dinas tahun baru degilzine.com

DINAS TAHUN BARU

Seperti biasa, tahun baru selalu menjadi hari suci istimewa menuju berhala-berhala megah di seluruh kota. Kesenangan fana yang mereka buat sendiri. Miris, bahagia atas dasar apa? Mencoba mengelabui diri sendiri. Mengikuti norma-norma visual televisi. Nabi-nabi baru bernama selebriti dengan ajaran sakti bernama gengsi berhasil menanamkan ajarannya dalam sanubari mereka.

Ah bodohnya aku. Sekarang aku baru mengerti, ternyata mereka bahagia atas dasar ajaran sakti itu. Oh, mereka hanya menjadi orang lain. Hebat juga bisa berkorban dan bertahan sangat lama hanya demi menjadi orang lain. Tentu orang orang lain itu adalah nabi-nabi mereka. Beruntunglah nabi-nabi itu memiliki pengikut taat yang rela menipiskan penghasilan demi menjadi seperti mereka

Oh, mungkin tak hanya televisi, tapi dari sosialita kehidupan mereka sendiri juga memengaruhi. Sosialita kehidupan asli dan sosialita yang lain, ya itu, sesuatu yang kalian buat dan menjadi sangat hebat: internet! Semua bisa diketahui dengan internet. Lihat bagaimana internet membuat orang menjadi seolah-olah dekat dengan orang lain. Iya “seolah-olah”, kamu merasa mengetahui orang lain secara dekat hanya melalui internet. Dan dengan imajinasimu kamu menilai sifat orang lain. Wah, hebat sekali. Tuhan saja tidak menghakimimu lewat internet.

Katanya di internet semuanya ada, ya? Wah, aku jadi penasaran. Bagaimana aku tidak penasaran? Setiap kalian membutuhkan sesuatu, kalian selalu mencari lewat intenet. Materi pelajaran? Nomor restoran? Berita terbaru? Tempat-tempat ibadah? Semua ada di internet. Bahkan mungkin kebenaran juga ada di internet. Eh, ngomong ngomong Tuhan cemburu tidak, ya? Ia sudah jarang diajak berbicara oleh kalian. Sudah banyak yang tidak peduli kepada-Nya. Sepertinya ajaran-Nya mulai tidak laku, kalah oleh iklan-iklan di sosial media. Ha! Aku tahu! Aku punya saran untuk Tuhan, kenapa Ia tidak membuat iklan saja di internet? Siapa tahu ajaran-Nya bisa laku lagi.

Suasana kota saat ini sangat ramai, terlalu ramai malah. Kamu mungkin ada di situ, di antara kerumunan itu, berjalan-jalan menyesaki Bundaran HI. Hey, coba kamu datang ke sini, berbincang bersamaku di sini. Bisa kamu lihat Bundaran HI itu seperti mata Horus raksasa yang menyala-nyala pada bagian tengahnya. Kenapa? Kamu tidak paham mengapa kusebut mata itu menyala-nyala? Haha, sudah kukatakan padamu untuk datang ke sini. Hanya melalui tempat ini kamu bisa melihat mata itu menyala nyala. Lihat bagaimana air mancur itu terus bergerak diiringi lampu-lampu yang meneranginya. Ah, sudahlah, lupakan saja mata itu. Saat ini aku lebih tertarik memerhatikan kalian dari sini.

Kalian selalu menyanyikan sumpah serapah saat jalanan padat dan tidak ada yang mau mengalah. Klakson menjadi ujung tombak kalian untuk memenuhi keperluan pribadi. Mengutuk para pendatang yang datang ke ibukota karena menyebabkan demografi yang tidak merata. Cih! Kalian sendiri sebenarnya siapa? Penduduk asli ibukota? Kalian tidak pernah merasa nyaman dengan kepenatan dan suara-suara klakson di jalanan. Walau setiap pagi kalian jalani, tapi tetap saja diri kalian tidak suka dengan kondisi itu. Tapi coba lihat sekarang, kalian berkumpul bersama di jalanan berdesak-desakan saling membunyikan terompet itu keras-keras. Persis kondisi tiap pagi yang kalian jalani. Tapi mengapa kali ini kalian terlihat senang sekali? Semakin menuju tanggal satu, semakin hebat pula kalian meniup terompet.

