Degil Zine

Pada awalnya adalah Bung Karno, yang merasa bahwa kebudayaan asli Indonesia sedang terancam, salah satunya adalah di bidang musik. Oleh sebab itulah ia memerintahkan pada musisi-musisi muda (pada saat itu) seperti: Bing Slamet, Jack Lesmana, Idris Sardi, atas bimbingan Njoto (Wakil Ketua II PKI yang memiliki studio musik pribadi di rumahnya), untuk menggali musik asli Indonesia sebagai counter bagi musik-musik dari Barat.

Agustus 1958, Bung Karno membubarkan parlemen yang terpilih secara demokratis dan membentuk pemerintahan gaya baru yang ia sebut sebagai Demokrasi Terpimpin. Salah satu poin dari manifesto politik yang ia semburkan adalah: melindungi kebudayaan Indonesia dari pengaruh budaya Barat. Bukannya tanpa alasan. Sejak pertengahan tahun ’50-an, musisi-musisi Barat, terutama yang bernapaskan rock n roll, seperti Elvis Presley, Bill Halley and His Commets, Cliff Richard and The Shadows, atau Buddy Holly, begitu digandrungi anak-anak muda se-Indonesia Raya, Jakarta khususnya. Penyebaran musik rock n roll semakin masif setelah para musisi, dari yang amatir sampai yang profesional, ikut-ikutan memainkannya pula. Maka dimulailah rangkaian pesta gila-gilaan di setiap tempat dan di setiap waktu (semacam gigs di zaman sekarang). Kepopuleran dansa gaya jitterburg dan sock-hops dari Amerika membuat tari-tarian nasional semacam tari serimpi terkesan norak dan kampungan. Penjualan alkohol, baik yang legal maupun yang ilegal meningkat secara drastis. Wajar saja jika remaja-remaja Jakarta menjadi liar seperti Tarzan masuk kota. Bung Karno melihat betapa mental dan moral para pemuda telah jatuh ke dalam got, sedangkan saat itu ia membutuhkan mereka untuk mendukung "jalannya revolusi" (katanya sih begitu). Dan ia yakin, biang keroknya adalah musik rock n roll (ternyata saat itu rock n roll juga sedang di-banned di Amerika, karena pada tahun 1954, Mahkamah Agung Amerika menolak doktrin Separate But Equal, di mana rock n roll termasuk di dalamnya).

Anak-anak muda Amerika yang sedang berdansa Jitterburg. Tampak yang perempuan diputar-putar seperti baling-baling bambu. Foto: Istimewa

Dua bulan kemudian Bung Karno memerintahkan agar RRI (Radio Republik Indonesia) tidak lagi memutarkan lagu-lagu Barat, khususnya rock n roll. Namun kemudian, bahkan cha-cha, tango, hingga mambo pun mesti ikut mampus. Sebagai gantinya, ia menganjurkan agar para musisi mulai menyanyikan dan merekam lagu-lagu tradisional. Anjuran itu segera dilaksanakan. Para musisi lantas merekam lagu-lagu tradisional, namun (begonya) dengan gaya rock n roll; mungkin maksudnya ingin nge-mix kebudayaan kali, ya? Lilis Suryani misalnya, doi selow saja waktu menyanyikan Seringgit Dua Kupang dalam beat rock n roll plus gitar yang meraung-raung ala blues, atau band Zaenal Combo yang mengobrak-abrik lagu Bengawan Solo, yang aslinya begitu syahdu menjadi cepat dan menghentak-hentak. Saya bisa membayangkan ekspresi wajah Bung Karno melihat kedegilan para musisi-musisi muda tersebut. Tapi mau apa lagi? Masak iya, mereka semua harus dipenjara gara-gara salah kaprah doang?

Mau tak mau Bung Karno harus menciptakan budaya tandingan. Hanya itu jalan satu-satunya. Idris Sardi (bapaknya Lukman Sardi), Jack Lemmers (kelak menjadi Jack Lesmana, bapaknya Indra Lesmana), dan Bing Slamet (bapaknya Adi bin Slamet dong) dipanggil menghadap ke Istana Bogor. Pokoknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, you-you semua harus bisa menciptakan suatu genre (waktu itu nyebutnya sih "irama") musik yang menggambarkan kepribadian nasional, dus semacam musik yang bisa digunakan para pemuda untuk ajojing. Mungkin itu yang dikatakan Bung Karno pada trio di atas. Gali dan galilah sampai ke seluruh Indonesia. Mereka bertiga kabarnya sering nongkrong di studio mini milik Njoto. Dan akhirnya di sanalah diputuskan, Irama Lenso adalah genre musik yang paling sesuai bagi bangsa Indonesia. Apa pula itu Irama Lenso?

