lemari_minke degilzine.com

LEMARI MINKE

SINTA MANAF menatap marah ke arah lemari yang terletak di pojok kamarnya itu. Sudah beberapa hari ini terdengar suara gaduh dari dalam lemari tersebut, membuat kemampuannya dalam menulis puisi jadi kacau balau.

Sesungguhnya lemari itu memang sudah ada sejak pertama kali ia menempati kamar itu. Namun karena bentuknya yang terkesan angker, Sinta membujuk ayahnya agar lemari itu segera diungsikan.

“Itu punya pemilik lama. Bapak itu bekas mentri, lho. Jadi, harganya pasti mahal. Tidak bisa tidak,” tolak ayahnya.

“Kalau mahal, kenapa ditinggalin, Papa? Yang benar saja!”

“Mungkin bapak itu sudah punya yang sama persis. Ayolah, Sinta, hanya lemari saja kok diributin segala? Ngga membuat kamarmu yang besar ini jadi sempit, kan?”

Sinta merasakan sindiran dalam kata-kata ayahnya itu. Ia sudah dewasa, maka tak perlu lagi berlaku manja. Ia tahu betul, ayahnya tak suka bila ditentang, membuatnya segera bersetuju untuk menghentikan pembangkangan yang tak perlu. Benar, hanya lemari yang tak bisa bergerak, pikirnya.

Malam demi malam berlalu, dan Sinta Manaf kembali mengajukan protes soal keberadaan lemari sialan itu.

“Waktu lampunya kumatikan, ada cahaya hijau yang keluar dari lemari itu, Papa!”

Namun setelah diselidiki oleh ayahnya, ternyata cahaya hijau itu berasal dari cat fosfor yang melapisi sebagian permukaan lemari, yang akan bersinar di dalam gelap. Kembali ayahnya merumrum agar Sinta jangan pernah mempersoalkannya lagi. Namun, sejak munculnya cahaya hijau itu, Sinta tak mampu lagi membohongi diri bahwa ada sesuatu yang sedang mengintainya.

Untuk menunjukkan bahwa dirinyalah sang penguasa kamar, Sinta memutuskan untuk menggembok lemari itu. Ia juga menempeli plester hitam di permukaan lemari yang terkena cat fosfor. Barulah setelah itu Sinta bisa tidur kembali, walaupun masih belum cukup tenang.

Sebelum ia mendengar suara-suara gaduh yang berasal dari dalam lemari itu, Sinta menganggap bahwa kamarnya adalah tempat yang paling banyak memberinya inspirasi dalam menulis cerpen ataupun puisi. Meja tulisnya disusun begitu rupa, tepat menghadap ke arah jendela; ia meminta kepada ayahnya agar jendela itu tidak diberi jerajak. Kacanya juga mesti polos dan putih, sehingga bila hujan turun, ia akan merasa bulir-bulirnya jatuh tepat di depan matanya.

Sinta mengaku pada orang-orang bahwa ia bisa berbicara dengan hujan; tentu dengan bahasa yang telah mereka sepakati, seperti tokoh Annelies dalam cerita Bernard Batubara. Ayahnya sering mendapatinya tertawa waktu hujan mengguyur bumi. Pelangi yang melengkung indah setelah hujan usai akan ia petik dengan kedua tangannya, lantas warna-warninya akan ia simpan di dalam kotak berbentuk hati; sering juga helai pelangi itu akan ia guratkan di atas jalanan di mana tokoh-tokoh rekaannya bersepeda dengan keriangan yang niscaya.

Selain hujan, Sinta juga mencintai senja. Ia percaya, dirinya pun mampu memotong senja seperti Seno Gumira Ajidarma, lantas menghadiahkannya pada kekasih yang entah siapa, yang entah di mana. Berjam-jam ia akan diam mematung, menembuskan pandangnya ke arah senja yang memerah di langit sore, wajahnya merona, terisap ke dalam langit yang gerowong.

Satu lagi yang membuat ia betah berlama-lama di kamarnya adalah kirana kunang-kunang di teduhnya malam. Setitik cahaya kecil di dalam gulita itu seakan memberinya kekuatan dalam mengungkapkan derita dan kepedihan hati. Bila hujan adalah ceria, maka malam adalah sendu. Sinta yakin, ribuan kunang-kunang yang pernah melintas sunyi di balik jendela kamarnya adalah kepingan hati para kekasih yang kandas tak kesampaian; ia ngeri bila membayangkan kunang-kunang itu adalah jelmaan ruh manusia yang telah mati, seperti apa yang pernah Agus Noor kisahkan. Dengan kemampuannya dalam merekam dan melukiskan fenomena alam, maka lahirlah karya-karya menakjubkan yang mampu menggambarkan hati manusia dan segala perasaan mereka.

