Degil Zine

Pasti kalian, wahai Degilian, pernah dengar kata-kata seperti ini dari mulut sohib kalian: duh, sibuk kali kuliahku sekarang, ngga sempat aku ngeband lagi kayaknya. Atau: udah mau skripsi lek, duluankan kuliah dululah ketimbang ngeband. Apa benar ngeband itu akan selalu bersitegang dengan kata perkuliahan? Yakin? Mari baca kisah di bawah ini:

Pada tahun 2009, Arif Rahman, biasa disapa Ayip, seorang mahasiswa tahun terakhir jurusan psikologi di STI HB, Banda Aceh, sedang berjuang dalam merangkumkan tugas skripsinya. Tak kunjung selesai mengakibatkan stress tingkat tinggi, otak keram dan denyut nadi tak normal, doi mengalihkannya dengan bermain musik. Bersama beberapa rekan yang bernasib sama, Ayip lantas mendirikan sebuah band yang meng-cover lagu-lagunya Nirvana dan The Vines. Di saat itu pula mereka bertiga memutuskan untuk menggunakan nama Psycobain. Tak lama berselang, mereka semua akhirnya lulus kuliah. Entah karena itu atau tidak, tapi paling tidak cerita di atas telah membuktikan pada kita bahwa ngeband tidak saling bertentangan dengan jadwal perkuliahan, malah sebenarnya bisa saling menguatkan. Mengutip kata-kata Roberto Baggio, sahabat saya yang paling kritis sejagad raya itu, apa gunanaya sarjana kalau ga bisa ngeband? Setuju?

Ayip dan Psycobain bukan sekadar cerita rekaan bergaya sok moralis semata. Psycobain (akhirnya berubah ejaan menjadi Psikobein pada 2013) benar-benar nyata dan hidup. Mengenai pergantian nama, Ayip, sang gitaris sekaligus vokalis, berkata, "Aku gak mau nanti banyak yang mikir kami niru-niru Kurt Cobain, karena dari awal kami ngaku-ngakunya genre grunge, terus di ujung nama band kami ada Cobain-nya."

Ayip juga mempertegas, meskipun Psikobein adalah band grunge, tapi mereka menolak "Nirvanaisme". "Kita gak bikin Nirvana itu jadi panutan bagi Psikobein. Cukup kami jadikan contoh saja." Tumben. Baru kali ini saya dengar ada band grunge yang ga kepengen mati bunuh diri kayak Kurt Cobain.

Perjalanan Psikobein yang berawal dari band kampus juga cukup berliku untuk menjadi seperti sekarang. Proses seringkali memakan korban. Layaknya pohon yang mesti merelakan daunnya berguguran sebelum melahirkan buah yang matang. Begitu pula yang terjadi pada Psikobein. Akan terlalu panjang daftar personel yang bergonta-ganti di tubuh Psikobein jika saya tuliskan di sini; mulai dari Ayip (vokal/gitar), Zul (drum) dan Togar (bass), sampai ke Ayip (vokal/gitar), Jei (bass), Ali (drumer) dan Riski (vokal/gitar). Yang pasti, proses tadi telah membuat Psikobein meninggalkan Ayip sendirian sebagai personel aslinya hingga tulisan ini tersaji di depan kalian.

Proses yang serba panjang itu akhirnya membawa Psikobein melahirkan EP bertajuk Misi Minor pada 14 Januari 2017. Pengerjaan EP pertama ini juga patut dicontoh oleh para musisi indie pemalas yang terlalu banyak pertimbangan dan cengkonek, yang biasanya lebih doyan perform di pensi sekolahan ketimbang membikin karya. Tidak punya biaya, Psikobein merekam track vokal, gitar, dan bass di kamar kosong yang ada di Mallik's Coffee (kedai kopi milik Ayip sekaligus basecamp dari Psikobein). Selanjutnya mereka mesti menahan jajanan malam demi membayar biaya record drum, mixing hingga mastering seluruh lagu di studio rekaman profesional. Lalu bagaimana dengan karya-karya yang ada di EP Misi Minor tersebut?

Saya coba dengar lagu mereka satu per satu di Soundcloud, berhubung saya belum mendapatkan rilisan fisiknya. Maklum ya, di zaman serba digital ini, seorang kritikus musik, meskipun sekelas sahabat saya, Roberto Baggio, ngga bakal pernah dapat CD gratisan lagi. Aku Ingin Malam menjadi nomor pembuka yang apik jika kalian ingin mengetahui grunge seperti apa yang Psikobein sajikan. Cita rasa bajingan ala Mudhoney dan sound gitar yang lebar ala Alice in Chains lumayan mendominasi. Lirik bertema depresi akut yang jadi ciri khas para pemuda-pemuda Seattle mereka sajikan pula dengan sangat apik. Kritik sosial terhadap masyarakat urban muncul pada track Generasi. Lirik pada bagian reff-nya bahkan masih bergema di kepala saya hingga tulisan ini saya tuntaskan: Ortu kencing berdiri tapi lupa dicuci, anak kencing berlari, basah sana sini! Yeah, hell, yeah!