Lenso, dalam bahasa Maluku berarti sapu tangan. Setelah mendengarkan seluruh lagu dalam album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso (1965), saya menyimpulkan bahwa:

  1. Irama lenso adalah genre musik dengan tempo medium.
  2. Gendang tifa khas Maluku digunakan sebagai pengganti drum (meskipun ketika live, band ABS (Asal Bapak Senang)[i] masih memerlukan jasa seorang drumer).
  3. Lead gitar memakai lick-lick jazz meskipun chord ryhtem yang digunakan normal-normal saja.
  4. Jika kita wajib moshing saat menyaksikan band metal secara live, maka dalam menyaksikan Irama Lenso kita wajib menari dengan gerakan gemulai, sesekali berjongkok-jongkok seraya mengibas-ngibaskan sapu tangan (tarian lenso).
  5. Lirik lagu dalam Irama Lenso mesti menggunakan bahasa daerah, minimal bahasa Indonesia dan mengandung optimisme pada kebudayaan nasional.

Kesimpulannya, Irama Lenso sangat berseberangan dengan rock n roll. Sangat kontradiktif. Analoginya, jika rock n roll adalah Ahok, maka Irama Lenso adalah Anies Baswedan.

Album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso (1965) dalam rupa cakram. Foto: Koleksi pribadi Galeri Om - blogger

Seperti yang saya katakan di atas. Proyek Irama Lenso akhirnya terwujud dalam sebuah album piringan hitam, dan resmi rilis pada 14 April 1965. Seluruh radio se-Indonesia Raya wajib memutarkan lagu-lagu di dalam album tersebut setiap hari. Wajah industri musik Indonesia mulai berubah, diikuti dengan lahirnya band The Lensoist yang sempat tour keliling Eropa dan Amerika; lagu Genjer-Genjer ciptaan M. Arief yang kepopulerannya hanya dapat dikalahkan oleh lagu Indonesia Raya, serta Koes Bersaudara yang akhirnya dijebloskan ke penjara karena ngga kunjung tobat meng-cover lagu-lagunya The Beatles.

Namun sayang, hegemoni Irama Lenso hanya berlangsung seumur jagung; ia meluncur deras ke dalam lubang hitam sejarah setelah meletusnya aksi G30S. Selanjutnya de-Seokarnoisasi digalakkan oleh Angkatan Darat atas dukungan dari Amerika, di mana apa pun yang berhubungan dengan Bung Karno mesti dihapuskan dalam ingatan generasi selanjutnya, yang berarti termasuk pula Irama Lenso. Meskipun tidak ada hukum tertulis, lagu-lagu Irama Lenso seperti, Genjer-Genjer, Oentoek Jang Moelja Padoeka, Mari Berlenso, hingga Mari Bersuka Ria: Anti Nekolim (yang konon diciptakan oleh Bung Karno) masuk ke dalam daftar lagu yang tak boleh lagi diperdengarkan. Tak ada lawan, Koes Plus kembali memopulerkan rock n roll ke tengah-tengah masyarakat, diikuti oleh band-band lainnya. Habis sudah. Mati sudah cita-cita Bung Karno untuk menciptakan genre musik khas Indonesia yang mestinya hari ini bisa diakui oleh dunia.

Sinar Syamsi, menunjukkan foto ayahnya, Muhammad Arif dan naskah asli lagu Genjer-Genjer. Paska G30S, sang ayah hilang, dan jenazahnya tak diketemukan hingga sekarang. Foto: Tempo

Tahun berganti. Jenderal Soeharto tumbang. Nama baik Soekarno (katanya) dipulihkan. Namun tak ada satu pun musisi kita yang tampaknya berniat untuk mengembalikan nama baik serta semangat dari Irama Lenso (terkadang saya membayangkan kalau anak-anak hits ngedugem dengan iringan Irama Lenso). Yah, saya sih maklum. Musuh Irama Lenso nomor satu, rock n roll, kembali berjaya dan sangat digemari di masa sekarang. So, mana mungkin ada dua raja di dalam satu kerajaan, tho? Atau apa mungkin Irama Lenso memang norak dan sama sekali tidak menarik bagi generasi sekarang? Coba kalian jawab dalam hati saja.

[i] ABS adalah band pengiring Istana yang isinya adalah prajurit-prajurit Tjakrabirawa.

