Degil Zine

Halo! Selamat datang kembali pada rubrik Kobel. Tunggu dulu bre, apa itu Kobel? Shit! Masih belum tahu juga? Okelah, sedikit penjelasan. Kobel adalah sebutan bagi salah satu rubrik Degilzine yang katanya (sok) mengulas, mengupas, menelanjangi atau apalah, yang punya pengertian serupa mengenai pelaku, band, album, yang berkaitan dengan kesenian. Kali ini Degilzine punya unit Syuthay sebagai bahan ulasan utama di bulan Januari 2018.


Syuthay, unit pengusung stoner-rock kota Medan tercinta, dengan formasi: Friend (vokal), Daniel Bonofi (gitar I), Reza (Gitar II), Devita (Bass) dan Hawari (Drum), terbilang cukup degil dalam menjalankan agresi musiknya. Bagaimana tidak? Bila biasanya sebuah band cenderung butuh waktu lama untuk merealisasikan sebuah tour dengan berbagai faktor, katakan saja pertimbangan album, umur band, dsb, seolah menjadi SNI (Standar Nasional Indonesia) yang harus terpenuhi terlebih dahulu jika sebuah band ingin melaksanakan tour.

Tak perlu pikir panjang bagi Syuthay untuk menggagas sebuah tour mandiri. Bermodalkan EP album perdananya, Legiun Api Militansi, (rilis tahun 2013), “Gaung Tandang Tour” pun disikat pada dua tahun berikutnya, dengan Semarang, Malang dan Surabaya sebagai titik-titik untuk meliar bersama. Belum lagi masalah dilematis pergantian formasi, hingga keluar masuknya personel dalam tubuh Syuthay yang kerap terjadi (Friend yang sempat bermain bass di formasi awal akhirnya banting bass dan beralih ke vokal), dinilai mampu beradaptasi dengan cepat dan terus memacu seolah ingin menyesuaikan dengan musiknya yang rata-rata bertempo kebut! Dan menurut gosip dunia underground yang berkembang, Syuthay dalam waktu dekat ini akan menggagas “Gaung Tandang Tour 2” dengan melibatkan beberapa negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia sebagai titik persinggahan nantinya. Hebat betul!

Friend Enambelas, frontman dari Syuthay, saat perform di Grand Charly VHT Semarang pada Kamis (28/07/16) dalam rangka Gaung Tandang Tour 2016. Foto: Longlifemagz.com

Bila saya dirujuk untuk memberikan definisi seperti apa musik yang Syuthay mainkan, secara subjektif saya bisa bilang: band ini memainkan musik seperti apa yang Seringai dan Komunal mainkan. Bahkan apabila menutup mata sembari menonton pertunjukan live Syuthay, sensasi dan aksen vokal Arian 13 sangat kental terdengar pada setiap track yang dimainkan. Tapi, apalah artinya pendapat awam seperti saya?

Kita tinggalkan dulu Arian 13 di pojok sana, yuk kembali lagi ke Syuthay!

Belum lama ini Syuthay kembali merilis EP album yang ke-2 dengan tajuk “Trinus”, yang rilis dibarengi dengan event Cassette Store Day Medan 2017 lalu. Ada perubahan yang asyik untuk dicermati menjelang perilisan EP kedua mereka ini. Syuthay semakin sadar dan matang akan pentingnya dokumentasi pada tiap momen-momen bermusik. Tak tanggung-tanggung, Syuthay belakangan ini sering terlihat membawa rombongan manusia ke dalam setiap gigs untuk ditugaskan mengambil dokumentasi video dan foto secara apik. Mengingat sekarang adalah generasi milenial dengan teknologi berkembang pesat, sepertinya tak ada lagi alasan bagi setiap band untuk tidak sadar dalam hal pendokumentasian. Pastinya beberapa di antara kita pernah berdiskusi dengan band “abangan” dari tahun 90-an, dan mendapati jawaban kurang lebih seperti ini ketika bercerita soal momen indah mereka: "Waktu itu salahnya gak ada pula yang motoin kami pas main ama Nirvana bre!" atau “Waktu abang lompat ke drum terus maki-maki polisi yang ada di situ, salahnya gak di videoin pula bre. Maklumlah, dulu gak kayak sekarang." Tentu momen-momen penting yang tidak terdokumentasikan seperti itu tidak ingin terjadi pada kalian kan?

Syuthay saat perform di Pitu Room. Foto: Koleksi pribadi Dhea Sasmita.

Satu hal lagi yang selalu Syuthay rewelkan lewat obrolan singkat saya dengan mereka beberapa waktu lalu. Ya! Apalagi kalau bukan masalah font. Syuthay tidak jarang mendapati kekeliruan dalam penulisan nama pada flyer-flyer acara, mau tak mau merasa berang dan muak dengan persoalan font. Bagaimana tidak, ketika mereka menawarkan untuk mengirimkan font official pada panitia acara, kebanyakan tidak diindahkan. Selanjutnya? Sudah bisa ditebak. Kesalahan penulisan nama bertebar pada beberapa flyer acara yang mereka mainkan. Hal ini sekaligus pembelajaran bagi kita semua dalam menggagas sebuah acara. Jika tak mampu menuliskan nama band pengisi acara dengan benar, alangkah bijaknya jika kita menghubungi band bersangkutan untuk meminta font official-nya.

Terakhir, sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk menutup tulisan dengan quote yang indah:

Say YES to SYUTHAY, Say NO to Drugs!