Sayangnya di lagu-lagu yang lain terdapat belang pada sound, mungkin akibat track live yang dikerjakan secara mandiri tadi. Lagu-lagu yang lain, menurut saya pribadi, juga tidak memiliki lirik sekuat Generasi dan Aku Ingin Malam. Komposisi musiknya juga tergolong lemah ketika mereka coba meninggalkan unsur noise ala grunge yang kita kenal pada umumnya. Tapi Roberto Baggio langsung membentak saya, jangan salah kau, katanya, Screeming Trees, bapaknya grunge itu, polanya juga begini lho. Soal ini Ayip juga mengatakan, "EP ini masih kecil, makanya namanya Misi Minor. Isinya juga materi-materi lama. Psikobein ingin mengawali buah karyanya dengan yang kecil, habis itu baru yang gede-gedenya! Intinya sih, MISI MINOR INI ADALAH MIMPI KECIL KAMI UNTUK MELANJUTKAN KE MIMPI YANG LEBIH BESAR!"

Oke. Cukup. Mimpi kecilnya saja sudah sebesar ini. Kalau begitu, dengan ini saya katakan: Psikobein teramat pantas untuk didengarkan, bukan hanya bagi para pecinta musik grunge, namun juga bagi seluruh pecinta musik rock se-Indonesia Raya!

Apa? Kau bertanya, apa mungkin ada band grunge dari Aceh? Ya, pertanyaanmu tidak salah, wahai Roberto. Persoalannya adalah, selain minimnya media musik yang tampaknya acuh pada skena kotanya sendiri itu, Aceh juga sama sekali tidak memiliki komunitas grunge seperti yang ada di Sumatra Utara, sehingga gaung dari Psikobein tidak begitu terdengar selama ini. Ayip sendiri berani bersumpah, bahwa "Memang cuma kami band grunge yang masih ada dan masih aktif di Aceh. The one and only!" Toh tidak membuat semangat mereka kendur, atau malah menjelma kampret dengan berpaling ke genre lain demi popularitas maupun pundi-pundi dolar semata. Pun begitu, dengan jujur Ayip terpaksa menyatakan kecemburuannya pada skena grunge yang ada di Medan, "Beberapa bulan lalu saya dan Riski ke Medan buat nonton North Blast. Kami sempatin ketemuan dengan beberapa band grunge Sumut, Flying Pig, Beesing, juga Depresi Demon. Kadang pengen juga skena grunge di Banda Aceh ini seperti di Medan. Jadi ngiri malah kalo diceritain gimana komunitas Grunge Sumut bisa ramai gitu..."

Tapi percayalah, ada atau tidaknya media maupun komunitas yang akan mendukung mereka, Psikobein akan tetap ada. Buktinya saat ini mereka sedang kembali ke dapur rekaman untuk menyelesaikan full album perdana mereka. Dan kabarnya pula, Psikobein akan menyiapkan tour pula! Gimana? Siap menyambut mereka di kota kita masing-masing?

Tidak seperti Aga Depresi yang selalu menghadirkan quote bajingan di akhir tulisannya, maka biarkanlah saya mendoakan jagoan-jagoan kebanggaan tanah Sumatra ini (maklum, saya orang yang cukup alim).

Terpujilah kalian wahai grunger-grunger bajingan yang masih bernapas di era EDM macam begini!

 

*Ingin tahu seperti apa materi Misi Minor? Silakan dengar di sini. Ingin berkunjung dan mengajak mereka bercerita soal apa saja, singgahlah ke Mallik's Coffee, Jl. Malikul Saleh II, Desa Pineung, Banda Aceh atau sapa mereka di @psikobein

2 thoughts on “MIMPI BESAR PSIKOBEIN

  1. Waaah, sangat menarik tulisannya ini 🙂
    tepat di hari ini 14 Januari las setahun rilisnya EP Misi Minor, jangan2 Roberto Baggio yg saranin buat diposting hari ini ya? Hehehe
    Terima kasih degilzine 🙂