Para detik terus berkelana ber-evolusi menjadi menit. Menit bukan tipe si mudah menyerah. Ia berusaha lebih keras enam puluh kali lipat agar menjadi lebih kuat. Menit berhasil, ia menjadi remaja bernama jam. Dengan semangat remaja penuh gelora, jam menunjukan pada semuanya. Ini waktunya! Sudah pukul 00.00 malam. Seluruh kota merayakan. Tak terkecuali ibukota ini. Terompet ditiup. Petasan dinyalakan. Gelas gelas disulang. Bibir-bibir bersentuhan. Tangan bahu berangkulan. Senyum di paras kalian, juga parasmu terpahat sempurna. Nabi-nabi selebriti tampak senang bukan kepalang, membayangkan uang-uang yang akan mereka dapatkan.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 01.30 lebih. Mereka masih berpesta. Tapi ini waktunya. Aku akan melaksanakan tugasku. Sebelum aku turun, kupandangi bulan. Kasihan, ia begitu iri melihat petasan dan kembang api itu bercahaya begitu megah di malam hari. Ia merasa telah ditelanjangi di daerahnya sendiri. Bagaimana mungkin malam yang merupakan sahabat karibnya berani mengizinkan para petasan itu memancarkan cahaya yang lebih indah dari dirinya. Akhirnya kututup interaksiku pada bulan dengan senyuman. Mencoba memberikan dukungan moral padanya, memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku sudah di jalan membaur bersama kalian. Tapi aku tak peduli. Saat ini aku sedang bertugas. Kutelusuri jalan-jalan ibukota. Di dekat jembatan itu ada jalan setapak dari tanah yang di kelilingi rumput-rumput liar. Jalan itu menuju suatu kawasan yang  dihiasi rumah-rumah yang saling berdempetan. Posisi rumah-rumah itu tepat berada di bawah jembatan. Sungai hitam nan kelam berada di sisi rumah-rumah. Plastik, pembalut, bungkus rokok, dan benda lainnya dengan angkuh berenang di atas sungai. Tak peduli seberapa besar gubernur dan jajarannya mmbenci mereka.

Jalan kecil di komplek itu seperti bulan, bolong-bolong dan tidak rata. Ditambah genangan-genangan air yang beradu jumlah dengan sampah yang berceceran. Penduduk komplek ini sangat ramah dan baik. Mereka mau berbagi tempat tinggal dengan para kecoa dan tikus. Dari rumah ke rumah kukunjungi mereka satu per satu. Tak perlu permisi, mereka semua tertidur pulas. Hingga akhirnya kudapati seorang ibu sedang berdoa, terlihat dari pakainnya bahwa ia habis beribadah.

“Aku mohon kepada-Mu, Tuhan, aku sungguh malu melakukan ini. Aku selalu meminta kepada-Mu. Tapi aku tak punya tempat lain selain berkeluh kesah pada-Mu. Sudah lebih dari 5 hari ini penyakit ini terus menemaniku. Penyakit lama yang kuharap tak muncul lagi. Tapi aku sadar ia adalah bom waktu, suatu saat ia akan mendatangiku lagi, Tuhan. Dan benar saja, ia datang padaku lagi. Tuhan, bagaimana ini? Cukup yatim menjadi cap bagi anak-anakku. Mereka belum cukup untuk bertahan hidup. Tapi aku sudah benar-benar tidak tahan. Apakah ini sudah saatnya?”

Tidak, waktumu masih lama. Aku yakin itu. Cacing di paru-parumu memang kejam. Menggigiti alveolus satu per satu. Setiap gigitan memotong saraf-saraf di sana. Dan tentunya langsung terasa begitu nyeri di dadamu. Tapi aku yakin kamu masih bisa bertahan.

“Tidak Tuhan, aku tidak mampu. Sepenuhnya kuserahkan keyakinanku pada-Mu. Tapi nyeri ini benar benar menyiksa. Maaf, mungkin aku lancang pada-Mu, maaf mungkin keyakinanku berkurang. Tolong aku Tuhan! Bila memang ini waktuku, tolong jaga anak-anakku!”

Brakkkk!

