nola au revoir

NOLA (AU REVOIR): NGEBAND ITU TERMASUK GERAKAN PEREMPUAN

Mahalia Nola Pohan, atau biasa disapa Nola, terkadang juga Lady Grunge, adalah vokalis dari unit post-grunge Medan, Au Revoir. Saat ini doi sedang sibuk menjadi dosen di fakultas hukum Universitas Medan Area. Nola membuktikan bahwa profesi kerja sama sekali tidak mengganggu aktifitasnya di dunia skena indie; kalaupun Au Revoir sudah jarang tampil bukanlah disebabkan karena hal itu, melainkan kesibukan dari semua personel. Bagi Nola pribadi, perempuan mesti lebih aktif di semua bidang, termasuk di dalam skena musik, sebab itu adalah salah satu cara dalam menuntut gender equality. Mau lebih jelas maksudnya? Yuk, kita ajak doi bercakap-cakap sejenak.

 

Kayak mana sih awalnya Kakak bisa jadi vokalis Au Revoir?

Awalnya aku tahu Au Revoir dari temenku, si Madi Madwrap, dia bilang ada band grunge baru di Medan yang vokalis sama drumernya itu cewek. Yaudah, aku komenlah orang itu di fesbuk, komen sok paten gitu, hahahaha. Sampailah aku diajakin sama Tengku Ariy (gitaris Au Revoir) untuk jumpa tengah di Tomato, buat nge-jam maksudnya. Eh, rupanya gak berapa lama setelah itu vokalis Au Revoir (Deasy Ghroll) cabut. Karena jadi dokter kalau gak salah. Yaudah, jadilah aku ditunjuk buat mengisi kekosongan itu.

Waktu itu Kakak memang sudah bisa nyanyi?

Belum, hahahaha! Setahun juga si Ariy ngajarin aku teknik nyanyi grunge gitu.

Kok bisa senang sama grunge?

Dulu waktu kecil aku sering dengerin album Nevermind-nya Nirvana, yang diputerin abangku, seringnya waktu mau pergi sekolah. Lagu yang paling kuingat pertama kali waktu itu judulnya Polly. Dan pas SMA baru tahu aku kalau itu bercerita tentang pedofilia, hahahahaha!

Dulu pernah ngeband juga waktu masih sekolah?

Gak. Au Revoir itu band pertamaku. Dan aku gak akan ngeband lagi selain sama Au Revoir.

Soal skena Medan nih. Sebelum bareng Au Revoir, Kakak sudah tahu belum tentang itu?

Sejak SMA udah tahu soal skena dari temen-temen, kayak Stanley (The Cangis) atau Rangga (Maktuo Dakilla). Waktu aku ngadain sweet 17, Maktuo Dakilla yang main lho.

Teringatnya, di era 2000-an, Au Revoir bisa dibilang adalah band pertama dengan vokalis perempuan di skena grunge. Bagaimana perasaan, Kakak?

Yah, kayak di film-film, hahaha. Waktu itu asik-asik aja. Jujur ya, aku pede jadi dosen itu ya karena udah biasa nyanyi di depan orang. Itu mempengaruhi rasa percaya diriku.

Sudah berapa single yang diproduksi bareng Au Revoir?

Baru tiga! Kami banyak vakumnya sih, hahahaha! Yang pertama itu, Her Name is Sally (2010), terus Hujan (2010) terakhir Hemlock Tree (2015).

Suka bikin rusuh di skena Medan?

Kalo aku merusuhnya itu bikin gigs-gigs, hahahaha. Kayak bareng kawan-kawan di Medan People Grunge, atau sama anak-anak Gaboh. Di tahun 2012 aku sempat mau bikin event Back to 90’s, bareng sama abang-abang kita yang aktif di era 90-an. Tapi belum kesampaian sih.

Menurut Kak Nola, soal partisipasi perempuan di skena indie Medan ini gimana?

Jarang aku melihat perempuan aktif di skena Medan ini. Kalau dulu yang sering kudengar itu kayak Ika-nya Cherrycola, atau Embun-nya HOF,  sama Au Revoir inilah. Mungkin dulu itu stigma perempuan kalau ngeband itu langsung kelihatan negatif, padahal jelas gak benar. Pikiran kayak gitu harus dibuang jauh-jauh. Buktinya itu Embun jadi dokter kan sekarang. Ika juga. Aku jadi dosen. Bekas drumer Au Revoir (Rizki Fira) sekarang jadi dokter juga. Tapi kalau penonton perempuan dari dulu udah rame. Menurutku ya, ngeband ini juga salah satu bentuk pergerakan kaum perempuan.

Apa hubungannya ngeband dengan pergerakan perempuan?

Jadi gini lho. Dulu itu perempuan di zaman aku cuma tahu hepi-hepi, kongkow, padahal kan banyak kegiatan lain di luar itu, salah satunya kan ikut skena, ya ngeband atau bikin kolektifan. Kalau soal skill musik ya, waktu itu kawan perempuanku banyak yang bisa. Cuma itu, tiap aku ajak pasti mereka nolak, entah karena peraturan di rumah atau memang takut sama stigma tadi. Padahal jelas kan, perempuan itu kalau udah ngeband bisa jadi lebih easy going, hahahaha.

Sempat belajar masak, ngga?

Hahaha gak sempat! males!

Kalau “ngobat” masuk?

Inilah kan, baru tadi kubilang. Coba kau buang jauh-jauh stigma kaya gitu itu. Narkoba itu mahal, mending beli buku, hahahaha!

Yang kasih Kakak ilham waktu di panggung?

Riot girllll dari Seattle Sound! Itu tuh yang mempelopori si Bikini Kill.

Terus sekarang Kakak kok bisa jadi dosen pula? Ada rupanya di skena Seattle Sound itu yang jadi dosen?

Yang ngasi contoh untuk jadi dosen gak ada, hahahaha. Tapi biar kau tahu, Kurt Cobain itu senang baca dan punya wawasan yang luas. Dia ga sekadar ngeband aja. Aku pun jadi dosen karena senang ngajari orang. Senang juga memerintah orang, hahahaha!

Aku pribadi liat cewek ngeband itu senang, Kak, nilai plus kalilah! Nah, dulu waktu Kakak ngeband, ada ngga sih cowok yang dekatin Kakak?

Ada ajalah! Banyak kali pun, helooowwwww!!!

Kalau diminta nulis lagu dengan tema rohani bisa gak?

Bisa aja. Tapi udah ada Creed itu.

Band grunge baru di Medan yang layak didengar?

BIRU!

Produk kecantikan yang wajib Kakak pakai sewaktu perform? 

Eyeliner, lipstik merah dan skin care dong!

Menurut Kakak nih, sebagai dosen di fakultas hukum: perlukah hukum grunge ditegakkan di skena indie Medan?

Kau tonton aja School of Rock!

Tipe cowok yang ideal buat Kakak?

Ngerti musik, rokoknya Marlboro, punya tatto, sering pakai kaos hitam, dan punya Converse!

Terakhir, Kak. Pesan Kak Nola untuk Fahri AAC2?

Cukup satu perempuan ajalah. Kimak kau!

Share this post

Recent post