pa yang ada di benak anda ketika mendengar nama Sjumandjaya?

MENGGILAI KOPI DEMI EKSISTENSI

Kedai kopi di Medan sekarang sudah mirip warung ayam penyet!” ujar Bang Denny, yang pernah jadi jurnalis, fotografer, penyeduh kopi, tukang rendang kopi, tukang kayu, womanizer dan saat ini menjadi ayah dari dua orang putri.

Pernyataan tadi terlontar saat kami membahas soal fenomena ramainya kehadiran kedai kopi berlabel manual brew di kota Medan. Fenomena umum sebenarnya yang terjadi di Indonesia, bahkan Asia, akibat dari third wave of coffee, di mana orang-orang mulai tidak awam lagi terhadap kopi-kopi dengan kualitas biji dan penyeduhan yang sudah ter-standar. Kopi jadi sesuatu yang artisan, sesuatu yang populis, sesuatu yang keren. Muncul banyak penikmat kopi, kalau boleh disebut dadakan, atau mungkin benar-benar menggemari kopi itu sendiri. Tak jarang kawula muda datang ke tempat bernama kopi atau coffee hanya untuk terlihat keren dan mengikuti perkembangan. Mengunggah foto mereka sedang berada di tempat tersebut di Instagram lalu berharap akan mendapat banyak like. Saya juga sering melakukan hal ini, sering sekali malah.

Beberapa peminum kopi yang memiliki kapital cukup akhirnya membuka gerai kopinya sendiri atau setidaknya berinvestasi di sana. Ada yang sungguh-sungguh, ada pula yang hanya mencuri kesempatan dari marak dan berkembang pesatnya perkopian ini. Dari situ muncullah panutan-panutan baru dalam skena perkopian ini; orang-orang yang dianggap paham betul soal kopi, orang-orang yang dirasa para pemanutnya bisa mendeskripsikan rasa hanya dari aroma dan sekali seruputan. Akibatnya muncullah para snob dalam dunia kopi, yang mengomentari cara minum kopi orang lain, menghina-dina kopi sachet, melaknat para peminum kopi dengan gula, melabeli kedai kopi franchise dari Amerika dengan sebutan kapitalis. Padahal saya yakin orang-orang itu hanya menerka-nerka saja, kecuali dia punya sertifikat sebagai quality grader kopi. Dan orang-orang itu juga sebenarnya kurang mengerti soal industri kopi ini dari hulu ke hilir. Para penyeduh kopi juga pada akhirnya melabeli diri sebagai barista, yang secara resminya untuk mendapat titel barista membutuhkan sertifikasi. Tapi tak apalah, karena secara pengertian harfiah yang diakui secara umum, barista adalah karyawan sebuah kedai kopi yang menyiapkan dan menyajikan kopi. Namun, saat titel sebagai si “tahu segalanya soal kopi” ini melekat, harusnya dibarengi dengan pengetahuan dan tentu saja: attitude. Bukan jadi malah gagah-gagahan serta memetik banyak keuntungan finansial dari titel ini.

Di Medan, lazim sekali memang saat ini kita melihat kedai kopi dengan label manual brewing tumbuh berkembang bak cendawan di musim penghujan. Tidak ada yang salah, malah menjadi sesuatu yang menggembirakan. Mengingat kopi adalah komoditi bisnis yang menarik secara finansial. Walau pada akhirnya, kedai-kedai kopi tersebut banyak yang gulung tikar. Baru buka bulan ini dan di bulan ketiga sudah tidak beroperasi lagi. Ada juga kedai kopi mahal yang sepertinya bangga dengan menjual kopi luar negeri tanpa edukasi yang cukup kepada peminumnya. Kaum-kaum pemanut perkopian Medan lalu dengan bangganya menyesap kopi luar negeri ini, dan pastinya mengunggah ke media sosialnya. Beberapa merek besar saling berebut untuk mem-branding kedai-kedai kopi ini sebagai hang out places mereka. Merek-merek tersebut tidak hanya mencari tempat ramai untuk di-branding dan mengadakan acara, mereka juga mengadakan acara yang bertema kopi. Dalam tahun 2017 saja terhitung ada 4-5 festival kopi besar yang disokong oleh merek-merek besar, baik swasta ataupun BUMN. Acara-acara besar yang mudah-mudahan mampu memberi edukasi dan tentu saja menaikkan taraf hidup para petani kopi sebagai titik mula kopi di gelas yang anda minum.

Kembali ke pernyataan Bang Denny di awal, banyaknya kedai kopi di Medan saat ini, yang hampir menyamai banyaknya warung ayam penyet dan warung mie Aceh, diharapkan mampu menyokong perkopian secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Jangan hanya menjadi tempat gaul dan tempat foto-foto saja. Dan juga diharapkan mampu menyokong skena kreatif kota lainnya, entah menjadi tempat penyelenggaraan gigs, pameran seni ataupun diskusi budaya. Kopi dan kedai-kedainya harus menjadi ruang bagi skena kreatif tadi. Tapi ya saya rasa sulit, mengingat perkopian di Medan sudah kental soal bisnis dan gegayaan kaum milenial urban.

Para pemeran film Filosofi Kopi, sebuah film yang diangkat dari kumcer-nya Dee yang berjudul sama. Sedikit banyak menggambarkan betapa kopi telah menjadi gaya hidup masyarakat urban. Foto: www.casaindonesia.com

Akhirul kalam, mengutip lagi pernyataan dari seorang pengangguran terkreatif kota Medan, Achma Zaky, “Kopi itu diminum sampai habis, jangan dibahas-bahas terus,” maka marilah menikmati kopi dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat disampaikan barista yang membuat kopi anda habis terteguk.

Share this post

Recent post