Blade runner degil

BLADE RUNNER 2049: KETIKA YANG TERCIPTA MELAMPAUI SANG PENCIPTA

  • Sutradara: Denis Villeneuve
  • Pemain: Harrison Ford, Ryan Gosling, Ana de Armas, Dave Bautista, Jared Leto, Sylvia Hoeks, Robin Wright, David Dastmalchian, Tómas Lemarquis, Edward James Olmos, Lenni James, Carla Juri, Barkhad Abdi
  • Tanggal Rilis: 6 Oktober 2017 (US)

Blade Runner, yang disutradarai oleh Ridley Scott pada tahun 1982, merupakan karya epik fiksi ilmiah yang paling visioner dalam sepanjang sejarah perfilman. Bersama karya fiksi ilmiah dalam jajaran “cult classic” lainnya, seperti Le Voyage dans la Lune (A Trip to the Moon) (1902), Metropolis (1927), atau The War of the Worlds (1953), Blade Runner memberikan gambaran mengenai tantangan pemikiran dan imajinasi yang dihadapi oleh para sineas, di luar konteks realita pada zamannya. Obsesi manusia terhadap teknologi, yang nyatanya bahkan sedang terjadi, pada akhirnya menyebabkan kaburnya batas antara android sebagai A.I (Artificial Intelligence) dengan manusia sebagai entitas biologis, karena kemampuannya sebagai tiruan manusia dengan kecerdasan buatan, sudah bisa menyamai, bahkan melampaui manusia sendiri sebagai sang penciptanya. Blade Runner diadaptasi dari sebuah novel karya Philip K. Dick (bukan dick yang botak ya), dapat kita kenal lewat beberapa adaptasi karyanya di layar lebar, di antaranya adalah Total RecallMinority ReportA Scanner Darkly, dan juga mini seri Amazon, The Man on the High Castle. Dick mengeksplorasi tema filosofi, sosial, dan politik dalam seluruh karyanya. Alur ceritanya didominasi oleh korporasi yang memonopoli, pemerintahan yang otoriter, sampai keadaan manusia yang terganggu akibat dari kemajuan teknologi, di dalam dunia paralel alternatif mendekati dunia kita yang sekarang. Semuanya mencerminkan ketertarikan pribadinya terhadap metafisika dan teologi. Pengalamannya dalam menangani sifat realitas, identitas, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, skizofrenia, dan perubahan kesadaran manusia akibat pengalaman yang sulit untuk dipahami, dijadikan bahan pelajaran di dalam penulisan karya-karyanya. Penggambaran dan pandangannya terhadap manusia dan masa depan tersebut, lantas menarik perhatian Ridley Scott untuk mengadaptasi salah satu karyanya Do Androids Dream of Electric Sheep? (1968) menjadi film Blade Runner.

Cerita Blade Runner, yang dalam film dimulai 2 tahun ke depan dari sekarang (2019), menginspirasi Denis Villeneuve dengan tipikal “slow-burner detailed thrilling drama” yang khas (deskripsi saya secara pribadi untuk film-film besutan Dennis) untuk mengomandoi pembuatan sequel Blade Runner berjudul Blade Runner 2049, menjadikannya pemecah rekor sequel terlama, yaitu 35 tahun kemudian sejak film pertamanya dirilis. Denis di sini kelihatan sangat berhati-hati dalam merangkai cerita, membangun relevansi dengan prequel-nya kemudian memvisualisasikannya, melanjutkan cerita dari Blade Runner. Denis pun kembali mengangkat tema klasik tentang kemanusiaan, namun kali ini dengan cerita, sinematografi dan teknologi visualisasi CGI dan visual effects terkini yang jauh lebih mumpuni.

