Degil Zine

Sutradara: Brian Buckley

Cast: Al Pacino, Evan Peters, Melanie Griffith, Barkhad Abdi

Rilis: 8 Desember 2017

Menurut saya, salah satu ciri khas umum film Hollywood dalam film yang bertemakan negara-negara konflik adalah menjadikan masyarakat di negeri konflik tersebut sebagai penjahat kelas bar-bar, predator, dan tak berbelas kasihan. Contohnya adalah film Beast of Nation. Namun hal di atas tak berlaku di film yang akan coba saya review ini. Film yang dibintangi oleh Al Pacino dan Evan peters, yang familiar sebagai QuickSilver di X men, menurut saya cukup menarik. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang wartawan India bernama Jay Bahadur.

Beliau adalah seorang jurnalis amatir yang ingin mendapatkan pengakuan sebagai jurnalis profesional dan melancongkan kakinya ke negeri entah berantah untuk menimba Ilmu sekaligus mengetes mental. Di scene awal,  anda yang menontonnya akan merasa prihatin melihat hidup beliau. Jay sangat terinspirasi oleh Seymour Tolbin, seorang jurnalis senior yang memiliki sekarung pengalaman dan asam garam, yang diperankan oleh Al Pacino.

Film ini bercerita soal sudut pandang yang cukup liar dan beda dari film yang bertemakan konflik, yaitu sisi lain dari perompak Somalia. Untuk bray bray yang ingin nonton film ini, jangan terlalu berekspektasi tinggi terhadap adegan tembak-tembakan ala Steven Seagle sang rambut kilat atau penyelematan sandera oleh Densus Anti Teror yang berakhir bahagia dan ditandai dengan ciuman bibir para lakonnya. Saya jamin film ini tak akan sesuai dengan gambaran covernya, yang menampilkan senjata para penjahat dan paling-paling familiar buatan Soviet: AK-47. Film ini lebih menggambarkan usaha Jay Bahadur dalam menguras informasi dan sisi tak terduga dari para perompak Somalia. Namun jangan terkejut ketika beberapa perompak dalam film ini tampil parlente layaknya Ivan Gunawan!!!! Saya harus mengatakan bahwa perompak juga manusia.

Film ini juga cukup membuat saya berseringai dengan kehadiran Barkhad Abdi yang memerankan perompak Somalia di film Captain Philips. Dia berperan sebagai Sosok penerjemah tokoh utama yang cukup funky, dan identik dengan baju longgar-longgar layaknya Rama Aiphama. Bisa dibilang beliau ini adalah calo penghubung Jay dengan seluk beluk somalia. Mulai dari presiden hingga perompak kelas dewa pun dia kenal. Sebagai calo yang tahu segala hal, ia memiliki sifat baik budi dan jujur, tak seperti calo SIM di kantor Satlantas Medan. Oh ya, satu lagi dia memiliki wajah bak penonton bayaran Dahsyat, program TV musik terbaik di Indonesia.

Jika anda jeli menyasikan film ini, anda akan takjub dengan rentetan cerita yang dijabarkan, rententan yang berkesinambungan dengan film pembajakan kapal yang diperankan oleh bung Tom Hanks yang saya sebut di atas. Dibalut dengan komedi yang cukup membuat anda tertawa dan beberapa adegan yang sedikit mengguncang jantung, seperti adegan kejar-kejaran layaknya anak kecil main guli berlatar pemukiman Somalia yang cukup angker. Film ini juga turut menampilkan kebiasaan orang Somalia yang cukup kental, seperti mengonsumsi khat dan legalnya menenteng senjata. Namun saya cukup kecewa terhadap peran sang sesepuh perfilman, Al Pacino, yang aktingnya tidak terlalu menggelegar seperti film Heat dan Insomnia. Apa mungkin karena umur? Atau biusnya gak mempan? Atau kurang banyak nenggak amer (anggur merah)? Saya rasa peran beliau sia-sia. Sosok legenda perfilman ini hanya tampil tak lebih dari 10 menit! Apa-apaan ini? Fans berat Al Pacino (seperti saya) cukup kesal. Syukur filmnya punya cerita yang oke, jika tidak kami akan melakukan boikot aksi bela Al Pacino dengan kostum jas hitam parlente layaknya Don Corleone. Yang jelas saya tak setuju kepada Pak Sutradara bisa begitu lancang menempatkan idola kami layaknya aktor figuran menang audisi.

Sejauh ini, film yang diangkat dari buku “The Pirates of Somalia: Inside Their Hidden World” ini mendapatkan apresiasi yg cukup baik dari para kritikus. Hingga saya rasa cocok untuk menemani hari anda yang membosankan, dan sangat inspiratif kepada teman-teman yang memiliki semangat jurnalistik kelas dewa, dan siapa tahu dapat memacu anda untuk pergi ke negara entah berantah untuk menunjang eksistensi. Film ini juga berhasil membuat saya tertawa sekaligus akan menambah ilmu sejarah layaknya mata pelajaran. Nah itulah sekilas penilaian saya ya, mbak dan mas-mas. Kalau gak sor bisa email atau berikan kritikmu di kolom komentar, atau bisa juga dengan mengirim tulisan di Degil kita ini. Wassalam.

