DHEA SASMITA: NGGA GAMPANG NGEJUAL SYUTHAY

DHEA SASMITA: NGGA GAMPANG NGEJUAL SYUTHAY

Kita sering kali lupa, bahwa kesuksesan sebuah band sebenarnya tak bisa dilepaskan dari peran sang manajer. Mulai dari mendata jadwal panggung, perform, jadwal latihan, urusan dengan sponsor, klausul kontrak, promosi dan tetek bengek lainnya yang bisa bikin anak band itu migrain. Di sinilah peran vital sang manager yang sering kali kita lupakan. Brian Eipstein, bisa disebut adalah orang yang paling berjasa dalam perjalanan The Beatles. Di skena Indonesia, kita sering mendengar nama Bunda Iffet, yang berjasa bagi kelangsungan karir unit Slank. Bagaimana dengan skena Medan? Berhubung jagoan kita di bulan Januari ini adalah Syuthay, maka kita akan interview Dhea Sasmita, sesosok perempuan muda multi-talenta yang dipercaya untuk “mengurus” berandalan-berandalan nakal tersebut. Selain sebagai manajer Syuthay, Dhea juga bekerja di radio Kiss FM sebagai penyiar. Yuk ah!


Halo, Dhea, langsung saja ya. Sejak kapan nih Dhea aktif jadi manajer Syuthay?

Resminya sejak event Cassete Store Day 2017.

Apa sebelumnya sudah sering main bareng anak-anak Syuthay?

Duluan kenal sama Friend Gultom (vokalis Syuthay), itu pun karena kerja di tempat yang sama (Kiss FM). Nah, pertama kali ngelihat mereka main di Domayn. Di situlah aku diitawarin mereka untuk jadi manajer, ya karena udah kenal dekat juga dan percaya aku bisa nge-handle mereka. Yah, walaupun sebenarnya genre musik yang sering aku denger itu bukan stoner rock kayak mereka.

Dhea sempat manajerin band lain sebelumnya? 

Yap. Sebelumnya pernah manajerin Loro di awal 2017.

Tertarik dengan skena indie Medan sejak kapan?

Sejak akhir 2016. Itu pun gara-gara seneng dengerin Parade On Air di Kiss FM. Waktu itu pertama kali denger pas band WINA lagi on air. Jadinya suka. Eh, rupanya kawan-kawan aku pun lumayan banyak yang terlibat di skena juga.

Gak tertarik untuk ngeband?

Buat band sih engga kayaknya. Tapi kalo bantu-bantu aja mau!

Kenapa ga mau?

Belum nemu aja sih kayaknya, temen-temen yang asik buat diajakin ngeband.

Referensi musik Dhea sendiri gimana?

Semua kudengarin sih. Apa ajalah. Kalau yang paling suka itu sih kayak She & Him, Noh Saleh, Affen dan Selat Malaka, hahahaha.

Bisa main instrumen musik? 

Bisa gitar sama piano sikit-sikit. Untuk chord-chord aja amanlah, hahaha.

Kalau sebagai penyiar radio sejak kapan?

  1. Waktu itu mulai ikut di program After School di Kiss FM, yang khusus buat anak sekolahan.

Apakah ada pengalaman yang cukup menyenangkan di skena Medan?

Ada! Sempat jadi additional vokalis di Kemedja Poetih. Sekitar akhir puasa tahun lalu itu, ditawarin Bang Ipan Munthe (manajernya Kemedja Poetih), waktu itu karena karena postingan Snapgram yang aku nyanyi sambil main gitar.

Menurut Dhea, apa yang unik sih dari skena indie Medan sejauh ini?

Yang ngga enaknya aja ya? Kayaknya event di Medan lebih seneng ngundang band yang banyak massa-nya aja, sampai kadang ngga peduli sama kualitas band tadi. Bukannya mau sok bahas kualitas, tapi ya kayak gitu yang kulihat selama ini. Maunya ga usah pedulilah soal massa banyak apa ngga, yang penting itu band bagus ajalah.

Kalo misalnya dianalogikan sebagai makanan, skena indie Medan itu apa?

Pancake durian! Karena biar pun enak, tapi kalau orang ga suka, ya ga akan dimakan!

Apa mungkin suatu saat skena Medan berubah jadi kerak telor?

Ga mungkinlah.

Dhea kampungnya di mana?

Batubara. Oya, di sana banyak grup penari Melayu dan lumayan terkenal sampai ke luar negeri, lho!

Balik lagi yok ke Syuthay. Apa tantangan yang paling sering dihadapi saat ngurusin mereka?

Ngejual mereka sih kayaknya, karena kadang kebentur ama permintaan acara yang seringnya ga suka sama band keras kayak mereka.

Lagi sibuk mempersiapkan apa nih bareng Syuthay di 2018 ini?

Nah, untuk tahun ini kita lagi mempersiapkan Syuthay untuk tour ke *****, sama ke *****. Pokoknya kerenlah, hahaha!

Soal perempuan nih. Sebagai penikmat sekaligus pelaku skena, ada ga sih pengalaman yang membuat Dhea risi sejauh ini? Misalnya pelecehan seksual?

Kalau pelecehan sih ga ada. Aku percaya di Medan ga separah itulah. Paling yang bikin risi itu.. Oh, pernah di satu gigs ketemu sama orang-orang yang ternyata punya hubungan denganku di masa lalu, termasuk mantan gebetan, hahaha. Jadinya harus tetap stay cool sepanjang acara kan.

Menurut Dhea, kenapa sih perempuan jarang dijumpai sebagai pelaku di skena indie Medan?

Menurutku sih karena pada dasarnya perempuan itu serba malu, besar kemaluannya, hahaha. Terkadang risih juga untuk berbaur di antara laki-laki itu.

Kalau misalnya kita ngebuat event dari perempuan untuk perempuan, apakah akan menarik?

Ya pasti dong. Menarik perhatian laki-laki pasti, hahaha. Tapi yang pasti kerja sama antar perempuan itu lebih sulit, lho, kenapa? Karena perempuan itu lebih jago untuk nge-fake dibanding laki-laki. Jadi ntar kalau dikumpulin pasti muncul geng-geng-an atau gep-gepan walaupun ga terlihat. Apalagi kalau yang udah ngerasa senior, hahahaha.

Apa itu berarti perempuan ngga perlu ikutan di dalam skena ini?

Ya tetap perlulah! Karena apa yang dilakuin laki-laki mestinya bisa juga dilakuin perempuan. Ke depannya ini bisa ngasih alternatif baru buat skena Medan. Perempuan apa ga bosan jadi penonton terus?

Figur perempuan yang paling ngindies dan berbahaya dari Medan?

Kak Ratna (manajer Filsafatian)! Karena kalau ngelihat dia, terkadang aku langsung ngebayangin diriku di masa depan, hahaha.

Film yang harus ditonton kaum perempuan sebelum mati?

Bokep! Kenapa? Karena ngga semua perempuan pernah nonton itu. Kan masih banyak yang malu-malu gitu…

 

*Interview oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post