*Illustrasi cover oleh Aga Depresi

Leave a Comment

Baca Juga

Pada awalnya adalah Bung Karno, yang merasa bahwa kebudayaan asli Indonesia sedang terancam, salah satunya adalah di bidang musik. Oleh sebab itulah ia memerintahkan pada musisi-musisi muda (pada saat itu) seperti: Bing Slamet, Jack Lesmana, Idris Sardi, atas bimbingan Njoto (Wakil Ketua II PKI yang memiliki studio musik pribadi di rumahnya), untuk menggali musik asli Indonesia sebagai counter bagi musik-musik dari Barat.

Agustus 1958, Bung Karno membubarkan parlemen yang terpilih secara demokratis dan membentuk pemerintahan gaya baru yang ia sebut sebagai Demokrasi Terpimpin. Salah satu poin dari manifesto politik yang ia semburkan adalah: melindungi kebudayaan Indonesia dari pengaruh budaya Barat. Bukannya tanpa alasan. Sejak pertengahan tahun ’50-an, musisi-musisi Barat, terutama yang bernapaskan rock n roll, seperti Elvis Presley, Bill Halley and His Commets, Cliff Richard and The Shadows, atau Buddy Holly, begitu digandrungi anak-anak muda se-Indonesia Raya, Jakarta khususnya. Penyebaran musik rock n roll semakin masif setelah para musisi, dari yang amatir sampai yang profesional, ikut-ikutan memainkannya pula. Maka dimulailah rangkaian pesta gila-gilaan di setiap tempat dan di setiap waktu (semacam gigs di zaman sekarang). Kepopuleran dansa gaya jitterburg dan sock-hops dari Amerika membuat tari-tarian nasional semacam tari serimpi terkesan norak dan kampungan. Penjualan alkohol, baik yang legal maupun yang ilegal meningkat secara drastis. Wajar saja jika remaja-remaja Jakarta menjadi liar seperti Tarzan masuk kota. Bung Karno melihat betapa mental dan moral para pemuda telah jatuh ke dalam got, sedangkan saat itu ia membutuhkan mereka untuk mendukung "jalannya revolusi" (katanya sih begitu). Dan ia yakin, biang keroknya adalah musik rock n roll (ternyata saat itu rock n roll juga sedang di-banned di Amerika, karena pada tahun 1954, Mahkamah Agung Amerika menolak doktrin Separate But Equal, di mana rock n roll termasuk di dalamnya).

Anak-anak muda Amerika yang sedang berdansa Jitterburg. Tampak yang perempuan diputar-putar seperti baling-baling bambu. Foto: Istimewa

Dua bulan kemudian Bung Karno memerintahkan agar RRI (Radio Republik Indonesia) tidak lagi memutarkan lagu-lagu Barat, khususnya rock n roll. Namun kemudian, bahkan cha-cha, tango, hingga mambo pun mesti ikut mampus. Sebagai gantinya, ia menganjurkan agar para musisi mulai menyanyikan dan merekam lagu-lagu tradisional. Anjuran itu segera dilaksanakan. Para musisi lantas merekam lagu-lagu tradisional, namun (begonya) dengan gaya rock n roll; mungkin maksudnya ingin nge-mix kebudayaan kali, ya? Lilis Suryani misalnya, doi selow saja waktu menyanyikan Seringgit Dua Kupang dalam beat rock n roll plus gitar yang meraung-raung ala blues, atau band Zaenal Combo yang mengobrak-abrik lagu Bengawan Solo, yang aslinya begitu syahdu menjadi cepat dan menghentak-hentak. Saya bisa membayangkan ekspresi wajah Bung Karno melihat kedegilan para musisi-musisi muda tersebut. Tapi mau apa lagi? Masak iya, mereka semua harus dipenjara gara-gara salah kaprah doang?

Mau tak mau Bung Karno harus menciptakan budaya tandingan. Hanya itu jalan satu-satunya. Idris Sardi (bapaknya Lukman Sardi), Jack Lemmers (kelak menjadi Jack Lesmana, bapaknya Indra Lesmana), dan Bing Slamet (bapaknya Adi bin Slamet dong) dipanggil menghadap ke Istana Bogor. Pokoknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, you-you semua harus bisa menciptakan suatu genre (waktu itu nyebutnya sih "irama") musik yang menggambarkan kepribadian nasional, dus semacam musik yang bisa digunakan para pemuda untuk ajojing. Mungkin itu yang dikatakan Bung Karno pada trio di atas. Gali dan galilah sampai ke seluruh Indonesia. Mereka bertiga kabarnya sering nongkrong di studio mini milik Njoto. Dan akhirnya di sanalah diputuskan, Irama Lenso adalah genre musik yang paling sesuai bagi bangsa Indonesia. Apa pula itu Irama Lenso?