Blade Runner 2049 berdurasi cukup panjang, yaitu 2 jam 44 menit untuk sebuah film yang bagi sebagian besar penonton sangat membosankan, dan membuat lebih dari separuh isi ruang teater salah mengiranya sebagai film action. Sejujurnya bagi saya pribadi, dari awal saja langsung dapat merasakan bahwa Blade Runner 2049 justru merupakan film yang luar biasa. Dengan mengambil latar belakang sebuah dystopian future dalam dunia yang kental dengan nuansa cyberpunk, sepeti layaknya Ghost in the Shell, dan bertema detektif ala neo-noir (perlu kamu browsing jika ingin memahami pengertiannya), menciptakan sebuah universe tersendiri yang menarik. Yang membuatnya lebih menarik lagi, kali ini sang sutradara, Denis Villeneuve memilih untuk tidak lagi berfokus pada kisah tentang teknologi yang menyebabkan kekacauan di masa depan, namun lebih tergoda untuk mengupas apa yang terjadi di balik semua itu. Isu kelaparan dan kebocoran data pun diangkat. Dari situlah Dennis mulai memunculkan permasalahan utama yang ingin dijawab film ini. “More Human than human”, apakah ingatan dan memori yang membuat kita dipandang sebagai entitas manusia yang memiliki jiwa? yang membedakan kita dengan manusia buatan? Jika bukan, lantas apa yang membuatnya demikian?

Dari segi korelasinya dengan cerita sebelumnya, mungkin kamu yang tidak mengikuti film pertamanya akan cukup bingung, namun jalan ceritanya masih bisa kamu ikuti. Sebagai penolong, Denis Villeneuve dan Warner Bros Pictures merilis tiga film pendek ke Youtube: animasi yang berjudul Black Out 2022, dan dua film pendek live action pengantar lainnya, 2036: Nexus Dawn dan 2048: Nowhere to Run. Nah, buat kamu yang belum pernah menonton dan belum memahami universe Blade Runner, mungkin tiga film pendek ini membantu menjembatani cerita dan latar belakang dalam Blade Runner 2049.

Ber-setting di kota Los Angeles tahun 2049, 30 tahun setelah event di akhir film pertamanya, Tyrell Corporation, yang bangunannya sangat ikonik karena bentuknya yang mirip piramida suku-suku tua di Amerika Selatan, telah diambil alih oleh Niander Wallace (Jared Leto), seorang lelaki buta misterius penyelamat krisis pangan dunia dengan teknologi yang ditemukannya. Wallace membeli perusahaan tersebut dan mengganti namanya menjadi Wallace Corporation. Perusahaan ini kemudian memproduksi replicant (human-android) jenis Nexus 8, tipe replicant baru yang dianggap lebih bisa menuruti perintah manusia. Walaupun dibuat Niander dengan terobosan baru, pada kenyataannya masih banyak terdapat replicant yang memberontak.

Seperti Rick Deckard, pendahulunya di Blade Runner, Officer K (Ryan Gosling) merupakan polisi LAPD divisi khusus yang bertugas menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan replicant, dengan melakukan tes “voight-kampff” atau langsung “mempensiunkan” replicant yang dianggap sudah kadaluarsa. Polisi seperti ini disebut dengan istilah “Blade Runner“. Salah satu target Officer K di awal film adalah Sapper Morton (Dave Bautista), seorang peternak cacing (di masa depan, cacing adalah makanan pengganti sumber protein). Konfliknya dengan Morton ini kemudian diakhiri dengan sebuah penyelesaian yang cukup membuat shock, ketika K berada di lokasi pertemuan, berbicara dengan Morton, bertarung, berhasil manjatuhkannya, dan mengambil bola matanya sebagai bukti eksekusi. Adegan menarik ini tentunya penting untuk diperhatikan sebagai pembuka film. Sebelum kembali ke Markas LAPD untuk memberikan laporan, K menemukan sesuatu yang terkubur di bawah pohon dekat peternakan cacing Morton, sebuah “Peti”. Peti inilah yang kemudian menjadi penghubung cerita antara Blade Runner ke Blade Runner 2049. Akar permasalahan dimulai ketika LAPD berhasil membongkar peti tersebut dan menemukan kerangka manusia. K, atas perintah atasannya, Liutenant Joshi (Robin Wright), harus menyelidiki asal muasal kerangka tersebut dan diketahui identitasnya ternyata adalah Rachael (Sean Young), seorang/sebuah replicant ciptaan Doctor Eldon Tyrell. Penyebab kematian Rachael adalah operasi cesar selepas melahirkan. Ini memunculkan tanda tanya besar, bagaimana mungkin seorang/sebuah replicant yang merupakan android bisa melahirkan? Dr. Tyrell pernah mengatakan telah memberikan Rachael kemampuan untuk menciptakan kehidupan, dan Rachael meyakini bahwa dirinya adalah manusia, sebuah petunjuk penting yang membangun cerita Blade Runner 2049. Sejak penemuan tersebut, K mulai terganggu dengan memori masa lalu yang membuatnya gelisah, dari sinilah investigasinya dimulai.

