Degil Zine

Tanggal rilis: 1973

Sutradara: Sjumandjaja

Editor: Janis Badar

Pemeran: Mang Udel

Penghargaan: Piala Citra untuk Film Terbaik, Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik

 

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar nama Sjumandjaya? Untuk kalangan remaja di medio ‘90an mungkin langsung terlintas nama Sri Aksan, atau lebih dikenal dengan Wong Aksan, drummer Dewa-19 saat itu, yang merupakan anak dari Sjumandjaya. Sementara untuk mereka yang menikmati masa remajanya ketika film Ada Apa Dengan Cinta meledak di tahun 2002, pasti langsung tertuju ke buku Aku yang sering dibaca Rangga di film tersebut, yang merupakan karya sastra milik Sjumandjaya.

Film ini disutradarai, ditulis (diadaptasi dari salah satu novel Anton Chekhov) dan diproduseri oleh Sjumandjaya, yang pada masanya telah memenangi Piala Citra sebagai Film Terbaik Dengan Pujian dan Pemeran Utama Pria Terbaik Dengan Pujian, sehingga kualitas film ini tidak perlu diragukan lagi. Sosok utama dalam film ini, tentunya Si Mamad, bernama asli Muhammad, namun lebih senang dipanggil Mamad saja, diperankan oleh Mang Udel, yang untuk para penikmat serial Losmen di TVRI era ‘80an pasti sudah tidak asing dengan sosok beliau sebagai Pak Broto dengan ukulele-nya. Nama-nama pemeran lain juga tidak kalah melegenda, seperti: Aedy Moward, Ernie Djohan, Rina Hasim, Rahmat Hidayat, Pong Harjatmo, Agust Melasz, Jenny Rachman, maupun Hendra Cipta.

Pemusatan perhatian pada sosok Mamad pada film ini sangat total, di mana alur cerita fokus kepada kehidupan Mamad, sebagai suami dan ayah dari 6 orang anak, bekerja sebagai clerk (pegawai filing arsip) di kantornya yang sudah 20 tahun dijalaninya. Si Mamad digambarkan sebagai pribadi yang religius, jujur dan sangat disiplin. Kedisiplinannya datang ke kantor dan pulang dari kantor sangat luar biasa sehingga tetangganya sampai punya kebiasaan otomatis; jika Si Mamad sudah melewati depan rumah mereka dengan sepedanya ketika berangkat kerja menandakan sudah jam 6 pagi dan jam setengah empat sore ketika pulang ke rumah.

Konflik terjadi ketika batin Si Mamad dicoba untuk melawan kejujurannya dalam usaha mencukupi kebutuhan hidup keluarga yang sudah sangat pas-pasan, ditambah dengan kenyataan bahwa istrinya hamil lagi. Jalan singkat yang diambil Si Mamad ternyata berujung tidak jauh dari lingkungannya sendiri. Semakin menambah konflik ketika usaha Si Mamad untuk memperbaiki atau mengakui kesalahannya selalu menemui jalan buntu yang justru menambah hal buruk kepada kehidupannya dan keluarganya.

Sentilan-sentilan sosial banyak dimunculkan di film ini. Pem-bully-an tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah, di kantor-kantor orang dewasa juga banyak terjadi, seperti di kantor Si Mamad, walaupun tidak menjurus ke fisik; nepotisme di dalam kantor; pegawai yang datang dan pulang kantor tidak sesuai jam-nya; pejabat yang memiliki banyak usaha yang kalau dilihat dari gajinya mustahil dapat terjadi; judi sejenis togel/porkas yang dari dulu sudah ada, sampai orangtua yang takut anak perempuannya jadi bunting jika bergaul dengan sekumpulan laki-laki di sekitaran lingkungan rumahnya.

Secara keseluruhan kita mungkin sepakat mengapa film ini mendapat penghargaan Film Terbaik Dengan Pujian di Piala Citra 1974. Plot sederhana tapi dikemas secara dramatis dan scoring yang menambah sisi kelam film ini. Peran Mang Udel sebagai Si Mamad juga sangat klop dalam karakter yang penuh beban dan tanggungjawab. Salah satu film klasik yang sepertinya sering luput dari perhatian tapi sangat layak ada di daftar atas film legendaris Indonesia.

