PENGALAMAN MENCARI MUHAMMAD KECIL

MENCARI MUHAMMAD KECIL

Judul: Muhammad: The Messenger of God

Tanggal rilis: 12 Februari 2015

Sutradara: Majid Majidi

Sinematografi:Vittorio Storaro

Anggaran: 40 juta $

Pemeran: Sarah Bayat, Mina Sadati, Mahdi Pakdel, Ali Reza Shoja

 

Saya mendengar proyek gegap gempita soal pembuatan film biopik tentang Muhammad sekitar tahun 2013. Dari apa yang saya baca pada saat itu, film ini dikatakan akan menjadi film termahal yang pernah dibuat oleh Pemerintah Iran. Film yang pengerjaannya dimulai pada 2007 itu katanya akan rampung dan rilis pada tahun 2015. Keterlambatan pengerjaan itu kabarnya disebabkan banyaknya demonstrasi yang menentang pembuatan film tersebut, terutama dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Profesor Abdel Fattah Alawari, ulama Sunni yang juga adalah dekan di universitas tersebut mengajak ulama Sunni seluruh dunia untuk mengecam film tersebut. Alasannya sosok Nabi Muhammad tidak boleh digambarkan secara fisik.

”Hal ini sudah ketetapan. Syariah melarang mewujudkan sosok Nabi,” sebutnya saat diwawancarai Russian Today. Tidak boleh digambarkan secara fisik? Berarti film ini bakal menayangkan wajah Nabi Muhammad? Gila! Apa-apaan ini? Mau ngajak perang ini! Dasar Yahudi Zionis kutu kupret, batin saya saat itu. Namun… Yah, jujur saja, seperti pemuda kebanyakan, semakin dilarang maka akan semakin menantang. Ketertarikan saya pada film ini malah makin membludak. Saya bersumpah, demi pohon-pohon ceri yang ada di belakang rumah, apa pun ceritanya, saya mesti menonton film ini.

Hari berganti, bulan mengambang melintasi peredaran, dan tahun gugur seperti dedaunan. 2015 hampir lewat. Saya teringat kembali pada film ini setelah membaca artikel yang mengatakan bahwa film biopik Muhammad, yang akhirnya berjudul Muhammad: The Messenger of God, terpilih sebagai entri Iran untuk Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards 2015. Wah, setengah mampus saya bergerilya DVD bajakan ke Simpang Kampus, Pajak USU, Sutomo, dan saya menyerah. Bioskop-bioskop seluruh Indonesia sepertinya bersetuju dengan kerajaan Arab untuk memboikot film tersebut, jadi jangan banyak berharap pada mereka. Harapan saya jatuh pada internet. Namun saya mesti kecewa. Setahun (bayangin!) lamanya saya browsing sana sini, namun tetap nihil. Namun percayalah, Tuhan itu maha adil. Ia tidak rela membiarkan hambanya pupus harapan. Beberapa hari yang lalu, tanpa dinyana tanpa diduga, film ini muncul begitu saja di salah satu laman tempat download film-film terbaru. Beneran ini? Saya download dong (saya tidak menganjurkan ya!). Saya ucapkan syukur pada Gusti Allah. Alhamdulillah, kata saya.

Ekspektasi saya teramat tinggi pada film ini. Jujur saja. Bukan hanya karena kontroversi yang mengiringi, namun juga karena sosok Majid Majidi yang berada di belakang layar aka sang sutradara. Majid Majidi sendiri adalah paus perfilman Iran. Berpuluh penghargaan internasional sudah diraihnya, jaminan mutu akan suatu kualitas. Tentu saja. Ingat film Children of Heaven (1997) yang dulu sering ditayangkan di TVRI, yang bercerita tentang anak miskin yang sangat ingin memiliki sepatu sekolah hingga ia ikut perlombaan lari, di mana juara ketiga di dalam lomba itu akan mendapatkan sepatu baru merek Converse? Atau The Color of Paradise (1999), film yang menceritakan tentang anak tunanetra yang berjam-jam menunggu ayahnya menjemput di sekolah? Yup, film-film yang menguras air mata itu adalah hasil karya dari tangan dingin Majid Majidi.

