LIAM GALLAGHER 2018: JAKARTA FUCKIN' RULES!

LIAM GALLAGHER 2018: JAKARTA FUCKIN’ RULES!

Ecovention Hall, Ancol, Jakarta, Minggu, 14 Januari 2018, jadi salah satu hari bersejarah dalam hidup saya ketika akhirnya berhasil melihat langsung penampilan dari Liam Gallagher, yang dengan Oasis-nya sudah sekitar 24 tahun saya kagumi. Konser ini sebenarnya dijadwalkan pada tanggal 8 Agustus tahun lalu, namun dikarenakan adanya kesalahan teknis dalam penentuan tanggal, membuat kesabaran para penggemar vokalis yang bernama lengkap William John Paul Gallagher ini harus ditunda sekitar 5 bulan.

Sebelum dapat memasuki arena konser, para pembeli tiket harus menukar dulu tiket yang dibeli via online di ticket booth di luar arena dengan tiket fisik. Terdapat sedikit kebingungan dari para pembeli tiket dikarenakan kurang jelasnya koordinasi pihak penyelenggara dalam mengatur antrian penukaran tiket, ditambah hujan yang turun membuat suasana menjadi sedikit tidak nyaman. Tapi yang namanya die hard fans, semua harus dijalani demi menyaksikan sang idola tampil. Akhirnya sekitar jam 4 sore, saya dan adik saya, yang juga menggemari Oasis tentunya, berhasil masuk ke depan pintu arena, dan kembali harus antri. Janji pihak penyelenggara bahwa pintu akan dibuka jam 5 sore juga tidak terealisasi; entah pintu mana yang dimaksud mereka. Sampai akhirnya sekitar jam setengah 7 malam, pintu dibuka dan kembali terjadi chaos dikarenakan semua berebut masuk, sementara pintu yang sayangnya terbuat dari kaca hanya sedikit yang dibuka. Tanpa menunggu lama kami pun masuk dan mengambil tempat lumayan sangat dekat dengan bibir panggung, area rock pit.

Lagi, janji pihak penyelenggara konser akan dimulai tepat jam 8 malam. Namun sekitar 2 jam lebih, lampu masih tetap dihidupkan dan belum ada tanda-tanda Liam akan muncul. Kami dihibur dengan lagu-lagu yang diputar dari PA (public address), meliputi Sex Pistols, The Jam, Primal Scream sampai I Am The Resurrection-nya The Stone Roses. Akhirnya sekitar jam 9, lampu dimatikan dan guncangan drum Fuckin’ In The Bushes menggelegar menandakan konser akan dimulai, semua yang ada di front row mendadak gila.

Akhirnya Liam Gallagher muncul dari belakang panggung, diikuti tour band-nya, Jay Mehler (guitar), Mike Moore (guitar), Drew McDonnell (bass), Christian Madden (keyboards), dan Dan McDougall (drums). “Hello, there..” ucap Liam singkat, disusul dengan memperkenalkan lagu pertama, Rock N’ Roll Star. Kemudian ada Morning Glory, masih lagu Oasis. Mulai lagu ketiga, Liam membawakan materi dari debut albumnya, As You Were, Greedy Soul, diikuti Wall of Glass, Paper Crown, Bold dan For What It’s Worth. Selanjutnya Soul Love, lagu Beady Eye, band Liam beserta personel Oasis lainnya minus Noel setelah Oasis bubar, yang juga ciptaan Liam sendiri, dibawakan.

Foto: Koleksi penulis.

Jangan mengharap lebih dari konser seorang Liam Gallagher, selain dari semangat yang ditularkan Liam melalui materi lagu-lagu yang dibawakan. Tidak ada dekorasi panggung yang megah, tata lampu yang masih dikategorikan standar, juga aksi panggung dari seorang Liam Gallagher yang sejak awal Oasis muncul sampai sekarang masih begitu-begitu saja: standing still di depan microphone, dengan badan sedikit menunduk, kedua tangan diikat ke belakang, kepala mendongak, dan suara yang khas. Tapi justru itulah daya tarik Liam dari dulu dan menjadi trademark-nya. Di tengah lagu atau jeda lagu, gaya-gaya khas Liam lainnya tetap dikeluarkan, menunjuk ke arah penonton, tiba-tiba berlutut, mempresentasikan lirik lagu dengan gayanya, dan lain-lain. Celetukan-celetukan khas Liam juga banyak yang keluar. Salah satunya ketika kami yang di front row kompak berteriak me-request agar Rockin’ Chair, lagu Oasis, dibawakan. Liam ngebalas “What? Did you call me a dick?” Entah apa maksudnya, dan dengan cueknya Liam mengabaikan request tersebut, setelah sempat berdiskusi dengan Drew, pemain bass, mungkin membahas mengabulkan request kami atau tidak.

Liam juga sempat menyinggung Manchester City, klub kesukaannya. Karena setelah konser selesai, Manchester City akan bertanding melawan Liverpool, dan Liam bilang kalau akan segera balik ke hotel untuk menyaksikannya. Liam juga menanyakan siapa saja di antara penonton yang menyukai Liverpool atau Manchester City, dan saya tentunya mengiyakan nama terakhir disebut.