Rupanya cacing-cacing itu terlalu banyak makan malam. Kali ini hampir tak ada alveolous yang tersisa. Tapi apa dayaku, aku tak bisa membantu apa-apa. Baiklah, sebaiknya aku bergegas. Saat aku berbalik badan, aku hampir berteriak. Kudapati temanku ada di belakangku. Nampaknya ia sudah ada di sana agak lama. Tak sedikit pun ia tersenyum padaku. Begitupun aku padanya. Kami tahu tugas kami masing-masing.

***

KEMBALI kutelusuri ibukota. Masuk ke rumah-rumah, dari satu ke yang lainnya. Melewati dan menjadi saksi berbagai peristiwa. Membiarkan peristiwa menjadi seharusnya. Ada teman- temanku di sana yang sedang bekerja. Tentu aku tidak menganggu. Kami tahu tugas kami masing masing.

Pondok Indah. Aku yakin aku ditugaskan ke sana malam ini. Memasuki salah satu rumah yang ada di sini. Rumah yang megah dengan pilar-pilar yang indah. Di depannya jelas sekali ada petugas keamanan yang mengawasi. Ya, seperti biasa, aku masuk tanpa permisi. Tak usah kalian tanya kenapa aku bisa melewatinya.

Sepuluh mobil mewah menyambut kedatanganku dengan sunyi. kulewati ruang tamu menuju ruang tengah. Menaiki tangga dan menuju kamar seorang remaja. Anak dari petinggi negeri. Botol arak menemani kesindiriannya malam ini. Tentu kalian tahu, malam ini malam Tahun Baru. Tapi ia hanya di sini sendiri. Menolak ajakan teman-temannya untuk bersenang bersama. Sesekali ia tertawa. Sesekali ia menangis. Menangis tanpa air mata. Kelenjar air matanya telah diperkosa habis-habisan oleh peristiwa hidup sehingga tidak bisa memproduksi air mata lagi.

“Terus gua hidup buat apa? Gua serius belajar sama enggak juga gua bakal lulus. Gua kena masalah juga gak bakal masuk penjara. Semua aja pake duit bokap! Persetan belajar sama les biar jadi orang bener! TAI! ANJING! Emang lo ngewe sama pecun tuh nunjukin lo orang bener Monyet! Buat apa lo kawin sama nyokap kalo cuma buat ngewe? Nyokap gak beda jauh! Main terus sama supir! Temen juga sama aja. Temenan cuma ada maunya. Mau dibilang keren temenan sama anak pejabat. Tai lo pada! Semua cewek deketin gua. Pada minta belanja ke mana-mana. Haha anjing! Tuhan ada gak sih?”

Ada, tapi kamu tidak menyadarinya

“Kalo ada tunjukinlah! Katanya lo nyiptain semua ada gunanya. Gunanya gua apa woyyyy!!! Gini gini aja hidup gua!”

Kali ini aku memilih diam. Bukan aku tak berani membantah. Tapi memang tugasku saat ini hanya untuk mendengar. Ia masih protes terhadap Tuhan. Bertanya-tanya tentang semuanya. Semakin sering ia bertanya, semakin keras sepi menjawab semuanya. Hei, nampaknya ia mulai lelah.

“Oke, gua percaya Tuhan ada, tapi keraguan masih lebih ‘ada’ di hati gua. Tuhan, gua mohon, kalo emang lu bener-bener ada, tolong tunjukin gunanya gua hidup di sini buat apa? Gua udah muak sama semuanya. Plis pake banget-nget-nget. Tunjukin tujuan hidup gua!”

Di kata-kata terakhirnya itu sangat jelas ia terlihat lelah dan pasrah. Lelah dan pasrah itu sepertinya membuahkan ketulusan yang mendalam dari dalam dirinya untuk benar benar berserah diri. Ia sudah pasrah atas semua jawaban Tuhan yang akan dibuat untuk dirinya.

Kembali kubiarkan ia bercengkrama mesra bersama kesendiriannya. Kutinggalkan rumah berpilar indah itu. Gulita tampaknya sudah lelah dan akan berganti pagi. Kokok si jago telah memperingatkanku untuk segera kembali. Menyelesaikan tugas ini dan menyerahkan laporan kepada-Nya.

***

*Ilustrasi oleh Crewbo

Share this post

Recent post