Degil Zine

Selamat Hari Ibu, Mama! Selfie yok, Mak! Cekrak... cekrik," teriak anak-anak zaman sekarang di media sosial mereka masing-masing. Sudah bisa dipastikan, semua foto zaman kecil dengan tagar #ThrowBack atau foto terbaru bersama emak masing-masing akan meramaikan timeline kalian. Tapi, ada apa sih sesungguhnya dengan tanggal 22 Desember itu? Atau, emaknya siapa sih yang lahir di tanggal itu sampai mesti diperingati sebagai Hari Ibu segala?

Setelah ulik sana-sini, Eda menemukan bahwa 89 tahun yang lalu para perempuan di berbagai daerah se-Nusantara tersulut emosinya setelah menyaksikan atau mendengar Kongres Pemuda di tahun yang sama. “Kalau anak muda saja bisa berkumpul dan ber-deklarasi, kami para perempuan kok tidak bisa?” Begitulah kira-kira pikiran degil mereka sambil mengayun-ayun si bocah nakal.

Beberapa bulan kemudian, 30 organisasi perempuan berkumpul dan tak mau kalah dalam membuat kongres. Kongres Perempuan Pertama. Segala masalah domestik yang tak kalah seru diangkat di meja diskusi. Mulai dari poligami, pernikahan dini, gizi ibu dan anak, penambahan jumlah sekolah untuk perempuan, sampai peran perempuan dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Ngeri ya, kan? Ibu-ibu berkonde, berkain jarik, yang memikirkan bukan hanya kepentingan dirinya tetapi juga masa depan anak cucunya. Kemerdekaan dan kebebasan bangsanya. Tidak ada yang membahas si itu pakai kebaya sutra apa, suami si anu direbut siapa, si ono jadi simpanan siapa. Mereka kumpul, duduk, bersuara, berpendapat, dan berdebat mesti bagaimana sebaiknya nasib perempuan ke depannya. Mereka memilih untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Hal lain yang tidak terbayangkan pada masa itu adalah bagaimana perasaan para ayah atau suami yang mendengar anak perempuan atau istrinya pergi ke Yogyakarta, naik kapal berhari-hari; ada yang bawa anak, ada yang menitipkan anak, melewati lautan hanya untuk Kongres. Awak aja permisi mau nonton konser pas zaman SMA mesti pakai tipu muslihat mengalahkan Abu Nawas. Mungkin saja ada para laki -laki (suami, ayah, abang)  yang berpikir sama dan mendukung, tetapi tak heran juga pasti banyak yang tidak setuju bahkan melarang. Namun itulah indahnya perjuangan. Buktinya, Kongres Perempuan ke-2 terselenggara pada tahun 1935. Di sana mereka semakin degil dengan membahas hak-hak buruh wanita yang diinjak-injak, terutama buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang. Yup, di tahun segitu, emak-emak kondean tadi memperjuangkan nasib buruh lho, gaes!

Presiden Sukarno akhirnya mengeluarkan Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, yang isinya menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan mesti dirayakan secara nasional; berlaku hingga saat ini. Hemm... Kalau dipikir-pikir sih harusnya menjadi Hari Perempuan ya. Karena tidak semua perempuan adalah "ibu". Bagaimana nasib perempuan yang belum menjadi "ibu"? Yang kepingin menjadi "ibu, tetapi tidak bisa menjadi "ibu" bagaimana? Perempuan yang peduli kepada sesama perempuan, tetapi memilih untuk tidak menjadi "ibu"? Apa sih maksud Bung Karno pada saat itu? Mungkin ada satu juta alasan yang hanya beliau yang tahu. Tapi, di sini bukan lembaga penelitian ala-ala atau investigasi amatir untuk mencari tahu (atau sok tahu) tentang alasan itu.

Yang mesti sama-sama kita pikirkan adalah bagaimana momentum tanggal 22 Desember ini sebagai pengingat bagi kita semua, bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki dan gender lainnya; mengingat bahwa perempuan bukan pelengkap, hiasan, warga kelas ke-sekian, yang terkadang levelnya dianggap berada di bawah manusia. Mulailah gelitik pikiran kita, ketika orang bilang perempuan otaknya lebih kecil dari laki-laki, tertawanya harus pakai tutup tangan, tidak boleh menantang mata lawan bicaranya, suara, paha, ketiak, dada, dan selangkangannya membawa bencana, penggoda Adam sehingga ia mau makan apel Surga. Mesti kali ya seperti itu? Marilah mulai mengernyitkan dahi ketika kaum perempuan dilarang bersuara lantang, keras dan berapi-api (apalagi awak yang berdarah Batak ini ya kan?), tertawa terbahak-bahak (ingat! Tertawa adalah terapi berobat paling gratis), membahas seks dengan teman perempuan bahkan teman laki-laki, duduk bersila atau angkat kaki. Itu semua soal-soal yang sudah tidak relevan, yang sudah ketinggalan zaman, yang berlaku hanya ketika Kartini masih dibego-begoin oleh adat feodal Jawa. Mulailah melawan dan berargumen ketika ada yang protes sewaktu seorang perempuan mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin, memilih untuk menikah atau tidak, menunda kehamilan atau tidak, ketika ada yang bersuit-suit (jenis apa pun!) di pinggir jalan, menyalahkan korban pelecehan atau pemerkosaan, atau sekadar lebih memilih celana ketimbang rok mekar polkadot.

