apa itu perempuan

APA ITU PEREMPUAN?

Aku ingat, dulu pernah sekali waktu ketika keringatku baunya masih seperti bedak, ibuku mencubitku karena aku ketahuan ikut memanjat pohon mangga punya tetangga. “Perempuan jangan manjat-manjat. Malu!” Lumayan juga, birunya awet sampai tiga hari. Sejak saat itu aku kapok untuk manjat. Kubiarkan teman-teman lelakiku saja yang manjat. Aku di bawah untuk mengutip. Begitu memang yang diajarkan ibuku, lelaki yang bekerja perempuan yang menunggu.

Ketika keringatku baunya tidak lagi seharum bedak, teman-teman perempuanku sering mengejek laki-laki yang doyan menggosip. “Laki-laki kok mulutnya kayak perempuan. Gak tahu malu!” Jujur saja, aku juga meng-iya-kan itu. Dulu, bagiku yang nyinyir cuma mulutnya perempuan. Mulut laki-laki lebih baik dipakai untuk ngomong-ngomong sampah aja.

Semakin ke mari keresahanku semakin gawat. Konsep perempuan yang kuyakini semakin tidak sesuai dengan konsep perempuan yang diajarkan di lingkunganku bertumbuh. Aku juga terpikir kata-kata ibuku yang bilang kalau perempuan gak boleh manjat. Sampai sekarang tak kutemukan sisi memalukan dari kegiatan panjat-memanjat pohon. Mencurinya sih iya. Sedikit cengkal, kuizinkan adik-adikku yang perempuan untuk manjat pohon. Teman-teman lelakiku yang doyan menggosip juga sampai saat ini wujudnya masih laki-laki. Dan, cukup banyak kutemukan teman wanita yang ternyata gak suka menggosip.

Siapa itu perempuan? Kalau merujuk dari kamus, tentulah seorang perempuan adalah manusia yang terlahir dengan vagina. Yang aku bingungkan, apa itu perempuan? Apakah mereka yang tidak suka manjat dan jago menggosip? Kalau hanya merujuk ke kelamin, hal-hal yang disebutkan di atas tentu tidak valid sama sekali.

Apa itu perempuan? Kenapa perempuan sering sekali dikaitkan dengan selangkangan dan kelemahannya? Kenapa laki-laki yang lemah lantas dicap “perempuan”? Apakah ketika perempuan melakukan hal-hal yang dilakukan oleh lelaki atau lebih, atau hal-hal yang mempresentasikan kekuatan lantas keperempuanannya akan luntur?

Banyak kujumpai perempuan yang tidak hanya sepatunya saja yang ber-“hak” tapi juga dirinya, dan itu atas pilihan hidupnya sendiri. Perempuan ini terlihat manis dan feminim, tapi siapa sangka dia bisa memimpin puluhan laki-laki? Apakah perempuan ini luntur keperempuanannya?

Selalu kujumpa juga ibu-ibu berdaster yang menghabiskan hari di rumah saja untuk menjaga anak. Apakah perempuan ini adalah perempuan yang dimaksud oleh lingkungan kita ketika mendeskripsikan arti perempuan? Tidak lupa juga, banyak kujumpai perempuan yang mencintai perempuan, perempuan yang bergaya seakan laki-laki, perempuan yang melakukan hal-hal yang menurut mereka hanya boleh dilakukan oleh laki-laki. Mereka ini perempuan yang bagaimana?

Apa itu perempuan? Apakah perempuan adalah makhluk lemah dan ringkih seperti yang ibuku pernah bilang dulu? “Perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Jadi, bagaimanapun, derajatnya di bawah lelaki.” Kalau kuingat kata-kata ibuku yang ini, ingin sekali rasanya murka. “Perempuan adalah makhluk yang mulia.” Itu juga kata ibuku. Lalu, kalau perempuan sedemikian mulianya, kenapa hal-hal yang berbau feminitas seakan-akan memalukan jika itu dicapkan kepada para kaum Adam?

Kepalaku makin mumet, Bu. Tapi aku juga tidak berani terang-terangan menanyakan keresahan ini. Anak perempuan harus nurut terus. Bukan begitu, Bu?

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post