Okelah. Yuk, kita tonton saja filmnya. Jangan lupa ucapkan, bismillah…

Adegan penambalan nama untuk Nabi Muhammad. Dalam masyarakat Quraish zaman itu, pemberian nama dilangsungkan tepat di depan Ka’bah dan disaksikan oleh seluruh masyarakat. Foto: Istimewa

Oke. Bajingan, bangsat, kutu kupret, kenapa film sebagus ini diboikot dan dilarang segala? Itulah kata hati saya usai menonton film ini. Dari yang saya simpulkan, film ini lebih banyak bercerita soal keluarga Muhammad, atau bisa dibilang Bani Hasyim, ketimbang Muhammad-nya sendiri; kalaupun soal Muhammad, adalah kisah masa kecil beliau sebelum datangnya wahyu pertama. Film dibuka dengan aksi Abu Sofyan yang hendak memancung seorang Bani Hasyim, yang pada akhirnya bisa diselamatkan oleh Abu Thalib, paman Sang Nabi.

Setting mundur ke belakang, saat di mana Abu Thalib bersama kakek Sang Nabi, Abdul Muthalib, mendatangi kemah Raja Abrahah. Ketika itu pasukan Abrahah hendak menghancurkan Ka’Bah. Seperti kita ketahui, perundingan berjalan alot, dan pasukan Abrahah, gajah-gajah itu, akhirnya maju menuju Ka’Bah namun dihancurkan oleh burung-burung Ababil (di film ini rupanya menyerupai gagak) yang membawa bebatuan api dari Neraka.

Muhammad sendiri baru muncul setelah durasi film melewati satu jam lamanya, itu pun masih berupa bayi kecil yang digendong-gendong oleh Aminah, sang ibu. Bagi yang membaca kisah Muhammad (mau versi mana pun) tentu tidak asing dengan jalan cerita selanjutnya di film ini; bagaimana kemudian ia dititipkan untuk disusui oleh satu keluarga Badui yang miskin, lantas kembali diambil oleh Aminah dan banyak menghabiskan masa kecilnya di Yastrib (Madinah). Paling yang baru bagi saya adalah bagaimana Muhammad tumbuh layaknya anak-anak Arab yang lain; gemar bermain, lari ke sana ke mari, teramat sayang pada segala binatang, dan suka dengan bunga-bungaan.

Adegan yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Muhammad kecil pergi berdagang dengan Abu Thalib ke Syam (Suriah). Di sana mereka diundang masuk oleh seorang pendeta Kristen bernama Bahirah ke dalam gereja. Scoring yang didramatisir, cahaya yang bersilau-silau, terutama ketika Muhammad melepas sandalnya sebelum menginjakkan kakinya untuk masuk ke dalam gereja! Ah, hati saya bergetar melihatnya. Ia berjalan masuk dengan kaki telanjang seraya memerhatikan seluruh isi gereja. Sangat bersahaja. Kedamaian seakan meruak bersama cahaya yang menjulur dari luar jendela, menyelimuti seisi ruangan di dalam gereja.

Adegan ketika Nabi Muhammad melangkah masuk ke dalam gereja. Foto: Istimewa

Ada juga scene saat Muhammad kecil menyelamatkan seorang anak bayi yang hendak dikubur oleh ayahnya sendiri yang keterlaluan miskinnya, juga seorang anak lainnya yang hendak dijadikan tumbal bagi sebuah kampung yang sedang dilanda krisis pangan. Namun beliau tidak melakukannya dengan cara kekerasan; ia mempraktikkan cara yang benar hingga ditiru oleh orang-orang!

Saya berani sumpah, sangat banyak dialog di film ini yang mesti diperdengarkan kembali pada kaum muslim fundamentalis yang hobinya masih main perang-perangan. Pesan-pesan perdamaian. Pesan-pesan kebaikan. Kelembutan. Rasa kemanusiaan yang keterlaluan besarnya. Ya, benar, saya bersumpah melihat kedamaian di film ini.