Dari awal kisahnya, K tidak sendirian dalam memulai investigasi. Ia ditemani oleh kecerdasan buatan holografik bernama Joi (Ana de Armas). Pemahaman kita tentang dunia Blade Runner 2049 dan K, sebenarnya mulai terasa intens ketika kita kemudian melihat keseharian K. Di apartemen K, Joi sudah menunggunya pulang. Karakter Joi ini di kepala saya seperti perpaduan antara Siri-nya Apple, Alexa-nya Amazon dan karakter Samantha yang diperankan Scarlett Johansson dalam film Her. Saya jadi teringat dengan kalimat lucu, “Saya Merasakannya” Chuck Norris dalam sebuah iklan jadul alat pengecil perut. Kenyataan bahwa K merupakan seorang lelaki “tamvans” yang kesepian, dan Joi menjadi teman yang sangat dekat dengannya. Mereka memiliki hubungan yang unik, karena baik K dan Joi seperti memiliki ikatan romansa manusiawi yang cukup intim, yang merupakan salah satu poin penting untuk membuat Blade Runner 2049 menjadi semakin menarik. Keinginan Joi untuk menjadi entitas dengan realitas fisik menggunakan Mariette (Mackenzie Davis), replicant yang bekerja sebagai wanita panggilan demi mewujudkan kontak fisik dengan K, mungkin merupakan “WTF momen” bagi sebagian orang, namun bagi saya pribadi, memberikan pengalaman baru dalam batas- batas terliar imajinasi.

Plot cerita pun mulai bergerak cepat. Ingatan akan masa kecil Officer K mulai menghubungkannya dengan kebenaran mengenai anak biologis dari Deckard dan Rachael. K menginvestigasi lebih jauh lagi akan kebenaran yang semakin terkuak. Keraguannya akan kebenaran ingatannya sebagai memori buatan, serta keberadaan Deckard, yang kemudian mengarahkannya ke Wasteland bernuansa kekuningan, kota Las Vegas yang sudah ditinggalkan karena tingkat radiasinya yang tinggi, dan lagi-lagi harus berhadapan dengan anak buah Niander Wallace, Luv (Sylvia Hoeks). Semua menjadi lebih dilematis ketika K mengetahui bahwa ternyata bukan dirinya saja yang memiliki ingatan tentang mainan kuda kayu itu. Para pemberontak revolusi yang ingin merdeka juga punya ingatan yang sama. Mereka menunggu “Sang Anak” sebagai pemimpin dan penyelamat mereka, menuju era baru kaum replicant. Mengingatkan saya dengan konsep sang saviour-nya John Connor dalam Terminator, dan Dylan, bayi yang diselamatkan dalam Children of Men. Adegan pertemuan K dengan Ana Stelline merupakan puncak momen penting yang mengarahkan K untuk mempertemukan Deckard dengan anak biologisnya; kejadian berikutnya cukup memberikan jawdropping twist dan ending menggantung yang konklusif, yang saya sebagai penulis bisa pastikan untuk Blade Runner 2049, harus kalian tonton dan simpulkan sendiri.

Denis Villeneuve dan sinematografer Roger Deakins berkolaborasi untuk menciptakan pengalaman visual terkaya dalam beberapa tahun belakangan. Roger Deakins  secara luar biasa memberikan penonton sebuah karya seni sinematografi yang suram sekaligus indah dalam nuansa cyberpunk. Logo klasik console game Atari, setting kota Los Angeles yang kelam dan dipenuhi neon serta iklan holografik, semuanya sangat cocok dan saling melengkapi dengan cerita tech-noir yang ditonjolkannya. Tempat pembuangan sampah massal, Wasteland Las Vegas, sampai adegan aksi pertarungan K dengan Deckard ditampilkan dengan color palette yang berbeda-beda, menguatkan visualisasi mirip “karya lukisan” dalam setiap setting di dalam film. Teknik pengambilan kamera dengan long shot yang bergerak lambat juga sangat membantu menguatkan atmosfer suram nan artistik dalam setiap scene, didukung pula dengan visual effects dan CGI yang sangat memanjakan mata, maka jadilah visualisasi di Blade Runner 2049 saya kategorikan sebagai salah satu visualisasi paling indah yang pernah dibuat dalam film science fiction. Dan dalam hati saya berbisik, ini kandidat Oscar yang paling saya jagokan dalam kategori Best Cinematography.

