Sinetron bajingan

TANGGUNG JAWAB SINETRON: GENERASI BAJINGAN

Sinetron, pasti adalah frase yang tidak asing lagi di telinga kita semua. Mungkin bagi beberapa orang; mereka akan senyum-senyum, loncat-loncat kegirangan, muntah kesenangan, bahkan mungkin pula ada yang kejang-kejang sampai mulutnya berbusa ketika membicarakan satu judul sinetron; bahkan banyak pula yang akan dengan bangga menyebutkan nama pemeran favoritnya yang bisa berubah jadi harimau, vampir, serigala, biawak, cicak, kodok bancet atau bangke tikus. Rasanya itu adalah beberapa reaksi lumrah ketika ditanyai soal sinetron Indonesia sepuluh tahun terakhir ini.

Dalam kurun sepuluh tahun terakhir pula rasanya memang tidak ada sinetron dengan cerita yang revolusioner. Hampir semua sinetron di berbagai stasiun televisi Indonesia punya ciri khas yang sama, yaitu membahas tentang percintaan. Tak ada sinetron yang membahas usaha mati-matian seseorang untuk menjadi sukses atau membahas perjuangan seorang pahlawan, atau minimal menciptakan karakter orisinil dengan karakteristik ke-Indonesiaannya. Plot cerita yang disuguhkan tidak jauh dari cinta utopis orang kaya sukses dengan orang miskin desa yang logatnya jelas sekali dibuat-buat. Sebelum kisah-kisah seperti ini populer, tentu kita ingat degan tema azab dan ruqiyah, yang dipopulerkan oleh stasiun televisi bekas milik anak seorang diktator terkemuka Indonesia, dan sekarang tema serupa yang tersisa mungkin tinggal reality show yang hobinya mewawancarai dan kenalan dengan hantu, begu, siluman dan mahkluk halus kasar lainnya yang merasuki orang-orang bayaran (mungkin Tinder perlu mengakomodir keinginan semacam ini).

Kembali ke kisah cinta utopis si kaya dan si miskin, mungkin ini adalah cerita yang dianggap paling aman dan bisa meraup untung sebesar-besarnya. Sinetron ini biasanya diputar pada saat jam utama, yaitu jam 5 hingga 10 malam. Pada jam ini, iklan pun akan semakin bertabur dan pundi-pundi rupiah pun akan semakin banyak diraih lewat rating yang melambung. Tapi mari kita melancong ke dunia targeting sinetron-sinetron semacam ini. Targeting sinetron semacam ini biasanya adalah orang-orang dengan karakter ekonomi lemah karena memang pada jam-jam itu mereka sudah selesai beraktivitas dan beristirahat dengan menonton. Masyarakat ekonomi lemah biasanya berbanding lurus dengan pendidikannya, terutama masyarakat desa. Maka sinetron semacam itu dengan mudah terpenetrasi ke dalam benak mereka karena ada kesamaan profil dengan karakter dalam cerita di sinetron tersebut.

Entahlah disadari dan tidak dipedulikan, atau memang malah dengan sengaja, tapi sinetron-sinetron semacam ini jelas-jelas mendegradasi pemikiran orang Indonesia. Sinetron-sinetron ini secara aktif melemahkan mental masyarakatnya. Karakter yang digambarkan tidak sesuai sama sekali dengan karakter masyarakat yang ada di Indonesia. Mari kita lihat sinetron teranyar, Ganteng-Ganteng Serigala, sinetron ini imitasi dari serial Teen Wolf, plot cerita dan gaya yang sama persis. Dalam ceritanya ditunjukkan anak-anak remaja yang sering sekali menggunakan seragam sekolah dengan setting cerita di sekolah namun selalu memperbincangkan pertarungan, permusuhan, dendam, perebutan wanita dan harta. Anak sekolah kok cuman berebut perempuan? Belajar dong om, buat PR, tapi rasanya scene belajar tak pernah ada, ada pun biasanya dipotong oleh monolog merindukan pacar “Eh aku kok mikirin dia ya?” Hal ini yang meracuni mental kebanyakan pelajar dengan latar belakang ekonomi lemah. Mereka melihat sosok kaya dengan wajah ganteng dan cantik campuran bibit unggul melakukan pembicaraan tolol di lingkungan sekolah dengan kendaraan mewah. Penonton selalu ingin mengejar hal tersebut dan memasukkan impuls yang salah bahwa di sekolah tidak untuk belajar tapi membicarakan hal tolol dan utopis seperti tokoh-tokoh di sinetron semacam Anak Langit pula. Pertanyaannya, apa pentingnya cerita yang demikian? Apa nikmatnya menonton orang berebut harta? Emangnya kita akan kecipratan hartanya?

Mungkin beberapa kalangan merindukan sintron unggulan televisi, seperti Keluarga Cemara ataupun Si Doel Anak Betawi, yang ceritanya jauh lebih relevan dengan keadaan dan kebutuhan Masyarakat Indonesia. Alkisah hiduplah keluarga sederhana dengan penghasilan pas-pasan tapi bisa menyekolahkan anaknya dan mengajari hidup penuh nilai. Rumah tepas, pintu hanya dari tirai, meja makan triplek, tudung saji, tahu tempe, semuanya hal yang menggambarkan situasi Indonesia. Tak ada percintaan utopis dalam ceritanya, tak ada perebutan harta di dalamnya. Soal wajah, wajahnya asli Indonesia, bukan percampuran sana sini yang aneh-aneh. Pernah nonton filmnya Ateng? Atau minimal melihat filmnya Benyamin, semua tokoh wajahnya memang wajah Indonesia, tak terpapar standar kecantikan internesyenel dengan kaki jenjang, dagu runcing, hidung mancung yang bisa membelah semangka. Ke mana wajah Indonesia sebenarnya sekarang?

Tak separah itulah. Kata sebagian orang penikmat sinetron khayalan itu. Sebenarnya malah justru jauh lebih parah. Secara tidak sadar perilaku siswa sekarang semakin liar dan tak terkendali. Mengapa bisa? Pertama persoalan tentang jam tadi, mereka adalah sasaran empuk untuk menjadi korban karena sepulang sekolah dan tidur siang biasanya jam 5 bisa menonton kartun tapi sekarang sudah dikuasai sinetron-sinetron utopis itu. Kemudian yang kedua, masyarakat bisa dianggap sebagai orang yang tak berdaya dengan paparan dan eksposure yang dilepaskan oleh televisi. Paparan yang berisi informasi hayalan itu berubah menjadi impuls dan mengkristal. “Anak menangis minta motor”, kata unit Filsafatian. Memang sekarang trennya begitu, biar terlihat keren, tak apa kepala pecah di jalan, yang penting mirip “Anak Jalanan”.

Tapi entahlah, toh semuanya adalah soal kebutuhan perut, tak apa membodohi satu bangsa, yang penting mereka makan.

Share this post

Recent post