknya udah mulai sedikit merenggang. Apa karena anak-anak skena di sana sudah manja dan terlena oleh event rokok atau mereka hanya menjadikan band sebagai selingan di waktu senggang? Ga tau juga. Banyak pergerakan-pergerakan yang sudah dibuat oleh pendahulu dan abang-abanganku dulu. Mereka buat acara sendiri, ya untuk kita sendiri. Itu pergerakan yang sudah mulai melemah, dan tidak didukung lagi.

Gigs apa di Medan yang paling ngga bisa Aul lupakan?

Gigs pertama yang aku lihat itu Lost in a Melody 4 tahun 2005. Dan itu pemicunya kenapa aku bisa ngeband, hahahaha. Dan dulu itu acara ga pernah putus. Seminggu sekali pasti ada. Ga bingung awak mau malam minggu ke mana yakan? Hahaha.

Sebutkan manusia indie Medan yang paling berpengaruh bagi hidup Aul di dunia musik?

Kalau aku sih Bang Lutfi Wahyu Aji, atau biasa di panggil Bang Kentung. Dia pemilik Kirana Studio, yang studionya selalu memberi inspirasi. Hahaha.

Kalau band Medan yang paling berpengaruh bagi Aul?

Band yang buat aku terpesona pada masa itu, Cangis. Mereka keren kali kurasa.

Sebelum bergabung dengan Pijar, Aul sudah bergabung dalam band apa saja?

Aku pernah main sama The Brengsex (TBRX), The Object of Addictive, sempat mengisi di Cangis dan Hairdresser on Fire juga, sempat buat beberapa proyekan seperti Cutting Onion, Digital Sex, dan Rana.

Apa arti gigs buat Aul pribadi?

Menurutku gigs itu wadah penyampaian karya seni kita ke orang banyak.

Di Medan saat ini terdapat banyak band yang sepertinya enggan untuk bermain di gigs. Menurut Aul?

Ya, itu terserah band-nya sih. Mungkin ga percaya diri. Menurutku band itu ya harus manggung. Kalo ga mau manggung mending jadi atlet ajalah, hahaha.

Bagaimana menurut Aul dengan band indie yang lompat jadi band wedding?

Itu pilihan sih. Mungkin dia ga yakin kalau bandnya itu bisa menghasilkan. Kembali lagi sih, apa dia emang aslinya main di wedding abis itu buat proyekan band indie atau sebaliknya, dia punya band indie buat proyekan band wedding. Hahaha

Berbelok ke soal attitude di dalam skena. Dari yang Aul ingat, ada ngga sih band Medan yang attitude-nya sangat-sangat buruk?

Sejauh ini aku ketemu band yang keren-keren dan attitude mereka juga bagus. Belum pernah jumpa yang aneh-aneh sih. Semuanya baik-baik aja. Tapi ga tau ya kalau di belakang.

Sebutkan dengan cepat, band Medan apa yang ingin Aul lihat untuk segera bubar.

TBRX aja, biar si Mikel fokus sama anaknya. Hahahaha. Dia itu vokalis paling gila semasa hidupku, perjalanan cintanya juga. Tapi sebelum mereka bubar aku pengen main bareng dulu untuk yang terakhir kalinya. Hahahha.

Kembali ke Jakarta. Ceritakan dulu pada para pembaca Degil, alasan agar mereka tidak usah datang ke Jakarta.

Jakarta itu tempat perputaran uang terbesar. Jadi kalau ga punya tekat yg kuat, ya jangan ke sini, hahaha. Dan mentalnya juga harus kuat. Karena semua orang Indonesia ada di Jakarta.

Adakah perbedaan paling mencolok (jika ada) antara skena Medan dan skena yang ada di Jakarta?

Sebenarnya sama aja. Yang membedakan di sini itu banyak media besar yang bisa mengangkat. Apalagi Jakarta itu kan ibukota. Kalau seandainya media besar itu ada di Medan, mungkin Medan bisa lebih keren.

Pengalaman pahit yang pernah dialami Pijar di Jakarta?

Pijar lahir di kota Medan yang keras, jadi pahit-pahitnya Jakarta ini belum terasa kali. Hahaha.

Foto: www.pikiran-rakyat.com

Untuk ke depannya, ada rencana bagi Pijar membuat lagu untuk Jokowi?

Belum ada kepikiran sih, hahaha.

Dengan jadwal Pijar yang tentunya padat, apa sudah mulai ada keluhan dari anak-anak Pijar yang lain?

Semuanya masih nyaman sih. Karena emang kita itu di sini tuh buat main musik dan Pijar.

Bagi Aul sendiri, kapan rencananya bakal keluar dari Pijar?

Mungkin kalau saya sudah punya 4 istri, hahaha.

Terakhir, pesan untuk band Degil bulan Desember, Filsafatian.

Buat Bang Santus, ajakin dong kita main di Pitu Room!! Hahahaha.

 

*Interview oleh Tengku Ariy Dipantara

Share this post

Recent post