Rating: 9/10

Leave a Comment

Baca Juga

Tanggal rilis: 1973

Sutradara: Sjumandjaja

Editor: Janis Badar

Pemeran: Mang Udel

Penghargaan: Piala Citra untuk Film Terbaik, Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik

 

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar nama Sjumandjaya? Untuk kalangan remaja di medio ‘90an mungkin langsung terlintas nama Sri Aksan, atau lebih dikenal dengan Wong Aksan, drummer Dewa-19 saat itu, yang merupakan anak dari Sjumandjaya. Sementara untuk mereka yang menikmati masa remajanya ketika film Ada Apa Dengan Cinta meledak di tahun 2002, pasti langsung tertuju ke buku Aku yang sering dibaca Rangga di film tersebut, yang merupakan karya sastra milik Sjumandjaya.

Film ini disutradarai, ditulis (diadaptasi dari salah satu novel Anton Chekhov) dan diproduseri oleh Sjumandjaya, yang pada masanya telah memenangi Piala Citra sebagai Film Terbaik Dengan Pujian dan Pemeran Utama Pria Terbaik Dengan Pujian, sehingga kualitas film ini tidak perlu diragukan lagi. Sosok utama dalam film ini, tentunya Si Mamad, bernama asli Muhammad, namun lebih senang dipanggil Mamad saja, diperankan oleh Mang Udel, yang untuk para penikmat serial Losmen di TVRI era ‘80an pasti sudah tidak asing dengan sosok beliau sebagai Pak Broto dengan ukulele-nya. Nama-nama pemeran lain juga tidak kalah melegenda, seperti: Aedy Moward, Ernie Djohan, Rina Hasim, Rahmat Hidayat, Pong Harjatmo, Agust Melasz, Jenny Rachman, maupun Hendra Cipta.

Pemusatan perhatian pada sosok Mamad pada film ini sangat total, di mana alur cerita fokus kepada kehidupan Mamad, sebagai suami dan ayah dari 6 orang anak, bekerja sebagai clerk (pegawai filing arsip) di kantornya yang sudah 20 tahun dijalaninya. Si Mamad digambarkan sebagai pribadi yang religius, jujur dan sangat disiplin. Kedisiplinannya datang ke kantor dan pulang dari kantor sangat luar biasa sehingga tetangganya sampai punya kebiasaan otomatis; jika Si Mamad sudah melewati depan rumah mereka dengan sepedanya ketika berangkat kerja menandakan sudah jam 6 pagi dan jam setengah empat sore ketika pulang ke rumah.

Konflik terjadi ketika batin Si Mamad dicoba untuk melawan kejujurannya dalam usaha mencukupi kebutuhan hidup keluarga yang sudah sangat pas-pasan, ditambah dengan kenyataan bahwa istrinya hamil lagi. Jalan singkat yang diambil Si Mamad ternyata berujung tidak jauh dari lingkungannya sendiri. Semakin menambah konflik ketika usaha Si Mamad untuk memperbaiki atau mengakui kesalahannya selalu menemui jalan buntu yang justru menambah hal buruk kepada kehidupannya dan keluarganya.

Sentilan-sentilan sosial banyak dimunculkan di film ini. Pem-bully-an tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah, di kantor-kantor orang dewasa juga banyak terjadi, seperti di kantor Si Mamad, walaupun tidak menjurus ke fisik; nepotisme di dalam kantor; pegawai yang datang dan pulang kantor tidak sesuai jam-nya; pejabat yang memiliki banyak usaha yang kalau dilihat dari gajinya mustahil dapat terjadi; judi sejenis togel/porkas yang dari dulu sudah ada, sampai orangtua yang takut anak perempuannya jadi bunting jika bergaul dengan sekumpulan laki-laki di sekitaran lingkungan rumahnya.

Secara keseluruhan kita mungkin sepakat mengapa film ini mendapat penghargaan Film Terbaik Dengan Pujian di Piala Citra 1974. Plot sederhana tapi dikemas secara dramatis dan scoring yang menambah sisi kelam film ini. Peran Mang Udel sebagai Si Mamad juga sangat klop dalam karakter yang penuh beban dan tanggungjawab. Salah satu film klasik yang sepertinya sering luput dari perhatian tapi sangat layak ada di daftar atas film legendaris Indonesia.

Rating: 9/10

Leave a Comment

Baca Juga