Tak luput dari kekurangan, ada sedikit hal-hal negatif yang bisa disebutkan dalam Blade Runner 2049. Salah satunya adalah akting Jared Leto yang buat saya pribadi terasa seperti terlalu klise, atau memang seperti itulah karakter Niander Wallace sengaja dibuat, supaya terlihat lebih dingin dan kharismatik. Ekspresi Ryan Gosling juga kadang terlihat datar, namun anehnya sekaligus meyakinkan saya dari segi emosional; mungkin karena Ryan dituntut untuk berperan sebagai karakter yang serius, cukup kontras jika dibandingkan dengan perannya di dalam film La La Land. Beberapa karakter juga hanya terasa seperti pelengkap untuk membangun esensi film, seperti Edward James Olmos sebagai Gaff dari Blade Runner original, atau Barkhad Abdi yang kita kenal lewat Muse-nya Captain Phillips sebagai Doc Badger. Di luar itu, Harrison Ford yang tak dapat dipungkiri sudah kelihatan sangat tua, berhasil meng-capture kembali aura sinis dan skeptis yang dimunculkannya 35 tahun yang lalu, bahkan melontarkan joke kurang ajar mirip joke-nya Han Solo pada salah satu adegannya. Penggambaran alur cerita berhasil dipaparkan secara visual maupun “dialogue-driven”. Semuanya ditampilkan dengan penuh filosofi humanisme yang dikemas Denis dengan sangat baik. Dialog dari beberapa karakter seperti Joi, Niander dan karakter lainnya beberapa kali cukup membuat saya merinding. Ada sebuah adegan di mana K masuk ke sebuah gudang besar yang merupakan tempat pengumpulan sisa-sisa perangkat bekas. Di sana anak-anak yatim dipekerjakan, lagi-lagi mengingatkan saya, kali ini dengan karyanya Charles Dickens.

Blade runner di sequel 30 tahun kemudian ini berakhir dengan meninggalkan beberapa pertanyaan dan pesan moral yang hampir sama seperti pendahulunya. Yang pertama adalah, sejauh mana sebuah atau seorang manusia buatan dapat menjadi entitas “more human than human“, yang secara emosional dapat melebihi manusia sebagai penciptanya. Jika memang sudah sangat jauh, lantas apa kemudian yang membedakannya dengan eksistensi kita sebagai manusia yang memiliki jiwa? Yang kedua adalah ambiguitas logika, bagaimana mungkin replicant mampu mencapai tahap evolusi menyamai makhluk biologis? hal ini sudah jauh melenceng dari persepsi bahwa android yang terdiri dari perangkat sintetik menirukan wujud manusia, tidak mungkin memiliki kemampuan untuk bereproduksi. Dan pertanyaan yang terakhir, apakah Deckard merupakan seorang manusia, ataukah Deckard ternyata juga merupakan seorang/sebuah replicant? Perrtanyaan sakral fans Blade Runner sejak 35 tahun yang lalu tersebut kembali terbesit di kepala saya pada akhir film.

Akhirnya, kesimpulan yang dapat saya tarik adalah: Dennis Villeneuve sekali lagi berhasil meraih sukses, kali ini dengan materi dasar yang sudah pernah dibuat. Melanjutkan dan menghidupkan kembali salah satu karya fiksi ilmiah yang paling banyak diperdebatkan sepanjang masa bukan suatu perkara mudah, sebab menanggung beban resiko menuai kontra dari para fansnya. J.J. Abrams dengan The Force Awakens contohnya, menurut saya gagal menciptakan cerita kelanjutan franchise Star Wars-nya George Lucas. Di sini, Denis sebagai sutradara kelihatan dengan penuh percaya diri meramu kembali esensi yang telah diberikan Ridley Scott, merangkai kelanjutan sebuah cerita epik, mengemasnya dengan baik, dan memvisualisasikannya dengan gayanya sendiri. Blade Runner 2049 tanpa keraguan merupakan sebuah masterpiece fiksi ilmiah masa kini. Bersama Interstellar-nya Christopher Nolan, jika dapat kita lihat dengan mesin waktu jauh ke masa depan, bakal dengan mudah diklasifikasikan para penikmat sinema layar hologram dalam koleksi criterion micro- fluorescent disc-nya sebagai all time cult-classics.

Rating:  9

Share this post

Recent post