Degil Zine

Berbeda dengan gerombolan yang beratribut punk yang sering nongol di jalanan dan ngamen cuma buat mabuk, punk jalanan yang beken di luar sana disebut sebagai street-punk. Street-punk adalah sebuah gerakan budaya tanding (counter culture) yang melawan kemapanan budaya dominan yang dibentuk oleh sistem kekuasaan. Street-punk muncul di Inggris pada tahun 1980-an, pada masa rezim Margareth Thatcher dari Partai Konservatif, yang kebijakan ekonominya sangat liberal sehingga memberi peluang bagi para kapitalis untuk mengembangkan pasar modal dan (tentu saja) akan mengabaikan kelas pekerja. Ketika pabrik-pabrik menutup lowongan pekerjaan, memecat para karyawannya, kelas pekerja menggunakan jalanan sebagai tempat mencari nafkah, membuat jejaring kerja, serta aksi protes yang diselingi oleh karnaval dan musik.

Sebagai sub-kultur perlawanan, punk terinspirasi oleh karya-karya sastra, seperti novel-novelnya Charles Dickens, yang sebagian besar menceritakan nasib anak-anak (panti asuhan) yang dipaksa menggenjot produksi pada era Revolusi Industri. Anak-anak itu merasa tersiksa bekerja sehari-semalam, tanpa makanan yang cukup, berada di tempat-tempat kumuh dan tanpa penerangan yang cukup. Mereka akhirnya memberontak, menolak segala bentuk eksploitasi. Mereka lari dari panti asuhan lalu memutuskan hidup secara kolektif. Mereka lantas menggunakan jalanan di London sebagai sumber mencari pengetahuan dan makanan, hingga terbebas dari eksploitasi. Bagi seorang punk, jalanan adalah kehidupan. Di jalanan mereka bertemu dengan orang-orang, berbagi pengetahuan, berdagang, menyuarakan kebenaran melalui nyanyian.

Di kota Medan sendiri ada sebuah skena punk jalanan, Sutomo Bersaudara Medan Street Punk Crews; biasanya sering terlihat di Juanda, Titi Kuning, Aksara, Griya, Bilal, Belawan, dan sebagainya. Punk jalanan yang terbentuk di Jalan Sutomo, belakang kampus Nomensen ini adalah sebuah gerakan punk yang menganut DIY dan Do It with Your Friends; mengorganisir gigs kolektif, kegiatan aksi protes berbagai makanan (FNB), merintis usaha rekaman dalam distribusi terbatas, membuat label rekaman, juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesoris, juga zine.

Punk jalanan yang satu ini memang sangat berbeda dibandingkan dengan skena punk lainnya. Banyak orang yang menilai punk jalanan sebagai komunitas urakan, berandalan dengan stereo-type mengenai kehidupan jalanan sebagai kehidupan liar. Namun jika dicermati lebih dalam, banyak sekali hal menarik yang dapat dilihat dari kelompok ini. Punk jalanan bukan hanya sekadar nongkrong di pinggir jalan, berpakaian aneh, engga pernah mandi, tapi juga mekahirkan karya-karya yang bisa dibanggakan. Parameternya adalah kuantitas dan kualitas aktivitas. Punk jalanan hadir dalam kontradiksinya dengan gaya hidup, kebiasaan, dan attitude yang kritis. Menurutku, punk jalanan itu lebih ke sebuah kehidupan. Proses pencapaian tersebut dilakukan atas dasar insting untuk bertahan hidup dengan etos DIY (Do It Yourself) dan Do It With Your Friends; jiwa kritis dan semangat pemberontakan memanfaatkan potensi yang seadanya, namun didukung oleh semangat kolektifisme.