Dan sampailah ketika kemampuannya dalam bercerita mendadak buyar karena kebisingan yang muncul dari dalam lemari itu. Ia mengadu pada kunang-kunang, bahwa telinganya tak mampu lagi menangkap derai tawa manusia yang berkelindan di dalam rintik hujan. Jemarinya yang lentik itu tak kuasa lagi memetik pelangi yang terjumbai di angkasa. Begitupun tatapan matanya, yang dahulu mampu membolongkan langit sore kini mendadak rabun dan tidak fokus.

Beberapa hari kemudian, Sinta mendengar bisikan-bisikan yang terembus dari balik jendela. Sedikit membuat bulu kuduknya meremang.

“Biarkan saja, Sinta!”

“Jangan acuhkan!”

“Tutup telingamu! Butakan matamu!”

“Kau akan menyesal jika kau membukanya!”

Sinta berlari menuju jendela, dan menemukan sepasang burung hantu yang bertengger di atas dahan pohon jambu. Segerombol kunang-kunang yang selama ini menjadi sobatnya dalam berkeluh-kesah tampak berputar-putar di pekatnya cuaca malam, bergerak pelan, lantas menukik cepat ke arah jendela. Sinta kaget bukan alang-kepalang. Sontak ia memejamkan matanya. Ketika ia membuka matanya kembali, Sinta tak melihat sesuatu pun di luar sana. Semuanya gelap seperti di dalam gorong-gorong.

Di malam selanjutnya, bisikan-bisikan itu muncul kembali. Namun kini penuh dengan nada ancaman.

“Kau akan habis jika membuka lemari itu, Sinta!”

“Tamat! Tamat! Segala kisahmu akan tumpas!”

“Bakar lemari itu, Sinta!”

“Hancurkan lemari itu, Sinta!”

Sinta membisu. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menangis sambil menutupi wajahnya dengan seonggok bantal.

Di malam berikutnya, bisikan-bisikan itu sepertinya lupa untuk mendatanginya, hingga Sinta membulatkan tekad untuk membongkar misteri ini sesegera mungkin. Ada dua pilihan yang bergelayut di dalam kepalanya: langsung dibuang, atau dibuka saja terlebih dahulu. Pilihan pertama terpaksa ditolaknya setelah bayangan sang ayah muncul seraya tersenyum melecehkan. Yang tersisa hanyalah pilihan yang kedua. Ia memejamkan kedua matanya, mengukuhkan hati untuk bersiap menyaksikan suatu kebenaran yang senyata-nyatanya.

Lantas…

“Ooooh, Nona! Akhirnya!” Sebuah teriakan serak menggema memenuhi ruangan.

“Rumahku hendak dirobohkan, Nona. Kami hendak diusir dari tanah kami sendiri!” susul suara yang lain.

“Anakku sakit, Nona. Sedang biaya rumah sakit teramat mahalnya!”

“Kami yang menanam padi, namun untuk menanak segenggam nasi pun kami tak mampu, Nona!”

“Kenapa bisa begini, Nona? Jawab kami, Nona!”

“Suarakan kepiluan kami, Nona! Suarakan! Sampaikan ke seluruh dunia, bahwa kami pun ada di antara mereka, Nona!”

Sinta membuka matanya dan melongo seketika. Ia menelan ludah menyaksikan rombongan orang tua-muda, perempuan-lelaki, bayi-bayi kurus yang menetek pada ibunya, semuanya berpakaian compang-camping, sedang meronta-ronta dalam ikatan tali tambang yang kelihatan begitu eratnya. Segala macam kutukan, pertanyaan, dan gugatan menerobos masuk ke dalam telinganya. Dalam satu kedipan mata, senja-kunang-kunang-pelangi-hujan, semuanya mendadak lebur menjadi serpihan-serpihan tak berbentuk.

Sinta menyaksikan seorang lelaki berkumis dengan blangkon yang terlihat lucu di kepalanya, menyeruak dari tengah-tengah orang-orang malang itu, lantas berdiri tegak di hadapannya. Bukan main gaya lelaki di hadapannya itu. Wajahnya memancarkan keagungan yang sukar untuk dilukiskan. Dadanya membusung, lantas berbisik dengan sopan.

“Kenalkan, Nona. Nama saya Minke. Inilah Bumi Manusia yang sesungguh-sungguhnya, Nona. Mari, bantu saya menyelamatkan Jejak Langkah mereka, Anak Semua Bangsa yang terkurung di dalam Rumah Kaca ketidakadilan.”

***

*Cerpen milik Tengku Ariy Dipantara ini pertama kali diterbitkan di majalah Bhinneka edisi ke III, November 2016, dengan judul: Ada Cerita di Dalam Lemari. Telah diterjemahkan pula ke dalam bahasa Inggris dengan judul: There’s Something in the Wardrobe, diterbitkan oleh Fireworks, Osaka University, Japan, Januari 2017.

**Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post