  2. Degilzine patut jadi referensi media Jawa yang mau ngulik band-band “bajingan” tanah Sumatra. Salam.

Leave a Comment

Baca Juga

Pasti kalian, wahai Degilian, pernah dengar kata-kata seperti ini dari mulut sohib kalian: duh, sibuk kali kuliahku sekarang, ngga sempat aku ngeband lagi kayaknya. Atau: udah mau skripsi lek, duluankan kuliah dululah ketimbang ngeband. Apa benar ngeband itu akan selalu bersitegang dengan kata perkuliahan? Yakin? Mari baca kisah di bawah ini:

Pada tahun 2009, Arif Rahman, biasa disapa Ayip, seorang mahasiswa tahun terakhir jurusan psikologi di STI HB, Banda Aceh, sedang berjuang dalam merangkumkan tugas skripsinya. Tak kunjung selesai mengakibatkan stress tingkat tinggi, otak keram dan denyut nadi tak normal, doi mengalihkannya dengan bermain musik. Bersama beberapa rekan yang bernasib sama, Ayip lantas mendirikan sebuah band yang meng-cover lagu-lagunya Nirvana dan The Vines. Di saat itu pula mereka bertiga memutuskan untuk menggunakan nama Psycobain. Tak lama berselang, mereka semua akhirnya lulus kuliah. Entah karena itu atau tidak, tapi paling tidak cerita di atas telah membuktikan pada kita bahwa ngeband tidak saling bertentangan dengan jadwal perkuliahan, malah sebenarnya bisa saling menguatkan. Mengutip kata-kata Roberto Baggio, sahabat saya yang paling kritis sejagad raya itu, apa gunanaya sarjana kalau ga bisa ngeband? Setuju?

Ayip dan Psycobain bukan sekadar cerita rekaan bergaya sok moralis semata. Psycobain (akhirnya berubah ejaan menjadi Psikobein pada 2013) benar-benar nyata dan hidup. Mengenai pergantian nama, Ayip, sang gitaris sekaligus vokalis, berkata, "Aku gak mau nanti banyak yang mikir kami niru-niru Kurt Cobain, karena dari awal kami ngaku-ngakunya genre grunge, terus di ujung nama band kami ada Cobain-nya."

Ayip juga mempertegas, meskipun Psikobein adalah band grunge, tapi mereka menolak "Nirvanaisme". "Kita gak bikin Nirvana itu jadi panutan bagi Psikobein. Cukup kami jadikan contoh saja." Tumben. Baru kali ini saya dengar ada band grunge yang ga kepengen mati bunuh diri kayak Kurt Cobain.

Perjalanan Psikobein yang berawal dari band kampus juga cukup berliku untuk menjadi seperti sekarang. Proses seringkali memakan korban. Layaknya pohon yang mesti merelakan daunnya berguguran sebelum melahirkan buah yang matang. Begitu pula yang terjadi pada Psikobein. Akan terlalu panjang daftar personel yang bergonta-ganti di tubuh Psikobein jika saya tuliskan di sini; mulai dari Ayip (vokal/gitar), Zul (drum) dan Togar (bass), sampai ke Ayip (vokal/gitar), Jei (bass), Ali (drumer) dan Riski (vokal/gitar). Yang pasti, proses tadi telah membuat Psikobein meninggalkan Ayip sendirian sebagai personel aslinya hingga tulisan ini tersaji di depan kalian.

Proses yang serba panjang itu akhirnya membawa Psikobein melahirkan EP bertajuk Misi Minor pada 14 Januari 2017. Pengerjaan EP pertama ini juga patut dicontoh oleh para musisi indie pemalas yang terlalu banyak pertimbangan dan cengkonek, yang biasanya lebih doyan perform di pensi sekolahan ketimbang membikin karya. Tidak punya biaya, Psikobein merekam track vokal, gitar, dan bass di kamar kosong yang ada di Mallik's Coffee (kedai kopi milik Ayip sekaligus basecamp dari Psikobein). Selanjutnya mereka mesti menahan jajanan malam demi membayar biaya record drum, mixing hingga mastering seluruh lagu di studio rekaman profesional. Lalu bagaimana dengan karya-karya yang ada di EP Misi Minor tersebut?

Saya coba dengar lagu mereka satu per satu di Soundcloud, berhubung saya belum mendapatkan rilisan fisiknya. Maklum ya, di zaman serba digital ini, seorang kritikus musik, meskipun sekelas sahabat saya, Roberto Baggio, ngga bakal pernah dapat CD gratisan lagi. Aku Ingin Malam menjadi nomor pembuka yang apik jika kalian ingin mengetahui grunge seperti apa yang Psikobein sajikan. Cita rasa bajingan ala Mudhoney dan sound gitar yang lebar ala Alice in Chains lumayan mendominasi. Lirik bertema depresi akut yang jadi ciri khas para pemuda-pemuda Seattle mereka sajikan pula dengan sangat apik. Kritik sosial terhadap masyarakat urban muncul pada track Generasi. Lirik pada bagian reff-nya bahkan masih bergema di kepala saya hingga tulisan ini saya tuntaskan: Ortu kencing berdiri tapi lupa dicuci, anak kencing berlari, basah sana sini! Yeah, hell, yeah!