Hidup di jalanan penuh dengan tantangan, begitulah yang kualami ketika aku memutuskan bahwa punk adalah jalan hidupku dan jalanan adalah kehidupan. Tantangan itu datang pertama kali dari keluargaku. Tidak hanya kritikan dan amarah dari mereka saja, teman-teman juga mulai merasa kalau aku aneh, apalagi bahwa aku adalah seorang perempuan. Namun dasar keras kepala, aku menetapkan pendirianku, bahwa pilihanku tidak salah; pelan-pelan aku membuktikan pada keluarga dan kawan-kawan bahwa punk menawarkan pililhan hidup alternatif yang layak diapresiasi. Buatku pribadi, punk itu bukan hippies atau anak jalanan (meskipun aku pernah mengamen untuk kebutuhan pribadiku). Bersama teman-teman punk lainnya, aku juga sempat bepergian keliling Sumatra, bahkan ke Jawa (tentunya tanpa biaya, kalaupun ada, ya sedikit). Dari situ aku menyebar jaringan pertemanan dengan mengenalkan CD demo band-band lokal (dan bandku sendiri tentunya). Meskipun perempuan, aku menolak untuk sekadar menunggu atau hanya menjadi pelengkap skena. Aku juga belum pernah dilecehkan dalam skena ini; mereka menghargaiku sebagai perempuan punk yang berwajah biasa namun berpemikiran luar biasa (ini sih kata mereka).

Fenomena tentang sisi buruk dari punk jalanan yang akhir-akhir ini marak diberitakan oleh banyak media hanyalah opini dari satu pihak saja. Lagipula, kita hidup di jalanan bukan untuk mendengarkan opini masyarakat. Persoalan drugs, alkohol, attitude, semuanya adalah proses (tapi jangan kelamaan prosesnya, nanti malah dibilang anak zaman yang cuma gaya, sekadar pelarian biar engga diganggu atau dipalak, juga agar bisa mendapatkan kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa aturan dari apa pun dan siapa pun).

Demikianlah sedikit cerita tentang punk jalanan. Jangan pernah berpikir dan memberi tanggapan miring terhadap punk jalanan sebelum kau, kau, dan kau mengenalnya secara langsung. Punk jalanan dengan penampilan norak terkadang memiliki jiwa dan pemikiran yang tidak norak.

*Tulisan ini pertama kali dimuat di Newkicks #1: Against Sexism, dengan judul asli: Punk Jalanan. Diedit dan disunting kembali oleh Degilzine.

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

Leave a Comment

Baca Juga

Berbeda dengan gerombolan yang beratribut punk yang sering nongol di jalanan dan ngamen cuma buat mabuk, punk jalanan yang beken di luar sana disebut sebagai street-punk. Street-punk adalah sebuah gerakan budaya tanding (counter culture) yang melawan kemapanan budaya dominan yang dibentuk oleh sistem kekuasaan. Street-punk muncul di Inggris pada tahun 1980-an, pada masa rezim Margareth Thatcher dari Partai Konservatif, yang kebijakan ekonominya sangat liberal sehingga memberi peluang bagi para kapitalis untuk mengembangkan pasar modal dan (tentu saja) akan mengabaikan kelas pekerja. Ketika pabrik-pabrik menutup lowongan pekerjaan, memecat para karyawannya, kelas pekerja menggunakan jalanan sebagai tempat mencari nafkah, membuat jejaring kerja, serta aksi protes yang diselingi oleh karnaval dan musik.

Sebagai sub-kultur perlawanan, punk terinspirasi oleh karya-karya sastra, seperti novel-novelnya Charles Dickens, yang sebagian besar menceritakan nasib anak-anak (panti asuhan) yang dipaksa menggenjot produksi pada era Revolusi Industri. Anak-anak itu merasa tersiksa bekerja sehari-semalam, tanpa makanan yang cukup, berada di tempat-tempat kumuh dan tanpa penerangan yang cukup. Mereka akhirnya memberontak, menolak segala bentuk eksploitasi. Mereka lari dari panti asuhan lalu memutuskan hidup secara kolektif. Mereka lantas menggunakan jalanan di London sebagai sumber mencari pengetahuan dan makanan, hingga terbebas dari eksploitasi. Bagi seorang punk, jalanan adalah kehidupan. Di jalanan mereka bertemu dengan orang-orang, berbagi pengetahuan, berdagang, menyuarakan kebenaran melalui nyanyian.