Yuk, bre, dengerin mereka di sini, atau sapa mereka di @syuthay

Leave a Comment

Baca Juga

Halo! Selamat datang kembali pada rubrik Kobel. Tunggu dulu bre, apa itu Kobel? Shit! Masih belum tahu juga? Okelah, sedikit penjelasan. Kobel adalah sebutan bagi salah satu rubrik Degilzine yang katanya (sok) mengulas, mengupas, menelanjangi atau apalah, yang punya pengertian serupa mengenai pelaku, band, album, yang berkaitan dengan kesenian. Kali ini Degilzine punya unit Syuthay sebagai bahan ulasan utama di bulan Januari 2018.


Syuthay, unit pengusung stoner-rock kota Medan tercinta, dengan formasi: Friend (vokal), Daniel Bonofi (gitar I), Reza (Gitar II), Devita (Bass) dan Hawari (Drum), terbilang cukup degil dalam menjalankan agresi musiknya. Bagaimana tidak? Bila biasanya sebuah band cenderung butuh waktu lama untuk merealisasikan sebuah tour dengan berbagai faktor, katakan saja pertimbangan album, umur band, dsb, seolah menjadi SNI (Standar Nasional Indonesia) yang harus terpenuhi terlebih dahulu jika sebuah band ingin melaksanakan tour.

Tak perlu pikir panjang bagi Syuthay untuk menggagas sebuah tour mandiri. Bermodalkan EP album perdananya, Legiun Api Militansi, (rilis tahun 2013), “Gaung Tandang Tour” pun disikat pada dua tahun berikutnya, dengan Semarang, Malang dan Surabaya sebagai titik-titik untuk meliar bersama. Belum lagi masalah dilematis pergantian formasi, hingga keluar masuknya personel dalam tubuh Syuthay yang kerap terjadi (Friend yang sempat bermain bass di formasi awal akhirnya banting bass dan beralih ke vokal), dinilai mampu beradaptasi dengan cepat dan terus memacu seolah ingin menyesuaikan dengan musiknya yang rata-rata bertempo kebut! Dan menurut gosip dunia underground yang berkembang, Syuthay dalam waktu dekat ini akan menggagas “Gaung Tandang Tour 2” dengan melibatkan beberapa negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia sebagai titik persinggahan nantinya. Hebat betul!

Friend Enambelas, frontman dari Syuthay, saat perform di Grand Charly VHT Semarang pada Kamis (28/07/16) dalam rangka Gaung Tandang Tour 2016. Foto: Longlifemagz.com

Bila saya dirujuk untuk memberikan definisi seperti apa musik yang Syuthay mainkan, secara subjektif saya bisa bilang: band ini memainkan musik seperti apa yang Seringai dan Komunal mainkan. Bahkan apabila menutup mata sembari menonton pertunjukan live Syuthay, sensasi dan aksen vokal Arian 13 sangat kental terdengar pada setiap track yang dimainkan. Tapi, apalah artinya pendapat awam seperti saya?

Kita tinggalkan dulu Arian 13 di pojok sana, yuk kembali lagi ke Syuthay!

Belum lama ini Syuthay kembali merilis EP album yang ke-2 dengan tajuk “Trinus”, yang rilis dibarengi dengan event Cassette Store Day Medan 2017 lalu. Ada perubahan yang asyik untuk dicermati menjelang perilisan EP kedua mereka ini. Syuthay semakin sadar dan matang akan pentingnya dokumentasi pada tiap momen-momen bermusik. Tak tanggung-tanggung, Syuthay belakangan ini sering terlihat membawa rombongan manusia ke dalam setiap gigs untuk ditugaskan mengambil dokumentasi video dan foto secara apik. Mengingat sekarang adalah generasi milenial dengan teknologi berkembang pesat, sepertinya tak ada lagi alasan bagi setiap band untuk tidak sadar dalam hal pendokumentasian. Pastinya beberapa di antara kita pernah berdiskusi dengan band “abangan” dari tahun 90-an, dan mendapati jawaban kurang lebih seperti ini ketika bercerita soal momen indah mereka: "Waktu itu salahnya gak ada pula yang motoin kami pas main ama Nirvana bre!" atau “Waktu abang lompat ke drum terus maki-maki polisi yang ada di situ, salahnya gak di videoin pula bre. Maklumlah, dulu gak kayak sekarang." Tentu momen-momen penting yang tidak terdokumentasikan seperti itu tidak ingin terjadi pada kalian kan?

Syuthay saat perform di Pitu Room. Foto: Koleksi pribadi Dhea Sasmita.

Satu hal lagi yang selalu Syuthay rewelkan lewat obrolan singkat saya dengan mereka beberapa waktu lalu. Ya! Apalagi kalau bukan masalah font. Syuthay tidak jarang mendapati kekeliruan dalam penulisan nama pada flyer-flyer acara, mau tak mau merasa berang dan muak dengan persoalan font. Bagaimana tidak, ketika mereka menawarkan untuk mengirimkan font official pada panitia acara, kebanyakan tidak diindahkan. Selanjutnya? Sudah bisa ditebak. Kesalahan penulisan nama bertebar pada beberapa flyer acara yang mereka mainkan. Hal ini sekaligus pembelajaran bagi kita semua dalam menggagas sebuah acara. Jika tak mampu menuliskan nama band pengisi acara dengan benar, alangkah bijaknya jika kita menghubungi band bersangkutan untuk meminta font official-nya.

Terakhir, sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk menutup tulisan dengan quote yang indah:

Say YES to SYUTHAY, Say NO to Drugs!

Yuk, bre, dengerin mereka di sini, atau sapa mereka di @syuthay

Leave a Comment

Baca Juga