Rasa penasaran saya terhadap para penentang film ini kembali menjompak-jompak seusai saya menutup laptop saya. Saya ambil HP, lantas browsing dengan membabibuta. Oke. Saya menemukan tiga alasan utama yang dikumandangkan oleh para pemboikot film ini.

  1. Nabi Muhammad tidak boleh digambarkan secara fisik, seperti apa yang saya sangkakan seperti di kalimat pembuka tulisan ini.

Saya tidak mau menjawab dengan dalil agama, berhubung pengetahuan agama saya cetek. Jadi saya jawab dengan pengalaman saya sepanjang menonton film ini saja. Di film ini, Muhammad belum menjadi seorang nabi. Benar, ini film biopik Muhammad semasa kecil, Muhammad yang santun, welas asih, dan anti terhadap praktik kebudayaan tolol masyarakat Jahiliyah. Mengenai wajah, oke, maaf jika anda kecewa, karena tidak sekali pun wajah pemeran Muhammad ditampakkan di dalam film. Ingatan saya kalau ditanya seperti apa rupa Muhammad di dalam film ini, maka saya jawab: anak kecil gondrong yang selalu memakai baju berwarna putih. Atau saya perlu mengutip komentar Sami Yusuf, penyanyi asal Iran yang menyanyikan salah satu satu soundtrack di film ini ketika diwawancarai oleh Reuters. Doi berkata, “Saya yakin orang-orang di Al-Azhar dan lainnya yang mengkritik film ini belum MENONTONNYA. Mereka hanya melawannya karena itu seperti mengekspor budaya Iran.” Kata-kata terakhir dari Sami saat wawancara itu juga mesti saya tambahkan di sini, karena itulah poin dari film ini. Sami berkata, “Jika film ini membuat orang-orang di seluruh dunia tahu nabi kita lebih baik dan melihat betapa baik dia, tugas kita selesai.”

  1. Kisah di film ini tidak sesuai dengan kisah Nabi Muhammad yang sebenarnya.

Saya tidak tahu versi kisah yang mana yang para penuduh maksudkan. Lagipula, di awal film, Majid Majidi memunculkan pembelaannya dengan flying text yang bertuliskan: “Film ini dibuat sesuai dengan pemahaman pribadi saya pada sosok mulia Baginda Nabi Muhammad S.A.W.” Kalau versi Majid Majidi tidak sesuai dengan versi mereka, bagaimana dengan film box-office mengenai Nabi Muhammad yang berjudul The Message (1976) yang script-nya ditulis oleh seorang Inggris bernama H.A.L Cright? Setahu saya film itu tak pernah dilarang apalagi sampai diboikot.

  1. Majid Majidi adalah Syiah. Dan film ini didanai oleh Pemerintah Iran.

Oke. Kalau yang ini, saya malas buat komentar. Palingan ntar saya dituduh Syiah, terus jadi pendukungnya Ahok, terus jadi Yahudi, terus malah jadi PKI. Terus males deh.

Pada akhirnya, saya sih menganjurkan agar film ini ditonton oleh semua khalayak, semua agama, terutama bangsa Eropa, demi meluruskan citra bahwasanya Islam senantiasa bergandengan tangan dengan kekerasan, bahwasanya Islam adalah agama teroris, yang selama ini nemplok di mata mereka. Seperti kata-kata Majid Majidi sendiri ketika diwawancarai oleh The Guardian seusai pemutaran perdana di Cinema Farhang, “Kami memilih membagi kisah masa hidup Nabi ke dalam film karena banyak yang berbagi pesan lewat media ini. Kami juga ingin menunjukkan dan kembali mengingatkan bahwa Islam itu satu dengan menunjukkan tidak ada perbedaan antara Syiah dan Sunni serta kelompok Islam lainnya. Kami membawa pandangan persatuan Islam.”

Nah, lho!

Rating: 7,5/10

Share this post

Recent post