Di kota Medan sendiri ada sebuah skena punk jalanan, Sutomo Bersaudara Medan Street Punk Crews; biasanya sering terlihat di Juanda, Titi Kuning, Aksara, Griya, Bilal, Belawan, dan sebagainya. Punk jalanan yang terbentuk di Jalan Sutomo, belakang kampus Nomensen ini adalah sebuah gerakan punk yang menganut DIY dan Do It with Your Friends; mengorganisir gigs kolektif, kegiatan aksi protes berbagai makanan (FNB), merintis usaha rekaman dalam distribusi terbatas, membuat label rekaman, juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesoris, juga zine.

Punk jalanan yang satu ini memang sangat berbeda dibandingkan dengan skena punk lainnya. Banyak orang yang menilai punk jalanan sebagai komunitas urakan, berandalan dengan stereo-type mengenai kehidupan jalanan sebagai kehidupan liar. Namun jika dicermati lebih dalam, banyak sekali hal menarik yang dapat dilihat dari kelompok ini. Punk jalanan bukan hanya sekadar nongkrong di pinggir jalan, berpakaian aneh, engga pernah mandi, tapi juga mekahirkan karya-karya yang bisa dibanggakan. Parameternya adalah kuantitas dan kualitas aktivitas. Punk jalanan hadir dalam kontradiksinya dengan gaya hidup, kebiasaan, dan attitude yang kritis. Menurutku, punk jalanan itu lebih ke sebuah kehidupan. Proses pencapaian tersebut dilakukan atas dasar insting untuk bertahan hidup dengan etos DIY (Do It Yourself) dan Do It With Your Friends; jiwa kritis dan semangat pemberontakan memanfaatkan potensi yang seadanya, namun didukung oleh semangat kolektifisme.

Hidup di jalanan penuh dengan tantangan, begitulah yang kualami ketika aku memutuskan bahwa punk adalah jalan hidupku dan jalanan adalah kehidupan. Tantangan itu datang pertama kali dari keluargaku. Tidak hanya kritikan dan amarah dari mereka saja, teman-teman juga mulai merasa kalau aku aneh, apalagi bahwa aku adalah seorang perempuan. Namun dasar keras kepala, aku menetapkan pendirianku, bahwa pilihanku tidak salah; pelan-pelan aku membuktikan pada keluarga dan kawan-kawan bahwa punk menawarkan pililhan hidup alternatif yang layak diapresiasi. Buatku pribadi, punk itu bukan hippies atau anak jalanan (meskipun aku pernah mengamen untuk kebutuhan pribadiku). Bersama teman-teman punk lainnya, aku juga sempat bepergian keliling Sumatra, bahkan ke Jawa (tentunya tanpa biaya, kalaupun ada, ya sedikit). Dari situ aku menyebar jaringan pertemanan dengan mengenalkan CD demo band-band lokal (dan bandku sendiri tentunya). Meskipun perempuan, aku menolak untuk sekadar menunggu atau hanya menjadi pelengkap skena. Aku juga belum pernah dilecehkan dalam skena ini; mereka menghargaiku sebagai perempuan punk yang berwajah biasa namun berpemikiran luar biasa (ini sih kata mereka).

Fenomena tentang sisi buruk dari punk jalanan yang akhir-akhir ini marak diberitakan oleh banyak media hanyalah opini dari satu pihak saja. Lagipula, kita hidup di jalanan bukan untuk mendengarkan opini masyarakat. Persoalan drugs, alkohol, attitude, semuanya adalah proses (tapi jangan kelamaan prosesnya, nanti malah dibilang anak zaman yang cuma gaya, sekadar pelarian biar engga diganggu atau dipalak, juga agar bisa mendapatkan kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa aturan dari apa pun dan siapa pun).

Demikianlah sedikit cerita tentang punk jalanan. Jangan pernah berpikir dan memberi tanggapan miring terhadap punk jalanan sebelum kau, kau, dan kau mengenalnya secara langsung. Punk jalanan dengan penampilan norak terkadang memiliki jiwa dan pemikiran yang tidak norak.

*Tulisan ini pertama kali dimuat di Newkicks #1: Against Sexism, dengan judul asli: Punk Jalanan. Diedit dan disunting kembali oleh Degilzine.

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

Leave a Comment

Baca Juga