PANDUAN MEMBACA PRAM

PANDUAN MEMBACA PRAM

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja menamatkan (untuk kedua kalinya) novel Knut Hamsun yang berjudul Hunger (Lapar) terjemahan Marianne Katoppo. Sekali lagi saya merasa takjub (jadi sudah dua kali takjub) pada Hamsun. Tiba-tiba saya jadi penasaran, bagaimana sih pembaca lain, terutama generasinya Payung Teduh, menginterpretasikan lirisisme di dalam novel ini. Googling punya googling, saya malah terjerumus ke dalam laman web-nya Eka Kurniawan, satu di antara segelintir novelis Indonesia (yang masih hidup) favorit saya, yang tampaknya juga sangat terpengaruh oleh Hamsun. Tapi bukan review Lapar yang saya dapatkan, melainkan: Panduan Membaca Hamsun. Saya tergelitik dengan kata pengantarnya. Ingatan saya tiba-tiba melambung pada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan pujaan seluruh makhluk kirik se-Indonesia Raya. Pendeknya, berkat Hamsun dan Eka Kurniawan, saya jadi tergoda untuk membuat pula panduan dalam membaca Pram. Gitu aja sih. So, izinkan saya berbagi panduan untuk memasuki dunia Pram. Sekali lagi saya mohon izin ya, wahai pramis-pramis senior, bila panduan saya ngga sesuai dengan keinginan kalian. Matur nuwun.


  • Sangat penting dibaca

Berarti ini adalah kategori untuk para pembaca yang hendak mulai mengenal Pram. Membaca karya Pram, paling tidak menurut saya, tidak bisa dilepaskan dari individu historis Pram itu sendiri. Akan percuma jika kau membaca empat roman di dalam Tetralogi Buru sampai tamat, namun kau tidak tahu kenapa dan apa yang membuat Pram menulisnya. Atau paling kecil, di mana Pram menyelesaikan karya yang kabarnya akan segera difilmkan itu. Beberapa kali saya berjumpa dengan pembaca Tetralogi Buru, yang berapi-api memujinya, namun sama sekali ngga ngeh dengan simbol-simbol perlawanan dan pesan-pesan kemanusiaan yang ada di dalamnya, alih-alih keinginan luhur Pram itu sendiri. Ingatlah, sastra lahir bukan untuk menyenangkan hati belaka, melainkan (salah satunya) untuk melawan sejarah yang dimonopoli oleh kekuasaan. Buang saja karya sastra yang cuma bisa bikin kau mesem-mesem. Karya sastra yang baik adalah yang mampu membuat kau berpikir ulang, yang sanggup merusak tatanan kemapanan pikiranmu. Maka karya Pram yang saya anggap sangat penting untuk dibaca para pemula adalah dua jilid Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Biarlah kau menjadi marah, geram, dan gondok terlebih dahulu kepada penguasa-penguasa keji orde bar-bar. Baru mulailah membaca Pram.

Foto: Koleksi pribadi Tengku Ariy Dipantara.
  • Penting dibaca

Setelah usai mengenal Pram melalui memoarnya selama di Pulau Buru, mulailah membaca karyanya yang sedikit “nge-pop”. Maksudnya agar minat membacamu bukan hanya karena diri Pram pribadi saja. Belajar dari pengalaman, pertama kali saya membaca Pram adalah melalui Perburuan; ini dikatakan sebagai salah satu masterpiece-nya Pram. Namun saya tidak menyarankan. Takutnya kau akan berakhir seperti saya: usai membaca Perburuan, saya malah malas membaca karya sastra Pram yang lain; tuturnya terlalu lambat, dengan banyaknya kosa kata yang asing di telinga, dan plot yang tidak menyenangkan buat yang terbiasa membaca novel konspirasinya Dan Brown atau Game of Thrones-nya George R. R. Martin. Syukurnya saya kemudian bertemu dengan novel Larasati. Dan inilah yang menyelamatkan saya dari limbah kesusastraan Indonesia. Larasati adalah novel yang ditulis di masa-masa akhir kehidupan Pram. Gaya berceritanya cepat, dan tampaknya diksinya sudah tidak lagi sepuyeng Perburuan, walau masih saja banyak bertaburan kosa kata yang membingungkan. Plotnya juga lumayan seru (walaupun sesungguhnya, paling tidak menurut saya, sastra yang bagus tidak memerlukan plot yang berlebihan). Baru setelah itu kau bisa membaca Gadis Pantai atau 4 roman di dalam Tetralogi Buru dengan hati yang tenang.