Lenso, dalam bahasa Maluku berarti sapu tangan. Setelah mendengarkan seluruh lagu dalam album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso (1965), saya menyimpulkan bahwa:

  1. Irama lenso adalah genre musik dengan tempo medium.
  2. Gendang tifa khas Maluku digunakan sebagai pengganti drum (meskipun ketika live, band ABS (Asal Bapak Senang)[i] masih memerlukan jasa seorang drumer).
  3. Lead gitar memakai lick-lick jazz meskipun chord ryhtem yang digunakan normal-normal saja.
  4. Jika kita wajib moshing saat menyaksikan band metal secara live, maka dalam menyaksikan Irama Lenso kita wajib menari dengan gerakan gemulai, sesekali berjongkok-jongkok seraya mengibas-ngibaskan sapu tangan (tarian lenso).
  5. Lirik lagu dalam Irama Lenso mesti menggunakan bahasa daerah, minimal bahasa Indonesia dan mengandung optimisme pada kebudayaan nasional.

Kesimpulannya, Irama Lenso sangat berseberangan dengan rock n roll. Sangat kontradiktif. Analoginya, jika rock n roll adalah Ahok, maka Irama Lenso adalah Anies Baswedan.

Album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso (1965) dalam rupa cakram. Foto: Koleksi pribadi Galeri Om - blogger

Seperti yang saya katakan di atas. Proyek Irama Lenso akhirnya terwujud dalam sebuah album piringan hitam, dan resmi rilis pada 14 April 1965. Seluruh radio se-Indonesia Raya wajib memutarkan lagu-lagu di dalam album tersebut setiap hari. Wajah industri musik Indonesia mulai berubah, diikuti dengan lahirnya band The Lensoist yang sempat tour keliling Eropa dan Amerika; lagu Genjer-Genjer ciptaan M. Arief yang kepopulerannya hanya dapat dikalahkan oleh lagu Indonesia Raya, serta Koes Bersaudara yang akhirnya dijebloskan ke penjara karena ngga kunjung tobat meng-cover lagu-lagunya The Beatles.

Namun sayang, hegemoni Irama Lenso hanya berlangsung seumur jagung; ia meluncur deras ke dalam lubang hitam sejarah setelah meletusnya aksi G30S. Selanjutnya de-Seokarnoisasi digalakkan oleh Angkatan Darat atas dukungan dari Amerika, di mana apa pun yang berhubungan dengan Bung Karno mesti dihapuskan dalam ingatan generasi selanjutnya, yang berarti termasuk pula Irama Lenso. Meskipun tidak ada hukum tertulis, lagu-lagu Irama Lenso seperti, Genjer-Genjer, Oentoek Jang Moelja Padoeka, Mari Berlenso, hingga Mari Bersuka Ria: Anti Nekolim (yang konon diciptakan oleh Bung Karno) masuk ke dalam daftar lagu yang tak boleh lagi diperdengarkan. Tak ada lawan, Koes Plus kembali memopulerkan rock n roll ke tengah-tengah masyarakat, diikuti oleh band-band lainnya. Habis sudah. Mati sudah cita-cita Bung Karno untuk menciptakan genre musik khas Indonesia yang mestinya hari ini bisa diakui oleh dunia.

Sinar Syamsi, menunjukkan foto ayahnya, Muhammad Arif dan naskah asli lagu Genjer-Genjer. Paska G30S, sang ayah hilang, dan jenazahnya tak diketemukan hingga sekarang. Foto: Tempo

Tahun berganti. Jenderal Soeharto tumbang. Nama baik Soekarno (katanya) dipulihkan. Namun tak ada satu pun musisi kita yang tampaknya berniat untuk mengembalikan nama baik serta semangat dari Irama Lenso (terkadang saya membayangkan kalau anak-anak hits ngedugem dengan iringan Irama Lenso). Yah, saya sih maklum. Musuh Irama Lenso nomor satu, rock n roll, kembali berjaya dan sangat digemari di masa sekarang. So, mana mungkin ada dua raja di dalam satu kerajaan, tho? Atau apa mungkin Irama Lenso memang norak dan sama sekali tidak menarik bagi generasi sekarang? Coba kalian jawab dalam hati saja.

[i] ABS adalah band pengiring Istana yang isinya adalah prajurit-prajurit Tjakrabirawa.

*Illustrasi cover oleh Aga Depresi

Leave a Comment

Baca Juga