MUSISI BUNUH DIRI? PILIHAN TEPAT! degilzine.com

MUSISI BUNUH DIRI? PILIHAN TEPAT!

Tragis, jika saya harus mengurutkan berapa banyak musisi yang mengakhiri karirnya dengan bunuh diri. Pernah tidak terbesut pertanyaan pada diri kita semua, kenapa mereka bunuh diri? Mulai dari Kurt Cobain hingga Chester Linkin Park? Coba kita tarik benang merah dari semua alasan mereka. Tak sedikit yang bilang bahwa depresi adalah penyebab utama. Depresi karena apa? Rockstar, punya banyak uang, tour ke mana-mana, hidup dari apa yang kita suka, dan yang paling yahud, punya banyak fans hingga grupis wanita yang cantik-cantik atau tampan. Life is sweet but they decide to kill themselve? Kenapa?

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang melihat sebuah forum musik di salah satu fitur chat di HP. Saya suka sekali mengikuti gerak-gerik mereka. Saling sharing, membagikan playlist terbaik mereka dan berbagai hal positif yang saya temukan dalam fungsi sebuah komunitas. Tapi di saat detik perdebatan dimulai, rasa jengkel dan marah merasuk, mengambil-alih seluruh nilai positif. Seperti ditampar keangkuhan, saat sebuah akun dengan panjang lebar menjelaskan arti “indie” atau “genre” musik yang dia ambil dari Wikipedia seperti semua isi forum adalah poser. Ditimpali dengan berbagai macam komen keras dengan template band andalan lalu menjelaskan kenapa mereka “indie”. Ego jenis apa ini?

Saya menghubungkan dengan bahasan rekan satu label yang lebih tua 20 tahun dari saya tentang kemajuan teknologi membuat informasi menjadi mudah sekali didapat. Bagaimana tidak, kita bisa tahu sebuah band dengan genre lapis legit (contoh: british melodic punk ambience) hanya dengan sekali klik. Teman saya bilang, di era sebelum wabah internet melanda, sumber informasi musik hanya bisa didapatkan dari rilisan zine luar yang dibeli oleh teman yang cukup tajir untuk pulang-pergi keluar negri, atau kumpulan kaset bootleg dari Cina yang ada di pelabuhan dan dijual gelap. Informasi tentang musik bisa hype di Indonesia walau di negara asalnya sudah sekitar 4-5 tahun yang lalu. Mendapatkan zine, kompilasi, album bootleg adalah petualangan artefak ala Indiana Jones. Saat sudah kau dapat, kan kau bawa untuk didiskusikan bersama teman-teman di mana pun kita nongkrong; sampai lecek dan rusak. Kira-kira seperti itu bahasannya.

Kembali ke cerita hari ini. Saya akui, kecepatan mendapatkan informasi memang sangat menguntungkan, dan bagi saya pribadi,  kecepatan ini adalah penemuan dari para ilmuan yang paling berpengaruh bagi saya. Tapi, memang dasarnya manusia butuh eksistensi (input nama filsuf yang anda ketahui), kita memang butuh center of attention. Kecepatan informasi menjadikan kita bersaing untuk menemukan informasi, dalam hal ini musik. Siapa yang paling duluan tahu band indie dari Etiophia, maka dia adalah the real deal. Atau siapa yang bisa menjelaskan sejarah roots musik secara gamblang, pastilah masukkan nama kritikus musik atau jurnalis musik kesukaan kalian. Nilai informasi sudah berubah menjadi mencari pengakuan.

Jika sifat ini dihubungkan dengan depresi, apa hasilnya? Menyakitkan hati dan pikiran. Saya tidak peduli labeling terhadap sebuah genre musik. Tetapi, semakin ke sini saya semakin mengerti kenapa banyak musisi yang bunuh diri karena fans mereka. Iya, mereka mati gara-gara kamu!

Mungkin di antara pembaca Degil ada yang tahu siapa JOJI. Seorang musisi yang besar dari Youtube dengan sisi lainnya Filthy-Frank (dia yang mem-viral-kan budaya Harlem Shake di 2012). Sebagai akun yang mendeskripsikan dirinya sebagai dark comedian, Joji juga seorang musisi yang bagi saya sangat istimewa. Memulai lofi hip hop sebelum trend lofi menjamur di telinga penikmat musik. Saya ingat pernah menonton sebuah video di mana ia merekam dirinya sendiri sebagai Joji, dan bagaimana respon para fansnya? Kalau kata mbak Dian Sastro, “yang kamu lakukan itu, Jahat.” Berbagai bentuk protes, semua menginginkan Filthy-Frank yang dark, bukan Joji sebagai dirinya sendiri. Dia tak punya tempat di sisi fansnya sebagai dirinya sendiri. Dan apa yang ia rasakan? Depresi. Walau akhirnya dia besar menjadi dirinya sendiri setelah diangkat oleh 88-Rising, sebuah kolektif edgy yang digandrungi anak muda (label yang membesarkan nama Rich Chigga).

Setelah besar dan hebat, bagaimana respon fans pada Joji? Malah lebih absurd. Dengan kesuksesan dia yang saya lihat, semua orang beranggapan bahwa dia adalah sell-out, mereka merindukan sosok Joji yang independen dan tidak banyak yang tahu. Kalian maunya apa sih, halah k***! Fans menginginkan sosoknya yang hanya di bawah tanah, agar mereka bisa beranggapan bahwa mereka fansnya sejak dari 0. Kalian akan banyak menemukan perdebatan ngehe seperti ini di Youtube sebagi jenis perdebatan “i knew him before he’s famous.”

Jenis apresiasi sekarang dengan kemudahan informasi telah menciptakan budaya paling kanker. Di mana semua orang merasa lebih tahu bahkan terhadap musisinya sendiri. Semua pergerakan artis serba salah jika miring dari roots yang mereka ketahui. Fans adalah momok terbesar sekarang bagi musisi. Saat mereka berkarya untuk diapresiasi, sekarang fans akan mengarahkan mereka, para musisi, untuk menyenangkan hati 1/100 orang saja. Jika tidak, maka ribuan hate comments akan menghantui. Musisi bukan hobi yang menarik lagi, melainkan pekerjaan untuk menyenangkan ego orang lain yang disebut fans.

Saya takut ini akan terus berkelanjutan. Tapi saya juga tidak boleh naif menanggapi hal ini.  Eksistensi seseorang sebagai penikmat musik menjadikan siapa pun berkesempatan untuk menjadi elitis (jangan kita mulai pembicaraan tentang mereka yang so called pembeli rilisan vinyl, bisa emosi juga). Rasa kasihan terhadap para musisi yang harus menjilat para fansnya untuk makan dan bayar cicilan rumah. Saya sangat apresiasi mereka yang memahami musik dan memahami musisi sebagai manusia. Tapi untukmu wahai yang tahu segalanya, jika aku musisi dan punya fans sepertimu, lebih baik kumati bunuh diri saja.

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

Share this post

Recent post