Degil Zine

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar kalau acara pentas seni yang mengundang Danilla Riyadi dan Star & Rabbit batal. Padahal beritanya telah santer menyebar di seantero anak-anak acara Kota Medan. Meski saya sendiri tidak berencana menonton penampilan kedua musisi tadi, tapi muncul pertanyaan di kepala saya sendiri. Kenapa batal? Mengingat acaranya akan dilangsungkan kurang lebih seminggu lagi. Setelah bertanya sana sini, walau belum valid, kesimpulan awal saya adalah masalah dana. Mengundang musisi yang punya nama dari Jawa tentu saja memerlukan ongkos yang tidak sedikit. Mengundang talent nasional, bukan hanya fee yang dibayar, tapi juga ongkos pesawat, penginapan, makan, dan tentu saja biaya kelakuan. Apalagi yang mengundang yayang Danilla dan Star & Rabbit adalah SMA dan Kampus; sebagai catatan, kedua musisi ini tampil dalam acara berbeda.

Permasalahan dana memang jadi momok bagi penyelenggaraan acara, tapi masalah yang lebih krusial lagi adalah: gengsi. Kebanyakan pensi di kota-kota besar di Indonesia masih beranggapan dengan mengundang band indie ternama asal Jawa adalah standar kerennya sebuah acara. Apalagi kalau dirasa pihak sekolah atau kampus lain juga mengadakan pensi dan mengundang “artis”. Atas nama indie dan kekinian, panitia mengharapkan penjualan tiket akan laku keras lalu bisa menutupi biaya acara. Masalahnya, band atau musisi indie yang diundang mampu membuat orang sudi membeli tiket jauh-jauh hari sebelum acara, tidak? Ditambah lagi, sponsor yang siap menggelontorkan dana besar dilarang oleh UU untuk tidak mensponsori acara di lingkungan pendidikan. Belum lagi di Medan, yang mana mayoritas penonton lebih senang masuk ke sebuah acara secara gratis. Bukan karena tidak mampu membeli tiket. Mungkin bagi mayoritas penonton ini dirasa kurang bermanfaat mengeluarkan uang untuk membeli tiket. Tak jarang sih, ketika saya mengadakan acara yang membutuhkan tiket masuk, rekan-rekan saya meminta gratisan. Saya juga sering begitu bila rekan-rekan saya membuat acara. Perlu diingat, merek-merek rokok banyak mengadakan acara yang mengundang artis-artis indie dan menggratiskan ongkos masuk ke acaranya. Mestinya hal ini jadi perhatian para panitia pensi.

Kenapa tidak para panitia pensi mengajak pihak EO untuk bekerja sama, baik soal sponsorship maupun penyelenggaraan acara. Event organizer punya jaringan yang  baik ke sponsor, dan punya sistem kerja yang baku dalam sebuah penyelanggaraan acara. Tapi ya, bisa saja para panitia pensi ini ingin melakukannya secara mandiri, karena menganggap menyelenggarakan acara ini mudah. Tinggal hubungi vendor, hubungi talent, promo serabutan dan jual tiket. Ditambah adanya anggapan kurang baik terhadap EO lokal.

Saya sering dapat cerita bagaimana paska penyelenggaraan pensi, para panitia berjibaku untuk menutupi defisit. Jual ini itu, gadai ini itu, agar defisit bisa diselesaikan. Pada akhirnya, kesenangan komunal panitia dalam menyelenggarakan acara sirna karena kewajiban menutup defisit. Apa dari awal tidak diperkirakan soal budget ini? Kenapa tujuan utama adalah mengundang artis, bukan konsep acara yang dimatangkan? Kenapa tidak memaksimalkan talent lokal sebagai jagoan utamanya saja? Kalau alasan mengundang talent dari Jawa adalah mendatangkan massa, mengapa masih jumpalitan menjual tiket? Apakah talent lokal tidak bisa mendatangkan massa? Ada segudang pertanyaan nyinyir saya sebenarnya, dan pasti anda yang senang datang ke acara juga mempertanyakan hal yang sama.

Membuat sebuah acara itu butuh passion, bukan cuma gengsi belaka. Perencanaan budget adalah faktor paling krusial dalam sebuah acara. Dengan modal sangat minim, bahkan tidak ada, bukan tidak mungkin sebuah acara berjalan baik. Vis versa, dengan dana berlimpah juga belum tentu sebuah acara berjalan baik. Batalnya penampilan yayang Danilla dan Star & Rabbit harusnya jadi pelajaran, bukan berarti pensi sejenis yang tidak batal juga tidak menyimpan masalah.

Akhirul kalam, jangan latah mengundang artis indie ternama dalam sebuah acara bila dirasa bingung bakal dapat budget dari mana. Matangkan konsep dan perkuat jaringan, bila dirasa dana tidak cukup maksimal, talent lokal sebagai jagoannya bisa jadi acuan. Kecuali kalau niat anda mengadakan sebuah acara adalah: GENGSI.