Sayangnya di lagu-lagu yang lain terdapat belang pada sound, mungkin akibat track live yang dikerjakan secara mandiri tadi. Lagu-lagu yang lain, menurut saya pribadi, juga tidak memiliki lirik sekuat Generasi dan Aku Ingin Malam. Komposisi musiknya juga tergolong lemah ketika mereka coba meninggalkan unsur noise ala grunge yang kita kenal pada umumnya. Tapi Roberto Baggio langsung membentak saya, jangan salah kau, katanya, Screeming Trees, bapaknya grunge itu, polanya juga begini lho. Soal ini Ayip juga mengatakan, "EP ini masih kecil, makanya namanya Misi Minor. Isinya juga materi-materi lama. Psikobein ingin mengawali buah karyanya dengan yang kecil, habis itu baru yang gede-gedenya! Intinya sih, MISI MINOR INI ADALAH MIMPI KECIL KAMI UNTUK MELANJUTKAN KE MIMPI YANG LEBIH BESAR!"

Oke. Cukup. Mimpi kecilnya saja sudah sebesar ini. Kalau begitu, dengan ini saya katakan: Psikobein teramat pantas untuk didengarkan, bukan hanya bagi para pecinta musik grunge, namun juga bagi seluruh pecinta musik rock se-Indonesia Raya!

Apa? Kau bertanya, apa mungkin ada band grunge dari Aceh? Ya, pertanyaanmu tidak salah, wahai Roberto. Persoalannya adalah, selain minimnya media musik yang tampaknya acuh pada skena kotanya sendiri itu, Aceh juga sama sekali tidak memiliki komunitas grunge seperti yang ada di Sumatra Utara, sehingga gaung dari Psikobein tidak begitu terdengar selama ini. Ayip sendiri berani bersumpah, bahwa "Memang cuma kami band grunge yang masih ada dan masih aktif di Aceh. The one and only!" Toh tidak membuat semangat mereka kendur, atau malah menjelma kampret dengan berpaling ke genre lain demi popularitas maupun pundi-pundi dolar semata. Pun begitu, dengan jujur Ayip terpaksa menyatakan kecemburuannya pada skena grunge yang ada di Medan, "Beberapa bulan lalu saya dan Riski ke Medan buat nonton North Blast. Kami sempatin ketemuan dengan beberapa band grunge Sumut, Flying Pig, Beesing, juga Depresi Demon. Kadang pengen juga skena grunge di Banda Aceh ini seperti di Medan. Jadi ngiri malah kalo diceritain gimana komunitas Grunge Sumut bisa ramai gitu..."

Tapi percayalah, ada atau tidaknya media maupun komunitas yang akan mendukung mereka, Psikobein akan tetap ada. Buktinya saat ini mereka sedang kembali ke dapur rekaman untuk menyelesaikan full album perdana mereka. Dan kabarnya pula, Psikobein akan menyiapkan tour pula! Gimana? Siap menyambut mereka di kota kita masing-masing?

Tidak seperti Aga Depresi yang selalu menghadirkan quote bajingan di akhir tulisannya, maka biarkanlah saya mendoakan jagoan-jagoan kebanggaan tanah Sumatra ini (maklum, saya orang yang cukup alim).

Terpujilah kalian wahai grunger-grunger bajingan yang masih bernapas di era EDM macam begini!

 

*Ingin tahu seperti apa materi Misi Minor? Silakan dengar di sini. Ingin berkunjung dan mengajak mereka bercerita soal apa saja, singgahlah ke Mallik's Coffee, Jl. Malikul Saleh II, Desa Pineung, Banda Aceh atau sapa mereka di @psikobein

2 thoughts on “MIMPI BESAR PSIKOBEIN

  1. Waaah, sangat menarik tulisannya ini 🙂
    tepat di hari ini 14 Januari las setahun rilisnya EP Misi Minor, jangan2 Roberto Baggio yg saranin buat diposting hari ini ya? Hehehe
    Terima kasih degilzine 🙂

  2. Degilzine patut jadi referensi media Jawa yang mau ngulik band-band “bajingan” tanah Sumatra. Salam.

Leave a Comment

Baca Juga