Rating: 7

Leave a Comment

Baca Juga

Sutradara: Brian Buckley

Cast: Al Pacino, Evan Peters, Melanie Griffith, Barkhad Abdi

Rilis: 8 Desember 2017

Menurut saya, salah satu ciri khas umum film Hollywood dalam film yang bertemakan negara-negara konflik adalah menjadikan masyarakat di negeri konflik tersebut sebagai penjahat kelas bar-bar, predator, dan tak berbelas kasihan. Contohnya adalah film Beast of Nation. Namun hal di atas tak berlaku di film yang akan coba saya review ini. Film yang dibintangi oleh Al Pacino dan Evan peters, yang familiar sebagai QuickSilver di X men, menurut saya cukup menarik. Film yang diangkat dari kisah nyata seorang wartawan India bernama Jay Bahadur.

Beliau adalah seorang jurnalis amatir yang ingin mendapatkan pengakuan sebagai jurnalis profesional dan melancongkan kakinya ke negeri entah berantah untuk menimba Ilmu sekaligus mengetes mental. Di scene awal,  anda yang menontonnya akan merasa prihatin melihat hidup beliau. Jay sangat terinspirasi oleh Seymour Tolbin, seorang jurnalis senior yang memiliki sekarung pengalaman dan asam garam, yang diperankan oleh Al Pacino.

Film ini bercerita soal sudut pandang yang cukup liar dan beda dari film yang bertemakan konflik, yaitu sisi lain dari perompak Somalia. Untuk bray bray yang ingin nonton film ini, jangan terlalu berekspektasi tinggi terhadap adegan tembak-tembakan ala Steven Seagle sang rambut kilat atau penyelematan sandera oleh Densus Anti Teror yang berakhir bahagia dan ditandai dengan ciuman bibir para lakonnya. Saya jamin film ini tak akan sesuai dengan gambaran covernya, yang menampilkan senjata para penjahat dan paling-paling familiar buatan Soviet: AK-47. Film ini lebih menggambarkan usaha Jay Bahadur dalam menguras informasi dan sisi tak terduga dari para perompak Somalia. Namun jangan terkejut ketika beberapa perompak dalam film ini tampil parlente layaknya Ivan Gunawan!!!! Saya harus mengatakan bahwa perompak juga manusia.

Film ini juga cukup membuat saya berseringai dengan kehadiran Barkhad Abdi yang memerankan perompak Somalia di film Captain Philips. Dia berperan sebagai Sosok penerjemah tokoh utama yang cukup funky, dan identik dengan baju longgar-longgar layaknya Rama Aiphama. Bisa dibilang beliau ini adalah calo penghubung Jay dengan seluk beluk somalia. Mulai dari presiden hingga perompak kelas dewa pun dia kenal. Sebagai calo yang tahu segala hal, ia memiliki sifat baik budi dan jujur, tak seperti calo SIM di kantor Satlantas Medan. Oh ya, satu lagi dia memiliki wajah bak penonton bayaran Dahsyat, program TV musik terbaik di Indonesia.

Jika anda jeli menyasikan film ini, anda akan takjub dengan rentetan cerita yang dijabarkan, rententan yang berkesinambungan dengan film pembajakan kapal yang diperankan oleh bung Tom Hanks yang saya sebut di atas. Dibalut dengan komedi yang cukup membuat anda tertawa dan beberapa adegan yang sedikit mengguncang jantung, seperti adegan kejar-kejaran layaknya anak kecil main guli berlatar pemukiman Somalia yang cukup angker. Film ini juga turut menampilkan kebiasaan orang Somalia yang cukup kental, seperti mengonsumsi khat dan legalnya menenteng senjata. Namun saya cukup kecewa terhadap peran sang sesepuh perfilman, Al Pacino, yang aktingnya tidak terlalu menggelegar seperti film Heat dan Insomnia. Apa mungkin karena umur? Atau biusnya gak mempan? Atau kurang banyak nenggak amer (anggur merah)? Saya rasa peran beliau sia-sia. Sosok legenda perfilman ini hanya tampil tak lebih dari 10 menit! Apa-apaan ini? Fans berat Al Pacino (seperti saya) cukup kesal. Syukur filmnya punya cerita yang oke, jika tidak kami akan melakukan boikot aksi bela Al Pacino dengan kostum jas hitam parlente layaknya Don Corleone. Yang jelas saya tak setuju kepada Pak Sutradara bisa begitu lancang menempatkan idola kami layaknya aktor figuran menang audisi.

Sejauh ini, film yang diangkat dari buku “The Pirates of Somalia: Inside Their Hidden World” ini mendapatkan apresiasi yg cukup baik dari para kritikus. Hingga saya rasa cocok untuk menemani hari anda yang membosankan, dan sangat inspiratif kepada teman-teman yang memiliki semangat jurnalistik kelas dewa, dan siapa tahu dapat memacu anda untuk pergi ke negara entah berantah untuk menunjang eksistensi. Film ini juga berhasil membuat saya tertawa sekaligus akan menambah ilmu sejarah layaknya mata pelajaran. Nah itulah sekilas penilaian saya ya, mbak dan mas-mas. Kalau gak sor bisa email atau berikan kritikmu di kolom komentar, atau bisa juga dengan mengirim tulisan di Degil kita ini. Wassalam.

Rating: 7

Leave a Comment

Baca Juga