Ingat-ingatlah gaes! Puluhan perempuan yang rela naik kapal berhari-hari dan kebingungan waktu tiba di tempat kongres, serta mencari alamat dengan tidak adanya google maps saja rela untuk memikirkan nasib kaumnya dan bersolidaritas setinggi-tingginya. Masak kita perempuan zaman now yang sudah bebas kuliah, nge-kos, pakai HP merek apa pun, jago browsing apa pun, travelling ke Sumba buat nyamain muka sama kuda di film Marlina, hanya bisa pasrah saja sih?

Ibu-ibu kebayaan dan harus berkain wiron yang hidup pada zaman ketika mencuci pakaian dan piring tak boleh dilakukan laki-laki saja berani menentukan nasibnya sendiri. Lah, masak kita para perempuan yang bebas pilih baju di olshop mana pun masih saja meledek, menghina, mencaci, mengucilkan, dan merundung para perempuan sebagai pelakor? (baca: Perebut Laki Orang: istilah ini dipopulerkan akun gosip sampah).

Semoga pada ngerti ya maksud Eda yang sederhana ini. Selamat Hari Ibu, para perempuan Indonesia! Iya, Eda memilih menyebutnya Hari Ibu saja. Kasihan juga Bung Karno di bawah kubur sana karena banyaknya antrian gugatan dan kritik atas dekrit atau keputusannya yang tak kunjung habis.

The last! Keluar atau tidaknya bayi dari rahimmu, semua kita adalah ibu. Ibu bagi kemanusiaan!

*ILustrasi oleh Leo Sihombing

2 thoughts on “KETIKA EMAK-EMAK MENGGUGAT NASIBNYA

Leave a Comment

Baca Juga

Selamat Hari Ibu, Mama! Selfie yok, Mak! Cekrak... cekrik," teriak anak-anak zaman sekarang di media sosial mereka masing-masing. Sudah bisa dipastikan, semua foto zaman kecil dengan tagar #ThrowBack atau foto terbaru bersama emak masing-masing akan meramaikan timeline kalian. Tapi, ada apa sih sesungguhnya dengan tanggal 22 Desember itu? Atau, emaknya siapa sih yang lahir di tanggal itu sampai mesti diperingati sebagai Hari Ibu segala?

Setelah ulik sana-sini, Eda menemukan bahwa 89 tahun yang lalu para perempuan di berbagai daerah se-Nusantara tersulut emosinya setelah menyaksikan atau mendengar Kongres Pemuda di tahun yang sama. “Kalau anak muda saja bisa berkumpul dan ber-deklarasi, kami para perempuan kok tidak bisa?” Begitulah kira-kira pikiran degil mereka sambil mengayun-ayun si bocah nakal.

Beberapa bulan kemudian, 30 organisasi perempuan berkumpul dan tak mau kalah dalam membuat kongres. Kongres Perempuan Pertama. Segala masalah domestik yang tak kalah seru diangkat di meja diskusi. Mulai dari poligami, pernikahan dini, gizi ibu dan anak, penambahan jumlah sekolah untuk perempuan, sampai peran perempuan dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Ngeri ya, kan? Ibu-ibu berkonde, berkain jarik, yang memikirkan bukan hanya kepentingan dirinya tetapi juga masa depan anak cucunya. Kemerdekaan dan kebebasan bangsanya. Tidak ada yang membahas si itu pakai kebaya sutra apa, suami si anu direbut siapa, si ono jadi simpanan siapa. Mereka kumpul, duduk, bersuara, berpendapat, dan berdebat mesti bagaimana sebaiknya nasib perempuan ke depannya. Mereka memilih untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Hal lain yang tidak terbayangkan pada masa itu adalah bagaimana perasaan para ayah atau suami yang mendengar anak perempuan atau istrinya pergi ke Yogyakarta, naik kapal berhari-hari; ada yang bawa anak, ada yang menitipkan anak, melewati lautan hanya untuk Kongres. Awak aja permisi mau nonton konser pas zaman SMA mesti pakai tipu muslihat mengalahkan Abu Nawas. Mungkin saja ada para laki -laki (suami, ayah, abang)  yang berpikir sama dan mendukung, tetapi tak heran juga pasti banyak yang tidak setuju bahkan melarang. Namun itulah indahnya perjuangan. Buktinya, Kongres Perempuan ke-2 terselenggara pada tahun 1935. Di sana mereka semakin degil dengan membahas hak-hak buruh wanita yang diinjak-injak, terutama buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang. Yup, di tahun segitu, emak-emak kondean tadi memperjuangkan nasib buruh lho, gaes!