Foto: Koleksi pribadi Tengku Ariy Dipantara.
  • Untuk Pencinta Sastra

Banyak saya temui orang-orang yang mengaku sebagai pencinta Pram. Namun biasanya ketika saya tanya apa saja yang sudah dibaca, mereka akan menjawab malu-malu: cuma Tetralogi Buru. Ya, ngga masalah juga sih. Tapi sebagai pencinta sastra, kau akan ditertawakan jika hanya sanggup membaca roman Tetralogi Buru (ini serius, karena waktu kuliah saya juga mengalaminya sendiri). Maka, selanjutnya kau bisa membaca kumpulan cerpen Pram dalam Tjerita dari Blora, lirisisme akut parah di dalam Bukan Pasar Malam, atau karya epos Arus Balik. Untuk judul yang terakhir, novel setebal 760 halaman (terbitan Hasta Mitra, 2002) ini dijamin akan memperkaya kosa katamu, selain akan menambah pengetahuanmu pada diksi Melayu lingua-franca, yang mulai hilang dimakan para monster yang mendaku sebagai pujangga sastra zaman ini. Peranggi, Kongso Dalbi, cetbang, tahu kau apa itu?

Foto: Koleksi pribadi Tengku Ariy Dipantara.

Untuk Penggemar Pram

Sudah membaca semua yang saya sarankan? Sudah bisa mendaku sebagai penggemar Pram? Saya rasa sih belum, selama kau belum membaca karya-karyanya yang berbentuk non-fiksi aka prosa jurnalistik. Kenapa saya bawa-bawa prosa dalam karya jurnalistik? Sebab dalam daftar berikut, kau ngga akan menemukan sebuah buku ilmiah semacam RPUL atau RPAL. Wajah sih, yang nulis juga masih Pram, bukan Ajen Dianawati atau Dimas. Nah, Sang Pemula, Panggil Aku Kartini Saja, Perempuan dalam Cengkraman Militer, atau Jalan Raya Pos Jalan Daendels, wajib kau baca untuk memahami gaya Pram ketika menulis non-fiksi.

Foto: Koleksi pribadi Tengku Ariy Dipantara.
  • Untuk yang Sinting

Seperti kata Eka dalam menjabarkan Hamsun, “Knut Hamsun berumur panjang (lewat 90 tahun) dan produktif menulis. Jadi ada banyak karyanya di luar yang sudah saya sebut di atas,” maka begitu pula kata saya mengenai Pram. Pram mulai menulis sejak Indonesia belum merdeka, dan masih menulis hingga tahun 2000. Ia telah melahirkan lebih dari 50 karya dan sudah diterjemahkan lebih dari 40 bahasa di dunia. Namun sialnya, banyak karyanya yang dibakar oleh militer orde barbar. Untuk karya-karya semacam Sepoeloeh Kepala NICA, Mari Mengarang, Panggil Aku Kartini Saja Jilid 3 dan 4, Wanita Sebelum Kartini, atau Sejarah Bahasa Indonesia, lebih baik kau lupakan saja. Karya-karya itu sudah terbang ke surga bersama segala kenangan kita atas Pram, tak akan mungkin diketemukan lagi. Namun untuk yang paling minor, saya sarankan kau membaca 2 jilid dari Menggelinding, jejak nyata dari proses panjang Pram sebelum menjadi sepopuler sekarang. Kedua buku ini adalah kumpulan sajak, essai juga cerpen, yang tercecer di koran-koran era Nasakom masih bersatu (ada pula yang bahkan belum pernah di-publish), yang susah payah dibundel oleh keluarga Pram. Ngga begitu sulit mencarinya. Hubungi saja Mbak Tutik Toer atau penerbit Lentera Dipantara.

Foto: Koleksi pribadi Tengku Ariy Dipantara.

So, siap menjadi pramis selanjutnya?

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post