Kualitas Liam Gallagher sebagai artis solo juga tidak bisa dibandingkan dengan Oasis sebagai band dengan adanya Noel Gallagher di situ. Entah merasa minder dengan nama besar Liam, tour band Liam ini seperti belum bisa menyatu dengan personal Liam, ditambah sound yang kadang tidak balance. Semua terselamatkan oleh vokal Liam yang kali ini benar-benar maksimal, selain aura Liam sendiri yang memiliki jiwa percaya diri di atas panggung yang luar biasa.

Setelah Soul Love, Liam kembali membawakan lagu Oasis, Some Might Say dan Slide Away, yang kalau mau jujur, mendapat sambutan lebih meriah daripada lagu milik Liam sendiri, seperti Come Back To Me dan You Better Run, yang dibawakan setelah Slide Away.

Tidak terlalu banyak yang berubah dari setlist yang dibawakan Liam sepanjang konser di Australia dan Bangkok sebelum ke Jakarta. Be Here Now seperti biasa dibawakan, menandakan konser akan segera berakhir. Betul saja, setelah Live Forever yang dibawakan secara akustik selesai, Liam beserta personel band balik ke belakang panggung. Dan sudah bisa ditebak penonton tanpa dikomando serentak teriak “We want more, we want more..”

Ada kejadian yang menjadi perhatian sewaktu Live Forever dibawakan. Seorang penonton dari front row tiba-tiba naik ke atas panggung, mencium kaki Liam dan memeluknya. Untuk beberapa orang mungkin hal ini membanggakan, tapi buat saya itu sungguh memalukan. Keamanan pihak penyelenggara juga dipertanyakan, bagaimana bisa hal menjijikkan itu terjadi. Okelah hanya memeluk, kalau hal-hal diluar itu yang terjadi, seperti kasus Oasis di Toronto tahun 2008 lalu, waktu Noel Gallagher didorong dari belakang hingga terjatuh dan mengakibatkan salah satu tulang rusuknya patah oleh penonton yang tiba-tiba naik ke panggung (dari belakang panggung), apa masih bisa dibilang membanggakan? Fanatik tidak harus sampai setolol itu.

Liam akhirnya muncul kembali (encore), sambil membawa bendera sebuah negara yang mungkin bernama Indonesia. Sewaktu jeda encore, hampir semua penonton serentak menyanyikan Champagne Supernova. Sehingga Liam, sambil memegang bendera tadi, bilang “Terimakasih sudah menyanyikan Champagne Supernova, tapi sayangnya kami belum latihan bawa lagu itu, ketika kami kembali datang ke Jakarta, kita akan nyanyikan bersama-sama. Kali ini kita bawakan Cigarettes & Alcohol.. Nice Flag.”

Foto: Koleksi penulis

Selesai Cigarettes & Alcohol, Liam menyelesaikan konser dengan Wonderwall yang dibawakan secara akustik. Kembali kejadian di Live Forever terulang, seorang penonton naik ke panggung memeluk Liam dan kembali luput, terlambat dicegah pihak keamanan. Kali ini Liam agak sedikit kesal, dengan membuat gestur menantang semua penonton naik ke atas panggung dan mendekatinya. Tapi profesionalitas Liam patut diacungi jempol, karena sejenak saja dia sudah mengabaikan kejadian itu dan lanjut bernyanyi. Selesai Wonderwall, Liam benar-benar pamit dan mengucapkan terima kasih dan bilang “Jakarta fuckin’ rules!” Mengikuti Liam selesai manggung, PA memutar My Way versi Sex Pistols dan lampu mulai dihidupkan dan resmilah konser selesai.

Total Liam membawakan 16 lagu selama sekitar 80 menit. Sejujurnya terasa sangat sebentar, namun kerinduan selama 24 tahun sejak pertama kali mendengar dan melihat video-klip Live Forever di Musik 10 TVRI terbalaskan walaupun yang hadir tidak sebagai Oasis. Akhir kata, tidak ada kata-kata lagi yang bisa terucapkan selain hanya terima kasih buat pihak penyelenggara dan juga Liam Gallagher-nya sendiri. I’m officially MadFerIt!!!

Ekspresi wajah menyebalkan dari si penulis ketika berada di tengah-tengah konser Liam Gallagher, As You Were, Jakarta (14/1). Foto: Koleksi penulis.

Setlist:

  • Fuckin’ In The Bushes (Oasis cover) (PA)
  • Rock N’ Roll Star (Oasis cover)
  • Morning Glory (Oasis cover)
  • Greedy Soul
  • Wall Of Glass
  • Paper Crown
  • Bold
  • For What It’s Worth
  • Soul Love (Beady Eye cover)
  • Some Might Say (Oasis cover)
  • Slide Away (Oasis cover)
  • Come Back To Me
  • You Better Run
  • Be Here Now (Oasis cover)
  • Live Forever (acoustic) (Oasis cover)

Encore:

  • Cigarettes & Alcohol (Oasis cover)
  • Wonderwall (acoustic) (Oasis cover)

Share this post

Recent post