Leave a Comment

Baca Juga

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar kalau acara pentas seni yang mengundang Danilla Riyadi dan Star & Rabbit batal. Padahal beritanya telah santer menyebar di seantero anak-anak acara Kota Medan. Meski saya sendiri tidak berencana menonton penampilan kedua musisi tadi, tapi muncul pertanyaan di kepala saya sendiri. Kenapa batal? Mengingat acaranya akan dilangsungkan kurang lebih seminggu lagi. Setelah bertanya sana sini, walau belum valid, kesimpulan awal saya adalah masalah dana. Mengundang musisi yang punya nama dari Jawa tentu saja memerlukan ongkos yang tidak sedikit. Mengundang talent nasional, bukan hanya fee yang dibayar, tapi juga ongkos pesawat, penginapan, makan, dan tentu saja biaya kelakuan. Apalagi yang mengundang yayang Danilla dan Star & Rabbit adalah SMA dan Kampus; sebagai catatan, kedua musisi ini tampil dalam acara berbeda.

Permasalahan dana memang jadi momok bagi penyelenggaraan acara, tapi masalah yang lebih krusial lagi adalah: gengsi. Kebanyakan pensi di kota-kota besar di Indonesia masih beranggapan dengan mengundang band indie ternama asal Jawa adalah standar kerennya sebuah acara. Apalagi kalau dirasa pihak sekolah atau kampus lain juga mengadakan pensi dan mengundang “artis”. Atas nama indie dan kekinian, panitia mengharapkan penjualan tiket akan laku keras lalu bisa menutupi biaya acara. Masalahnya, band atau musisi indie yang diundang mampu membuat orang sudi membeli tiket jauh-jauh hari sebelum acara, tidak? Ditambah lagi, sponsor yang siap menggelontorkan dana besar dilarang oleh UU untuk tidak mensponsori acara di lingkungan pendidikan. Belum lagi di Medan, yang mana mayoritas penonton lebih senang masuk ke sebuah acara secara gratis. Bukan karena tidak mampu membeli tiket. Mungkin bagi mayoritas penonton ini dirasa kurang bermanfaat mengeluarkan uang untuk membeli tiket. Tak jarang sih, ketika saya mengadakan acara yang membutuhkan tiket masuk, rekan-rekan saya meminta gratisan. Saya juga sering begitu bila rekan-rekan saya membuat acara. Perlu diingat, merek-merek rokok banyak mengadakan acara yang mengundang artis-artis indie dan menggratiskan ongkos masuk ke acaranya. Mestinya hal ini jadi perhatian para panitia pensi.

Kenapa tidak para panitia pensi mengajak pihak EO untuk bekerja sama, baik soal sponsorship maupun penyelenggaraan acara. Event organizer punya jaringan yang  baik ke sponsor, dan punya sistem kerja yang baku dalam sebuah penyelanggaraan acara. Tapi ya, bisa saja para panitia pensi ini ingin melakukannya secara mandiri, karena menganggap menyelenggarakan acara ini mudah. Tinggal hubungi vendor, hubungi talent, promo serabutan dan jual tiket. Ditambah adanya anggapan kurang baik terhadap EO lokal.

Saya sering dapat cerita bagaimana paska penyelenggaraan pensi, para panitia berjibaku untuk menutupi defisit. Jual ini itu, gadai ini itu, agar defisit bisa diselesaikan. Pada akhirnya, kesenangan komunal panitia dalam menyelenggarakan acara sirna karena kewajiban menutup defisit. Apa dari awal tidak diperkirakan soal budget ini? Kenapa tujuan utama adalah mengundang artis, bukan konsep acara yang dimatangkan? Kenapa tidak memaksimalkan talent lokal sebagai jagoan utamanya saja? Kalau alasan mengundang talent dari Jawa adalah mendatangkan massa, mengapa masih jumpalitan menjual tiket? Apakah talent lokal tidak bisa mendatangkan massa? Ada segudang pertanyaan nyinyir saya sebenarnya, dan pasti anda yang senang datang ke acara juga mempertanyakan hal yang sama.

Membuat sebuah acara itu butuh passion, bukan cuma gengsi belaka. Perencanaan budget adalah faktor paling krusial dalam sebuah acara. Dengan modal sangat minim, bahkan tidak ada, bukan tidak mungkin sebuah acara berjalan baik. Vis versa, dengan dana berlimpah juga belum tentu sebuah acara berjalan baik. Batalnya penampilan yayang Danilla dan Star & Rabbit harusnya jadi pelajaran, bukan berarti pensi sejenis yang tidak batal juga tidak menyimpan masalah.

Akhirul kalam, jangan latah mengundang artis indie ternama dalam sebuah acara bila dirasa bingung bakal dapat budget dari mana. Matangkan konsep dan perkuat jaringan, bila dirasa dana tidak cukup maksimal, talent lokal sebagai jagoannya bisa jadi acuan. Kecuali kalau niat anda mengadakan sebuah acara adalah: GENGSI.

Leave a Comment

Baca Juga