Presiden Sukarno akhirnya mengeluarkan Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, yang isinya menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan mesti dirayakan secara nasional; berlaku hingga saat ini. Hemm... Kalau dipikir-pikir sih harusnya menjadi Hari Perempuan ya. Karena tidak semua perempuan adalah "ibu". Bagaimana nasib perempuan yang belum menjadi "ibu"? Yang kepingin menjadi "ibu, tetapi tidak bisa menjadi "ibu" bagaimana? Perempuan yang peduli kepada sesama perempuan, tetapi memilih untuk tidak menjadi "ibu"? Apa sih maksud Bung Karno pada saat itu? Mungkin ada satu juta alasan yang hanya beliau yang tahu. Tapi, di sini bukan lembaga penelitian ala-ala atau investigasi amatir untuk mencari tahu (atau sok tahu) tentang alasan itu.

Yang mesti sama-sama kita pikirkan adalah bagaimana momentum tanggal 22 Desember ini sebagai pengingat bagi kita semua, bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki dan gender lainnya; mengingat bahwa perempuan bukan pelengkap, hiasan, warga kelas ke-sekian, yang terkadang levelnya dianggap berada di bawah manusia. Mulailah gelitik pikiran kita, ketika orang bilang perempuan otaknya lebih kecil dari laki-laki, tertawanya harus pakai tutup tangan, tidak boleh menantang mata lawan bicaranya, suara, paha, ketiak, dada, dan selangkangannya membawa bencana, penggoda Adam sehingga ia mau makan apel Surga. Mesti kali ya seperti itu? Marilah mulai mengernyitkan dahi ketika kaum perempuan dilarang bersuara lantang, keras dan berapi-api (apalagi awak yang berdarah Batak ini ya kan?), tertawa terbahak-bahak (ingat! Tertawa adalah terapi berobat paling gratis), membahas seks dengan teman perempuan bahkan teman laki-laki, duduk bersila atau angkat kaki. Itu semua soal-soal yang sudah tidak relevan, yang sudah ketinggalan zaman, yang berlaku hanya ketika Kartini masih dibego-begoin oleh adat feodal Jawa. Mulailah melawan dan berargumen ketika ada yang protes sewaktu seorang perempuan mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin, memilih untuk menikah atau tidak, menunda kehamilan atau tidak, ketika ada yang bersuit-suit (jenis apa pun!) di pinggir jalan, menyalahkan korban pelecehan atau pemerkosaan, atau sekadar lebih memilih celana ketimbang rok mekar polkadot.

Ingat-ingatlah gaes! Puluhan perempuan yang rela naik kapal berhari-hari dan kebingungan waktu tiba di tempat kongres, serta mencari alamat dengan tidak adanya google maps saja rela untuk memikirkan nasib kaumnya dan bersolidaritas setinggi-tingginya. Masak kita perempuan zaman now yang sudah bebas kuliah, nge-kos, pakai HP merek apa pun, jago browsing apa pun, travelling ke Sumba buat nyamain muka sama kuda di film Marlina, hanya bisa pasrah saja sih?

Ibu-ibu kebayaan dan harus berkain wiron yang hidup pada zaman ketika mencuci pakaian dan piring tak boleh dilakukan laki-laki saja berani menentukan nasibnya sendiri. Lah, masak kita para perempuan yang bebas pilih baju di olshop mana pun masih saja meledek, menghina, mencaci, mengucilkan, dan merundung para perempuan sebagai pelakor? (baca: Perebut Laki Orang: istilah ini dipopulerkan akun gosip sampah).

Semoga pada ngerti ya maksud Eda yang sederhana ini. Selamat Hari Ibu, para perempuan Indonesia! Iya, Eda memilih menyebutnya Hari Ibu saja. Kasihan juga Bung Karno di bawah kubur sana karena banyaknya antrian gugatan dan kritik atas dekrit atau keputusannya yang tak kunjung habis.

The last! Keluar atau tidaknya bayi dari rahimmu, semua kita adalah ibu. Ibu bagi kemanusiaan!

*ILustrasi oleh Leo Sihombing

2 thoughts on “KETIKA EMAK-EMAK MENGGUGAT NASIBNYA

Leave a Comment

Baca Juga